http://www.antara.co.id/arc/2008/7/14/jana-vozabova-buah-cinta-hubungan-indonesia-ceko/


*Jana Vozabova, "Buah Cinta" Hubungan Indonesia-Ceko*


Oleh Zeynita Gibbons

London (ANTARA News) - Gadis manis tinggi semampai itu secara lemah gemulai
meliak-liukan badannya yang berbalut baju tari warna kuning saat tampil di
acara Festival Televisi Internasional Golden Prague, yang digelar untuk
ke-45 kalinya di kota Praha, ibukota Republik Ceko. Dialah Jana Vozabova.

Panitia Golden Prague kala itu mengundang pihak Televisi Republik Indonesia
(TVRI) untuk melakukan presentasi dalam acara The Evening with the
Indonesian Televison yang dimeriahkan dengan menampilkan kesenian tari Bali,
dibawakan Jana bersama grup tari Kintari dan gamelan asuhan Kedutaan Besar
Republik Indonesia (KBRI) Praha.

Acara yang mendapat sambutan ratusan insan pertelevisian dunia yang memenuhi
gedung Zopin Palace, yang berada di tengah tengah kota Praha. Penampilan
Jana bersama rekan rekannya remaja Ceko tampil sangat memukau.

Sekretaris I Penerangan, Sosial dan Kebudayaan (Pensosbud) KBRI Praha, Azis
Nurwahyudi, mengakui Jana merupakan remaja Ceko yang kreatif dan aktif itu
sangat mencintai kebudayaan Indonesia. "Jana banyak memperkenalkan
kebudayaan Indonesia ke masyarakat Ceko melalui berbagai tarian," ujarnya.

Azis mengemukakan, Jana sangat peduli dengan pendidikan anak-anak Indonesia.
Kepedulian itu diwujudkannya, antara lain secara rutin memberikan bantuan
pendidikan kepada anak-anak kurang mampu di Lombok, Nusa Tenggara Barat
(NTB), melalui yayasan yang didirikannya, Yayasan Kintari.

Menurut Azis, Jana merupakan salah seorang "buah cinta" dari hubungan
kebudayaan Indonesia-Ceko yang makin mesra. Apalagi, dengan
ditandatanganinya perjanjian kebudayaan Indonesia dan Ceko yang memasuki
usia 50 tahun pada 2008.

Diharapkan dengan semakin dekatnya hubungan masyarakat Indonesia dan Ceko,
akan semakin banyak Jana Jana atau remaja-remaja Ceko yang mengenal
Indonesia dan mencintainya seperti mencintai tanah air sendiri.

Jana dalam acara pementasan Teater Mandiri pimpinan Putu Wijaya ikut ambil
bagian dalam pementasan di awal kegiatan memperingati acara puncak
peringatan 50 tahun Perjanjian Kebudayaan Indonesia-Ceko melalui Yayasan
Kintari (Kintari Foundation).

Yayasan yang didirikannya itu tidak saja bergerak di bidang kebudayaan
dengan mengadakan kursus menari kepada remaja Ceko, tetapi juga membantu
anak-anak yang kurang mampu di Lombok.

Jana selama ini aktif membantu KBRI Praha, dan tidak pernah menentukan
bayaran, ujar Azis. Bahkan, honornya dari KBRI Praha selalu digunakannya
untuk memperbesar kegiatan Yayasan Kintari, sehingga lebih mampu membantu
anak-anak di Lombok.

Ide Yayasan Kintari yang terbaru adalah mengajak kerjasama dengan KBRI Praha
untuk membuat suatu Pusat Kebudayaan Indonesia di Praha.

Bercerita mengenai awal perkenalannya dengan Indonesia, Jana mengatakan
bahwa pertama kali datang ke Indonesia pada 12 tahun yang lalu untuk
berlibur, selain juga ingin melihat kebudayaan Indonesia yang dinilainya
benar unik dan khusus.

"Karena itu, saya ingin waktu itu kembali dan belajar tentang budaya dan
seni Indonesia," ujarnya Jana, yang fasih berbahasa Indonesia.

Jana mengakui, tertarik belajar menari setelah pada tahun 2004/2005 mendapat
beasiswa di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Bali, untuk belajar
wayang kulit dan tari.

"Saya di Ceko belajar teater juga, karena itu jurusan ini dekat ke jurusan
yang saya belajar di Ceko," ujarnya.

Menurut Jana, ia memilih Bali karena berupaya belajar tari Bali, agar bisa
menari sekaligus drama. "Saya pilih tari karena di Bali tari bukan hanya
tari, tapi ada drama di dalam tarian, itu yang saya suka. Cerita yang ada di
dalam tarian," ujarnya.

Diakuinya, setelah belajar di Indonesia Jana terus menari, dan bahkan sering
kali diundang di acara Indonesia yang diadakan KBRI praha. Setiap tahun,
Jana selalu ingin kembali lagi ke Bali utuk belajar tari baru.

Jana mengemukakan bahwa hampir menguasai seluruh tarian dari Bali yang
sangat dinamis itu, dan hanya bisa membawakan dua tari Jawa. Ia berencana
akan belajar tari dari Sumatera.

"Tahun ini, saya mau belajar juga tari Sumatera," ujar Jana yang banyak
belajar dari Ni Gusti Agung Ayu Oka Partini, dosen di ISI Denpasar.

Ia menimpali, "Saya juga ikut latihan pribadi sama dia. Dia yang pertama
kali memperlihatkan saya apa itu agam, dia guru paling pintar yang saya
bertemu."

Sementara itu, menurut dia, untuk tari topeng dipelajari dari Pak Sijo dari
Bone, yang juga seorang dalang yang amat terkenal di Bali. Bahkan, Jana juga
belajar wayang kulit dari Pak Sijo.

Jana menyatakan dirinya kini sudah punya grup penari sendiri. "Kami banyak
mengisi acara Indonesia di KBRI, dan juga di acara yang tema dari Asia,
seperti pada pembukaan pameran atau konser," katanya.

Jana dengan grup teaternya juga pernah tampil di Bali Art 2006. Kelompok
teater Kintari Performance group ikut dalam acara itu dengan pertunjukan
yang dinamakannya "Jalan Tanpa Batas - Mahabharata".

Dalam pementasan itu, Jana langsung menjadi direktur dan sekaligus dalang,
dan bahkan juga ikut menari. "Pertunjukan campur tari dan wayang kulit.
Pakai tari modern dan juga tradisional," ujarnya.

Mengenai kepeduliannya akan pendidikan anak-anak yang kurang mampu di
Lombok, Jana mengakui bahwa selama di Indonesia juga melakukan perjalanan ke
berbagai daerah.

"Kalau saya sedang di Indonesia. Saya juga keliling ke banyak pulau, dan
saya melihat banyak yang indah, tapi juga banyak yang miskin," ujarnya.

Banyak anak yang perlu pergi ke sekolah, tapi tidak bisa, tidak ada uang,
sepatu atau harus kerja biar bisa makan. Itu biasanya membuka hati orang
lain dan mau bantu, seperti dirinya, kata Jana

Untuk itu, ujarnya, dibentuklah Yayasan Kintari yang mempromosikan budaya
Indonesia di Ceko, dan dari berbagai acara yang diikutinya bisa mendapat
dana untuk membantu anak-anak miskin di Indonesia, khususnya di Lombok.

"Kintari Foundation mau memperlihatkan Indonesia di Ceko, dan bantu
anak-anak miskin di Indonesia," ujarnya.

Jana mengatakan, selalu membeli buku, sepatu dan perlengkapan lain untuk
anak-anak, serta berkeliling ke berbagai desa di Lombok Tengah untuk
memberikan bantuan. Ia pun pernah membantu mengajar mereka.

"Saya berkunjung ke pulau yang belum pernah dikunjungi, dan bertemu dengan
banyak orang baru," ujar Jana, saat ditanya kesan istimewanya tentang
Indonesia.

Ia sudah berkunjung ke semua pulau yang dinilainya terkenal, seperti Jawa,
Bali, Sulawesi, Sumbawa, Flores, Komodo, Rinca, Lombok, dan pada Agustus
2008 berencana ke Sumatera.

Jana mengakui bahwa sangat suka makanan pedas. Bahkan, ia menyukainya
sebelum mengenal Indonesia. Untuk itu, ia mengakui, tidak punya masalah
dengan makan yang pedas, terutama masakan gado-gado, cah kangung, nasi
campur dan ayam balado.

Ia juga mengemukakan, sejak Yayasan Kintari terbentuk, maka banyak
teman-temannya sesama pekerja seni, mahasiswa, dan orang Indonesia yang
tinggal di Ceko banyak memberikan bantuan untuk yayasannya.

Sejak tahun 2006, Jana mulai mengajar tari Bali dan membentuk grup menari
tradisional Bali yang berjumlah 12 orang, yang sekarang menjadi penari
profesional dan sering tampil di berbagai kesempatan memperkenalkan kesenian
Indonesia.

Baru pada tahun 2008, ia berani mengajar tarian kepada masyarakat Ceko, dan
ruangan bawah di rumah orang tuanya dijadikan sanggar. "Siapa saja bisa ikut
belajar," katanya berpromosi.

Ia saat ini merasa sedih, karena laman (situs Internet) mengenai Yayasan
Kintari yang disiapkannya dicuri orang.

"Sampai sekarang kami punya masalah dengan web-page Kintari yang dicuri
orang lain, dan terpaksa harus buat baru," ujar Jana, yang juga tengah
menyelesaikan skripsinya. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke