> >Yth. > >Rekan-rekan Jurnalis > >Di tempat > > > >AJI sedang mengumpulkan dukungan dari rekan-rekan jurnalis di Indonesia >untuk jurnalis dan media di Cina dalam rangka menciptakan iklim kebebasan >berekspresi dan kebebasan pers yang lebih baik. Dukungan tersebut nantinya >akan kami sampaikan langsung ke pemerintah Cina. > > > >Dukungan dapat anda kirimkan melalui email ke ><http://us.mc530.mail.yahoo.com/mc/[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED] >dengan menuliskan Nama, Media dan Alamat Email. Dukungan kami tunggu >paling lambat tanggal 17 Agustus 2008 pukul 17.00 wib. > > > >Mari berikan dukungan anda untuk rekan jurnalis yang sedang melakukan >tugas peliputan di Cina. > > > >Salam, > > > >Sekretariat AJI Indonesia > > > > > >Nomor : 010/AJI-Adv/R/VIII/2008 > >Lamp. : -- > >Hal : Solidaritas AJI untuk Jurnalis dan Aktifis >Kebebasan Berekspresi di Cina > > > >"Kami yakin kesempatan yang diberikan kepada Cina untuk menjadi tuan rumah >Olimpiade 2008 tidak hanya meningkatkan perekonomian kami tetapi juga >memajukan kondisi sosial, pendidikan, kesehatan, termasuk hak asasi manusia.." > > > >Janji itu disampaikan Wang Wei, Sekretaris Umum Komite Penawaran Pesta >Olimpiade saat Pemerintah Beijing memperjuangkan posisinya menjadi tuan >rumah Olimpiade 2008. Janji itu berhasil meyakinkan anggota Komite lainnya >dan mereka setuju Cina menggelar pesta olah raga terbesar di dunia, >Olimpiade 2008. > > > >Sesaat setelah terpilih, pemerintah bergegas mempersiapkan segala hal, >termasuk infrastruktur olah raga dan fasilitas pendukung Olimpiade yang >dipusatkan di Beijing. Namun satu yang agaknya terlupakan oleh pihak >berwenang Cina, yaitu janjinya untuk memperbaiki kondisi hak asasi manusia >(HAM) di negerinya. > > > >Hal ini diketahui dari masih terjadinya pelanggaran hak asasi manusia yang >serius di Cina. Sebagai contoh, 30 wartawan dan 50 pengguna Internet di >Cina saat ini berada di penjara untuk berbagai tuduhan pelanggaran. Tak >mengherankan jika organisasi kebebasan media menilai Cina sebagai >"pemenjara wartawan paling ternama di dunia." Para wartawan nasional di >Cina mengalami pembatasan dan penyensoran ketat. Mereka selalu menghadapi >ancaman dipecat, diintimidasi, dilecehkan, atau ditahan apabila menulis >artikel investigatisi berbau politik yang dinilai sensitif. > > > >Sepanjang tahun 2007, wartawan asing melaporkan beragam kasus bagaimana >mereka dilecehkan, diancam, ditahan dan diserang ketika melakukan >peliputan di daerah-daerah luar Beijing. Para wartawan nasional pun >melaporkan pelecehan dan intimidasi terus berlangsung, bahkan beberapa >penerbitan dilaporkan telah ditutup disebabkan laporan-laporan mereka >mengenai hal-hal yang dianggap sensitif secara politis. China Development >Brief misalnya dihentikan penerbitannya pada tanggal 4 Juli 2007 oleh >pemerintah Beijing, karena dituduh melakukan survei-survei tak berijin >yang bertentangan dengan Undang-Undang Statistik 1983. > > > >Pada 4 Agustus 2008, dua wartawan Jepang dipukuli secara brutal oleh >polisi paramiliter Cina di perbatasan Kashgar, Xinjiang. Kedua korban itu >Masami Kawakita (38), fotografer koran Chunichi Shimbun, dan Shinji >Katsuta, (37), reporter dari Nippon Television Network. Pemukulan terjadi >ketika mereka sedang meliput kekerasan Monday`s Attack, yaitu peristiwa >penyerangan yang menewaskan 16 orang anggota kepolisian Cina. > > > >Penyensoran di dalam negeri tetap terjadi di seluruh negeri. Menurut CPJ >(Committee to Protect Journalists), semua media menghadapi pelarangan >untuk meliput berita-berita "sensitif", seperti konflik etnis militer, >agama yang tidak diakui negara -khususnya Falun Gong-, masalah internal >Partai Komunis Cina dan sejumlah kebijakan pemerintah Cina. > > > >Meski menjanjikan "kebebasan media secara penuh" selama Olimpiade 2008, >pemerintah Beijing menerapkan standar ganda bagi wartawan asing dan >nasional. Para pembaca dan pemirsa di Cina tampaknya tidak memiliki akses >ke laporan berita asing mengenai topik-topik sensitif, terutama setelah >peraturan dikeluarkan pada September 2006 yang memperketat pengawasan >terhadap distribusi berita dari kantor-kantor berita asing di Cina. > > > >Pada 8 Agustus 2008, pesta Olimpiade Beijing dimulai. Sebuah event >internasional yang selayaknya bisa memadukan kebudayaan, pendidikan, >meningkatkan penghidupan dan kualitas hak asasi warga negara. Inilah dasar >dari piagam Olimpiade yang selama ini memberikan warisan positif kepada >kota-kota dan negara-negara yang menjadi tuan rumahnya. > > > >Pembatasan, pelecehan pihak berwenang Cina terhadap media, penyensoran di >internet jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip utama Piagam Olimpiade, >khususnya mengenai "penghormatan terhadap prinsip-prinsip moral yang >universal dan mendasar" serta "pelestarian martabat manusia". > > > >Aliansi Jurnalis Independen (AJI), adalah organisasi jurnalis di Indonesia >yang memiliki kepedulian terhadap isu kebebasan pers dan kebebasan >berekspresi di Indonesia. Sebagai bagian dari komunitas internasional, >kami memiliki kepedulian yang besar terhadap isu kebebasan pers dan >kebebasan berekspresi di China. > > > >AJI menjadi anggota IFJ, IFEX, SEAPA dan FORUM ASIA. Internasional >Federation of Journalist (IFJ) adalah organisasi wartawan internasional >yang berkantor pusat di Brussel, Belgia, ><http://www.ifex.org/>International Freedom of Expression Exchange (IFEX ) >adalah organisasi advokasi yang berkantor pusat di Kanada, SEAPA adalah >organisasi advokasi yang berkantor pusat di Bangkok. FORUM ASIA adalah >organisasi jaringan lembaga HAM yang berkantor pusat di Bangkok. > > > >Oleh karena itu, kami menyampaikan sikap: > * Menyampaikan solidaritas terhadap intimidasi, sensor dan pemenjaraan > yang dialami oleh aktifis kebebasan berekspresi dan jurnalis di Cina > * Mendesak Pemerintah Cina untuk melepaskan jurnalis dan aktifis > kebebasan berekspresi yang saat ini berada dalam tahanan > * Mendesak pemerintah Cina untuk memberikan ruang kebebasan kepada > jurnalis dan aktifis kebebasan berekspresi dalam menjalankan tugasnya > * Menghimbau Pemerintah Cina untuk memanfaatkan momentum Olimpiade > Beijing 2008 sebagai era baru bagi kebebasan pers dan kebebasan > berekspresi di Cina. > > >Jakarta, 7 Juni 2008 > > > >Ketua >Umum >Sekretaris Jenderal > > > >Heru Hendratmoko Abdul >Manan
[Non-text portions of this message have been removed]

