http://www.tniad.mil.id/news.php?id=3517
*KASDAM III/SILIWANGI BUKA PENTALOKA DOSEN PENDIDIKAN* Sebagaimana telah menjadi program, bahwa sebelum mengawali pembelajaran mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, selalu kita awali dengan Penataran dan Lokakarya. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya memberikan pembobotan dan penyegaran kepada para dosen kewarganegaraan terhadap materi, didaktik dan metodik mata kuliah kewarganegaraan agar lebih efektif mencapai tujuan kurikulum yang telah ditetapkan. "Berkaitan dengan itu, pada Pentaloka Doswar ini para peserta akan mendapat pembekalan materi pendukung dari para ahli yang berkompeten dibidangnya. Semua itu dimaksudkan agar kompetensi para dosen lebih berkualitas, baik dalam proses perkuliahan, menyampaikan materi, maupun dalam memberikan motivasi kepada mahasiswa terhadap mata kuliah kewarganegaraan sebagai salah satu bidang kajian keilmuan". Demikian dalam amanat tertulisnya *Pangdam III/Siliwangi Mayor Jenderal TNI Suroyo Gino* selaku Pembina Dosen Pendidikan Kewarganegaraan wilayah Jawa Barat dan Banten yang dibacakan oleh *Kasdam III/Siliwangi Brigadir Jenderal TNI Rahmat Budiyanto *pada acara Pembukaan Pentaloka Dosen Pendidikan Kewarganegaraan Terpusat Kodam III/Siliwangi Ta. 2008 yang diikuti 100 peserta, bertempat di Dodik Bela Negara Rindam III/Siliwangi Cikole Lembang Kabupaten Bandung Barat, Senin (4/8). Menurut Pangdam III/Slw, mengingat masih ada anggapan dari sebagian mahasiswa bahwa mata kuliah kewarganegaraan tidak penting dan hanya sebagai komponen pelengkap saja. Akibatnya, target belajar mereka sebatas formalitas hanya untuk mengejar nilai lulus, tanpa berkeinginan untuk menggali substansi materi secara kritis dan akademis. Pandangan seperti itu jelas sangat keliru dan perlu kita luruskan dengan menempatkan mata kuliah pendidikan kewarganegaraan ini sebagai salah satu cabang ilmu yang diberikan di perguruan tinggi, tidak hanya sekedar pembekalan yang bersifat kognitif (pengetahuan), akan tetapi bersentuhan dengan afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan) terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara, kata Pangdam III/Slw. "Perlu kita pahami bersama, mahasiswa merupakan kader pemimpin bangsa di masa depan. Dengan kapasitas seperti itu, tidak heran kemudian mahasiswa senantiasa menjadi komponen terdepan dalam menyuarakan hati nurani rakyat, menjadi agen perubahan sosial dan selalu kritis terhadap fenomena sosial kebangsaan yang terjadi di lingkungannya", tegas Pangdam III/Slw. Dalam konteks kehidupan bangsa di tengah arus gelombang globalisasi dewasa ini, pembinaan kehidupan berbangsa dan bernegara kian penting dan urgen untuk kita kedepankan. Terlebih lagi pembinaan terhadap generasi muda, khususnya bagi kelompok mahasiswa sebagai kaum muda terdidik yang di masa depan akan melanjutkan estafet kepemimpinan nasional. Oleh karena itu, mata kuliah kewarganegaraan sebagai salah satu instrumen dalam meningkatkan wawasan kebangsaan, jiwa patriotik dan sikap bela negara bisa menjembatani antara tuntutan terhadap kewajibannya sebagai warga negara dengan kebutuhan sebagai mahasiswa akan pencerahan bidang keilmuan dihadapkan dengan kepekaannya terhadap persoalan dan tantangan pembangunan yang dihadapi bangsa dan negara dewasa ini, harap Pangdam III/Slw. Upaya membentuk karakter kebangsaan mahasiswa, tidak bisa diukur dengan parameter kuantitas yang hanya terlihat, misalnya dengan diraihnya nilai prestasi belajar mata kuliah kewarganegaraan. Akan tetapi juga harus dilihat dari aspek kualitatif seperti : bagaimana menginternalisasikan komitmennya terhadap masalah kebangsaan, hak dan kewajiban sebagai warga negara, pemahaman terhadap nilai persatuan dan kesatuan bangsa serta upayanya untuk selalu mengedepankan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan serta tekadnya untuk mempertahankan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara 1945, pinta Pangdam III/Slw. Sejalan dengan itu, upaya pemahaman terhadap hak dan kewajiban sebagai warga negara menjadi bagian penting untuk terus diberdayakan dalam semua tata kehidupan berbangsa dan bernegara, baik pada dimensi politik, ekonomi, sosial dan budaya maupun Hanneg. Persoalan inilah yang menjadi tanggung jawab para dosen pendidikan kewarganegaraan dalam membentuk karakter mahasiswa menjadi generasi bangsa yang kualitatif untuk melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai warga negara Indonesia, tegas Pangdam. Diakhir amanatnya, Pangdam III/Slw sekali lagi mengharapkan kegiatan Pentaloka Doswar sekarang ini dapat menjadi momentum strategis bagi kita guna menyatukan visi, persepsi dan interpretasi untuk meningkatkan proses pembelajaran mata kuliah pendidikan kewarganegaraan agar lebih efektif dan optimal mencapai sasaran dan kontekstual dengan perkembangan jaman, sekaligus mampu memberikan solusi dalam membangun karakter anak bangsa yang cerdas, berwawasan kebangsaan dan visioner terhadap permasalahan kebangsaan dengan memberikan solusi dan terapi bagi kemajuan bangsa dan negara di masa depan. (Pendam 3/Dispenad/Gh) [Non-text portions of this message have been removed]

