*** Bung Irwan resah, wanita RI tidak lagi perawan (mirip kepala
daerah di Indaramayu?). Seperti saya katakan, dalam negara yang masih
sangat miskin ini, masalah ini bukan semata masalah moral atau
pandangan hidup, namun masalah sesuap nasi!
Lebih dari itu, menyoalkan keperawanan tidak membuahkan apa apa,
karena jharkat dan martabat wanita diukur, sebagai MANUSIA, yakni
dari prilaku, budi pekerti, kebaktian, tanggung jawab, kematangan
sosial, kecerdasan. Bukan dari selaput tipis organ genital (ini mah
masalah laki.. yang sedia bayar mahal)
Putus Sekolah, Jual Keperawanan Rp 170.000
GETTY IMAGES/PAULA BRONSTEIN
Dua siswi di Eldoret berjalan di depan tulisan tuntutan perdamaian
usai kerusuhan Kenya. Banyak gadis putus sekolah kemudian terjerumus
ke prostitusi.
/
Artikel Terkait:
Afsel Akan Legalkan Prostitusi Saat Piala Dunia 2010
Prostitusi Anak Bisa Dibasmi dengan Kerjasama
Potret Buram Anak Indonesia, 166 Juta Jadi Buruh
Prostitusi Kelas A Terungkap di Washington
Cegah Ngeseks, Celana Pemijat Digembok
Senin, 4 Agustus 2008 | 07:47 WIB
SETAHUN yang lalu, Janet Kimani masih menghabiskan hari-harinya di
sekolah atau bertengkar dengan adik laki-lakinya soal acara televisi.
Tidak ada lain yang dipikirkan kecuali dunia anak-anak yang
menyenangkan.
Namun, saat ini ia menghabiskan siang harinya dengan tidur karena
malam nanti ia harus menjual tubuhnya. Ya, Janet harus mengaryakan
tubuh kurusnya yang baru berusia 14 tahun demi 160 shilling Kenya
(setara dengan Rp 27.000) untuk satu jam layanan syahwat.
"Sekarang banyak gadis seperti saya bekerja di jalanan," kata Janet
ketika ditemui di pinggir jalan salah satu sudut Eldoret, sebuah kota
di bagian barat Kenya, pekan lalu.
Prostitusi dan eksploitasi seksual saat ini sedang "naik daun" ketika
kerusuhan berdarah mencabut nyawa lebih dari 1.000 warga Kenya akhir
tahun lalu, termasuk di Eldoret. Kerusuhan itu menghancurkan
perekonomian dan menyeret warga Kenya ke jurang kemiskinan.
Pada saat seperti itu, seperti di tempat lain, ribuan anak dipaksa
meninggalkan sekolah dan bekerja di jalanan untuk menyambung hidup.
Janet salah satu di antara mereka.
Tidak ada angka yang pasti berapa ratus atau ribu anak gadis
terjerumus dalam prostitusi. Yang jelas, fenomena ini membuat miris
para aktivis kemusiaan dan dokter karena sudah dapat dipastikan angka
korban HIV/AIDS meroket.
"Dengan berjalannya waktu, kami mulai merasakan dampak konflik ini,
yakni HIV dan AIDS," kata Teresa Omondi, Kepala Pusat Pemulihan
Kekerasan Gender di Rumah Sakit Perempuan Nairobi.
Sebuah laporan yang dipublikasikan lembaga itu menjadi semacam tanda
bahaya. Disebutkan, sudah ada ketakutan bahwa prestasi mengurangi
prevalensi HIV di Kenya akan musnah sia-sia. Dewan Pengawas AIDS
Nasional Kenya juga menggelar studi dampak kekerasan ketika perkosaan
massal dan kejahatan seksual lain terjadi selama kerusuhan itu.
Sejumlah pekerja seks belia yang diwawancarai mengaku bekerja tanpa
kondom karena saat ini persaingan semakin keras karena semakin banyak
teman sebaya dan senasib mereka turun ke jalan.
"Memang kami biasanya pakai kondom, tetapi ada kalanya tidak," kata
Milka Muthoni (17). Gadis ini sebenarnya butuh setahun lagi untuk
menyelesaikan SMA, tetapi tekanan ekonomi membuat pendidikannya
terhenti dan memilih menjual tubuh.
"Saya tahu ini bisnis yang berisiko. Suatu kali saya pergi ke rumah
sakit dengan beberapa luka dan penyakit. Tapi bagaimana lagi, saya
tidak punya pilihan lain," katanya.
Milka yang tinggal di Eldoret mengaku diusir dari rumah ketika
orangtuanya tahu ia menjual diri. "Tetapi sekarang saya belanja untuk
mereka, jadi mereka tidak tanya-tanya lagi dari mana saya mendapat
uang," tuturnya.
Pertumpahan darah itu pecah menyusul sengketa hasil pemilu pada 27
Desember 2007 dan itu menjadi saat paling kelam dalam sejarah Kenya
sejak merdeka dari Inggris pada 1963. Sengketa politik itu berujung
pada kerusuhan dan perkelahian antaretnis yang akhirnya mengungkap
lebarnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.
Memang akhirnya pembagian kekuasaan di antara para elite menghentikan
konflik ini. Presiden Mwai Kibaki tetap menduduki kursinya, sementara
lawan politiknya, Raila Odinga, menjadi perdana menteri. Namun, Kenya
telanjur kehilangan 1 miliar dollar karena kerusuhan ini meski
sekarang pelan-pelan perekonomian pulih dan turis kembali memadati
pantai-pantai di tepi Samudra Hindia.
Sayangnya kerusakan nyaris mustahil dipulihkan seperti semula. Ribuan
warga Kenya masih tinggal di pengungsian, setelah kabur dari desa
ketika kerusuhan datang. Banyak siswa tidak kembali ke kelas atau
putus sekolah karena tidak bisa lagi membayar uang sekolah yang naik
mengikuti harga bahan bakar minyak.
Musai Ndunda, Ketua Asosiasi Orangtua Kenya, mengatakan, sekitar
40.000 siswa usia SMP putus sekolah Februari lalu. Itu angka terakhir
yang bisa didapat. Ia yakin masih banyak yang tidak tercatat. Mungkin
juga sudah ada yang kembali ke sekolah tetapi keluar lagi.
Bagi Janet, kembali ke Kiambaa Primary School bukan termasuk pilihan
yang bisa diambil karena gedung itu sudah rata dengan tanah setelah
dibakar massa saat kerusuhan.
Dia sempat sebulan tinggal di kamp penampungan di Eldoret. Sampai
kemudian ia mengamati temannya, Nyambura, selalu punya makanan dan
pakaian bagus meski sama-sama tinggal di kamp. Suatu hari, Nyambura
mengakui ia menjual tubuhnya dan mengajak Janet mengunjungi tempat
kerjanya, sebuah pub.
"Sebenarnya saya enggan, tapi Nyambura meyakinkan saya bahwa laki-
laki itu akan membayar. Saya belum pernah minum alkohol, tetapi saya
sangat butuh uang, jadi saya ikut saja," tutur Janet mengenang hari
pertamanya masuk dalam kehidupan malam.
Malam itu keperawanannya dihargai 1.000 shilling atau sekitar Rp
170.000. Dia membawakan makanan untuk kedua orangtua dan enam
saudaranya. Saat itu ia mengaku punya pekerjaan di kota, tetapi tidak
memberi tahu pekerjaan apa dan mereka pun juga tidak bertanya.
"Orangtua saya sudah miskin, bahkan sebelum kerusuhan. Mereka tidak
bisa membeli bahan-bahan kebutuhan. Sekarang, dengan saya di jalanan,
kalau sedang untung ya bisa bawa pulang 2.000 shilling. Itu setelah
tidur dengan lima atau enam pria," katanya.
Janet jelas tidak punya harapan kembali ke sekolah. Orangtuanya tidak
punya pekerjaan sehingga penghasilan Janet sangat penting untuk
menyambung hidup keluarganya. "Memang pekerjaan ini awalnya sangat
menyiksa. Tidur dengan pria-pria itu sangat mengerikan karena kadang-
kadang mereka juga kasar dan menyakiti saya. Tapi kelamaan saya
terbiasa," katanya.
Prostitusi memang sudah lama menjadi persoalan di Kenya, khususnya di
kawasan wisata. Agnetta Mirikau, aktivis perlindungan anak di UNICEF
Kenya, mengatakan, peningkatan jumlah pelacur anak mudah terlihat di
kota-kota yang paling parah tingkat kerusuhannya, seperti Eldoret,
Naivasha, dan Nakuru.
Eldoret merupakan lokasi kerusuhan paling keras dan berdarah seusai
pemilu. Di kota ini sebuah gereja dibakar, padahal gedung itu
dipenuhi orang yang sedang mencari perlindungan. Puluhan orang tewas
dalam insiden itu.
"Orang-orang dewasa sekarang mengumpankan anak-anaknya karena mereka
tidak punya penghasilan apa pun. Anak-anak putus sekolah dan mereka
ingin membantu menghasilkan sesuatu untuk orangtuanya. Jika tidak ada
makanan dan mereka merasa bertanggung jawab atas nasib saudara-
saudaranya, maka mereka akan keluar rumah dan mencari uang untuk beli
makanan," kata Mirikau.
Wali Kota Eldoret Sammy Rutto baru-baru ini memerintahkan polisi
memberantas prostitusi setelah mendengar ada gadis 12 tahun terlihat
nongkrong di bar. "Ini bisnis yang tidak bisa kami biarkan. Mereka
harus mencari alternatif lain untuk hidup. Pelacuran pasti akan
memperluas penyebaran AIDS, dan banyak orangtua kehilangan anak-
anaknya," kata Sammy.
Pertanyaannya, apakah alternatif itu ada, atau bisakah pejabat
seperti Sammy Rutto dan politisi yang berebut kekuasaan itu
menyediakan pekerjaan lain yang tidak berbahaya.