http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=8770
 
Berkah Harga Minyak, Investor Timur Tengah Serbu Properti AS 
 
Meski Krisis, Dianggap Surga Investasi Paling Aman
 
Lonjakan harga minyak membawa berkah bagi para investor Timur Tengah. Mereka 
memburu aset, termasuk properti, di AS. 
 
Awal bulan ini, Abu Dhabi Investment Council -- salah satu perusahaan investasi 
terbesar di dunia atau sovereign wealth fund (SWF) milik pemerintah Abu Dhabi, 
Uni Emirat Arab (UEA)--membeli 75 persen saham Chrysler Building di New York 
senilai sekitar USD 900 juta (sekitar Rp 8,19 triliun dengan kurs Rp 9.100 per 
USD). Total asetnya diperkirakan USD 650 miliar-USD 875 miliar (sekitar Rp 
5.915 triliun-Rp 7.963 triliun).
 
Sebelumnya, perusahaan yang semula bernama Abu Dhabi Investment Authority 
(ADIA) ini menjadi pemegang saham terbesar Citigroup, bank terbesar di AS, 
setelah mengakuisisi 4,9 persen saham senilai USD 7,5 miliar (sekitar Rp 68,25 
triliun) pada 26 November 2007. 
Juni lalu, Meraas Capital LLC juga mengakuisisi General Motors Building senilai 
USD 2,8 miliar (sekitar Rp 25,5 triliun). Saat itu, Meraas memang tidak 
sendirian. Perusahaan investasi swasta berpusat di Dubai, UEA, itu bergabung 
dengan konsorsium Boston Properties dalam membeli gedung 50 lantai tersebut.
 
Lonjakan harga minyak, yang sempat mencapai USD 146 per barel, membuat 
negara-negara di Timur Tengah makin makmur. Pundi-pundi mereka terus bertambah 
meski kini harga minyak berada di level USD 126 per barel. Dengan kekayaan itu, 
mereka bisa menginvestasikan keuntungan ke seluruh dunia. 
 
Berdasar laporan Rel Estate Analytics Inc., firma riset di New York, selama 
tujuh bulan tahun ini para investor Timur Tengah mengucurkan USD 2,7 miliar 
(sekitar Rp 24,6 triliun) untuk membeli aset properti di AS. Angka tersebut 
memang belum menandingi investasi mereka tahun lalu senilai USD 8,2 miliar 
(sekitar Rp 74,6 triliun) tahun lalu.
 
Bukan tanpa alasan investor Timur Tengah yang berlimpah uang kini ramai-ramai 
memburu gedung bergengsi di AS. Mereka diuntungkan lesunya pasar di sana 
sebagai imbas krisis subprime mortgage.
 
''Mereka memanfaatkan situasi dan iklim seperti itu untuk memenangkan transaksi 
yang mungkin sulit diwujudkan tahun lalu,'' ujar Dan Fasulo, managing director 
Real Capital Analytics. 
 
Para investor saat itu, kata dia, juga belum melirik New York. Padahal, kota 
yang menjadi markas PBB ini menyumbang seperempat dari total penjualan 
perkantoran selama paro pertama 2008.
 
Hingga pertengahan tahun ini, penjualan gedung perkantoran di AS hanya 
sepertiga ketimbang periode sama tahun lalu. Penjualan properti ritel juga 
anjlok 62 persen, sedangkan properti industri turun separo. Penjualan apartemen 
pun melorot 45 persen. Harga properti, khususnya di pinggiran kota, turun tajam.
 
Menurut survei Association of Foreign Investors in Real Estate, New York 
menempati peringkat teratas target asing untuk realestat komersial di dunia 
tahun ini. Padahal, dalam survei serupa pada kuartal IV tahun lalu, New York 
berada di peringkat kedua. 
 
Properti di kawasan Manhattan terus melonjak. Menurut Real Estate Analytics, 
harga perkantoran di sana rata-rata USD 877 (sekitar Rp 7,98 juta) per kaki 
persegi (sekitar 0,093 meter persegi). Angka itu naik 24 persen dibandingkan 
tahun lalu sebesar USD 705 (sekitar Rp 6,42 juta) per kaki persegi. 
 
''Karena dinilai surga investasi yang aman, pasar-pasar seperti New York mampu 
menjaga nilai atau harga asetnya,'' kata Joseph Gulant dari firma hukum Blank 
Rome LLP, yang ikut membantu negosiasi transaksi realestat komersial..
 
Gulant memperkirakan harga properti di kota-kota yang lebih populer --seperti, 
Chicago, Houston, dan San Francisco-- mampu bertahan di tengah lesunya bisnis 
realestat komersial. Kota-kota itu diperkirakan bisa terus menarik investor 
asing.
 
Realestat AS terus bersaing ketat dengan emerging markets, seperti Tiongkok, 
Rusia, dan India, dalam berebut dana asing. Tapi, menurut Association of 
Foreign Investors in Real Estate, para investor yakin AS menawarkan investasi 
realestat paling aman dan stabil.
 
Hanya, kendala yang dihadapi investor dari Timur Tengah adalah sentimen 
xenophobia (ketakutan pada asing) di AS. ''Ada sejumlah reaksi dari komunitas 
investasi Arab terhadap kesulitan berbisnis di sini,'' tutur Scott Arnold, head 
of the real estate law group King & Spalding LLP.
 
Pada 2006 Kongres membatalkan transaksi sebuah perusahaan perusahaan UEA untuk 
mengelola enam pelabuhan terbesar di AS karena alasan keamanan. Anggota Kongres 
juga khawatir terhadap maksud terselubung perusahaan investasi Timur Tengah di 
AS. (AP/dwi)



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke