>From: Buya Abd Aziz Aru Bone <[EMAIL PROTECTED]> >Sent: Monday, 11 August, 2008 1:17:30 AM > >PERSPEKTIF SYAFI'I MA'ARIF > > >Sisi Gelap Itu Jangan Ditutupi > > > >Kekuasaan, dalam bentuk apa pun, hampir selalu dibangun dengan >kekerasan, tidak terkecuali oleh mereka yang memakai jubah agama yang >mengatasnamakan Tuhan. Tidak ada satu agama pun yang bisa melepaskan >diri dari kelakuan penguasa yang amoral, tetapi sering didukung oleh >fatwa ulama yang membenarkan sang penguasa untuk bertindak kejam. > >Adapun era Nabi Muhammad SAW tampaknya sebuah perkecualian. Perang >memang terjadi, tetapi semata-mata untuk mempertahankan diri, demi >tegaknya keadilan, keamanan, kebenaran, dan persamaan. Kebijakan Nabi >selalu diarahkan untuk terwujudnya nilai-nilai mulia sebagai cerminan >rahmat Allah untuk seluruh manusia, termasuk mereka yang tidak beriman. > >Di era Al-khulafaa' al-raasyiduun (632-661), pilar-pilar moral itu >sampai batas-batas tertentu masih bertahan, khususnya sampai masa >'Umar ibn Khattab (634-644). Era berikutnya, keadaan sudah mulai >kacau, tetapi belum seburuk era sesudah itu, era Umayyah (661-750) dan >era 'Abbasiyah (750-1258). Khalifah 'Usman bin 'Affan dan Khalifah >'Ali bin Abi Thalib sama-sama berkuah darah di tangan umat kaum >muslimin sendiri yang tidak puas dengan kebijakan yang ditempuh. > >Oleh sebab itu, saya sudah lama berpendapat agar umat Islam jangan >"memberhalakan" masa silam, seakan-akan semuanya itu bebas dari cacat. >Tampaknya sudah menjadi aksioma bahwa setiap kekuasaan sering benar >bersahabat dengan kekerasan. Agama dalam banyak kasus hanya dipakai >untuk menopang sistem kekuasaan yang korup sekalipun. > >Dalam buku-buku sejarah muslim, kejahatan yang ditonjolkan adalah yang >sudah sangat keterlaluan. Misalnya, kepala Hussein dipersembahkan >kepada Yazid bin Mu'awiyah di Damaskus, dan Yazid bukan main senangnya >karena saingannya dari Bani Hasyim, musuh bebuyutan Bani Umayyah, >telah dapat dilumpuhkan. Sedangkan Hassan, abang Hussein, sebelumnya >malah berdamai dengan Mu'awiyah bin Abi Sufyan, pendiri dinasti, >saingan ayahnya, 'Ali bin Abi Thalib, dengan imbalan tertentu, mungkin >demi menjaga keutuhan umat yang sudah sangat sulit dipertautkan >gara-gara kekuasaan. > >Yazid yang juga dipanggil oleh pendukungnya sebagai amir al-mu'miniin >(pemimpin kaum beriman) dikenal sebagai pemabuk ulung dalam >pesta-pora, main perempuan, dan sangat kejam. Tidak saja Hussein yang >dibinasakan, siapa saja yang tidak patuh kepadanya harus dipancung >dengan pedang. Adalah penulis Mesir, Faraj Fouda (dibunuh di kantornya >pada 8 Juni 1992 karena dituduh murtad), dalam karyanya, al-Haqiiqa >al-Ghaaibah (Kebenaran yang Hilang) --sebentar lagi penerbit >Paramadina akan mengedarkan terjemahannya- - yang dengan sangat berani >membongkar sisi-sisi gelap sejarah Arab muslim di masa lampau itu. > >Fouda memusatkan perhatian pada era Al-khulafaa' al-raasyiduun, >Umayyah, dan 'Abbasiyah. Tentu sisi positifnya tidak kurang, seperti >semakin meluasnya radius pengaruh Islam. Di era 'Abbasiyah, >perkembangan ilmu pengetahuan, kesenian, filsafat, sufisme, dan >teknologi sungguh spektakuler, sehingga dalam perspektif ini, dunia >Islam adalah dunia yang paling maju ketika itu. Tentang segi >gemerlapan ini telah banyak ditulis orang, dan sebagian umat Islam >malah mengidolakannya. > >Fouda menengok dari sudut yang buram, berdasarkan sumber-sumber Arab, >seperti Ibn Atsir, al-Mas'udi, Ibn Katsir, al-Thabari, al-Suyuthi, >al-Syaristani, al-Dinuri, dan banyak yang lain. Sumber-sumber Barat >dikesampingkan, sekalipun penulis Barat itu sebenarnya juga mengambil >dari sumber-sumber Arab, tentu dengan tafsirannya sendiri. Tentang >Yazid, di sisi keganasannya, Ibn Katsir mengungkapkan penyimpangan >kelakuannya dengan mencium mayat kekasihnya yang meninggal mendadak >karena tercekik. Kita kutip: > >"Pada suatu hari, Yazid juga pernah mengutarakan hasratnya untuk >tinggal berdua saja dengan Habbabah di istananya, untuk selamanya, >tanpa ada yang lain tersisa. Ia pun mewujudkan impiannya itu. Di >istananya yang megah, didatangkanlah Habbabah seorang diri. Berbagai >kasur nan empuk digelar, permadani dibentang. Tatkala mereguk nikmat >kebersamaannya dengan Habbabah dan dalam suasana romansa dan cinta, ia >melemparkan anggur ke mulut Habbabah yang sedang tertawa. Kontan, ia >tersedak, lalu mati. Selama berhari-hari, Yazid tak putus mencium dan >memeluk mayat Habbabah. Ketika mayat itu telah membusuk, barulah ia >memerintahkan penguburannya. Setelah mayat itu dikubur, ia pun >menginap di sana selama berhari-hari. Sejak itu, ia tidak keluar rumah >kecuali lembap kelopak matanya" (lihat Fouda, halaman 104-105). > >Kecuali 'Umar bin 'Abdul 'Aziz, khalifah-khalifah yang lain, baik >Umayyah maupun 'Abbasiyah, hampir semua berkubang dalam kemewahan, >kekejaman, dan pesta-pora. Saya harap, pengusung bendera khilafah juga >mau membaca karya Fouda ini sebagai cermin untuk berkaca. Di mata Shah >Wali-Allah, kekhilafahan pasca-Al-khulafaa' al-raasyiduun hanya >berbeda sedikit dari kekaisaran Romawi dan kekaisaran Persi kuno. > >Ahmad Syafii Maarif >Guru Besar Sejarah, pendiri Maarif Institute >[Perspektif, Gatra Nomor 38 Beredar Kamis, 31 Juli 2008]
[Non-text portions of this message have been removed]

