Harian Komentar
02 Agustus 2008 

      Putri Dr Sam Ratulangi Menyesal  
      Makam Ayahnya Diserahkan ke Pemerintah 


     


HATI Dr M Sugandi-Ratu-langi terenyuh ketika mengun-jungi makam ayahnya, Dr 
GSSJ Ratulangi (Sam Ratu-langi) yang terletak di Kabu-paten Minahasa. Makam 
pah-lawan nasional itu tidak terawat sebagaimana mestinya. ''Setiap kali saya 
pulang dari kunjungan ke Makam Almar-hum Ayah di Tondano, hati saya diliputi 
kesedihan. Kea-daan makam dan taman se-kelilingnya terkesan sangat tidak 
terpelihara,'' tutur putri keempat Dr Sam Ratulangi ini, dalam suratnya kepada 
Gubernur Sulut yang turut ditembuskan ke Komentar, Jumat (01/08) kemarin.


Putri Dr Ratulangi ini melihat pusara makam dalam keadaan kotor, sehingga dia 
harus membersihkannya saat datang. ''Saya sendiri bertanya kepada suami saya, 
bagaimana ini?,'' katanya. Suaminya yang datang bersama hanya mengatakan, 
dirinya selaku keluarga Dr Sam Ratulangi tidak bisa berbuat apa-apa. Pasalnya, 
penanganan dan perawatan makam pahlawan besar itu, sepenuhnya diatur pemerintah 
daerah. 




Hal ini menambah sedih Dr Sugandi-Ratulangi. Selaku keluarga, dia ingin makam 
ayahnya dirawat dengan baik dan selalu bersih. Hal itu sebe-narnya bisa 
dilakukan, jika memang makam tersebut ber-da di bawah perawatan keluarga. Dia 
pun sempat melontarkan nada penyesalannya, kenapa makam sang ayah, ha-rus 
diserahkan kepada peme-rintah daerah (pemda). ''Me-ngapa sih dahulu (tahun 
1985), kami kabulkan permintaan pemerintah untuk memindah-kan makam ayah kami 
ke lokasi milik pemerintah?'' tanyanya.


Padahal, aku Dr Sugandi, ibu mereka (MCJ Ratulangi-Tambajong) telah beberapa 
kali melayangkan surat kepada pe-merintah (c.q Presiden) sebe-lum beliau 
meninggal tahun 1983, agar makam Dr Sam Ra-tulangi tidak 'diambil' pemerintah. 
''Sebab menurut ibu, ayah telah menitip pesan kepadanya agar dia setelah 
meninggal di-baringkan saja di kuburan Gerungan,'' ungkap surat Dr Sugandi. 
Tapi, pihak keluarga terpaksa menyetujui memin-dahkan makam DR Sam Ra-tulangi, 
atas desakan peme-rintah yang dilaksanakan de-ngan upacara negara di tahun 1986 
ke lokasi sekarang di Tondano.




Namun disayangkan, aku Dr Sugandi, perawatan makam tidak sesuai keinginan 
keluar-ga. Yang memiriskan, tambahnya, malah kondisi pusara Imam Bonjol yang 
terletak di Lota (Kecamatan Pineleng), lebih terpelihara. Hal ini di-sampaikan 
DR Sugandi diperkuat dengan foto yang diabadi-kannya. ''Sangat disayangkan, 
padahal Sam Ratulangi adalah putra daerah Sulawesi Utara.'' 




Dr Sugandi sendiri menilai, penyebab ketelantaran makam ayahnya, lebih pada 
petugas yang merawat tidak lagi bekerja maksimal. Perawatan makam itu sendiri, 
katanya, diserahkan kepada 'dinasti' Pieter Bulu yang notabene semenjak adanya 
makam itu, telah mendapatkan berbagai fasilitas rumah, listrik dan air, di 
samping gaji pegawai negeri. Dr Sugandi mengaku heran, mereka ini terus 
dipertahankan selama 22 tahun. 



''Saya pikir, jika orang-orang ini memang tidak mampu merawat situs itu 
sebagaimana mestinya, kiranya mereka perlu diganti dengan orang lain yang 
memang mampu,'' tandasnya seraya mengusulkan, sekiranya makam ini bisa 
diserahkan kepada Yayasan Indonesia di Pasifik, yang intens meneruskan 
cita-cita Dr Sam Ratulangi. ''Yayasan ini akan memelihara makam dan juga situs 
ini dengan penuh rasa tanggung jawab,'' katanya meng-harapkan, suratnya kepada 
gubernur yang juga diteruskan ke-pada Menteri Sosial, bisa direspons dengan 
baik.(






[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke