Ya Allah swt, limpahkanlah Rohmah dan Hidayah, Rizki dan Kesehatan kepada 
beliau mBok Paenah yang berahlaq Katimah.


  ----- Original Message ----- 
  From: mediacare 
  To: media sumut ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[email protected] ; wartawan indonesia 
  Sent: Sunday, July 20, 2008 11:34 AM
  Subject: [ppiindia] Etos Kerja dalam Sepincuk Nasi Pecel


  Etos Kerja dalam Sepincuk Nasi Pecel

  Untuk apakah kita hidup? 
  Tanyakanlah ini kepada Mak Paenah yang tiap hari berjualan pecel di depan 
Gedung DPRD Sumatera Utara (Sumut) di Medan. Dalam usianya yang-menurut 
pengakuannya- 86 tahun, Mak Paenah masih setia mendorong-dorong kereta pecelnya 
demi mengumpulkan rupiah selembar demi selembar dari Rp 1.500 per pincuk 
(piring dari daun pisang) pecel jualannya itu.

  Gerobaknya cukup berat dengan dua roda becak yang sering kempis anginnya. 
Sebuah topi bambu lebar
  menemani tubuh ringkihnya menempuh jarak sekitar lima kilometer dari rumah 
cucunya di kawasan Glugur ke Gedung DPRD Sumut di Jalan Imam Bonjol melewati 
jalanan aspal yang terik dan ramai.

  Pernah suatu hari Mak Paenah tidak kunjung muncul pada jam makan siang, dan 
baru datang berjualan saat matahari sudah sangat condong ke Barat.

  "Aku diserempet mobil. Iki lho awakku babak bundas (lihat tubuhku babak 
belur)," katanya dalam ujaran yang selalu tercampur dengan bahasa Jawa kasar.

  Setiap hari, biasanya sekitar pukul 11.00, ia sudah tiba menggelar 
dagangannya. Dan, beberapa jam
  kemuadian, ia pulang lagi dengan kereta dorongnya yang sudah kosong dan 
segepok uang di dalam tas pinggang yang terbuat dari kain batik lusuh.

  Soal berapa banyak uang dalam tas pinggangnya itu, Mak Paenah sering tidak 
tahu.Ia memang tidak peduli dapat uang berapa hari itu. Bahkan, sering ada 
beberapa lembar ribuan tercecer di bawah kakinya, yang selalu diambilkan orang 
lain. Yang ia tahu pasti, ia tidaklah pernah rugi.

  "Bathi kuwi ora usah okeh-okeh, Serakah jenenge.(kalau untung itu jangan 
besar-besar. Serakah namanya..)," katanya pelan. Tidak serakah ini pula yang 
membuat Mak Paenah cenderung royal dalam memberi nasi pecel saat dagangannya 
hampir habis. Kata orang, kalau beli di Mak Paenah, sebaiknya menjelang ia mau 
pulang. Pasti dapat pecel lebih banyak.

  Dengan keyakinan pasti tidak rugi itu pula, sering Mak Paenah membelikan 
rokok untuk orang lain yang tampak memerlukannya. Andi Lubis, fotografer harian 
Analisa, Medan, yang perokok berat, beberapa kali diberi rokok oleh Mak Paenah 
kalau tampak sedang bengong dan tidak merokok.

  "Nyoh rokok. Kowe lagi ra nduwe duwit tho? (ini rokok kamu sedang tidak punya 
uang yaa?)" kata Mak Paenah tanpa basa-basi.

  Bagi Mak Paenah, apa salahnya menyisihkan uang untuk menyenangkan orang lain. 
Tidak jarang ia berikan pecelnya secara gratis kalau ada yang lapar, tapi tak 
punya uang.

  Jadi, untuk apa Mak Paenah berjualan dalam usianya yang sudah sangat senja 
itu? Di kota-kota besar, orang-orang yang jauh lebih muda darinya sudah 
santai-santai di rumah menikmati uang pensiun bersama cucu-cucu.

  "Aku bekerja karena memang manusia itu harus bekerja. Aku sakit kalau 
nganggur. Menganggur adalah bersahabat dengan setan. Kerja selalu ada kalau 
kita mau mencarinya. Jangan mau menganggur, sampai kita mati," katanya seakan 
ahli filsafat.

  Banyak yang meragukan apakah benar Mak Paenah telah berusia 86 tahun. Tapi, 
mendengar beberapa cerita yang sering diuangkapkannya sambil meracik pecel, 
apalagi mengamati wajahnya yang selalu teduh itu, kita yakin bahwa setidaknya 
ia sudah berusia di atas 80 tahun. Ia pernah bercerita bagaimana suaminya yang 
tentara terbunuh dalam perang kemerdekaan, sementara saat itu anak sulungnya 
berusia kira-kira belasan tahun.

  Begitu suami meninggal, rasa tanggungjawab untuk menghidupi ketiga anaknya 
memaksa Mak Paenah yang lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur, ini berjualan 
pecel. Baginya, tidak ada cerita untuk meminta belas kasihan dari orang lain.

  "Aku hanya bisa bikin pecel. Jadi, aku mencari makan dengan pecel ini.Sudah 
puluhan tahun tanganku bikin sambel pecel. Sampai kapalan mengulek he..he..," 
kata Mak Paenah sambil memamerkan mulutnya yang sudah ompong.

  Mengapa tidak menikah lagi setelah menjanda waktu itu?

  "Sopo sing gelem karo rondo bakul pecel.lethek. .he..he.. he..(siapa yang mau 
dengan janda penjual pecel yang lusuh dan bau)," katanya terkekeh.

  Tapi, setelah anak-anaknya bisa mandiri, untuk apa uangnya?

  "Keuntungan penjualan, tiap hari saya simpan di bawah bantal. Uang itu saya 
pakai untuk menolong orang kalau ada yang membutuhkannya. Siapa tahun, kan?" 
katanya dengan arif.

  Mak Paenah menceritakan, ia pernah menolong tetangganya yang mendadak 
membutuhkan uang. Tetangganya itu tidak menyangka ketika tiba-tiba Mak Paenah 
yang hanya berjualan pecel itu mampu meminjaminya uang dalam jumlah cukup 
besar, tanpa bunga pula.

  Setiap pagi, Mak Paenah mengambil Rp 15.000 dari simpanannya untuk berbelanja 
di Pasar Glugur. Pukul 04.00, ia sudah bangun dan pada pukul 06.00 ia sudah 
mulai memasak bumbu-bumbu pecel dan juga sayurannya.

  "Bangun pagi membuat saya sehat. Tiap hari berbelanja dan menawar juga 
membuat saya tidak pikun," paparnya.

  Dalam usianya itu, Mak Paenah sering membuat kagum orang dengan kemampuannya 
mengitung dengan cepat.

  "Meja ini habis sembilan pincuk. Jadi, tiga belas ribu lima ratus," katanya 
suatu kali saat menagih kepada para wartawan yang makan.

  Pada bulan Juni dan Juli 2002, para wartawan Medan yang biasa mangkal di 
depan Gedung DPRD kehilangan Mak Paenah. Dua bulan lebih waita tua itu 
menghilang. Banyak yang kuatir kalau-kalau Mak Paenah sakit, atau bahkan sudah 
meninggal dunia. Dan, Mak Paenah baru muncul lagi pada akhir Juli.

  Ternyata, Mak Paenah pulang ke Blitar menengok sanak saudaranya. Menurut dia, 
semua yang dikenalinya sudah meninggal.

  "Uangku habis Rp 3,5 juta untuk beli oleh-oleh. Tapi, aku senang bisa melihat 
Blitar lagi. Sudah sangat berubah. Aku sama sekali sudah tidak bisa mengenali 
tempat mana pun di sana," katanya dengan mata berbinar-binar saat membicarakan 
kota yang ditinggalkannya pada awal tahun 1940-an ini.

  Ketika diingatkan bahwa para wartawan kuatir dengan kepergiannya selama dua 
bulan itu, Mak Paenah justru marah.

  "Kamu yang muda-muda kok tidak punya perasaan. Kan, semua tahu di mana 
rumahku. Kalau kuatir, ya mbok menengok ke rumah. Coba, bagaimana kalau saya 
sakit betulan? Ya, kan?" kata Mak Paenah.

  Namun, sejak awal Agustus ini, Mak Paenah menghilang kembali. Setelah 
ditengok ke rumahnya, ternyata ia tidak kurang suatu apa.

  "Aku pindah tempat jualan. Aku ngalah pada yang muda yang lebih perlu uang," 
katanya yang kemudian menimbulkan tanda tanya.

  Ternyata, Mak Paenah kini memilih berjualan di Lapangan Merdeka. Menurut dia, 
di depan Gedung DPRD itu sudah muncul seorang saingan. Seorang penjual pecel 
yang masih muda dilihatnya selalu berusaha menyainginya dalam merebut hati 
pembeli.

  "Aku tidak ingin bersaing. Rezeki sudah ada yang mengatur. Biarlah aku yang 
sudah tua ini pindah," katanya tanpa emosi.

  Kompas - Jumat, 16 Agustus 2002

  [Non-text portions of this message have been removed]



   
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg.com 
Version: 8.0.138 / Virus Database: 270.5.2/1562 - Release Date: 19-7-2008 14:01


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke