--- On Wed, 8/6/08, vidya sinisuka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: vidya sinisuka <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [beasiswa] [OOT] Nelson Tansu  -- recent news
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, August 6, 2008, 9:14 AM










    
            Kiprah Nelson Tansu, Anak Medan yang Jadi Profesor Termuda Amerika 



Bantu 10 Anak Tidak Mampu Raih Gelar Doktor 



Tahun lalu Nelson Tansu kehilangan ayah-ibunya akibat perampokan di kampungnya, 
Medan, Sumatera Utara. Meski kecewa dengan penyidikan kasus orangtuanya, 
profesor termuda itu tetap setia berpaspor Indonesia. 



SITI AISYAH, Denpasar 



NELSON Tansu -profesor Universitas Lehigh di Amerika- menjadi salah satu 
bintang di forum Asian Science Camp (ASC) 2008 yang kini diadakan di Inna Grand 
Bali Beach, Sanur, Bali. Terutama bagi puluhan pemenang olimpiade sains 
Indonesia yang menjadi peserta acara di sana. Maklum, saat duduk di SMA di 
Medan dulu, Tansu adalah finalis Tim Olimpiade Fisika Indonesia. 



Tampil rapi dengan kemeja biru muda dipadu jas hitam, Tansu lebih mengesankan 
sebagai pebisnis muda. Terutama ketika berada di antara para profesor, termasuk 
para peraih Nobel, yang menjadi pembicara di ASC yang umumnya sudah tua. Saat 
ditemui Jawa Pos kemarin, gurat kelelahan terlihat di wajahnya karena dia 
mengisi acara sejak pagi. Namun, dia tetap bersemangat untuk masuk kelas dan 
mengikuti sesi berikutnya. 



''Wait for a second (Tunggu sebentar),'' ujarnya. Meski asli warga negara 
Indonesia (WNI), Tansu lebih senang menggunakan bahasa Inggris. ''Saya sekarang 
lebih banyak tinggal di Amerika. Tapi, masih sering mengunjungi Indonesia,'' 
jelas pria kelahiran 20 Oktober 1977 itu. 



Tansu, lulusan terbaik SMU Sutomo 1 Medan 1995, adalah sosok yang patut 
dibanggakan. Saat usianya baru 25 tahun dia diangkat menjadi profesor di Lehigh 
University, sebuah universitas ternama di Negara Bagian Pennsylvania, Amerika. 



''Persaingan mendapatkan posisi sebagai profesor di Amerika memang sangat 
ketat. Setiap satu lowongan, lebih dari 350 orang yang mendaftar,'' katanya. 



Sukses Tansu menjadi pengajar di Lehigh University dan dinobatkan sebagai 
profesor termuda di Amerika itu berkat didikan orang tua. Sebab, sejak kecil 
sang ayah, Iskandar Tansu, memompa semangat untuk meraih prestasi tertinggi.



Berkat gemblengan keras sang ayah, Tansu sejak kecil sering memenangi berbagai 
lomba dan kejuaraan. "Ayah saya seorang pekerja keras. Saya juga terbiasa 
melakukannya sejak muda hingga menjadi profesor seperti sekarang,'' ungkapnya. 



Kecuali spirit kerja keras, Tansu mengakui, sebetulnya tidak ada yang spesial 
dari pendidikan yang diberikan orang tuanya. Dia bermain dan belajar seperti 
kebanyakan anak-anak lain. "Bimbingan keluarga, orang tua, guru, dan sekolah 
itu penting, tapi yang lebih penting adalah usaha kita,'' jelasnya.



Menurut Tansu, dirinya sering harus tidur larut malam untuk menyelesaikan 
tugas. Namun, dia mengaku tidak keberatan, karena menyukai apa yang 
dilakukannya. ''Yang terpenting, lakukan hal yang paling kamu sukai sehingga 
kamu pasti berhasil di dalamnya. Tentu saja ditambah dengan usaha yang keras,'' 
katanya.



Sukses Tansu menjadi profesor di Lehigh University bukan kebetulan. Dunia sudah 
mengakui karya-karya ilmiahnya. Saat ini lebih dari 138 riset dan karya tulis 
yang telah dipublikasikan. Selain itu, dia menjadi pembicara aktif di berbagai 
seminar tentang sains dan pendidikan di seluruh dunia. 



Meski berasal dari Indonesia dan masih mencintai negaranya, Tansu mengaku tidak 
punya rencana untuk menghabiskan masa tua di tanah air. ''Saya tidak punya 
rencana sejauh itu. Toh, 20 tahun lagi kita adalah citizen of the world, orang 
akan bebas tinggal di mana pun,'' kata laki-laki yang baru tahun lalu 
mempersunting Adela Gozali Yose, gadis Medan, menjadi istrinya itu. 



Sayang, tahun lalu (2007) pula Tansu mengalami masa yang kelam dalam sejarah 
hidupnya. Rumahnya dirampok dan ayah ibunya, Iskandar Tansu dan Auw Lie Min, 
dibunuh. ''Saat penyelidikan, kita mengalami masalah dengan penegak hukumnya,'' 
ujarnya.



Modus perampokan dan pembunuhan itu memang sadis sehingga dua pelakunya divonis 
mati. Tansu tidak bersedia mengenang dan berbicara lebih lanjut tentang 
peristiwa traumatik yang menimpa dia dan dua saudaranya yang lain. Namun, 
pengalaman itu tidak mematikan rasa cintanya kepada Indonesia.



''Semua kenangan tetang masa kecil dan orang tua saya ada di sini. Saya tentu 
tidak bisa melupakan Indonesia,'' kata doktor electrical engineering University 
of Wisconsin di Madison, Amerika, itu. 



Sebagai bukti kecintaannya kepada Indonesia, Tansu kini menggalang dana untuk 
menyekolahkan anak tidak mampu tapi pandai yang ingin memperoleh gelar doktor 
(PhD). ''Untuk mendapatkan gelar tersebut kan susah, butuh banyak biaya untuk 
riset dan penelitian,' ' ujarnya. 



Saat ini, lanjutnya, di antara 10 orang yang dibantunya, dua orang dari 
Indonesia. Dia berharap pada tahun-tahun yang akan datang lebih banyak lagi 
orang Indonesianya. "Di Amerika banyak yang mau memberikan bantuan dana untuk 
pendidikan dan saya bisa mencarikannya dengan mudah,'' jelasnya. 



Menurut Tansu, kegiatannya itu bukan semata karena peduli terhadap bangsa 
Indonesia, tapi juga karena kepeduliannya kepada pendidikan. "Sejak kecil saya 
ingin jadi pendidik di bidang sains dan engineering, sayangnya posisi ini di 
Indonesia kurang dihargai,'' kata pengajar S-3 itu.



Dia tak setuju guru cuma dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa karena guru 
butuh uang makan. Gaji guru dan dosen yang rendah itulah yang menjadi salah 
satu penyebab banyak orang pintar yang lari ke luar negeri. 



''Inilah yang menjadikan mutu pendidikan kita rendah. Guru-guru dengan gaji dan 
fasilitas pas-pasan tentunya tidak bisa memberikan pelayanan optimal karena 
harus mencari tambahan sampingan,'' jelasnya. 



Tansu mengharapkan pemerintah segera mengubah kebijakannya agar mutu pendidikan 
di Indonesia meningkat. ''Jika ada profesor yang kembali ke Indonesia ditawari 
jadi dosen atau anggota dewan, maka jawabannya pasti yang terakhir, it's the 
reality,'' jelasnya.



Selain itu, menurut pemikiran Tansu, Indonesia seharusnya mempunyai satu 
universitas yang bisa menjadi kebanggaan. ''Jika ada satu saja universitas di 
Indonesia yang setara dengan di AS, maka anak-anak kita yang pandai tidak akan 
lari ke luar negeri. Mereka akan memilih kuliah di negaranya sendiri,'' ujarnya.



Tansu mengenang, akibat tak adanya perguruan tinggi kebanggaan itu, ayahnya, 
Iskandar Tansu, mendorong semua anaknya sekolah ke Amerika. Selain dia, 
abangnya, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, Amerika. Begitu juga adiknya, 
Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU). Kedua saudaranya itu 
tinggal di Indonesia. (el)



http://www.jawapos. co.id/



[Non-text portions of this message have been removed]




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke