Sewaktu saya* menulis disertasi tentang Majapahit dalam persepsi
teks-teks Melayu di Universitas Hamburg, Jerman pada akhir tahun 1990
an,  nama Sartono tidak bisa saya abaikan karena dia menyinggung begitu
sering Majapahit dalam buku-bukunya. Sartono dalam tulisan-tulisannya
menempatkan Majapahit dan beberapa kerajaan Jawa lainnya dalam bingkai
Indonesia, atau mungkin lebih tepat Indonesia dalam bingkai Majapahit
sebagai salah satu faktor integratif yang mempersatukan bangsa ini.

Sartono memang bukan orang pertama yang mempertautkan Majapahit dengan
Indonesia. Sebelumnya  memang orang Belanda van Meis yang mengungkapkan
itu lalu Yamin yang sangat berlebihan memuja-muja Majapahit sebagai
pendahulu persatuan Indonesia disamping Slamet Mulyana yang mengugkap
sistem ketatanegaraan Majapahit.

Tapi Sartono penting saya rujuk secara khusus karena dia secara serius 
menelaah peran kerajaan-kerajaan di Jawa dalam kaitannya dengan
persatuan Indonesia dari perspektif sejarahwan akademis.    Memang
pandangan Sartono tentang faktor integratif Majapahit dalam proses
menjadi Indonesia ini berbeda dengan pandangan saya sebagaimana yang
tertuang dalam disertasi yang saya tulis. Perbedaan antara saya dengan
Sartono terletak pada penilaian atas sumber (teks Negarakrtagama) dan
interpretasi terhadap peran  Majapahit dalam konteks Indonesia.

Ketika diadakan Seminar Nasional Sejarah Indonesia ke VII di Jakarta
pada bulan Oktober 2001, saya membawakan paper tentang Demitologi
Majapahit dalam Sejarah Indonesia. Waktu itu sejarahwan sepuh yang ulet
itu hadir dalam seminar tersebut dengan tertatih-tatih dituntun istrinya
yang selalu setia mendampinginya kemana dia pergi. Sekalipun waktu itu
Pak Sartono tidak membawakan paper dalam Seminar itu tapi dia kelihatan
sangat sibuk dan tetap menjadi pusat perhatian, seakan-akan dia
mempunyai magnit yang sangat kuat di kalangan ratusan sejarahwan yang
hadir waktu itu. Dimana dia berdiri selalu datang orang mengerumuninya,
bertanya atau sekedar menyapa, pada saat dia berkomentar di ruang sidang
suasana akan senyap dan semua orang dengan tekun akan menyimak apa yang
dikatakannya. Semua ini memperlihatkan kharismanya yang tinggi di
kalangan sejarahwan. Saya sendiri tidak punya kesempatan waktu itu untuk
berkenalan kepada beliau, di samping saya tidak punya nyali untuk
menyampaikan pandangan saya yang berbeda tentang Majapahit kepada
beliau.

Dalam seminar 3 hari itu dia acap berpindah dari satu ruangan ke ruangan
lainnya, mendengarkan dengan tekun paparan pemakalah, mengomentari
dengan kritis hal-hal yang menurutnya perlu dikomentari. Waktu itu Pak
Sartono sudah mengalami ganggungan penglihatan sehingga dia sulit
membaca, sehingga dia lebih banyak mendengar dengan serius apa yang
dipaparkan pemakalah dalam sesi-sesi yang dihadirinya .

Karena seminar nasional itu membahas puluhan paper dalam beberapa panel
secara paralel maka waktu itu saya menduga Pak Sartono akan menghadiri
sesi-sesi yang membahas paper dari sejarahwan-sejarahwan senior dan
tidak punya waktu meninjau sesi yang menhadirkan sejarahwan muda yang
belum dikenal.  Ketika di salah satu sesi di hari kedua saya mendapat
giliran pada pagi hari, saya sangat terkejut melihat pak Sartono yang
waktu itu memakai baju batik warna kuning berjalan dituntun istrinya
menuju ke ruangan tempat saya akan menyajikan paper yang menggugat peran
Majapahit dalam sejarah Indonesia. Waktu itu jantung saya berdebar
keras, sejarahwan besar ini datang, saya berpikir,  untuk apa lagi kalau
tidak untuk menghajar saya, menyerang pendapat saya tentang Majaphit? 
Tidak lama berselang saya melihat sejarahwan  dari UGM Prof.Dr.Ibrahim
Alfian juga datang memasuki ruangan, dia duduk di belakang Pak Sartono.
Di barisan depan saya melihat telah hadir Prof.Dr.Haryati Subadio, ahli
sastra jawa kuno.

Disebabkan mungkin oleh magnit Pak Sartono, saya melihat banyak
sejarahwan muda memasuki ruangan itu sehingga seluruh ruangan penuh.
Dengan menyembunyikan kegelisahan saya, saya mulai pemaparan  tentang
demitologi Majapahit. Waktu itu saya sudah tidak bisa berkonsentrasi
dengan baik, pikiran saya selalu ke Pak Sartono, apa sanggahan bakal
dikatakan bapak sejarahwan  ini atas paper saya nanti ? Kadang saya
melirik ke Pak Sartono yang dengan kaca mata tebalnya duduk tegak
mendengar apa yang saya uraikan. Di tangannyanya saya melihat paper saya
hanya di gulungnya. Pada bagian akhir pemaparan, saya hanya membacakan
bagian rekomendasi paper yang isinya setelah membeberkan mitos kebesaran
Majapahit yang tidak benar dalam sejarah Indonesia saya minta agar
pengajaran tentang hegemoni Majapahit di sekolah-sekolah Indonesia harus
diakhiri sekarang juga.

Ketika moderator mempersilahkan hadirin untuk memberi tanggapan atas
paper saya, apa yang tadinya saya perkirakan akan terjadi, memang benar
terjadi. Pak Sartono mengangkat tangannya. Seperti biasa terjadi dalam
sesi-sesi lainnya  moderator memberikan kesempatan pertama kepada Pak
Sartono kalau Pak Sartono kelihatan sudah mengangkat tangannya. Ini
merupakan bentuk penghargaan tersendiri pada Pak Sartono. Penghargaan
yang sekaligus merupakan penghormatan atas ketokohan dan kepakarannya.
Setelah Pak Sartono dicatat sebagai pennaggap pertama, penanggap
berikutnya yang dicatat moderator adaah ibu Haryati Subadio dan Pak
Ibrahim Alfian.

Dengan suaranya yang khas dan berat dia memulai komentarnya dengan
menyebut "Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya katakan kepada
pembicara di depan." Saya tegang mendengar kata-kata itu. Memang
panjang lebar uraian Pak Sartono, tapi intinya yang saya catat dan
komentari waktu itu adalah tanggapan  Pak Sartono yang keberatan dengan
pernyataan saya bahwa hegemoni Majapahit di Indonesia adalah sebuah
fiksi, atau dalam bahasa di paper saya hanya sebuah diskurs (wacana).
Dia meminta saya membuktikan hal itu lebih lanjut. Dia juga keberatan
saya menggunakan kata ekspansionis untuk Majapahit yang menyerang
kerajaan-kerajaan di dunia Melayu. Katanya kita tidak boleh menggunakan
kata-kata moderen dengan segala konotasinya untuk menyebut peristiwa
yang terjadi jauh di masa lampau. Pak Sartono kemudian menyebut bahwa
dia baru saja menyelesaikan suatu  (buku) tentang Majapahit berdasar
fakta-fakta baru dan dia menyebut apa nanti orang juga akan menyebut
buku itu sebuah fiksi.    Memang pandangan Sartono tentang faktor
integratif Majapahit dalam proses menjadi Indonesia ini berbeda dengan
pandangan saya sebagaimana yang tertuang dalam disertasi yang saya
tulis.




*Penulis Dr.phil. Ichwan Azhari MS. Kepala Pusat Studi Sejarah dan
Ilmu-Imu Sosial (PUSSIS) Universitas Negeri Medan








[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke