I La Galigo merupakan salah satu karya sastra Bugis klasik. Tokoh2nya sebagian besar dilakonkan oleh para dewa dan makhluk2 adikodrati, tempatnya sebagian berlatar tempat suci, yaitu Boting Langiq (kerajaan langit) dan Buriq Liuq (kerajaan alam bawah tanah).
Secara kultural, mitos I La Galigo berfungsi untuk memberikan penuntun bagi masyarakat pendukungnya bagaimana cara berprilaku, bertutur kata, bersopan santun, dan hidup bermasyarakat. Satu seloka dari Sang Mahaprabu Niskala Wastu Kencana, yaitu : Tadaga carita hangsa, Gajendra carita banem, Mastyanem carita sagarem, Puspanem carita bangbarem diartikan sebagai : Bila ingin tau tentang telaga, bertanyalah kepada angsa, Bila ingin tau tentang hutan, bertanyalah kepada gajah, Bila ingin tau tentang laut, bertanyalah kepada ikan, Bila ingin tau tentang bunga, bertanyalah kepada kumbang Seloka demikian mengingatkan agar jangan keliru mencari tempat bertanya. Secara tidak langsung juga mengingatkan agar tidak keliru menempatkan orang dalam tugas. Bukan hanya golok yang harus diasah, melainkan juga akal, budi, keahlian dan kepekaan terhadap kebenaran dan kebajikan. Ada dua larik ungkapan tradisional Jawa, yang artinya kurang lebih sebagai berikut : Janganlah kamu menjadi orang yang merasa tau tapi menjadilah orang yang tau merasa

