---> Isra yakin suara pendukung PDI-P akan banyak lari ke pasangan 
Karwo.
"Di putaran kedua nanti jadi  pertempuran dua arus besar ideologi di 
Jatim yakni santri versus abangan," jelasnya




25 Juli 2008
Golkar Condong Khofifah PDI-P Belum Bersikap


Putaran II Pilgub Jatim Butuh Rp 240 M

JAKARTA - Berdasarkan hasil penghitungan cepat beberapa lembaga, 
pasangan Cagub-Cawagub Soekarwo-Saifullah Yusuf dan Khofifah 
Indarparawansa-Mudjiono masuk ke putaran kedua Pilgub Jatim. 

Sambil menunggu hasil akhir penghitungan manual KPU Jatim, partai 
yang kalah dalam pilkada itu masih menimang-nimang pasangan mana yang 
nantinya akan didukung.

Partai Golkar yang berdasarkan hasil hitung cepat hanya menempati 
urutan keempat dari lima pasangan calon, belum menentukan pilihan. 
Namun, kalangan internal di partai itu condong ke Khofifah.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono menyatakan, secara resmi 
Golkar belum memutuskan siapa yang akan didukung dalam putaran 
kedua. "Saat ini kami belum memutuskan kepada siapa Golkar akan 
memberikan suara.

Namun, ada keinginan dari internal Golkar mendukung pasangan Khofifah-
Mujiono," katanya di Gedung DPR, kemarin.

Ketua DPR itu belum bisa menjelaskan apa pertimbangan-pertimbangan 
yang digunakan dalam mendukung pasangan Khofifah-Mudjiono.  

"Saya belum bisa membuka rahasia dapur Golkar. Lihat saja nanti 
perkembangannya, karena yang jelas pembahasan untuk ini akan 
dilakukan secepat mungkin usai pengumuman resmi dari KPU," tambahnya.

Pendapat senada juga dilontarkan Sekjen DPP PDI-P, Pramono Anung yang 
menyatakan partainya belum bisa memutuskan ke mana suara akan 
dialihkan. Menurutnya, ada tiga syarat penting yang harus dipenuhi 
kedua pasangan itu bila ingin mendapatkan dukungan dari PDI-P.

"Pasangan itu memiliki ideologi yang dekat dengan ideologi PDI-P, 
visi dari pasangan cagub itu apakah sesuai dengan visi PDI-P, dan 
hubungan emosional pasangan calon dengan PDI-P," tandasnya.

Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali optimistis pasangan Khofifah dan 
Mudjiono yang diusung PPP dan partai-partai non parlemen mampu 
memenangi putaran kedua. 

"Walaupun di putaran pertama hanya nomor dua, tapi kami merasa 
optimistis di putaran kedua pasangan Khofifah-Mudjiono akan menang. 
PPP akan mengerahkan semua sumber daya yang ada untuk mendukung dan 
memenangi Pilkada Jatim," katanya di Jakarta, kemarin.

Menteri Koperasi dan UMKM ini menyatakan sudah memperkirakan bahwa 
Pilgub Jatim akan berlangsung dalam dua putaran, sehingga PPP dan 
partai pendukung lainnya dapat menggarap daerah basis massa yang 
dianggap mampu mendongkrak perolehan suara di putaran kedua.

"Contohnya Pilkada Sumut, dimana pasangan yang menang pada awalnya 
justru berada di urutan terakhir. Jadi, kita harus optimistis 
menang," tegasnya.
Tambahan Anggaran

Sementara itu, putaran kedua Pilgub Jatim 2008 butuh anggaran Rp 240 
miliar. Padahal di putaran pertama anggaran yang tersedot mencapai Rp 
450 miliar lebih. 

Saat ini baru tersedia anggaran Rp 225 miliar untuk menggelar putaran 
kedua itu. Dengan demikian, ada kekurangan anggaran Rp 15 miliar. 

Eksekutif, DPRD, dan KPU Jatim akan membicarakan soal kekurangan 
anggaran tersebut setelah hasil penghitungan manual  Pilgub Jatim 
diketahui dan memang perlu digelar putaran kedua. Anggota KPU Jatim 
Yayuk Wahyunengseh, Kamis (24/7) menyatakan, alokasi anggaran Rp 225 
miliar untuk Pilgub Jatim putaran kedua masih kurang.

"Sebab, anggaran yang masuk ke KPU termasuk anggaran untuk Panwas 
Pilgub, Desk Pilkada, dan pengamanan," katanya. 

Sejumlah logistik Pilgub Jatim putaran pertama yang bisa dipergunakan 
akan dipakai lagi. Seperti pencetakan surat suara, gambar pasangan 
calon, penggandaan formulir, cetak kartu pemilih tambahan, 
perlengkapan KPPS (sampul, segel, tanda pengenal, lem, tali, spidol, 
pulpen, stiker, surat suara, tinta, gembok, serta biaya pemasangan 
dan pembongkaran kotak).

Kemungkinan yang perlu ditambah adalah bertambahnya jumlah pemilih, 
sehingga ada tambahan kartu pemilih. Hal lainnya adalah pencetakan 
surat suara yang semula ada gambar duet lima cagub dan cawagub, 
tinggal dua duet cagub dan cawagub yang lolos putaran kedua. "Kita 
kan perlu pemutakhiran data jumlah pemilih," jelasnya.

Alokasi anggaran lain yang pasti dibutuhkan antara lain, biaya 
pengangkutan, BBM, pemeliharaan, pelayanan administrasi perkantoran 
(mulai KPU provinsi sampai tingkat PPS), pengamanan pencetakan, 
persiapan pemungutan suara, sosialisasi, rapat kerja dan koordinasi, 
pelatihan (KPU provinsi sampai PPS), perjalanan dinas, serta 
pengumuman pasangan calon resmi.

"Kami usulkan honor petugas PPK, PPS, dan KPPS bertambah 30-40 persen 
di putaran kedua. Sebab, di putaran pertama, honor petugas itu 
rendah. Honor ketua KPPS sebesar Rp 150 ribu dan anggota Rp 100 ribu, 
itu belum dipotong pajak," katanya.

Bagaimana sikap Pemprov Jatim terkait kemungkinan tambahan anggaran 
Pilgub putaran kedua? Sekdaprov Jatim Chusnul Arifien Damuri 
menjelaskan, sebaiknya KPU, Panwas Pilgub, Desk Pilkada, dan pihak 
keamanan menerima dan mengalokasikan seselektif mungkin anggaran Rp 
225 miliar untuk putaran kedua. "Anggaran Rp 225 miliar harus dicukup-
cukupkan. Prinsipnya adalah efisiensi anggaran," tandas Chusnul 
Arifien Damuri. 

Kemungkinan bertambahnya jumlah pemilih di putaran kedua, anggota KPU 
Jatim lainnya, M Nabil mengatakan, pihaknya segera melakukan 
pemutakhiran dan evaluasi data pemilih. "Pasti ada evaluasi daftar 
pemilih," ujar Nabil.

Soetjipto-Ridwan Klaim Menang

Sementara itu, Cagub dan Cawagub Jatim yang diusung PDI-P, Soetjipto-
Ridwan Hisjam menolak hasil penghitungan cepat yang dilakukan 
sejumlah lembaga survei. 

Saat jumpa pers, kemarin, Soetjipto mengklaim dia bersama Ridwan 
Hisjam memperoleh dukungan 26%. 
"Itu berada di ranking pertama dibanding empat pasangan lainnya," 
kata Soetjipto.

Secara tegas, Soetjipto menyatakan, hasil penghitungan cepat beberapa 
lembaga survei itu menyesatkan. Penghitungan cepat lembaga survei 
tersebut mengakibatkan munculnya miss-leading di masyarakat. 

Sebab, untuk posisi teratas perolehan suara dalam Pilgub Jatim, 
sebenarnya justru bukan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf, tapi 
Soetjipto-Ridwan Hisjam.

Dari perkiraan perhitungan tim Soetjipto-Ridwan Hisjam, mereka 
mendapat dukungan 26%, yang disusul pasangan Soekarwo-Gus Ipul dan 
selanjutnya Khofifah Indarparawansa-Mudjiono.

"Kami mempermasalahakn hasil penghitungan cepat karena menyesatkan. 
Hal itu membuat tim kami patah semangat. Kami ingin menunjukkan 
kepada rakyat bahwa penghitungan cepat kemarin bukan hasil final," 
tegas Soetjipto.

Seperti diketahui, hasil penghitungan cepat Pilgub Jatim sejumlah 
lembaga survei yang kredibel menempatkan Soekarwo-Gus Ipul di urutan 
pertama. Posisi kedua ditempati Khofifah-Mudjiono, sedangkan 
Soetjipto-Ridwan Hisjam di posisi ketiga.

Penghitungan cepat LSI Denny JA menempatkan Soekarwo-Gus Ipul dengan 
dukungan 26,64% dan Khofifah-Mudjiono dengan  24,88%. Hasil LSI 
Syaiful Mudjani menempatkan Soekarwo-Gus Ipul dengan 26,99% dan 
Khofifah-Mudjiono dengan 25,37%. 

Hasil Puskaptis menunjukkan pasangan Soekarwo-Gus Ipul dengan 31,34% 
dan Khofifah-Mudjiono dengan 26,16%.

Di sisi lain, Direktur Riset Institut Survei Publik (ISP), Isra Ramli 
menyatakan, pada putaran kedua nanti, duet Khofifah-Mudjiono akan 
mendapat banyak limpahan suara dari pemilih NU, yang pada putaran 
pertama memilih Achmady-Suhartono dan Soenarjo-Ali Maschan 
Moesa. "Sentimen pemilih bisa menguntungkan Khofifah," katanya.

Sebaliknya, tambah Isra, Soekarwo dalam putaran kedua akan lebih 
banyak meraup tambahan dukungan dari kaum nasionalis dan kelompok 
Islam abangan. 

Isra yakin suara pendukung PDI-P akan banyak lari ke pasangan Karwo.
"Di putaran kedua nanti jadi  pertempuran dua arus besar ideologi di 
Jatim yakni santri versus abangan," jelasnya.(G14,J22-9,62)


Kirim email ke