Pesta Budaya Melayu Sumatra Utara
Suku Melayu adalah salah satu suku yang berdiam di Sumatra Utara. Dalam ensiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Melayu (1991) disebutkan bahwa Melayu adalah kelompok masyarakat yang berbahasa Melayu, mengamalkan Adat Melayu dan bergama islam. Kesan perjalanan sejarah yang menjadikan nama Melayu sebagai identitas kelompok beragama islam berbeda dengan kelompok yang masih beragama tradisi. Maka identitas islam itu bersamaan dengan nama Melayu sebagai ciri ke-Melayu-annya Dalam Kompas online tanggal 7 May 2007 dengan tajuk "Taman Sri Deli, Cagar Budaya yang Carut Marut" disebutkan bahwa: Puak Melayu boleh saja berkibar dijagat ini. Namun, bagaimana di Medan?. Di daerah pusat Kesultanan Deli ini, justru berbuah ironi. Simbol-simbol kejayaan Puak Melayu, satu per satu ditelan kemajuan zaman. Gedung Mahkamah Syariah, gedung Kerapatan Adat, Kampung Soeltan, Rumah Panggung dikota Matsum, gedung eks Balai Pustaka, gedung eks pendidikan sekolah dan sebagainya yang merupakan beberapa simbol kejayaan Melayu, hanya tinggal bekas. Undang-undang No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya tak mampu melindungi simbol-simbol kejayaan Puak Melayu tersebut. Kebanggan etnis Melayu di kota Medan, kini hanya tinggal Masjid Raya Al- Mansoen, Istana Maimoon, Masjid Soletan Ma'mon Al-Rasjid di kecamatan Medan Labuhan dan Taman Sri Deli. Warisan budaya Melayu lainnya adalah tradisi lisan yang banyak dijumpai dan berkembang luas dikalangan komunitas Melayu. Dalam tradisi lisan itu banyak dikisahkan heroisme orang Melayu, perlawanannya dan kepiawiannya. Tradisi lisan itu diantaranya adalah teks Hikayat Hang Tuah (HHT), Sejarah Melayu (SM), Hikayat Merong Mahawangsa (HMM), Hikayat Kedah (HK) ataupun Hikayat Patani (HP) Demikian pula dalam permainan (game), Syaiffudin (dalam Sinar 2002) adalah sebagai berikut: 1) permainan Rimbang, 2) Engglek, 3) Congkak, 4) Ajung, 5) Bilon, 6) Incit-incit Semut, 7) Umpat-umpatan atau Alip berondok, 8)Gasing, 9) Guli atau Tortup, 10) layang-layang, 11) lomba tempurung, 12) musang dan Ayam, 13) pasang, 14) Alip Jongkok, 15) Alip Jindong, 16) Tilu-tiluan atau Gotoi, 17) Cina Buta (tamtam buku) 18)kuda Mandi, 19) Patuk Lele, 20) perang-perangan dan lain-lain. Dilema Melayu pada dua dasawarsa terakhir adalah ketertinggalannya di kancah publik. Orang Melayu hampir saja tercecer sebagai dampak kompetisi yang menyeruak ke berbagai aspek. Bahkan, sebagai etnik host kota Medan, orang Melayu banyak yang terpinggirkan. Demikian pula dalam hal tradisi budaya yang dilawankan dengan budaya global dan instan. Akan tetapi, seiring dengan pendidikan serta adanya kesadaran untuk maju, akhirnya orang Melayu mulai dapat meretas kebuntuan untuk dapat bersaing dengan kelompok suku lainya. Orang Melayu tidak lagi menjadi rakyat penunggu tanah jaluran atau mencari sisa-sisa kejayaan Kesultanan Melayu ditengah-tengah puing-puing reruntuhan kejayaan Kesultanan Melayu dimasa lalu itu, namun pemahaman atas keterbelakangannya itu, menjadi cambuk untuk mencapai era kemajuan etniknya. Bagaimanapun juga jika "Melayu Adalah Sahabat Semua Suku", maka negeri Melayu adalah negeri dimana setiap orang dapat beraktifitas, berjuang dan memajukan budaya masing-masing tanpa suatu difrensiasi dan segmentasi berdasar primordialisme. Berangkat dari dasar pemikiran diatas, Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Cabang Sumatra Utara bekerjasama dengan Museum Negeri Sumatra Utara dan Asosiasi Museum Indonesia Pengurus Daerah Sumatra Utara bermaksud melakukan kegiatan dengan tema PESTA BUDAYA MELAYU SUMATRA UTARA. Secara Keseluruhan Kegiatan ini direncanakan akan dilaksanakan pada: Hari/tanggal : Senin-Rabu, 04-06 Agustus 2008 Tempat : Museum Negeri Sumatra Utara. Jalan HM. Joni No 52 Medan. (simp gedung Archa Medan.) Tanggal-Tanggal Penting Hari/tgl Pukul Kegiatan Pemandu/ Narasumber Selasa 05 Agustus 2008 09.00-12.00 Seni Pertunjukan Melayu Peserta 12.00-14.00 ISHOMA Panitia 14.00-16.00 Atraksi Permainan Anak Peserta Rabu, 06 Agustus 2008 09.00-12.00 Seminar Nasional Panitia 12.00-14.00 ISHOMA Panitia 14.00-16.00 Penutupan Panitia SEMINAR NASIONAL "RESTORASI BUDAYA MELAYU" Pembicara: 1. Syamsul Arifin, SE (Gubernur Sumatra Utara) 2. Prof. Usman Pelly, ph.D, MA (Guru Besar UNIMED) 3. Dr. Wan Syarifuddin (Dekan Fakultas Sastra USU) 4. T. Lukman Sinar, SH (Sejarawan Melayu) 5. Damiri Mahmud (Sastrawan Melayu) 6. Dr. Phil. Ichwan Azhari, MS (Kepala PUSSIS-UNIMED) Seminar diselenggarakan pada Rabu, 06 Agustus 2008 Mulai Jam 08.30 WIB s/d Selesai di AULA Museum Negeri Sumatra Utara (Jl. HM. Joni No.51 Medan) Peserta yang berminat dalam kegiatan ini dapat menghubungi panitia penyelenggara dengan alamat dibawah ini: MUSEUM NEGERI PROVINSI SUMATERA UTARA Jalan HM. Joni No. 51 Medan 20217- Sumatra Utara-Indonesia Telp. +62 61 76484944; +61 61 77800690 Faks (061) 732222 HP. 081361341334 www. museum-sumut. org E-mail: [EMAIL PROTECTED] sumut.org <../../../../komunitashistoria/post?postID=iIT9fePVCch-GPaEVjF66rlJICTv9\ 0PlT2P92nBWYv5Jt8FhnpxIIJvtt4a44Wx35JDlOGmJ38RtlTttBg> atau [EMAIL PROTECTED] com <../../../../komunitashistoria/post?postID=cVoP3863o-5r91JEJ8iPltH_wcLOo\ tzeT_SSXTkPqmVjLzySlqfcv3iyvg9Z5a8wSYQBMOwplcBlXxQQ> [Non-text portions of this message have been removed]

