Di negeri Kurawa? Apa benar bisa disebut seperti tulisan dibawah ini, bahwa
Indonesia sudah masuk jadi dongeng pewayangan yang menjadi kenyataan, realita
kehidupan negara Indonesia?
Sangat menarik apa yang dikatakan terdakwa, dan yang sudah ter-vonis (5 tahun
penjara)si Artaylita , sempat mengeluh....." yah...beginilah fenomena hukum di
Indonesia" Malahan si ter-vonis Artaylita sempat mengajak, setidak-tidak-nya
dia sendiri minta agar pengadilan dan yang mengadili dirinya mendapat
pengampunan dari Tuhan.
Belum lagi ada berita bahwa se-gedubrak pentolan2, yang ngakunya pembela rakyat
sebanyak 52 orang menjadi terdakwa dalam kasus korupsi. Bahkan sekarang SBY
sudah harus gigit jari karena kabinet bersatunya jadi deldel duwel karena ada
2 mentri yang tersangkut dalam dana bank.
Kayaknya, dan ini adalah pendapatku, yang tentunya sempat aku pikirkan dan
melihat contoh2 apa yang terjadi di-lapangan bahwa dongeng negara Kurawa itu
sebetulnya bisa dikaji asal usulnya. Bagaimana negara Kurawa itu bisa
"terjelma"? Kenapa begitu banyak para Kurawa jahat dan begitu banyak para
dorna2?
Aku bisa menurut, apabila kita mau introspeksi secara jujur, sebenarnya sejarah
perjalanan sejarah negara Indonesia yang sekarang jadi negara Kurawa itu bisa
kita runut sejak berdirinya...sejak tahun 1945.
Tanpa mengurangi jasa2 para pahlawan revolusi yang sudah wafat, kita harus
introspeksi kedalam dan bertanya kepada diri kita sendiri. Apa yang salah
dengan perjalanan sejarah kita sejak 1945 yang sekarang rupanya jalan yang
di-ambil oleh pemimpin2 kita rupanya telah mengambil jalan yang keliru dan
sekarang ibaratnya kesasar?
Sejak semula bangsa ini yang telah jatuh dalam detik2 efori setelah tahun 1945
dan setelah penjajah Belanda angkat kaki maka sejak saat ini rupanya pemimpin2
kita mulai dari Presiden pertama Bung Karno sudah salah langkah. Betapa
pentingnya langkah pertama dalam segala aspek kehidupan, apalagi dalam
kelahiran suatu negara adalah mutlak menjadi penyebab, menjadi basis, menjadi
pondamen negara ini akan maju atau menjadi negara Kurawa.
Secara historis sudah ter-urai, dari Bung Karno yang lebih banyak mementingkan
politik ketimbang pembangunan ekonomi, kenudian era Orba yang mewujutkan
nepotisme korupsi yang besar2an disertai pembunuhan bangsa dewek, kemudian
disusul dengan para miniatur2 presiden2 dari Habibie, Gusdur dan Megawati,
semuanya adalah penerus kesalahan awal yang dilakukan oleh para
pengawal/pendiri NKRI sejak tahun 1945. Era sekarang yang dikatakan era
reformasi sudah ketelanjur meneruskan kehancuran moral bangsa ini.
Jadi sekarang tertinggal yalah kita hanya menekuni yalah berantakannya negara
ini, dan kepingan2nya hanya hanya bisa kita sesali tanpa kita kita bisa berbuat
apa-apa.
Apalagi bila kita sadari bahwa abad ke 21 ini, kita akan menghadapi
globalisasi. Globalisasi dimana negara yang lemah akan jadi tambah lemah karena
persaingan ketat antar nation. Negara yang kuat akan keluar sebagai negara
adijaya, negara yang lemah akan jadi selain negara kere tapi juga akan
di-eksploitasi oleh negara lain.
Alhasil negara Kurawa ini adalah hasil suatu proses sejarah. Proses sejarah
yang di motori dan dihasilkan oleh para pemimpin2nya. Negara yang dipimpin
dengan baik dan melangkahkan kakinya menuju tujuan yang mengabdi kepada rakyat
banyak maka negara itu selain akan merdeka tapi juga menjadi digjaya.
Sebaliknya negara dimana para pemimpin2nya mengambil langkah pertama yang salah
dalam membina negara maka negara itu akan jadi babak bundas luar dalam.
Pancasila pun tidak akan bisa ber-buat banyak. Malahan ideologi yang fantastis
ini hanya dijadikan metode bagi para pemimpin Kurawa dan para dorna untuk
ber-koar2, ber-retorika sementara rakyat negara yang sudah jadi negara kurawa
tambah deldel duwel luar dalem.
Harry Adinegara
Negeri Kurawa
Sabtu, 2 Agustus 2008 | 00:42 WIB
Abdul Munir Mulkhan
Saat orang ragu pada 34 partai peserta Pemilu 2009 yang mengumbar
janji, warga ragu dan bingung memilih.
Keraguan juga tampak saat menunggu pemimpin baru yang mampu mengubah
penderitaan warga di negeri kaya sumber alam ini. Saat pemimpin muda
belum tampil meyakinkan, yang senior sudah ketahuan belangnya.
Di saat kritis seperti itu, banyak orang tertarik membaca kembali
kisah pewayangan. Sejarah, ajaran agama, dan tradisi lokal di
Nusantara juga menyimpan kisah-kisah magis kehadiran pemimpin yang
dibutuhkan zamannya. Kisah-kisah itu patut disimak kembali. Dan apa
yang sedang terjadi di negeri ini mungkin representasi kisah itu.
Masyarakat merasakan elite partai berbasis agama tidak bebas dari
korupsi berjemaah dengan teman seasas (seagama atau seideologi) atau
luar asas dari penegak hukum dan pemerintahan. Putusan pengadilan
bisa ditawar, undang-undang dan peraturan disusun untuk memuluskan
perilaku jahat dan selingkuh sehingga tampak tidak melanggar tata
krama.
Aparat pemerintah bagai majikan yang harus dilayani, bukan hanya
dengan sikap hormat, tetapi juga dengan rupiah. Cerdik pandai dan
agamawan bukan tidak ada. Fatwanya terus mengalir, tetapi lebih
beredar di antara menara gading tidak menyentuh hajat publik.
Nafsu menang sendiri
Gambaran melodramatik penyelenggaraan pemerintahan itu terlukis dalam
kehidupan suatu negeri di dunia pewayangan yang dikenal Negeri Kurawa
dengan pusat pemerintahan di Astina Pura, kadang disebut Negeri
Astina. Dalam upacara resmi, para cendekia dan agamawan ditempatkan
di panggung kehormatan, ke mana sang penguasa menunjukkan sikap
hormat.
Sesekali para cerdik pandai dan agamawan dimintai pendapat, bukan
untuk dipraktikkan, tetapi sekadar menunjukkan kepada publik atas
kepedulian sang penguasa pada kebenaran. Bahasanya jauh dari
kesadaran publik umat dan rakyat jelata karena lebih berorientasi
kitab yang telah diseleksi sang penguasa.
Gaya hidup penggawa (aparat) kerajaan Astina itu terlukis, disebut
julik. Suatu pola hidup penuh tipu daya, selingkuh menjadi pakerti
(perilaku), ambisi menang sendiri, kaya sendiri, kenyang sendiri,
pintar sendiri menjadi etika (meminjam Protestan Etiknya Max Weber)
hidup komunitas (baca: partai politik).
Warga dan rakyat bukan hanya kehilangan panutan, pemerintahan tidak
mengenal sistem keteladanan dan nilai moral. Posisi sosial politik
seseorang tidak diukur dari perilaku baik, tetapi dari kemampuan dan
keberanian menggunakan kekuasaan guna kepentingan diri dan kelompok.
Oleh Nietzsche, praktik hidup dan pemerintahan itu bisa digambarkan
sebagai sistem sosial politik yang didominasi persona ubermensch.
Persona demikian ialah pola hidup manusia bermoral tuan, manusia atas
atau super yang bernafsu menang sendiri. Berbagai kisah fiksi tentang
superman terinspirasi konsep manusia bermoral tuan itu.
Dalam sistem sosial politik dan pemerintahan demikian, kebenaran
tidak diukur dari nilai obyektif yang didukung mayoritas, tetapi
nilai subyektif penguasa yang memerintah dengan tangan besi dan
Machiavelis. Moralitas baik ialah moral tuan saat nafsu menjadi
komando kehidupan, bukan moral budak yang lemah. Kebaikan ialah
kemegahan, bangga diri, bukan kedamaian dan ke-welas-asih-an yang
menunjukkan kelemahan jiwa.
Dongeng demokrasi
Pemerintahan dan orang baik yang tergambar dalam Kerajaan Ngamarto
dan Pandawa hanya mimpi indah yang enak dikisahkan sebagai dongeng.
Praktik pendidikan bagai sebuah festival dongeng tentang orang-orang
bijak, baik, berbudi, dan dijanjikan surga. Kisah pahlawan dan orang
suci terlukis dalam kalimat sastra yang indah dan enak didengar,
tetapi kosong dari kenyataan.
Sementara fakta-fakta di lapangan bercerita tentang kisah kelaparan,
penderitaan, pembunuhan berantai, korupsi, elite yang selingkuh
jabatan, moral, dan seks. Berita anggota dewan, pejabat tinggi
pemerintahan, elite keagamaan yang korupsi dan selingkuh seksual,
mencerminkan kehidupan mayoritas warga seperti Negeri Kurawa.
Wargalah yang memilih elite partai, sosial dan keagamaan, anggota
dewan, dan memilih presiden yang kemudian menyusun kabinet.
Situasi kehidupan Negeri Kurawa itu tidak jauh berbeda dengan praktik
demokrasi prosedural negeri ini. Suatu eufemisme tentang cara hidup
ngurawa melalui sistem penyelenggaraan negara dan pemerintahan modern
yang disebut demokrasi. Banyak alasan untuk membela diri dengan fakta
buruk kehidupan negeri ini setelah 10 tahun reformasi, 60 tahun
merdeka, dan satu abad kebangkitan nasional.
Sebagian melihat fakta buruk demokrasi prosedural itu sebagai
kewajaran dalam kehidupan ekonomi dan tingkat pendidikan mayoritas
warga Nusantara. Pada tahap sosial ekonomi seperti ini, praktik
demokrasi belum menjanjikan peningkatan kesejahteraan warga
kebanyakan, kecuali segelintir orang.
Sebagian berpendapat, fakta demokrasi negeri ini adalah suatu tahap
yang harus dilalui bangsa yang memulai praktik demokrasi. Beberapa
yang lain berpendapat, demokrasi yang baik memerlukan tingkat
pendidikan dan ekonomi warga yang sudah sampai titik ekuilibrium
setelah dipraktikkan berabad-abad.
Mencari takdir sosial
Berbagai pandangan ini berarti kita menerima apa adanya praktik
demokrasi sebagai kebenaran. Suatu etika hidup ngurawa. Para cendekia
dan agamawan terperangkap etika ngurawa yang digambarkan dalam dunia
pewayangan sebagai Pandita Durno. Ia pandai dan waskita, tetapi
semuanya hanya digunakan untuk membela Raja Astina.
Semua agama meramalkan kedatangan zaman akhir seperti gambaran Negeri
Kurawa. Dajal tiba, saat kekuatan jahat keliwat-liwat, sebagai
penanda datangnya Al-Mahdi Al-Masih, Ratu Adil, atau Satria Piningit.
Mungkin manusia telah gagal membuat sistem yang mampu mengendalikan
kejahatan sehingga perilaku jahat menjadi dominan. Hal itu merupakan
pengantar Perang Baratayuda yang dalam dunia keagamaan dikenal dengan
Hari kiamat. Pada saat itulah Tuhan menunjukkan kekuasaan-Nya
mengganti penduduk bumi atau negeri ini dengan warga baru.
Dalam situasi demikian, tersedia aneka pilihan tindakan. Kita cukup
menyesali nasib dan berdoa meminta Tuhan mengubah yang jahat berhati
malaikat atau minta menunda kiamat. Pilihan lain, menggunakan sisa
waktu yang ada untuk mengubah perilaku yang mentradisi yang
mengakibatkan penderitaan bukan hanya orang miskin, tetapi juga anak
cucu sendiri.
Paling mudah ialah menunggu Godot, Satria Piningit, atau Sang Mahdi.
Kapan akan datang? Mungkin sudah terlambat saat semua sudah hancur.
Kita hanya bisa membayangkan betapa derita yang harus ditanggung anak
cucu nanti.
Nasib lebih baik hanya mungkin diraih jika mengubah perilaku sebagai
doa.
Abdul Munir Mulkhan Anggota Komnas HAM; Guru Besar UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta
--- End forwarded message ---
Find a better answer, faster with the new Yahoo!7 Search.
www.yahoo7.com.au/search
[Non-text portions of this message have been removed]