BNI Rp584 M, Mandiri Catat Rp1,6 T

JAKARTA - Konsep Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang dicanangkan Bank
Indonesia (BI) diprediksi jalan di tempat. Perbankan di Indonesia masih
sulit mencapai status bank internasional/regional seperti yang tertuang
dalam API. Selain hambatan permodalan, sejumlah bank juga masih terkendala
kredit macet.

"Perbankan memang harus bekerja keras untuk memenuhi standardisasi API.
Sebab, banyak kendala yang harus diselesaikan," terang Direktur Korporasi PT
BNI Tbk, Khrisna Suparto, Kamis, 7 Agustus.

Selain harus melakukan konsolidasi dengan cara merger, kata dia, perbankan
juga harus mampu menekan non performing loan (NPL/kredit macet). "Tugas para
pengurus perbankan, terutama bank BUMN, harus mengejar para debitor yang
tidak beritikad baik," katanya.

Hal itu harus dilakukan karena bank BUMN menjadi andalan untuk mengejar bank
berstatus internasional sesuai API. �Harus ada upaya dari bank BUMN
menyelesaikan kredit bermasalah,� imbuhnya.

Salah satu debitor kategori macet yang kini disorot beberapa bank BUMN
adalah PT Semen Bosowa. Di BNI, misalnya, NPL Semen Bosowa tercatat sebagai
investasi yang terbesar. NPL Semen Bosowa Maros tercatat sebesar Rp584
miliar dengan klasifikasi lima.

Semen Bosowa, kata Khrisna, termasuk sepuluh debitor besar BNI yang macet.
Sepuluh debitor itu menghasilkan NPL Rp10,9 triliun atau 27,3 persen dari
keseluruhan NPL perseroan. Sedang profil kredit bermasalah BNI pada triwulan
II 2008 tercatat 1,7 persen, turun dibanding triwulan I 2008 yang 5,4
persen.

Begitu juga di PT Bank Mandiri Tbk, kredit investasi Bosowa Grup juga masih
tergolong macet. Dalam kesempatan diskusi terbatas dengan Fajar dan beberapa
wartawan di Jakarta, Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo mengakui masih ada
kredit macet dari Bosowa. Namun, kata Agus, manajemen Bosowa berjanji
kooperatif.

Di Bank Mandiri, tercatat sebelas perusahaan di bawah payung Grup Bosowa
yang pembayaran kreditnya tersendat. Tapi, sepuluh perusahaan sudah mulai
lancar membayar cicilan.

Semen Bosowa, Bosowa Multifinance, dan Bosowa Berlian Motor termasuk yang
pembayaran kreditnya belum tuntas. Kredit Grup Bosowa di Mandiri sekitar
Rp1,6 triliun.

Agus menambahkan, pihak Mandiri terus melakukan negosiasi dengan Bosowa.
"Dan sudah ada yang dibayar, kok," katanya. Karena penanangan NPL yang baik,
Bank Mandiri berhasil menekan NPL hingga di level 1,3 persen. Target NPL
Bank Mandiri 1 persen.

Tapi dengan melambungnya inflasi, sulit tercapai target itu,� tegasnya.
Terpisah, analis pasar modal Hendra Bujang mengatakan, kredit macet sejumlah
korporasi di bank BUMN bisa menjadi penghambat kinerja perbankan.

Terlebih kredit Semen Bosowa di sejumlah bank BUMN. �Yang saya lihat, Grup
Bosowa terus ekspansif, tapi komitmen membayar utangnya masih tercatat
rendah,� kata Hendra kemarin.

Hendra menjelaskan, dilihat dari kacamata emiten, profil bank BUMN yang
mempunyai NPL tinggi akan mempengaruhi kinerja di lantai bursa. Publik akan
tahu bahwa menempatkan dana di bank yang masih mempunyai NPL tinggi, sangat
berisiko. "Akan memengaruhi investasi jangka panjang," jelas analis dari
Triwira Insan Lestari itu.

Dari sisi kreditor (pemberi kredit), sambung dia, nama bank BUMN akan
dinilai kurang baik. Karena tidak mampu mengelola kredit macet dengan baik.
Kondisi akan berpengaruh penilaian pemegang saham.

Harusnya, kata Hendra, pemilik Bosowa yang kini ada di jajaran elite
kekuasaan (Aksa Machmud, wakil ketua MPR, Red), bisa membantu bank BUMN.
"Jangan malah memperkuat dugaan kekuasaan digunakan untuk memperlancar
bisnis," tegasnya.

Apalagi, saat ini kredit macet di Bank Mandiri, BNI, dan beberapa bank BUMN
melalui sindikasi perbankan telah berada pada kolektibilitas 5 (tingkat
terendah-red).

President Director Bosowa Corporation Erwin Aksa mengatakan, sebenarnya
tidak ada niat untuk mangkir dari membayar kewajiban. Menurut Erwin,
perusahaannya berniat untuk membayar semua kewajibannya secepat mungkin.
Tidak hanya pinjaman di Bank Mandiri, tetapi juga kepada BNI.

"Kita masih melakukan negosiasi. Masalah kita saat itu adalah melambungnya
nilai dolar akibat krisis moneter. Jadi, bukan sepenuhnya salah debitor," 
terang Erwin.
Erwin menambahkan, sudah ada calon investor yang masuk di Bosowa. Investor
baru akan membantu meningkatkan produksi semen Bosowa.

"Prospek industri semen di Indonesia masih cerah, sehingga calon investor
tidak punya alasan untuk khawatir. Kita juga sudah menjelaskan hal ini
kepada pihak bank," kata Erwin.

"Kita melakukan strategi restrukturisasi dan membuka opsi untuk masuknya
investor atau kreditor lain. Restrukturisasi sudah berjalan. Kita akan
membayar pinjaman kita ke semua bank BUMN," tegasnya. (yun) 



http://cetak.fajar.co.id/news.php?newsid=72388"FAJAR



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke