Ini bukannya business elu, Tung? jadi penghulu ya Tung?
Ini ada korelasi langsung ame agame gak, Tung?




Kawin Kontrak ala Puncak


angunan permanen vila bercat cokelat muda di Kampung Warungaleng, 
Desa Tugu, Kecamatan Cisarua-Puncak, Kabupaten Bogor, pada Minggu 
(13/7) malam, tidak seperti biasanya dipenuhi belasan orang 
berpakaian rapi. Di halaman depan vila seluas 500 meter persegi itu, 
tampak empat mobil minibus dan dua sepeda motor diparkir di bawah 
pohon rindang dengan penerangan lampu neon cukup terang. 

Sepintas, terkesan di dalam bangunan itu sedang berlangsung acara 
kenduri sebuah keluarga besar. Namun, ketika SP masuk ke dalam vila 
dengan luas bangunan sekitar 200 meter persegi itu, ternyata di situ 
sedang disiapkan prosesi pernikahan. Sang pengantin pria berbadan 
tinggi dan tegap, serta rambut ikal dengan kulit kehitaman, 
dipastikan bukan warga Indonesia. Di sampingnya, seorang perempuan 
berusia sekitar 20 tahun, berparas manis dan berkulit sawo matang. 
Sebagian wajahnya tertutup selendang warna putih transparan.

Wajah perempuan yang diketahui bernama Eni itu terlihat penuh beban. 
Pengantin pria pun tampak cemas, karena penghulu belum datang. 
Padahal mereka sepakat melangsungkan akad nikah tepat pukul 19.00 
WIB. Hampir satu jam lamanya kedua mempelai beserta belasan tamu dan 
kerabat menunggu. Akhirnya sang penghulu yang ditunggu datang juga.

"Kalau pengantin lelaki itu berasal dari negeri di Timur Tengah yang 
sedang berwisata ke kawasan Puncak ini, sekaligus ingin menikah 
dengan wanita Indonesia," ujar Dadang (42), salah seorang tokoh 
pemuda di Puncak.
Prosesi pernikahan seketika berlangsung mulus. Pengantin pria dengan 
bersemangat memberikan mas kawin berupa uang tunai Rp 5 juta dan 
seperangkat pakaian wanita. Sebaliknya, wajah Eni terus berlinang air 
mata. Tak jelas benar, apakah itu tangis kebahagiaan atau kesedihan, 
karena dia terpaksa kawin dengan pria yang usianya jauh lebih tua. 
Setelah proses pernikahan usai, sang penghulu mendapat salam tempel 
dari lelaki yang mendampingi pengantin pria. Ia pun bergegas pulang, 
tanpa mencicipi hidangan yang tersedia di meja makan. Setelah 
menyalami kedua mempelai, beberapa tamu langsung menyantap hidangan 
aneka masakan di atas meja. Saat menyantap hidangan itulah, terungkap 
prosesi pernikahan yang baru berlangsung itu adalah kawin kontrak. 
Sang pria adalah turis asal Timur Tengah yang sedang berwisata ke 
Puncak sambil melakukan kawin kontrak selama sekitar 1 bulan.

"Istilah kawin kontrak itu karena selama sang turis pria masih 
berwisata di Puncak, maka mempelai wanitanya mendapat imbalan Rp 5 
juta yang sekaligus sebagai mahar kawin kontrak mereka. Setelah turis 
itu kembali ke negaranya di Timur Tengah, sebelumnya akan menceraikan 
istri yang dinikahinya dengan cara kawin kontrak," ujar Dadang. 
Fenomena kawin kontrak ala Puncak sudah bukan hal baru. Di kampung 
Warungaleng inilah, ribuan, bahkan jutaan kali berlangsung kawin 
kontrak antara turis asing dengan wanita asal kampung yang umumnya 
memilih kawin kontrak, ketimbang bekerja di pabrik dengan upah di 
bawah UMK.

Bagi wanita yang beruntung, setelah dinikahi sang turis walau hanya 
satu sampai tiga bulan, dan selanjutnya menjanda, dia mendapat uang 
relatif cukup banyak untuk membuka usaha. Lain halnya wanita yang tak 
beruntung. Mereka sering mendapat perlakuan buruk dan kasar dari sang 
suami yang tak lama kemudian menceraikannya. Uang yang didapat pun 
hanya cukup untuk ongkos pulang kampung saja. Korban seperti inilah 
yang menelurkan bibit prostitusi di kawasan Puncak dan sekitarnya.

Waktu tak terasa berlalu, jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Akhirnya, 
bubarlah para tamu atau kerabat yang hadir dalam prosesi kawin 
kontrak di Puncak itu. 

Sebagian pemuka agama di daerah itu menentang keberadaan kawin 
kontrak karena dinilai telah merusak sendi-sendi agama, sosial , 
budaya, dan berdampak psikologis pada wanita-wanita kampung di Jawa 
Barat ini. Namun, ada juga yang mendukung ritual itu karena ada 
pendapatan sampingan. Akankah kawin kontrak terus berlangsung di 
Puncak? [SP/Epi Helpian]



Kirim email ke