Salam,

Mengecam dan mengkafirkan demokrasi, tapi menikmati "roti" demokrasi, 
itulah wujud kemunafikan fundamentalis aa Abubakar Baasyir. Mengapa 
tinggal di negara Indonesia yang demokratis? Mengapa tidak pulang 
kandang ke Arab Saudi saja?
Dasar munafik.

Kata iklan di teve: Mau menikmati fasilitasnya, tapi tak mau bayar 
pajaknya. Apa kata dunia? Ha..ha..ha..

Wassalam,



Dimas.


Kontradiksi dalam Cara Berpikir Abu Bakar Ba'asyir
Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Kalau kita amati kelompok-kelompok Islam yang meneriakkan semboyan 
ingin hidup sesuai dengan sunnah dan teladan Nabi, ada semacam pola 
yang menarik. Pola ini terjadi di tanah Arab sendiri, dan terjadi 
pula (atau tepatnya ditiru?) di Indonesia dan negeri-negeri lain di 
luar Arab. Yaitu, mereka cenderung terlibat dalam pertengkaran 
internal yang tak pernah selesai. Persoalannya sepele: masing-masing 
kelompok menuduh yang lain sebagai menyimpang dari atau kurang 
konsisten dengan sunnah, dan menganggap merekalah yang paling 
konsisten mengikutinya. 

BARU-baru ini, kita membaca berita di sejumlah media tentang 
mundurnya Abu Bakar Ba'asyir dari organisasi di mana selama ini dia 
menjabat sebagai amir atau komandan, yaitu Majelis Mujahidin 
Indonesia (MMI). Alasan mundurnya Ba'asyir menarik sekali. Dia 
berpandangan bahwa sistem kepemimpinan yang dianut oleh MMI makin 
melenceng dari sunnah atau teladan Nabi Muhammad. 

Dia mengatakan bahwa MMI selama ini memakai sistem kepemimpinan 
kolektif dan demokratis. Sistem itu, di mata Ba'asyir, tidak Islami. 
Dia memandang demokrasi sebagai kafir, tidak Islami, tidak sesuai 
dengan sunnah Nabi. 

Ba'asyir berencana mendirikan jama'ah atau organisasi baru yang di 
mata dia lebih sesuai dengan sunnah Nabi. Dalam organisasi baru itu, 
dia akan memakai sistem kepemimpinan yang lebih Islami, bukan sistem 
kepemimpinan demokratis yang pelan-pelan mulai diadopsi oleh MMI. 

Ada beberapa alternatif nama untuk organisasi baru yang hendak ia 
dirikan itu, misalnya: Jamaah Ansharussunah, Jamaah Ansharullah, 
Jamaah Muslimin Ansharullah, dan Jamaah Ansharuttauhid. Kalau kita 
jeli mengamati model-model gerakan Islam di berbagai negara Muslim 
saat ini, nama-nama itu sangat khas pada kelompok-kelompok yang 
sering disebut sebagai salafi, yaitu kelompok yang dengan gigih 
sekali ingin mencontoh teladan dan sunnah Nabi secara konsisten, 
bahkan fanatik sekali. 

Saya menulis esei pendek ini bukan karena saya menganggap fenomena 
MMI atau Ba'asyir sebagai hal penting. Esei ini ingin menunjukkan 
kontradiksi dalam cara berpikir dan "mindset" orang-orang seperti Abu 
Bakar Ba'ayir. Saya berpendapat, metode gerakan yang dipakai oleh 
Ba'asyir mengandung kontradiksi yang akut. Kalau tidak bersikap 
apologetik dan pura-pura tak tahu, mereka mestinya menyadari sejumlah 
kontradiksi yang akan saya tunjukkan di bawah ini. 

Metode gerakan seperi dipakai Ba'asyir itu juga rapuh dari dasarnya, 
sehingga cepat atau lambat, gerakan itu akan rontok sendiri. Ba'asyir 
hidup dengan sebuah "delusi" yang tak dia sadari. 

Ba'asyir mengkleim ingin mendirikan organisasi baru yang lebih sesuai 
dengan sunnah Nabi. Betulkah kleim semacam itu? Apakah mungkin 
mendirikan organisasi baru dalam era modern ini tanpa melanggar 
prinsip mengikuti sunnah Nabi? 

Organisasi baru yang akan didirikan oleh Ba'asyir itu, di mata saya, 
sudah pasti tidak akan sesuai dengan sunnah Nabi. Sebab pada zaman 
Nabi, tidak kita kenal sebuah entitas bernama organisasi seperti yang 
akan dia dirikan itu. Pada zaman Nabi semua masyarakat hidup sebagai 
komunitas tunggal tanpa organisasi atau pengelompokan apa pun (dalam 
pengertian modern yang kita kenal sekarang). Begitu Ba'asyir 
mendirikan jamaah atau organisasi baru, persis pada saat itu dia 
meninggalkan sunnah Nabi. 

Kalau mau lebih ekstrim lagi, kita bisa berkata bahwa eksperimen 
mendirikan pesantren Ngruki di Solo pun – yakni pesantren yang 
didirikan oleh beberapa tokoh Islam termasuk Ba'asyir itu – juga 
tidak sesuai dengan sunnah Nabi jika dilihat secara cermat, sebab 
pada masa Nabi tidak ada sekolah seperti dipraktikkan oleh pesantren 
dan madrasah di Ngruki. Tidak ada sistem kelas, tidak ada sistem 
ujian, tidak ada sistem ijazah, tidak ada sistem pendaftaran seperti 
kita saksikan dalam semua praktek sekolah modern saat ini. 

Orang-orang seperti Ba'asyir ini memakai logika dan cara berpikir 
yang aneh dan nyaris tak masuk akal. 

Terhadap kritik ini, Ba'asyir boleh jadi menjawab: bahwa sistem 
pendidikan ala madrasah yang mengenal kelas-kelas itu tidak bisa 
dikatakan bertentangan dengan sunnah Nabi, sebab sistem itu 
menyangkut urusan duniawi, bukan masalah ibadah. 

Persis di sini soalnya: bukankah soal pemilihan pemimpin, atau soal 
kepemimpinan secara umum, adalah masalah duniawi pula? Kenapa dia 
keluar dari MMI karena menganggap bahwa sistem kepemimpinan dalam 
organisasi itu tidak sesuai dengan sunnah Nabi? Kenapa dia tak 
membubarkan pesantren Ngruki saja, sebab pesantren itu juga memakai 
sistem yang tak ada pada atau dicontohkan oleh Nabi? 

Ba'asyir mungkin beranggapan bahwa masalah kepemimpinan bukan soal 
duniawi, tetapi masalah keagamaan. Pertanyaannya, apakah Nabi 
memberikan petunjuk yang detil mengenai soal kepemimpinan ini dengan 
seluruh aspek-aspeknya? Kalau jelas ada petunjuk, kenapa para sahabat 
bertengkar hebat saat Nabi wafat, persis untuk memperebutkan jabatan 
kepemimpinan? 

Bahkan jenazah Nabi tak sempat dikuburkan selama tiga hari, karena 
sahabat sibuk bertengkar tentang siapa yang menjadi pengganti Nabi 
dan bagaimana pula cara memilihnya. 

PARADOKS lain yang menggelikan adalah bahwa Ba'asyir menolak mentah-
mentah sistem demokrasi, tetapi, anehnya, dia menikmatinya sejak 
pertama kali menginjak bumi Indonesia setelah kembali dari 
pengasingan di Malaysia selama bertahun-tahun (karena diusir oleh 
pemerintahan Presiden Suharto yang tak demokratis itu). Demokrasi di 
Indonesialah yang memungkinkan dia mendirikan organisasi seperti MMI, 
dan demokrasi itu pulalah yang menjamin hak dia nanti untuk 
mendirikan organisasi baru yang konon lebih sesuai dengan sunnah Nabi 
itu. 

Kampanye dia selama ini untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia 
tak pernah diganggu oleh aparat keamanan justru karena di Indonesia 
ada sistem demokrasi. Dengan demikian, Ba'asyir mengecam demokrasi, 
seraya diam-diam menikmati "roti" demokrasi setiap saat tanpa memberi 
kredit apapun. Dalam hal ini, Ba'asyir tidak melaksanakan hadis yang 
terkenal, "man lam yasykur al-nas lam yasykur al-Lah", barangsiapa 
tak mensyukuri manusia (yang telah berbuat baik pada dia), maka dia 
sama saja tak mensyukuri Tuhan. 

Ba'asyir menikmati roti demokrasi, tetapi dia tak pernah memberi 
kredit apapun pada sistem yang memberinya kebebasan itu. Dia malah 
mengecam sistem itu sebagai sistem kafir karena berasal dari Barat. 
Tindakan dia ini bertentangan dengan sunnah Nabi sebagaimana 
tercermin dalam hadis di atas. 

Kalau konsisten dengan perlawanannya atas demokrasi, kenapa Ba'syir 
tak pindah ke negara Arab Saudi saja yang sama sekali tak menerapkan 
demokrasi? Saat dia diusir dari Indonesia pada awal 80an dulu, 
mestinya pada saat itu dia punya kesempatan untuk pindah ke negeri 
yang sama sekali tak menerapkan demokrasi. Eh, dia malah mengungsi ke 
Malaysia yang juga, dalam tingkat tertentu, menerapkan demokrasi. 

Setelah Indonesia makin demokratis paska tergulingnya Presiden 
Soeharto pada 1998, dia malah dia kembali ke Indonesia. Kenapa dia 
kembali ke negeri yang justru makin intensif mengalami proses 
demokratisasi? Apakah diam-diam Ba'asyir mencintai demokrasi, walau 
di mulut meluapkan kecaman pada sistem itu? 

Mungkin Ba'asyir akan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya ini dengan 
mengatakan: Saya balik ke Indonesia karena saya mau menegakkan negara 
syari'ah! Saya mau mendirikan kekuasaan Tuhan, sistem yang ia sebut 
dengan istilah yang aneh sekali, yaitu "Allah-krasi", yakni kekuasaan 
Allah sebagai lawan dari "demokrasi", kekuasaan rakyat. 

Pertama, sistem yang ia sebut sebagai Allah-krasi itu sendiri tidak 
pernah ada dalam sunnah atau dikatakan secara tegas oleh Nabi 
sendiri. Dalam hal ini, dia telah melanggar prinsip yang ia anut 
dengan gigih itu, yaitu hendak hidup sesuai seluruhnya dengan sunnah. 
Nabi sendiri tak pernah menyebut kekuasaan yang ia praktekkan di 
Madinah dulu sebagai Allah-krasi. 

Kenapa dia menciptakan sesuatu yang tak ada dalam agama? Bukankah ini 
bid'ah, dan setiap bid'ah, sebagaimana ajaran yang diyakini oleh 
orang-orang semacam Ba'asyir, akan membawa seseorang masuk neraka 
(kullu bid'atin dhalalah wa kullu dhalalatin fi al-nar)? Akankah 
Ba'asyir masuk neraka karena menciptakan bid'ah Allah-krasi itu? 
Wallahu a'lam! Hanya Tuhan yang tahu. 

Kedua, agar dia bisa memperjuangkan sistem Allah-krasi di Indonesia, 
dia tak bisa tidak butuh sebuah lingkungan politik yang memungkinkan 
perjuangan itu; dan itu, sekali lagi, adalah sistem demokrasi. Sebab, 
jika dia hidup di negeri yang tidak demokratis, sudah tentu dia akan 
akan mengalami kesuitan untuk memperjuangkan idenya tersebut, persis 
karena tiadanya kebebasan di sana. 

Jika Ba'asyir, misalnya, menetap di Saudi Arabia, dia sudah ditangkap 
dari sejak awal dan tak akan pernah keluar dari penjara, sebab dia 
mengampanyekan sistem yang menentang kekuasaan yang ada di sana. 
Hanya di negeri demokratis seperti Indonesialah dia bisa bergerak 
dengan leluasa. Bagaimana dia bisa mengecam sistem demokrasi yang 
telah memberinya hidup selama ini? 

Paradoks yang lebih parah lagi dan mendasar adalah keinginan Ba'asyir 
mendirikan sebuah negara syari'ah, negara yang berlandaskan sistem 
Allah-krasi itu. Konsep negara itu sendiri tak dikenal secara 
eksplisit pada zaman Nabi. Nabi sendiri tak pernah menyebut komunitas 
di Madinah sebagai "daulah" atau negara. Dalam Piadam Madinah yang 
terkenal itu, komunitas di Madinah hanya disebut sebagai "ummah" 
saja. Kata ummah di sana tidak terbatas pada umat Islam, tetapi juga 
umat-umat lain di luar Islam, termasuk Yahudi. 

Kalau hendak konsisten mengikuti sunnah Nabi, tindakan Ba'asyir untuk 
menciptakan nama "negara" itu sendiri untuk menyebut sebuah komunitas 
yang hendak ia dirikan jelas tidak sesuai dengan teladan atau sunnah 
Nabi. 

Kalau kita amati kelompok-kelompok Islam yang meneriakkan semboyan 
ingin hidup sesuai dengan sunnah dan teladan Nabi, ada semacam pola 
yang menarik. Pola ini terjadi di tanah Arab sendiri, dan terjadi 
pula (atau tepatnya ditiru?) di Indonesia dan negeri-negeri lain di 
luar Arab. Yaitu, mereka cenderung terlibat dalam pertengkaran 
internal yang tak pernah selesai. Persoalannya sepele: masing-masing 
kelompok menuduh yang lain sebagai menyimpang dari atau kurang 
konsisten dengan sunnah, dan menganggap merekalah yang paling 
konsisten mengikutinya. 

Inilah yang kita lihat pada kasus perpecahan dalam tubuh Majelis 
Mujahidin Indonesia (MMI) sekarang. Perpecahan ini juga kita lihat 
dalam kelompok-kelompok salafi yang lain di sejumlah kota di 
Indonesia. Pengalaman ini sudah pernah kita saksikan pada Partai 
Komunis dulu; masing-masing faksi menganggap dirinya 
paling "ortodoks" dan menuduh yang lain "revisionis". 

Ba'asyir keluar dari MMI karena merasa organisasi itu dikelola dengan 
prinsip yang tak seusai dengan sunnah Nabi. Saya memprediksi, 
kelompok baru yang akan didirikan oleh Ba'asyir itu, suatu saat juga 
akan pecah lagi karena pada gilirannya nanti akan ada kelompok yang 
merasa lebih konsisten pada sunnah ketimbang yang lain. Begitu 
seterusnya. 

Deskripsi yang tepat untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang 
mengkleim paling mengikuti sunnah ini adalah sebuah ayat dalam Quran, 
tahsabuhum jami'an wa qulubuhum syatta; engkau melihat mereka seolah-
olah bersatu (di bawah ide mengikuti sunnah Nabi), tetapi hati mereka 
sesungguhnya saling terpecah-belah. Dengan kata lain, gerakan ini 
sebenarnya rapuh di dalam, persis karena terlalu 
menekankan "kesucian" gerakan, purifikasi, dan tidak belajar untuk 
kompromi dan akomodatif terhadap keadaan yang terus berubah. 

Watak gerakan puritan di mana-mana selalu mengandung resiko 
perpecahan internal. Jika kita mau belajar lebih jauh lagi, 
perpecahan dalam tubuh umat Islam selama ini terjadi persis karena 
dorongan "puritan" itu, yakni masing-masing kelompok merasa paling 
sesuai dengan Quran dan sunnah. Dengan sikap "sok benar" sendiri itu, 
mereka dengan mudah menuduh gerakan yang lain kafir, sesat, murtad, 
syirik, dsb. 

Paradoks seperti dihadapi oleh Ba'asyir ini semestinya menjadi 
pelajaran bagi kelompok-kelompok Islam yang lain. Di mata saya, 
metode perjuangan Islam ala Ba'asyir sudah mentok dan tak akan 
membawa umat Islam ke mana-mana. Sangat keterlaluan jika ada orang-
orang yang masih percaya atau "terkelabui" oleh tokoh dan metode 
perjuangan seperti ini. 

Penangkal paling manjur agar umat Islam tak terkecoh oleh retorika 
orang-orang semacam Ba'asyir ini adalah nalar yang sehat dan kritis. 
Umat seharusnya diajarkan bagaimana berpikir secara kritis dan berani 
mempertanyakan kleim-kleim kosong yang diajukan oleh tokoh seperti 
Abu Bakar Ba'asyir itu.[] 



Kirim email ke