Assalamualaikum Wr Wb
Bang pitung, berdasarkan Imam Hanafi dibuku Fiqih lima mazhab. Itu boleh bila 
ndak bisa bahasa arab.
Soal fasih atau tidak, juga ndak masalah, karena orang jepang itu ndak terlalu 
bisa bunyi  "r". Apa terus
dianggap tidak syah. Sholat itu pada dasarnya harus mengerti atau paham 
artinya. Janganlah mendekati
sholat apabila kamu sedang mabuk sampai engkau mengerti atau memahami yang 
diucapkan (QS An Nisaa'[4] ayat43.)
Ini substansi nya bahwa sholat itu harus dimengerti artinya kalau ndak berarti 
termasuk orang yang lalai dalam
sholatnya (QS Al Maa'uun[107] ayat 5). Kalau sholat dalam bahasa arab kemudian 
diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia. Ya, tidak maslah asal jangan dilisankan tetapi didalam hati. 
Misalanya, baca Allahu Akbar dalam hati
mengatakan Tuhan yang Maha Besar. j Kalau bisa jangan seperti baca majalah Time 
(bhs.Inggris)keras-keras tetapi tidak ngerti artinya.
Sedang gamis itu untu orang laki-laki. Bagi orang Indonesia cukup pakai celana 
dan baju biasa yang digunakan ke
kantor. Itu sudah cukup dan sudah menutup aurat. Kalau perlu pakai peci 
hitam..kan tambah ganteng he..he
Kan gitu bang pitung.Wa llahu 'alam bish shawab.
Wassalam dari mr.dayson (http:hidup-sesudah-mati.blogspot.com)



----- Pesan Asli ----
Dari: si pitung <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jumat, 18 Juli, 2008 02:33:03
Topik: Re: Bls: [ppiindia] Islam Substansialis

assalamu 'ala manittaba al huda'

kebetulan permasalahan yg dibahas ttg Sholat dwi bahasa, gmana mnurut bang hary?
masalah substansi, saya siy ga terlalu persoalan tergantung masalahnya mengenai 
apa.
Mengenai siwak, saya siy stuju2 aja, lha saya jg bgitu.
Tp mengenai menutup aurat lalu dihubung2kan dg pakaian nasional, kaya'na msh 
terlalu prematur deh. Pakaian nasional atau adat maksudnya? tolong diperjelas 
bang.

makasih



----- Original Message ----
From: Hary Priyanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, July 17, 2008 4:15:52 PM
Subject: Bls: [ppiindia] Islam Substansialis


Salam Sejahtera dan semoga berkah dan rahmat untuk Anda
Saya setuju dengan Islam Substansialis. Memang dasarnya yang harus diterapkan 
itu adalah substansinya. Meniru Rasul dan Meneladani Rasul itu beda. Sebagai 
contoh pada jaman dulu Rasul untuk membersihkan gigi dengan siwak. Kalau meniru 
Rasul berarti harus pakai siwak sampai sekarang. Tetapi kalau dalam arti 
meneladani itu berarti dicari substansinya. Substansinya apa, yaitu 
membersihkan gigi. Membersihkan gigi tidak harus dengan siwak tetapi dengan 
pasta gigi dan sikat gigi boleh saja,karena kita itu meneladani bukan meniru. 
Contoh lagi, banyak orang meniru pakaian Nabi. Gamis. Abu Jahal juga pakai 
gamis. Kalau kita meneladani berarti yang penting adalah menutup aurat. Jadi 
dengan pakaian nasional kita juga sudah cukup.
Salam Sejahtera dari mr.dayson (http://hidup- sesudah-mati. blogspot. com)

----- Pesan Asli ----
Dari: si pitung <[EMAIL PROTECTED] com>
Kepada: [EMAIL PROTECTED] s.com
Terkirim: Kamis, 17 Juli, 2008 01:19:28
Topik: [ppiindia] Islam Substansialis

Islam Substansialis
http://akmal. multiply. com/journal/ item/232

assalaamu’alaikum wr. wb.

Istilah ini cukup sering digunakan oleh kalangan liberalis untuk menyebut 
dirinya sendiri.  Menurut
mereka, yang mereka lakukan hanyalah mengajak umat Islam untuk lebih
memikirkan hal-hal yang lebih substansial dalam agama daripada
detil-detil yang sifatnya hanya ‘ornamental’ saja.  

Pada
perkembangannya, muncul pula pemikiran yang menganggap bahwa Islam itu
sepenuhnya spiritual (atau setidaknya lebih bersifat spiritual)
daripada ritual.  Orang-orang yang mendukung pendapat ini mengatakan bahwa 
hal-hal spiritual tersebutlah yang lebih penting untuk diperhatikan.  Ada pun 
dalam masalah ritual, orang boleh berbeda pendapat. 

Jangan
heran pula jika kaum liberalis kemudian mendukung mati-matian shalat
dwibahasa yang sempat menghebohkan di seluruh republik ini.  (Lagi-lagi)
menurut mereka, penggunaan bahasa Indonesia (atau bahasa apa pun) dalam
ibadah shalat sama sekali tidak mempengaruhi nilai-nilai spiritual dari
ibadah shalat tersebut.  Yang penting, ketika melaksanakan shalat, jiwa manusia 
benar-benar ‘terhubung’ dengan Sang Khaliq.  Jangan
kaget pula jika ada di antara para petinggi liberalis itu yang dengan
gagahnya mengaku bahwa dirinya sudah sejak lama tidak melaksanakan
ibadah shalat dengan ritual yang ‘standar’, melainkan cukup dengan niat
dan konsentrasi penuh kepada Yang Maha Kuasa.

Dari sini, gelombang terus berlanjut kepada suatu paham yang disebut 
pluralisme.  Secara
sederhana, paham pluralisme ini mengedepankan gagasan untuk menganggap
semua agama sama karena memiliki dan mengajarkan gagasan-gagasan yang
sama kepada manusia, hanya ritualnya saja yang berbeda-beda.  Sebenarnya
ini bukan sebuah paham baru, karena sudah dikemukakan sejak dahulu oleh
para pemikir liberalis dari seluruh dunia, meski dengan redaksi yang
berbeda-beda, antara lain seperti yang dikutip oleh Budhy Munawar
Rachman (salah satu pemikir JIL) sebagai berikut :

    * "Other religions are equally valid ways to the same truth."  (John Hick)
    * "Other religions speak of different but equally valid truths."  (John B. 
Cobb Jr.)
    * "Each religion expresses an important part of the truth."  (Raimundo 
Panikkar)

Singkatnya,
kaum yang menyebut dirinya ‘substansialis’ itu lebih mementingkan
‘substansi’ dari ajaran Islam (yang menurut mereka sama dengan
substansi ajaran agama mana pun) daripada ‘aspek-aspek detilnya’.  Jika
kita hendak berpikir kritis sedikit, tentu akan muncul sebuah
pertanyaan : “Gerangan yang manakah yang disebut substansi dari ajaran
Islam itu?”

Jika
benak Anda tergelitik dengan pertanyaan ini, maka bersyukurlah, karena
berarti Anda cukup cerdas untuk melihat inti permasalahan sebenarnya.  
Problematika
ini muncul dari sebuah asumsi yang menyatakan bahwa dalam ajaran Islam
ada hal-hal yang substansial, ada pula yang tidak.  Jika kita memang mau 
bersikap intelek, maka setiap asumsi tidak boleh segera diterima, dan juga 
tidak boleh langsung ditolak.  Kalau diterima apa alasannya, dan kalau ditolak 
pun harus ada alasannya.

Kita ambil contoh kasus shalat tadi.  Dari
masalah shalat, ada dua hal yang ‘digugat’ oleh para pendukung ‘Islam
substansialis’ tadi, yaitu penggunaan bahasa Arab dan ritual-ritual
shalat berupa aturan bacaan dan gerakan yang sudah baku.  Jelas
sekali bahwa mereka hendak mengatakan bahwa bahasa arab dan aturan
bacaan serta gerakan dalam shalat sama sekali tidak substansial bagi
nilai ibadah tersebut.  Mudah ditebak bahwa
mereka ingin mengatakan bahwa substansi dari ibadah shalat adalah
‘hubungan langsung’ antara seorang Muslim dengan Allah SWT.  Tapi benarkah 
demikian?

Sekali lagi, jangan langsung menerima dan jangan pula langsung menolak.

Untuk
menjawab masalah pertama kita perlu meneliti betul masalah penggunaan
bahasa Arab dalam Al-Qur’an, karena dalam shalat pun ada bagian-bagian
dari Al-Qur’an yang kita baca.  Kalau memang
bahasa Arab itu tidak substansial sifatnya, apakah lantas seluruh
Al-Qur’an bisa kita ubah menjadi bahasa Indonesia saja?  Bisakah bahasa Arab 
dalam Al-Qur’an digantikan dengan bahasa lain, sebagaimana Bibel diterjemahkan 
ke dalam berbagai bahasa?

Terburu-buru membenarkan tentu adalah sebuah perilaku yang ceroboh.  Memang
Al-Qur’an bebas diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, namun yang
disebut Al-Qur’an tetaplah yang berbahasa Arab, sebagaimana ia
diturunkan dahulu kepada Rasulullah saw.  Alasannya jelas, yaitu karena 
terjemahan tersebut pada hakikatnya adalah sebuah tafsir sangat sederhana dari 
sebuah Al-Qur’an.  Masih
banyak penafsiran lain yang lebih mendalam yang bisa digali, dan hal
ini hanya dimungkinkan karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab,
bukan bahasa lainnya.

Sebuah contoh sederhana saja, yaitu pada surah Al-‘Ashr.  Apakah makna dari 
kata “al-‘ashr”?  Ada yang menerjemahkannya ke dalam kata “waktu”, ada pula 
yang menggunakan kata “masa”.  Dengan demikian, frase “wal ‘ashr” diterjemahkan 
sebagai “demi waktu / masa”.  Maknanya kurang lebih menunjukkan betapa 
pentingnya waktu bagi manusia, sampai-sampai Allah SWT bersumpah dengan 
menyebutnya.  Akan tetapi ada penafsiran lain yang menyebutkan bahwa waktu 
‘ashr itu sebenarnya adalah waktu ketika segala sesuatu yang diusahakan oleh 
manusia terlihat hasilnya.  Maka, setiap pekerjaan ada waktu ‘ashr-nya.  Dengan 
demikian, penafsiran surah tersebut berubah kira-kira menjadi : “Demi waktu 
‘ashr, di mana setiap manusia akan melihat hasil pekerjaannya.  Sesungguhnya
akan dibuktikan bahwa seluruh manusia itu benar-benar dalam keadaan
merugi, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasehati
dalam kebenaran dan kesabaran.” 

Penafsiran
terus berkembang, dan jika mengikuti kaidah yang benar (salah satunya
adalah dengan tidak ‘menganaktirikan’ satu pun ayat dari Al-Qur’an),
maka tidak akan ada masalah.  Penafsiran yang bilang bahwa waktu itu penting 
memang benar, dan penafsiran yang kedua pun juga benar.  Jika
surah Al-‘Ashr diturunkan dalam bahasa Indonesia, andaikan redaksi ayat
pertamanya adalah sekedar “Demi masa,” maka penafsiran akan sangat
terbatas dan tidak memungkinkan penelaahan secara lebih jauh.  Maka,
terbukti sudah bahwa penggunaan bahasa Arab dalam Al-Qur’an (dan shalat
juga) sama sekali bukan sekedar detil yang bisa dikesampingkan.  Ia adalah 
sebuah faktor yang substansial, sebagaimana hal-hal lainnya dalam shalat.

Kemudian apakah segala bacaan dan gerakan shalat itu tidak substansial 
sifatnya?  Kita
sudah membahas mengenai masalah bacaan, dan jelaslah bahwa
bacaan-bacaan dalam shalat pun tidak bisa dengan seenaknya kita
kesampingkan atau kita ubah sesuka hati.  Ada hikmah yang mendalam dari 
bacaan-bacaan tersebut, jika kita mau meluangkan waktu untuk menyelami 
maknanya.  Tentu saja, Allah SWT tidak akan menyuruh kita melakukan sesuatu 
yang tidak ada gunanya.

Dengan
perkembangan teknologi dan pengetahuan kesehatan sekarang, manusia
sudah bisa membuktikan bagaimana gerakan-gerakan shalat dapat
menyehatkan manusia, baik secara fisik maupun mental.  Jangankan shalat, wudhu 
pun (ternyata) amat banyak faedahnya, sebagaimana yang sudah pernah diungkapkan 
oleh Prof. Hembing.  Memang
benar bahwa gerakan-gerakan shalat tersebut dapat saja dikurangi atau
bahkan ditiadakan sama sekali jika kondisi tidak memungkinkan, misalnya
karena sakit, namun hal ini sama sekali tidak mengurangi nilai
faedahnya.  Keringanan semacam itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengatakan 
bahwa gerakan-gerakan shalat itu tidak substansial.  Allah SWT memberikan 
keringanan tersebut karena besarnya kasih sayang-Nya pada manusia.  Bagaimana
pun keadaannya, dengan segala keterbatasan dan kesulitan yang
menghadang, Allah tetap mewajibkan shalat, selama kita masih dalam
keadaan sadar.

Jadi gerangan apakah yang mereka sebut-sebut sebagai substansi dari ajaran 
Islam tersebut?  Bagian manakah dari agama ini yang bisa dibuang, dan manakah 
yang harus dipertahankan?  Benarkah ada detil-detil yang bisa diabaikan dari 
agama Islam?  Adakah ritual dalam Islam yang benar-benar sekedar ritual?  
Adakah ajaran yang sifatnya percuma dalam Islam?  

Saya kira Anda bisa menjawab sendiri, bukan?
wassalaamu'alaikum wr. wb

      

[Non-text portions of this message have been removed]

------------ --------- --------- ------

************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* 
*********
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups. yahoo.com/ 
group/ppiindia
************ ********* ********* ********* ********* ********* ********* 
*********
____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india. blogspot. com 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@ yahoogroups. com
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@ yahoogroups. com
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@ yahoogroups. com
Yahoo! Groups Links

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/

[Non-text portions of this message have been removed]

    


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links




      
___________________________________________________________________________
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke