Mbak Lina dan Bung Pitung. Kasus HIV/AIDS tidak hanya di Bali. Mengapa Bali di "singled out"? Kasus HIV/AIDS di Indonesia yang terbanyak terdapat di Jakarta (DKI), kemudian diikuti Jawa Barat, Papua, Jawa Timur, baru Bali. Jadi dalam jumlah kasus, propinsi Bali bukan yang terbanyak. Kalau pencuplikan Bali diniatkan untuk menunjukkan ada kaitannya dengan turisme, jelas tidak kena. Jumlah turis yang ke Jawa Barat tidak sebanyak yang ke Bali. Jumlah turis yang ke Yogya mungkin malah lebih banyak dibanding yang ke Jawa Barat, tetapi kasus HIV/AIDS di Yogya toh jauh lebih rendah. Kalau mau dikaitkan dengan agama, makin tidak klop. DKI, Jawa Barat dan Jawa Timur mayoritas Islam, atau bahkan dapat dikatakan pusat-pusat Islam di Indonesia.
KM -------Original Message------- From: Lina Dahlan Date: 25/07/2008 16:34:42 To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [wanita-muslimah] HIV/AIDS di P. Dewata Hidayatullah.com--Sebanyak 2.112 warga di berbagai daerah Pulau Dewata tercatat telah terjangkit virus HIV/AIDS yang antara lain ditularkan melalui hubungan seks bebas dan pemakaian jarum suntik secara bergantian. Dari jumlah itu, 185 di antaranya diketahui telah meninggal dunia, sisanya masih dalam perawatan tersebar di beberapa rumah sakit di Bali, kata Koordinator Pokja Perencanaan, Monitoring dan Evaluasi Komisi Penangulangan AIDS (KPA) Bali, Prof Dr IDN Wirawan MPH, di Denpasar, Rabu. Ia menyebutkan, jumlah korban meninggal dunia akibat virus yang mematikan itu diperkirakan akan terus bertambah, sehubungan kondisi para penderita umumnya telah begitu akut. Selain dalam kondisi akut, masyarakat sekitar tempat tinggal para penderita juga masih menerapkan sistem diskriminasi dan stigma bagi para penyandang HIV/AIDS. Akibatnya, kata Prof Wirawan, sulit bagi para penderita dapat menyesuaikan diri dan bertahan secara psikologis dalam menghadapi penyakitnya. Dikatakan, para pengidap virus HIV akan menjadi lebih cepat meninggal dunia setelah lingkungan di sekitarnya kurang dapat memberi tempat tersendiri, sebagaimana layaknya para penderita jenis penyakit yang lain. "Masyarakat kita masih menganggap bahwa penderita AIDS adalah orang yang terkutuk dan menakutkan, sehingga harus dijauhi serta diasingkan dari pergaulan sehari-hari," ucapnya. Sikap masyarakat yang belum dapat menerima kehadiran penderita seperti itulah yang terbukti telah membuat penyakit mereka kian semakin parah hingga kemudian meninggal dunia, kata Wirawan. Melihat itu, Wirawan mengharapkan masyarakat tidak lagi melihat penderita HIV/AIDS sebagai sesuatu yang menakutkan, mengingat virus tersebut hanya dapat menular lewat hubungan seks bebas dan cairan darah."Di luar itu, virus tidak dapat berpindah dari satu penderita ke calon penderita yang lainnya," katanya. [ant/www.hidayatullah.com] ******** Lina: Pak Wirawan Yth., Ada hal yang lebih penting dalam hal ini yaitu: pencegahan. Kalau bisa dicegah, penangananya moga2 gak terlalu repot. Meminta masyarakat bisa menerima kehadiran penderita HIV/AIDS diperlukan sosialisasi dan informasi. Itu memang perlu. Buat penanganannya yang lebih perlu adalah menginformasikan kepada masyarakat untuk tidak berseks bebas dan pakai suntikan sembarangan...:-). Maksute: meyeluruh...gitu loh! wassalam, [Non-text portions of this message have been removed]

