Saat "cari ilmu agama" di pondok pesantren, bisa jadi Ryan hanya menghapal dan 
memahami ayat-ayat soal pembunuhan.
 
Saat dia jadi guru ngaji pun, yang dia hapalkan hanya ayat-ayat itu.
 
Hasilnya dia menjadi pembunuh berdarah dingin.


--- On Fri, 7/25/08, si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: si pitung <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ppiindia] Kasus Mutilasi Pelaku Homoseksual :Crime of Passion, 
Kekejian Dibalik Pembunuhan
To: [email protected]
Date: Friday, July 25, 2008, 12:26 AM

Kasus Mutilasi Pelaku Homoseksual :Crime of Passion, Kekejian Dibalik
Pembunuhanhttp://hizbut-tahrir.or.id/2008/07/23/kasus-mutilasi-pelaku-homoseksual-crime-of-passion-kekejian-dibalik-pembunuhan/


Lebih
dari separuh kasus pembunuhan yang melibatkan kaum homoseksual,
dimutilasi. Pelaku umumnya menusuk korban lebih dari 10 kali tikaman.
Kasus dilakukan secara spontan, terkait pasangan seks dan dilakukan
secara spontan. Apakah ini menunjukkan, perilaku sosial kaum
homoseksual lebih kejam dari perilaku masyarakat heteroseksual?

 
Direktur
Reserse Kriminal Umum Polda Metro, Komisaris Besar Carlo Brix Tewu,
Rabu (16/7) malam, mengatakan, lebih dari separuh kasus pembunuhan yang
melibatkan homoseks, berakhir dengan mutilasi. Kasus umumnya dilakukan
secara spontan dan terkait dengan persoalan pasangan seks. Angkanya
saya punya, tetapi tidak di tangan saya sekarang. Jadi saya sebut saja,
lebih dari separuh berakhir mutilasi, tuturnya.
Kepala
Satuan Kejahatan dengan Kekerasan, Ajun Komisaris Besar Fadhil Imran
menambahkan, Kamis (16/7) siang, korban sekurangnya ditikam dalam 10
kali tikaman. Korban tewas Heri Santoso (40) misalnya, ia ditikam
tersangka Ryan (Verry Idham Henyaksyah, 30) dengan sebelas kali
tikaman. Juga pelaku dewasa dalam kasus sodomi anak-anak di bawah lima
tahun yang pernah saya tangani. Tersangka, tega menikam korbannya yang
masih kecil dengan 10 kali tikaman, hanya karena si anak yang sudah
lama disodomi, hari itu menolak disodomi,papar Fadhil.
Pelaku
seolah ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa ia benar-benar marah,
lanjutnya. Menurut Fadhil, dalam kasus pembunuhan yang dilakukan
masyarakat heteroseksual, pelaku cukup menikam korban sekali dua kali
saja, tanpa atau dengan mutilasi.
Heri
dibunuh Ryan di kamar 309A, Blok C Margonda Garden Residence, Depok,
Jum¢at (11/7) pukul 20.00. Ryan membunuh Heri setelah Heri menawar
Noval (Novel Andrias) pacar Ryan. Ryan tersinggung. Heri ditikam dengan
11 kali tikaman. Mayatnya dipotong tujuh bagian, disimpan dalam travel
bag, koper, dan sebuah tas plastik, lalu di buang ke dua lokasi di tepi
Jalan Kebagusan Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (12/7)
subuh. 

Crime of Passion
Prof
Dr Marjono Reksodipuro, mantan Dekan Fakultas Hukum Universitas
Indonesia (UI), yang dihubungi Kamis (17/7) mengatakan, identifikasi
kasus dan pelaku yang disampaikan Carlo dan Fadhil belum menunjukkan
kaum homoseksual lebih kejam dari masyarakat yang heteroseksual.
Terkesan menjadi lebih kejam karena umumnya, kalangan homoseks meledak
dalam basis crime of passion dengan latar belakang yang sama, soal
pasangan seks.
Marjono
mengatakan, basis kejahatan masyarakat heteroseksual lebih beragam dan
latar belakang atau motifnya pun bermacam-macam. Itu sebabnya,
prosentase rangkaian kejahatan keji yang dilakukan masyarakat
heteroseksal, lebih kecil berbanding total kejahatan yang mereka
lakukan.
Kejahatan homoseks yang muncul ke publik hanya rangkaian kejahatan
keji, yang nyaris melulu menyangkut pasangan seks. Timbul kemudian
citra, kaum homoseks itu umumnya keji.
Padahal,
kekejian itu hanya sebatas menyangkut persoalan pasangan seks, kilah
Marjono. Menurut dia, Crime of passion adalah ledakan kemarahan yang
membabi buta karena merasa terhina, dan cemburu, yang membuat pelaku
membunuh atau menganiaya berat. Biasanya berlangsung secara spontan,
tidak terorganisir dan terencana. Oleh karena itu, para pelaku umumnya
terjerat pasal 338 atau 339 KUHAP, tambah Kriminolog UI, Prof Dr
Adrianus Meliala yang dihubungi terpisah.
Pada
kaum homoseksual, lanjut Kriminolog UI lainnya, Prof Dr Ronny Niti
Baskoro, crime of passion bisa dipicu unsur lain, yaitu unsur ketakutan
kehilangan peran karena pasangannya terancam hilang. Guru Besar
Fakultas Psikologi UI, Prof Dr Sarlito Wirawan, Adrianus, dan Marjono
mengakui, rendahnya populasi kaum homoseksual menyebabkan kalangan ini
mudah mengalami distres, mudah panik. Crime of passion diantara
homoseks terjadi lebih keras karena berlangsung di antara para pria.
Menurut
mereka, asmara yang tumbuh di antara mereka adalah cinta Platonis,
mencinta untuk menguasai dengan pendekatan, looose-loose solution, dan
bukan win-win solution. Dengan kata lain, dalam kasus-kasus perebutan,
perselingkuhan dan pertengkaran asmara, kaum homoseks umumnya
berprinsip, Kalau saya tidak dapat, makan kamu pun tidak akan mendapat
dia. Interaksi berlangsung agresif saling menghancurkan,ungkap Sarlito.
Peran permanen
Menurut
dia dan Adrianus, dalam menjalin asmara, kaum homoseks tidak mengenal
konsep belahan jiwa. Mereka hanya mengenal konsep pembagian peran yang
permanen antara perempuan dan pria . Peran tersebut mereka jalankan
sampai mereka ajal.
Fungsi-fungsi
dalam organ tubuh pria dan perempuan tidak penting bagi mereka. Yang
mereka utamakan pembagian peran pria dan perempuan. Itu bedanya
homoseks dengan waria. Waria adalah pria yang ingin menjadi perempuan
dengan mengubah keadaan tubuhnya. Dari tubuh pria, menjadi tubuh yang
mirip perempuan. Dia lantas membesarkan dada menjadi payudara, dan
mengubah alat kelaminnya.
Sepengamatan
Fadhil, di kalangan kaum homoseksual, peran itu cukup ditandai dengan
ada tidaknya bulu-bulu di sekitar genital mereka. Yang berperan
perempuan mencukur habis bulu-bulu mereka, sedang yang berperan pria
tidak. Saya melihat itu pada jenazah mereka. Yang berperan perempuan
melakukan oral, sedang yang berperan pria melakukan sodomi,ungkapnya.
Fadhil sependapat dengan Sarlito dan Adrianus, pembagian peran itu
bersifat permanen..
Saya
mendapatkan pengakuan itu ketika menyidik para tersangka pembunuh yang
homoseks,ucapnya. Kepada wartawan, tersangka Ryan pun mengaku, sudah
lima tahun ia mengenal dekat Heri. Tetapi selama itu, keduanya tidak
berhubungan intim karena keduanya berperan sebagai perempuan.
Pembagian
peran ini kata Adrianus dan Sarlito, menentukan eksistensi setiap
homoseks. Jika salah seorang dari pasangan homoseks hilang (lari,
selingkuh, kembali menjadi pria sesuai fungsi tubuhnya, atau
meninggal), maka homoseks lainnya mengalami krisis peran, krisis
eksistensi. Itulah yang membuat tersangka Ryan memutilasi Heri. Ryan
tidak ragu menghabisi Heri karena Ryan merasa perannya sebagai
perempuan terancam oleh ucapan Heri.
Sarlito
mengatakan, sebagai kelompok minoritas yang terus merasa terancam, kaum
homoseks bisa cepat mengatasi berbagai persoalan eksternal mereka
karena ada perasaan senasib yang harus mereka tanggung bersama. Oleh
karena itu, jarang muncul kejahatan yang melibatkan homoseks karena
motif ekonomi, atau motif eksternal lainnya. Tapi begitu menyangkut
persoalan internal seperti persoalan peran tadi, mereka akan bersikap
loose-loose,tutur Adrianus.
Lebih keji
Kriminolog
UI lainnya, Prof Dr Ronny Niti Baskoro, mengutip sejumlah hasil riset
internasional mengakui, kaum homoseks lebih keji ketika meledak
ketimbang kaum lesbian. Bukan hanya karena yang satu pria dan yang lain
perempuan, tetapi juga karena pasangan homoseks lebih terbuka, lebih
loyal dan setia, serta berbasis pada kasih sayang pasangan ketimbang
kebutuhan seksual mereka. Bisa dimaklumi bila kemarahan mereka menjadi
seperti amuk bila dikhianati pasangannya, atau pasangannya direndahkan,
paparnya.
Kaum
lesbian umumnya, lanjut Ronny, berbanding sebaliknya. Mereka lebih
sebagai pasangan yang tertutup, lebih mengutamakan kepuasan seksual
ketimbang kesetiaan, dan lebih mudah kembali menjadi perempuan sesuai
organ tubuhnya, atau kembali lagi menjadi lesbian ketika menemukan
pasangan yang cocok.
Karena
sifat komunitasnya itu, kaum lesbian lebih mudah menjadi biseks
ketimbang kaum homoseks. Kaum homoseks yang menikah lain jenis, ia
menikah hanya sebagai kedok saja. Dia tetap homoseks dan bukan
biseks,tegas Ronny. (Kompas,Selasa, 22 Juli 2008 | 06:19 WIB)


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke