ane msh peduli bang adian, tenang bang..



“Sikap Tidak Peduli”

Oleh: Adian Husaini


Dalam bukunya yang terkenal, Islam at the Crossroads, Muhammad Asad/Leopold 
Weiss mengingatkan umat Islam, bahwa:  ”The
Imitation – individually and socially – of the Western mode of life by
Muslims is undoubtedly the greatest danger for the existence – or
rather , the revival – of Islamic civilization.”  
Jadi, kata Asad, penjiplakan kaum Muslim – baik secara individual maupun sosial 
– terhadap gayahidup Barat tanpa diragukan lagi adalah bahaya terbesar dari 
eksistensi dan kebangkitan kembali peradaban Islam. Buku
Asad ini terbit pertama tahun 1934 dan telah ditejemahkan ke dalam
berbagai bahasa. Buku kecil ini memberikan gambaran yang tajam tentang
hakekat peradaban Barat yang disebut oleh Asad, sebagai peradaban yang
memuja materi dan anti-agama (irrelegious in its very essence). 
Lihatlah
nilai-nilai peradaban Barat yang kini menyerbu rumah-rumah kita melalui
media hiburan. Film-film, lagu, sinetron yang dijejalkan kepada
generasi muda kita dipenuhi dengan urusan seputar syahwat jasadiah,
baik menyangkut makanan maupun urusan seksual. Peradaban ini sangat
mengagungkan unsur-unsur fisik. Jangan heran, jika dalam peradaban ini,
wanita lebih dihargai karena unsur-unsur fisiknya.  Kontes
nyanyi dan loma kecantikan menjadi upacara yang sangat diagungkan,
disiarkan ke seluruh penjuru dunia, tanpa peduli urusan moral. 
Dalam
kontes-kontes kecantikan seperti itu, setiap jengkal tubuh wanita
diukur, ditelaah, dan dinilai untuk selanjutnya dipaparkan kepada
publik. Bahwa si A memiliki tubuh terseksi di dunia. Media-media
hiburan sibuk membuat ranking tentang wanita yang memiliki tubuh
terindah. Bahkan, konon di suatu negara, ada  majalah yang
khusus menyajikan berita seputar alat kelamin wanita. Kata mereka,
semua itu adalah ekspresi keindahan. Semua itu tidak ada hubungannya
dengan pornografi, tetapi ekspresi seni. 
Salah
satu buah dari reformasi di Indonesia adalah kebebasan dalam
kontes-kontes kecantikan. Sudah beberapa tahun, Putri Indonesia
senantisa tampil dalam acara pemilihan Miss Universe. Meskipun harus
tampil secara vulgar dalam pakaian  bikini, kontes seperti
itu tetap dilakukan, dan televisi di Indonesia pun berlomba menyiarkan
acara tersebut. Tidak ada rasa malu lagi untuk tampil dengan membuka
aurat. Tujuan utamanya tentu saja adalah untuk mendapatkan penghargaan
sebagai ”Ratu Kecantikan”. 
Dengan
cara itu, mungkin mereka ingin membuktikan, bahwa ternyata wanita
Indonesia tidak kalah cantiknya dengan wanita negara lain? Lalu untuk
apa? Katanya, untuk pariwisata. Biar turis mau datang. Biar diakui,
bahwa negara Indonesia banyak wanita cantik. Setelah itu? 
Aneh!
Inikah negara yang mayoritas penduduknya Muslim? Inikah negara yang
menginginkan mendapat berkah dari Allah? Beginikah cara memajukan
bangsa yang sedang terpuruk? Naif! Naif sekali! Akal yang sederhana pun
tahu, bahwa bangsa ini akan bangkit jika rakyatnya mau belajar dan
bekerja keras. Bangsa ini memerlukan pemimpin yang berani berpikir
besar dan berani melakukan tindakan besar, bukan dengan mengirimkan
wanita untuk mengumbar aurat di kontes ratu kecantikan. Para ulama
sudah berteriak-teriak minta agar acara semacam itu dihentikan. Tetapi,
pemerintah diam saja. DPR diam saja. Barangkali takut dikecam media.
Takut dibilang kolot. Takut dibilang sok-moralis. Takut dibilang
melanggar HAM. Memang, di alam reformasi dan kebebasan seperti ini,
protes tidak dilarang, tetapi tidak perlu didengarkan. 
Tokoh agama sudah teriak-teriak agar acara-acara yang menonjolkan unsur-unsur 
homoseksual dan lesbian dihentikan. Tetapi, protes itu pun dianggap angin lalu. 
Televisi tetap saja menayangkan tontonan seperti itu. Ulama
sudah berteriak, hentikan tayangan judi via SMS. Tapi, TV pun tidak
peduli. Jalan terus! Yang penting dapat untung! Para ulama juga tidak
menyerah untuk mengimbau agar tayangan-tayangan klenik dihentikan.
Tapi, seruan itu juga diangap sebagai angin lalu. Yang penting untung,
yang penting dapat duit banyak. Yang penting, acaranya laku, iklan
banyak. Tidak peduli, apakah tayangan itu merusak moral atau tidak;
tayangan itu meruntuhkan sendi-sendi kekuatan bangsa atau tidak. Tidak
peduli! 
Sikap
tidak peduli itu pula yang kini banyak menjangkiti banyak kalangan
akademisi yang sudah tergila-gila untuk mem-Barat-kan Islam. Mereka
tidak mau peduli dengan segala macam kritik. Banyak yang menganggap ini
masalah remeh. Tidak peduli! Buku-buku yang merusak pemikiran Islam
terus diterbitkan. Meskipun sudah diketahui sebagai buku yang salah.
Tidak peduli! 
Meskipun
sudah berulangkali kita paparkan bahaya pemikiran liberal gaya Nasr
Hamid Abu Zaid, tetap saja mereka menganggap kritikan itu sebagai angin
lalu. Tidak peduli! Meskipun paham multikulturalisme sudah kita kritik,
tetap saja paham itu disebarkan ke tengah masyarakat. Tidak peduli!
Meskipun sudah kita tunjukkan kekeliruan dalam penafsiran Al-Quran atau
pun kita tunjukkan kekeliruan dalam mengungkap data-datanya, tetap saja
tidak peduli. Berulangkali kita tunjukkan bahwa ada guru besar yang
kerjaannya sebagai penghulu swasta dan mengawinkan pasangan beda agama,
tetap saja para petinggi kampusnya tidak peduli. Meskipun tahu ada
dosen yang kerjaannya mengkampanyekan kehalalan perkawinan sesama
jenis, tetap saja hal itu dianggap sebagai ”wacana”. Tidak peduli! 
Jika
sikap tidak peduli semacam itu sudah mejangkiti para elite negeri ini,
baik kalangan pemerintah maupun akademisi, apalagi yang bisa kita
harapkan? Jika suami tidak peduli lagi apa yang dilakukan istrinya,
apakah pantas dia disebut suami? Jika pemimpin negara tidak peduli
dengan perilaku rakyatnya, apakah pantas dia disebut pemimpin negara?
Jika guru tidak peduli dengan perilaku siswanya, apakah pantas dia
disebut sebagai guru? Jika cendekiawan dan ulama sudah tidak peduli
dengan perilaku umatnya, apakah pantas dia disebut cendekiawan atau
ulama? 
Dalam
tradisi peradaban Barat, seseorang dibiasakan untuk tidak peduli dengan
kemunkaran dalam soal aqidah dan pemikiran. Mereka hanya peduli dalam
soal-soal yang fisik, karena Barat memang peradaban yang sangat memuja
materi. Mereka tidak peduli dengan urusan agama. Mereka sangat peduli
dengan urusan korupsi dan kerusakan lingkungan, tetapi tidak peduli
apakah seseorang beriman atau kufur, apakah seorang berdosa atau tidak.
Mereka tidak peduli dengan semua itu! Yang penting masyarakat
menjalankan ketertiban atau tidak. Itu yang mereka peduli. 

Karakter
masyarakat seperti itu tentu berbeda dengan masyarakat Islam. Sebab,
dalam pandangan Islam, urusan terpenting dalam kehidupan adalah masalah
keimanan. Maka, tugas pemimpin negara – disamping menyejahterakan
kehidupan rakyatnya – juga melindungi aqidah masyarakat. Karena itu,
dalam pandangan Islam, tugas utama seorang pemimpin Islam justru
melindungi dan menegakkan Tauhid. Sebab, inilah tugas utama para nabi.
Kita sudah sering membahas, bagaimana azab Allah akan turun ketika umat
Islam melalaikan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. 
Dalam
kaitan soal kepedulian inilah, maka Allah pun sudah mengingatkan agar
kita senantiasa menegakkan iman dan mengembangkan sikap kritis terhadap
kaum Muslim dan terutama kepada para pemimpinnya. Kita sangat prihatin
dengan masih adanya gejala kultus di antara sebagian kalangan Muslim
terhadap tokoh dan pemimpinnya. Mereka tidak peduli, apakah pemimpinnya
itu keliru atau tidak. Bahkan, mereka sudah meletakkan nasibnya di
dunia dan akhirat kepada sang pemimpin. Padahal, pemimpin itu bukan
nabi, dan mungkin saja keliru dalam pemikiran dan kebijakan yang
diambilnya. 
Karena
sikap kultus itu sudah begitu membudaya, sampai-sampai ada yang
marah-marah jika pemimpinnya dikritik. Ada yang marah karena Amin Rais
dikritik; ada pula yang tidak terima ketika Nurcholish Madjid dikritisi
pemikirannya; dan ada yang tidak terima jika Abdurrahman Wahid
dikritik. Tidak sedikit yang menjadi fanatik kepada seorang tokoh atau
kelompoknya melebihi fanatiknya kepada Islam itu sendiri, sehingga dia
sangat marah ketika kelompok atau pemimpinnya dikritik. Meskipun sang
pemimpin jelas-jelas salah, dia tidak mau mengritiknya dan berusaha
keras menutupinya, supaya pemimpin dan kelompoknya tidak jatuh
martabat. 
Sikap kultus seperti ini tidak mendidik masyarakat. Rasulullah
saw sama sekali tidak mencontohkan sikap semacam itu. Berkembangnya
tradisi ilmu senantiasa diikuti dengan budaya kritis di tengah
masyarakat, meskipun sikap kritis itu tetap berpijak kepada adab.
Budaya kultus dan taqlid yang membabi buta justru bukan hanya merugikan
masyarakat, tetapi juga akan merugikan sang pemimpin sendiri. 
Pada tahun 2008 ini,  misalnya, terbit sebuah buku berjudul ”99 Keistimewaan 
Gus Dur.”  Dalam
kata pengantarnya untuk buku ini, Muhaimin Iskandar menulis, bahwa
”Sebagai pemimpin, Gus Dur mampu mengawal, mendampingi dan mengayomi
masyarakatnya menuju proses pembentukan kemandirian dan kehidupan yang
demokratis.”  Masih menurut Muhaimin, ”Gus Dur merupakan
bagian dari kekayaan yang dimiliki bangsa ini yang patut diteladani
oleh siapa pun yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap
persoalan-persoalan umat.” 
Tentu
saja, kata pengantar Muhaimin itu dibuat sebelum dia dipecat oleh
Abdurrahman Wahid sebagai ketua umum PKB. Pujian setinggi langit juga
diberikan oleh Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj, M.A, dalam pengantarnya
untuk buku ini. Aqiel mengisahkan, bahwa Gus Dur mampu mengenali
seorang waliyullah. Suatu ketika, Gus Dur menemui seorang yang
penampilannya sangat sederhana layaknya seorang ”gembel”. Ternyata,
menurut Aqiel Siraj, yang ditemui Gus Dur itu adalah seorang wali yang
sedang menyamar. Begitu ketemu, Gus Dur minta didoakan oleh orang
tersebut. Aqiel menulis: ”Rupanya, Gus Durlah yang berhasil menyingkap
sosok waliyullah tersebut. Sementara kewalian itu hanya diketahui oleh
diri sendiri dan Allah.” 
Jadi, dengan cerita itu, apakah berarti Abdurrahman Wahid adalah seorang 
waliyullah? Wallahu a’lam. Hanya Allah yang tahu. 
Salah
satu dari 99 keistimewaan Abdurrahman Wahid yang disebutkan dalam buku
ini adalah kegigihannya dalam membela kaum tertindas. Contoh kaum
tertindas yang dibela Abdurrahman Wahid adalah Ahmad Dani, Inul
Daratista, kelompok Ahmadiyah, Tabloid Monitor, dan sejenisnya. 
Kita
bisa bersikap kritis terhadap posisi Abdurrahman Wahid dalam soal-soal
tersebut. Benarkah Inul merupakan seorang wanita yang tertindas?
Benarkah Ahmad Dhani termasuk kaum yang tertindas? Dan sebagainya. Jika
Inul dikatakan sebagai makhluk tertindas, bagaimana dengan ribuan
ibu-ibu dan anak-anak yang ditindas oleh berbagai tayangan TV yang
merusak moral?   Mereka tertidas, dan mereka tidak
berdaya. Inul justru bergelimang harta dan dibela habis-habisan oleh
kekuatan industri hiburan yang sangat fasis. Kita pun bisa bertanya,
dimana posisi Abdurrahman Wahid dalam kasus penindasan rakyat
Palestina, di posisi Israel atau rakyat Palestina? Mengapa dia lebih
memilih bersahabat dengan Shimon Peres?
Kita
maklum, bahwa para pendukung seorang tokoh kadangkala membuat pemaparan
yang mengagungkan sang tokoh. Ketokohan Abdurrahman Wahid tidaklah
diragukan. Banyak keistimewaan dimilikinya. Karena itulah, ketika akan
mendeklarasikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), para kyai
senior di NU pun seperti merasa perlu menerbitkan sebuah buku kecil
berjudul ”9 Alasan Mengapa Kiai-kiai tidak (lagi) bersama Gus Dur.”  
Kita
tunggu saja akhir dari semua ”permainan” semacam ini. Kita yakin, Allah
Maha Tahu apa yang sebenarnya terjadi. Allah tahu siapa yang benar dan
siapa yang dusta. Pasti akan ada balasan untuk masing-masing. Para
tokoh itu akan mempartanggungjawabkan perbuatannya sendiri kepada Allah
SWT. Kita pun demikian. Di akhirat nanti, mereka akan berlepas tangan, dan 
tidak mau menanggung dosa-dosa kita. Yang penting, kita tetap diwajibkan 
berdakwah dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.
Mudah-mudahan, kita tidak termasuk golongan orang-orang yang tidak tahu
dan tidak peduli dengan berbagai persoalan umat. Sebab, kata Rasulullah
saw, barangsiapa yang bangun pagi dan tidak peduli dengan urusan umat,
maka dia bukan bagian dari umat Islam. Wallahu a’lam. [Depok, 21 Rajab 1429 
H/24 Juli 2008/www.hidayatullah.com]


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke