Titik Nol
Catatan Edy Supratno
CERITA ini dikutip dari sebuah
buku humor. Suatu hari ada seseorang yang sedang meneliti seekor kodok. Yang
diteliti
adalah daya jangkau loncatannya. Pada saat kakinya utuh, loncatannya mencapai
60 cm. Kemudian, salah satu kaki kodok tersebut sengaja dipotong.
Loncat! teriak peneliti
tersebut.
Ternyata, daya jangkaunya
berkurang menjadi 45 cm. Tak puas, satu lagi kaki si kodok dipotong. Kali ini
daya loncatnya tinggal 30 cm. Saat kakinya tinggal satu, kodok eksperimen itu
hanya
mampu meloncat sejauh 5 cm. Rupanya, si peneliti tak puas juga. Semua kaki
kodok diamputasi. Dia penasaran apa yang akan terjadi ketika kodok tanpa kaki.
Loncat! perintah peneliti lagi.
Si kodok tetap diam.
Loncat! teriaknya lebih keras.
Tapi tetap tak ada reaksi dari
binatang berkaki empat tersebut. Akhirnya, si peneliti menyudahi risetnya.
Dengan
sedikit manggut-manggut dia berkesimpulan, Kodok tanpa kaki berubah menjadi
tuli.
Semoga saja di dunia nyata tidak
akan pernah ada peneliti seperti cerita tersebut. Cukuplah hanya sekadar joke.
Lumayan bisa untuk menurunkan
tensi ketegangan di tengah rutinitas dan tekanan ekonomi akibat krisis BBM.
Apalagi bagi politisi yang sedang daftar
calon legislatif (caleg). Pasti lebih stres lagi. Dari usrek nomor urut, mikir
dana kampanye, dan lain sebagainya. Ah, pokoknya menjelang pemilu kepala
jadi puyeng.
Barangkali karena faktor itulah
media massa,
lebih khusus televisi, di samping menyuguhkan berita-berita hard news, juga
memperbanyak suguhan
hiburan. Dari pagi hingga pagi lagi, tontonan hiburan selalu ada. Namun, ada
juga yang protes. Alasannya,
televisi sekarang sudah dikuasai banci. Saat ini banci dan sejenisnya lebih
diakomodasi dibanding waktu-waktu sebelumnya.
Kini, dengan terungkapnya Very
Idham Henyansyah alias Ryan dalam pembunuhan lebih dari 10 orang itu
memunculkan fakta baru. Ternyata, kaum banci, gay, waria, dan sejenisnya sudah
berperan
di mana-mana. Bagaimana di dunia politik? Kita tunggu saja pengumuman caleg
nanti. Ada
tidak banci atau bergaya banci. Namun, sejauh ini agaknya belum ada. Baik di
elite legislatif maupun eksekutif.
Secara umum, Kudus selalu dipimpin
oleh kaum bangsawan yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Diawali Kanjeng
R. Adipati Ario Padmonegoro (menantu Pakubuwono III) tahun 1800-an hingga R.
Suroto Harjohuboyo (1958-1961). Semuanya bergelar raden. Kecuali 1948, ketika
Kudus dikuasai pemberontak Madiun. Kala itu Kudus dipimpin Rusman. Selebihnya
Kudus dipimpin birokrat dan tentara.
Masing-masing di antara mereka mempunyai
style dan pendekatan sendiri. Amin
Munadjat misalnya. Dengan latar belakang tentara dengan pengalaman lima kali ke
Timor Timur
lebih mengedepankan kondusivitas wilayah dibandingkan pembangunan fisik. Ini
berbeda dengan era Soedarsono. Meski sama-sama tentara, tapi Soedarsono masih
getol membangun, khususnya pasar-pasar.
Barangkali karena alamnya berbeda.
Di era Soedarsono bisa dikatakan stabilitas Orde Baru tak tergoyahkan. Di
awal-awal Amin memimpin yang bertepatan era euforia reformasi, tercatat
sedikitnya
100 kali unjukrasa dengan beragam isu.
Di era Muhammad Tamzil, unjukrasa
kian biasa. Demonstrasi sudah menjadi pemandangan yang tak menakutkan lagi.
Karenanya, Tamzil yang berlatar belakang insinyur tak sampai terganggu dalam
menuangkan
ide-ide pembangunannya. Apalagi pengalamannya cukup teruji. Maklum saja, dia
sudah
menjadi kepala dinas pekerjaan umum (DPU) Kudus saat usianya baru menginjak 30
tahun.
Bagaimana dengan Musthofa? Kita
masih menunggu-nunggu dia mau menggunakan pendekatan apa. Jika tentara dengan
pendekatan keamanan, insinyur dengan pembangunan, Musthofa yang sejak SLTA
sudah menggeluti dunia asuransi naga-naganya tak akan jauh-jauh dari
keahliannya tersebut.
Karena keahlian, pengalaman,
pendekatan, dan visi misi dari masing-masing bupati berbeda, maka saya memaknai
setiap pergantian pemimpin adalah titik nol. Tentunya titik nol secara
pemerintahan. Bukan secara kewilayahan yang menunjukkan jarak suatu daerah dari
pusat ibu kota.
Beberapa waktu lalu, saat media massa memberitakan tentang
titik nol Kudus dari sisi kewilayahan, Djoko Herryanto, salah seorang pembaca,
memberikan info bahwa titik nol Kudus sudah berpindah beberapa kali. Yang
pertama, di tikungan Simpang Tujuh plus
Jalan Ahmad Yani. Dulu di tempat ini ada perempatan. Titik nol di depan Toko
Roti
Ijo, katanya. Dulu, di tempat ini juga ada bangjo.
Kedua, pada 1972, titik nol Kudus
bergeser ke selatan sektiar 10 meteran. Tepatnya di depan foto studio Siang
Malam.
Sedangkan pada 1995 bergeser lagi ke selatan, sekitar 40-an meter dari tempat
sekarang.
Nah, sekarang titik nol pemerintahan Musthofa adalah 1 Juli 2008.
Selama lima
tahun ke depan tidak ada salahnya Musthofa gencar membangun sarana fisik
seperti Tamzil. Namun, sebelum hal itu dilakukan, ada baiknya Musthofa mau
me-review produk pembangunan yang sudah
ada. Salah satu yang harus mendapat perhatian adalah sarana publik yang
mangkrak atau terancam mangkrak. Baik fisik maupun nonfisik.
Sebut saja Sub Terminal Bae, Terminal
Singocandi, insinerator, dan lantai tiga Pasar Kliwon. Ada juga proyek sumur
bor Rp 400 juta di
Cranggang, Dawe. Sejak dibuat beberapa tahun lalu sampai sekarang belum bisa
dipakai.
Dikabarkan, proyek sistem informasi
manajemen kepegawaian dan manajemen aset daerah di Litbang yang dikerjakan era
Tamzil juga mangkrak. Total nilai proyek-proyek mangrak itu tentu miliaran
rupiah. Jadi, akan lebih bijak rasanya jika sebelum membuat proyek baru
Musthofa mau membereskan yang mangkrak tadi.
Bicara proyek, rasanya kita
prihatin ketika sejumlah pejabat negara masuk penjara karena kasus korupsi dan
penyuapan. Terungkapnya permainan Al Amin Nasution, Urip Tri Gunawan yang
bertransaksi suap di hotel, spa, dan tempat entertain
lain mungkin sekadar pucuk gunung es. Di tingkat daerah praktik demikian juga
sudah
sering terjadi.
Jika sas sus itu nyata, maka benar
juga kata salah seorang teman yang sedang dipercaya jadi wakil rakyat. Bahwa
negara ini diatur dari tempat remang-remang, bukan di gedung DPRD atau
rapat-rapat
kepala dinas.
Apakah titik nol Kudus juga diatur
dari tempat remang-remang?
Au ah gelap! kata peneliti kodok loncat. (*)
[EMAIL PROTECTED]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/