Menafikan Islam atas nama Islam
Dipublikasi pada Friday, 01 February 2008 oleh sam-design
 
Oleh: Ibnu Ardhi 

Trend
pemikiran dunia saat ini mengarah kepada satu kecenderungan untuk
menghabisi ideologi atau pandangan hidup yang dapat memimpin manusia
dalam kehidupan sosial. Artikel Ulil Abshar Abdalla yang di muat di
Kompas dengan judul ¡Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam¢ (18 November
2002) sangat remeh jika dipandang secara logika, karena paling tidak
terdapat 2 alinea yang saling bertentangan konsekwensinya. 


Dapat
digarisbawahi bahwa yang lebih penting dari munculnya artikel seperti
ini dan kisruh yang timbul di masyarakat Islam dimanapun adalah
kecenderungan tersebut di atas. Di mana ada energi besar-besaran yang
dikerahkan dalam rangka menciptakan wacana dan opini khusus dalam
masyarakat umum khususnya masyarakat Islam.

Dengan
menilai artikel Ulil secara umum kita dapat melihat kondisi psikologis
penulisnya. Orang-orang semacam Ulil akan terus berbicara. Sementara
kita dapat mengambil peran oposan terhadap pemikiran atau lebih
tepatnya falasi (sesat pikir) semacam ini.

Harus
juga dapat dipahami bahwa ada Grand Design dibalik munculnya fenomena
seperti ini di kalangan umat manusia. Kita perlu terus mencerdaskan
diri untuk dapat meng-counter atau menunjukkan kebatilan dari falasi
semi ilmiah seperti ini.

Menurut
al-Qur'an, sejak mula kehidupan manusia yang menjadi awal pertikaian
adalah ideologi. Begitu juga menurut versi sejarah modern, pertikaian
yang disebabkan oleh ideologi ditandai dengan terjadinya Perang Salib
antara umat Islam dan Kristen untuk memperebutkan wilayah suci
Palestina, pertikaian antara umat Kristen dan Katolik di Eropa,
pertentangan diantara mazhab Naziisme, Nasionalisme, Sosialisme,
Rasisme dengan paham lainnya di Eropa. Juga pertentangan antara Komunis
dan Kapitalis.

Ketika Rusia yang mewakili ideologi Marxisme tumbang, Amerika Serikat (AS) 
melihat dirinya sudah sendiri. Kemudian AS mencetuskan ide New World Order 
(Tatanan Baru Dunia). Yang menjadi
salah satu prinsip utama ide ini adalah tidak boleh ada satupun
ideologi yang bangkit memobilisasi ratusan ribu atau jutaan manusia
dalam rangka mencetuskan satu misi suci lalu melawan AS. Dalam rangka
menyukseskan ide ini, AS melemparkan isu-isu baru seperti pluralisme,
demokrasi, hak asasi seraya menciptakan satu bentuk penerapan yang
sangat menjijikkan. Jadi Pluralisme adalah salah satu bentuk Grand
Design. AS mengklaim bahwa tidak ada lagi masyarakat paling ideal
selain Barat dimana kebebasan tidak dibatasi, tidak ada lagi ideologi,
yang ada hanya kepentingan.

Adadua faktor dominan yang jika tidak tuntas ditangani maka tidak ada
garansi bagi seseorang untuk tetap berada di jalan kebenaran, yaitu
rasa takut dan rasa aman. Jika salah satu rasa tersebut membelenggu
seseorang maka kebenaran, keadilan tidak lagi penting baginya.
Objektivitas juga akan hilang dari dirinya. Contoh nyata adalah artikel
Ulil, yang menunjukkan kondisi psikologis penulis yang tidak seimbang,
yaitu bagaimana mengatasi rasa takutnya dan menangani keinginannya
untuk melakukan sesuatu.

Manusia
memiliki alam bawah sadar (sub conscious) di mana ia akan melakukan
hal-hal tertentu tanpa ia sadari sepenuhnya yang merupakan produk dari
pengalaman di masa-masa kritisnya yaitu masa kanak-kanak. Pengalaman
apapun dapat menyebabkan manusia memiliki satu perasaan tertentu yang
berada di alam bawah sadarnya. Contohnya adalah seseorang yang
menyatakan "Go to Hell Amerika". Tapi tatkala akan membeli sesuatu dan
ada pilihan antara barang AS dan non AS maka otomatis dia akan memilih
barang AS karena impiannya saat kecil adalah AS. Kondisi seperti ini
tidak bisa dilawan kecuali ia mempunyai iman sangat kuat atau hal-hal
metafisik lainnya. Iman (kemampuan yang besar untuk berhubungan dengan
Allah sebagai sumber kebenaran) mampu menghilangkan sisa psikologis
yang selama ini digagahi oleh kebatilan.

Masalah
psikologis sosial (alam bawah sadar) seperti ini banyak dikuasai oleh
musuh Islam. Banyak hal-hal yang mereka masukkan ke alam bawah sadar
kita tanpa disadari. Bagi orang-orang yang sering menonton film Barat
maka ia akan melihat bahwa perfoma Yesus yang ditampilkan adalah
bermata biru dan berambut pirang. Mereka memakai perfoma seperti itu
untuk menciptakan satu opini bahwa kalau seseorang itu sudah bermata
biru dan berambut pirang pastilah orang baik dan tidak akan bisa
dilawan. Wong Yesusnya saja bermata biru dan berambut pirang. Padahal
Yesus itu berasal dari Nazaret yang bentuk tubuhnya bukan seperti itu.
Ini adalah kebohongan besar yang bisa dilihat di dunia ini.

Adatiga hal penting yang barangkali bisa menjadi ringkasan. Pertama, bahwa
ada Grand Design yang sengaja diciptakan AS untuk mengikis habis segala
bentuk ideologi/pandangan hidup manusia, sehingga manusia berada di
bawah kekuasaan AS tanpa ada satupun ideologi yang muncul untuk
menentangnya. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah mengikis habis
bentuk sosial masyarakat walau sampai di pedalaman Tibet.

Contoh
kecil adalah dimunculkannya paham individualisme dalam masyarakat
sehingga peran-peran sakral tertentu, seperti orangtua dan kakek
misalnya, dalam keluarga menjadi hilang. Maka penanaman ideologi atau
agama dalam keluarga akan sulit dilakukan. Dan jika hal ini terjadi
maka tidak ada hak bagi orangtua untuk menentukan anaknya harus jadi
apa di luar rumah. Contoh lainnya adalah isu feminisme yang dilontarkan
dengan membuat orang berfikir bahwa ada kesalahan struktur. Padahal
banyaknya korban yang ada di pihak wanita atau pria terjadi karena
penyalahgunaan struktur yang ada.

Kedua,
adanya dua faktor yang harus tuntas dipahami yaitu: rasa takut dan rasa
aman pada diri seseorang. Kaitannya dengan penulis artikel adalah bahwa
penulis dapat dinilai sebagai orang yang tidak memiliki integritas
berfikir, yang dipengaruhi oleh alam bawah sadarnya. Penulis artikel
tidak menginginkan Islam dengan menyatakan bahwa hukum Tuhan itu tidak
ada. Tuhan digambarkannya hanyalah seperti seorang kakek yang baik hati
yang memberikan wejangan. Ini berarti bahwa Islam itu tidak ada sama
sekali. Penulis artikel ingin mengatakan "Lenyapkan Islam" tapi ia
tidak sanggup. Apalagi dengan background namanya yang cukup Islami:
Ulil Abshar Abdalla, berasal dari pondok pesantren dan menantu seorang
Kyai.

Semestinya
Ulil mampu melakukan tindakan yang menjadi konsekwensi dari cara
berfikirnya. Kalau ia berfikir bahwa Islam harus dibuang maka buang
saja! Tapi ternyata ia tidak mampu dan tidak jujur terhadap
pemikirannya sendiri. Maka orang-orang tipe seperti ini akan mencari
jalan keluar dengan melakukan kompromi, seperti mengawinkan Islam
dengan Barat, atau apa saja yang dapat membuat tidur malamnya menjadi
nyenyak. Tidak bisa tentunya menafikan Islam saat dia berada dalam
Islam itu sendiri.

Hal
seperti ini juga bisa melanda siapa saja yang tidak hati-hati dalam
mempelajari hal-hal ideal dari agama. Pada saat fenomena sosial jauh
dari nilai-nilai ideal itu, bagaimana menanganinya? Terkadang, naudzu
billah, seseorang terperosok dalam lubang yang sama di mana dia
berusaha menafikan Islam tapi nama Islam tetap dia pegang. Jauh lebih
gentlement kalau dia total menafikannya. Janganlah berfikir falasi
(sesat pikir) ala Barat, materialis, metode hubungan sosial ala Yahudi
asli tapi namanya pakai nama yang Islami dan bertempat di
masjid-masjid, atau di madrasah-madrasah. Jika Islam memang bukan buat
anda, secara gentlemnent keluar saja dari Islam. Biarkan Islam buat
orang-orang yang berpikir logis bukan falasi. Jangan karena keberatan
lalu anda ingin mengarahkan Islam pada apa yang menurut anda benar.

Ketiga,
adanya semacam fenomena bahwa cendikiawan muslim, kebanyakan tidak
punya rasa percaya diri untuk menelurkan ide atau pemikiran baru.
Mereka biasanya mengadopsi dari cendikiawan lainnya. Jarang sekali
muncul ide baru yang luar biasa di bidang ilmu sosial. Dan apa yang
diutarakan penulis artikel dengan menyebut bahwa agama adalah salah
satu bentuk fenomena sosial yang sama seperti revolusi, peperangan dan
sebagainya, adalah sesuatu yang tidak orisinil. Agama dinyatakan
sebagai monumen yang tidak mati, bisa maju dan mundur, tanpa memiliki
nilai sakral.

Ulil mencontohkan permasalahan jilbab (hijab).. Ia menyatakan bahwa hijab pada 
dasarnya adalah satu bentuk public decency,
yaitu memakai pakaian apa saja yang tidak menyebabkan anda dituding
saat tampil di depan orang lain. Padahal jilbab dalam Islam adalah
menambah hijab yang sudah ada pada zaman itu. Para wanita saat itu sudah 
terbiasa memakai tutup kepala seperti kerudung,
tapi tidak menutup lehernya. Lalu al- Qur'an datang dengan ide baru.

Sebenarnya
agama adalah satu fenomena yang murni sakral, oleh karena apa-apa yang
mengikatkan kita pada agama, semua motivasi dan kesadaran tentang agama
kembalinya pada klaim bahwa ada orang tertentu yang datang dan membawa
wahyu Tuhan.

Satu
hal yang cukup menggelikan, dalam salah satu alinea dalam artikelnya
Ulil menyatakan tidak boleh mengadopsi sistem pemikiran yang
kontradiksi antara Islam dan Barat dengan menyatakan yang satu maju dan
yang lainnya mundur oleh karena semua ini adalah hasil pemikiran umat
manusia. Tetapi kemudian di alinea selanjutnya Ulil menyatakan ada
beberapa langkah yang harus ditempuh agar Islam maju. Penulis
mengadopsi pemikiran bahwa tidak boleh ada anggapan yang satu maju dan
yang lainnya mundur, tetapi alam bawah sadarnya tidak setuju. Pada
akhirnya ia menyampaikan satu solusi agar Islam maju.
Salah
satu sarana yang digunakan musuh untuk menghancurkan Islam adalah
melalui desakralisasi agama, seperti pemahaman bahwa Nabi adalah
manusia biasa. Saat konsep seseorang tentang kenabian tidak sempurna
maka akan mudah diserang oleh berbagai pemikiran yang kelihatannya
bagus padahal falasi, terutama pada orang-orang yang lemah
militansinya.[]


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke