Salam Sejahtera dan semoga berkah dan rahmat untuk Anda Saya setuju dengan Islam Substansialis. Memang dasarnya yang harus diterapkan itu adalah substansinya. Meniru Rasul dan Meneladani Rasul itu beda. Sebagai contoh pada jaman dulu Rasul untuk membersihkan gigi dengan siwak. Kalau meniru Rasul berarti harus pakai siwak sampai sekarang. Tetapi kalau dalam arti meneladani itu berarti dicari substansinya. Substansinya apa, yaitu membersihkan gigi. Membersihkan gigi tidak harus dengan siwak tetapi dengan pasta gigi dan sikat gigi boleh saja,karena kita itu meneladani bukan meniru. Contoh lagi, banyak orang meniru pakaian Nabi. Gamis. Abu Jahal juga pakai gamis. Kalau kita meneladani berarti yang penting adalah menutup aurat. Jadi dengan pakaian nasional kita juga sudah cukup. Salam Sejahtera dari mr.dayson (http://hidup-sesudah-mati.blogspot.com)
----- Pesan Asli ---- Dari: si pitung <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Kamis, 17 Juli, 2008 01:19:28 Topik: [ppiindia] Islam Substansialis Islam Substansialis http://akmal.multiply.com/journal/item/232 assalaamu’alaikum wr. wb. Istilah ini cukup sering digunakan oleh kalangan liberalis untuk menyebut dirinya sendiri. Menurut mereka, yang mereka lakukan hanyalah mengajak umat Islam untuk lebih memikirkan hal-hal yang lebih substansial dalam agama daripada detil-detil yang sifatnya hanya ‘ornamental’ saja. Pada perkembangannya, muncul pula pemikiran yang menganggap bahwa Islam itu sepenuhnya spiritual (atau setidaknya lebih bersifat spiritual) daripada ritual. Orang-orang yang mendukung pendapat ini mengatakan bahwa hal-hal spiritual tersebutlah yang lebih penting untuk diperhatikan. Ada pun dalam masalah ritual, orang boleh berbeda pendapat. Jangan heran pula jika kaum liberalis kemudian mendukung mati-matian shalat dwibahasa yang sempat menghebohkan di seluruh republik ini. (Lagi-lagi) menurut mereka, penggunaan bahasa Indonesia (atau bahasa apa pun) dalam ibadah shalat sama sekali tidak mempengaruhi nilai-nilai spiritual dari ibadah shalat tersebut. Yang penting, ketika melaksanakan shalat, jiwa manusia benar-benar ‘terhubung’ dengan Sang Khaliq. Jangan kaget pula jika ada di antara para petinggi liberalis itu yang dengan gagahnya mengaku bahwa dirinya sudah sejak lama tidak melaksanakan ibadah shalat dengan ritual yang ‘standar’, melainkan cukup dengan niat dan konsentrasi penuh kepada Yang Maha Kuasa. Dari sini, gelombang terus berlanjut kepada suatu paham yang disebut pluralisme. Secara sederhana, paham pluralisme ini mengedepankan gagasan untuk menganggap semua agama sama karena memiliki dan mengajarkan gagasan-gagasan yang sama kepada manusia, hanya ritualnya saja yang berbeda-beda. Sebenarnya ini bukan sebuah paham baru, karena sudah dikemukakan sejak dahulu oleh para pemikir liberalis dari seluruh dunia, meski dengan redaksi yang berbeda-beda, antara lain seperti yang dikutip oleh Budhy Munawar Rachman (salah satu pemikir JIL) sebagai berikut : * "Other religions are equally valid ways to the same truth." (John Hick) * "Other religions speak of different but equally valid truths." (John B. Cobb Jr.) * "Each religion expresses an important part of the truth." (Raimundo Panikkar) Singkatnya, kaum yang menyebut dirinya ‘substansialis’ itu lebih mementingkan ‘substansi’ dari ajaran Islam (yang menurut mereka sama dengan substansi ajaran agama mana pun) daripada ‘aspek-aspek detilnya’. Jika kita hendak berpikir kritis sedikit, tentu akan muncul sebuah pertanyaan : “Gerangan yang manakah yang disebut substansi dari ajaran Islam itu?” Jika benak Anda tergelitik dengan pertanyaan ini, maka bersyukurlah, karena berarti Anda cukup cerdas untuk melihat inti permasalahan sebenarnya. Problematika ini muncul dari sebuah asumsi yang menyatakan bahwa dalam ajaran Islam ada hal-hal yang substansial, ada pula yang tidak. Jika kita memang mau bersikap intelek, maka setiap asumsi tidak boleh segera diterima, dan juga tidak boleh langsung ditolak. Kalau diterima apa alasannya, dan kalau ditolak pun harus ada alasannya. Kita ambil contoh kasus shalat tadi. Dari masalah shalat, ada dua hal yang ‘digugat’ oleh para pendukung ‘Islam substansialis’ tadi, yaitu penggunaan bahasa Arab dan ritual-ritual shalat berupa aturan bacaan dan gerakan yang sudah baku. Jelas sekali bahwa mereka hendak mengatakan bahwa bahasa arab dan aturan bacaan serta gerakan dalam shalat sama sekali tidak substansial bagi nilai ibadah tersebut. Mudah ditebak bahwa mereka ingin mengatakan bahwa substansi dari ibadah shalat adalah ‘hubungan langsung’ antara seorang Muslim dengan Allah SWT. Tapi benarkah demikian? Sekali lagi, jangan langsung menerima dan jangan pula langsung menolak. Untuk menjawab masalah pertama kita perlu meneliti betul masalah penggunaan bahasa Arab dalam Al-Qur’an, karena dalam shalat pun ada bagian-bagian dari Al-Qur’an yang kita baca. Kalau memang bahasa Arab itu tidak substansial sifatnya, apakah lantas seluruh Al-Qur’an bisa kita ubah menjadi bahasa Indonesia saja? Bisakah bahasa Arab dalam Al-Qur’an digantikan dengan bahasa lain, sebagaimana Bibel diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa? Terburu-buru membenarkan tentu adalah sebuah perilaku yang ceroboh. Memang Al-Qur’an bebas diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, namun yang disebut Al-Qur’an tetaplah yang berbahasa Arab, sebagaimana ia diturunkan dahulu kepada Rasulullah saw. Alasannya jelas, yaitu karena terjemahan tersebut pada hakikatnya adalah sebuah tafsir sangat sederhana dari sebuah Al-Qur’an. Masih banyak penafsiran lain yang lebih mendalam yang bisa digali, dan hal ini hanya dimungkinkan karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, bukan bahasa lainnya. Sebuah contoh sederhana saja, yaitu pada surah Al-‘Ashr. Apakah makna dari kata “al-‘ashr”? Ada yang menerjemahkannya ke dalam kata “waktu”, ada pula yang menggunakan kata “masa”. Dengan demikian, frase “wal ‘ashr” diterjemahkan sebagai “demi waktu / masa”. Maknanya kurang lebih menunjukkan betapa pentingnya waktu bagi manusia, sampai-sampai Allah SWT bersumpah dengan menyebutnya. Akan tetapi ada penafsiran lain yang menyebutkan bahwa waktu ‘ashr itu sebenarnya adalah waktu ketika segala sesuatu yang diusahakan oleh manusia terlihat hasilnya. Maka, setiap pekerjaan ada waktu ‘ashr-nya. Dengan demikian, penafsiran surah tersebut berubah kira-kira menjadi : “Demi waktu ‘ashr, di mana setiap manusia akan melihat hasil pekerjaannya. Sesungguhnya akan dibuktikan bahwa seluruh manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” Penafsiran terus berkembang, dan jika mengikuti kaidah yang benar (salah satunya adalah dengan tidak ‘menganaktirikan’ satu pun ayat dari Al-Qur’an), maka tidak akan ada masalah. Penafsiran yang bilang bahwa waktu itu penting memang benar, dan penafsiran yang kedua pun juga benar. Jika surah Al-‘Ashr diturunkan dalam bahasa Indonesia, andaikan redaksi ayat pertamanya adalah sekedar “Demi masa,” maka penafsiran akan sangat terbatas dan tidak memungkinkan penelaahan secara lebih jauh. Maka, terbukti sudah bahwa penggunaan bahasa Arab dalam Al-Qur’an (dan shalat juga) sama sekali bukan sekedar detil yang bisa dikesampingkan. Ia adalah sebuah faktor yang substansial, sebagaimana hal-hal lainnya dalam shalat. Kemudian apakah segala bacaan dan gerakan shalat itu tidak substansial sifatnya? Kita sudah membahas mengenai masalah bacaan, dan jelaslah bahwa bacaan-bacaan dalam shalat pun tidak bisa dengan seenaknya kita kesampingkan atau kita ubah sesuka hati. Ada hikmah yang mendalam dari bacaan-bacaan tersebut, jika kita mau meluangkan waktu untuk menyelami maknanya. Tentu saja, Allah SWT tidak akan menyuruh kita melakukan sesuatu yang tidak ada gunanya. Dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan kesehatan sekarang, manusia sudah bisa membuktikan bagaimana gerakan-gerakan shalat dapat menyehatkan manusia, baik secara fisik maupun mental. Jangankan shalat, wudhu pun (ternyata) amat banyak faedahnya, sebagaimana yang sudah pernah diungkapkan oleh Prof. Hembing. Memang benar bahwa gerakan-gerakan shalat tersebut dapat saja dikurangi atau bahkan ditiadakan sama sekali jika kondisi tidak memungkinkan, misalnya karena sakit, namun hal ini sama sekali tidak mengurangi nilai faedahnya. Keringanan semacam itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa gerakan-gerakan shalat itu tidak substansial. Allah SWT memberikan keringanan tersebut karena besarnya kasih sayang-Nya pada manusia. Bagaimana pun keadaannya, dengan segala keterbatasan dan kesulitan yang menghadang, Allah tetap mewajibkan shalat, selama kita masih dalam keadaan sadar. Jadi gerangan apakah yang mereka sebut-sebut sebagai substansi dari ajaran Islam tersebut? Bagian manakah dari agama ini yang bisa dibuang, dan manakah yang harus dipertahankan? Benarkah ada detil-detil yang bisa diabaikan dari agama Islam? Adakah ritual dalam Islam yang benar-benar sekedar ritual? Adakah ajaran yang sifatnya percuma dalam Islam? Saya kira Anda bisa menjawab sendiri, bukan? wassalaamu'alaikum wr. wb [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links ___________________________________________________________________________ Dapatkan alamat Email baru Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/ [Non-text portions of this message have been removed]

