"SESUNGGUHNYA aku ini takut kepada Allah. Takuuut kepada Allah. Takuuut takuut
kepada Allah," ucap tokoh Iblis. Pengakuan yang sangat mendasar itu menjadi
bantahan Iblis yang selama ini selalu dicap sebagai tokoh jahat, raja kegelapan
dan saingan Tuhan.
"Tolong bedakan Iblis dengan Setan. Iblis itu makhluk pemula ciptaan Tuhan,
sebelum para malaikat yang lain. Sedang setan itu adalah gelombang enerji
negatif yang muncul dalam diri manusia. Iblis seratus persen berada di dalam
dan di bawah susunan kekuasaan Tuhan!" Dialog ini menutup pergelaran
fragmen-fragmen 'Tikungan Iblis' karya budayawan Emha Ainun Nadjib yang
dipentaskan Teater Dinasti Yogyakarya di forum Jamaah Maiyah Macapat Syafaat,
Tamantirto, Kasihan Bantul, Kamis lalu (17/7).
Pergelaran ini merupakan ujicoba Teater Dinasti dalam mengomunikasikan berbagai
pencapaian kreativitasnya, setelah hampir 3 bulan berlatih. Selain adegan ini,
juga digelar 3 bagian dari naskah yang sama. Penampilan para pemain mampu
memukau sekitar 1.000 jamaah selama hampir 1 jam.
Penyutradaraan pementasan ini digarap Fajar Suharno dan Jujuk Prabowo. Musik
digarap Robiet Santosa dan Kiai Kanjeng. Didukung para aktor yaitu Joko Kamto,
Novi Budianto, Tertib Suratno, Jemek Supardi, Eko Winardi, Cithut DH, Seteng,
Bambang Susiawan, Untung Basuki dan puluhan aktor muda lainnya. Penata multi
media yaitu Ipung Wai Ming. Mereka didampingi kontributor gagasan dari aktivis
LSM Fauzie Ridjal dan Toto Rahardjo.
Pementasan ini akan digelar di beberapa kota, termasuk di Taman Budaya
Yogyakarta pada 23 Agustus mendatang. "Selama ini Iblis selalu jadi kambing
hitam manusia dalam kesalahan. Padahal manusia berbuat jahat didorong oleh
nafsunya sendiri yang mewujud dalam godaan yang diistilahkan 'bisikan setan',"
kata Emha.
Bagi Emha, pementasan ini merupakan wujud kebahagiaan Keluarga Besar Dinasti
dan Kiai Kanjeng. "Kebahagiaan persaudaraan merupakan nilai yang paling tinggi,
di samping pencapaian kreativitas. Saya merasakan, kini untuk saling mencintai
makin lenyap dari kehidupan bangsa kita. Yang ada lebih banyak prasangka,
bahkan kebencian. Saya kok yakin, kesenian dapat menjadi media efektif untuk
menyuburkan semangat mencintai antar sesama manusia," kata Emha yang juga
mengelola forum sejenis seperti Kenduri Cinta (Jakarta), Gambang Syafaat
(Semarang), Padang mBulan (Jombang), Bang-bang Wetan (Surabaya) dan lainnya.
(Cdr)-c
*) diambil dari kr.co.id
--------------------------------------------------------------------------------
JEMEK SUPARDI, lahir di Yogya, 14 Maret 1953 ini semula menekuni teater tetapi
kemudian dia merasa ada kekurangan dalam dirinya untuk mendalami bidang
tersebut, terutama dalam hal menghafal naskah. Ia pun lantas menjatuhkan
pilihan pada seni pantomim yang lebih mengandalkan gerak tubuh. Pantomim telah
ditekuni selama kurang lebih tiga puluh tahun.
--------------------------------------------------------------------------------
Alamat Rumah
Jl. Brigjen Katamso No. 194 Yogyakarta.
Kode Pos 55152.
--------------------------------------------------------------------------------
Apabila Anda Berminat Mengundang Pentas
Silahkan menghubungi :
MANAJEMEK Mim-Teater
www.jemeksupardi.multiply.com
Kontak 081904138595
mediacare
http://www.mediacare.biz
[Non-text portions of this message have been removed]