http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/tiga_tahun_helsinki20080\
815
<http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/tiga_tahun_helsinki2008\
0815>
Tiga Tahun Helsinki: Demokrasi Tegak Tapi Aceh Hadapi Potensi Rentan
Aboeprijadi Santoso

15-08-2008


Tiga tahun setelah penandatanganan Persetujuan Perdamaian di Helsinki 15
Agustus 2005, Aceh berkembang demokratis, tapi tetap saja ada
potensi-potensi rawan. Transisi politik, militer, dan yuridis, kemudian
penarikan tentara dan transformasi GAM menjadi partai politik melalui
Undang Undang Pemerintahan Aceh dan Pilkada - semua itu telah menanam
fondasi bagi demokrasi baru. Namun tugas rekonstruksi, rekonsiliasi dan
soal HAM belum tuntas. Sementara itu, ada isu-isu rentan yang berpotensi
mengganggu keamanan dan perdamaian.

Perdamaian, di mana pun juga, akan gagal atau sukses, berkat pihak pihak
yang bertikai itu  [aceh._vlag240jpg.jpg] sendiri, bukan berkat
penengahnya. Filosofi mantan Presiden Finlandia Marttii Ahtisaari,
penengah perundingan Helsinki itu, kini terbukti benar. Transformasi
politik dan militer di Aceh sejak MoU telah membuahkan sebuah pemerintah
daerah dengan wewenang lebih besar, dan pilkada yang memperkenalkan
insititusi calon independen. Menurut Otto Syamsuddin Ishak dari LSM
Imparsial, semua itu memungkinkan rekonstruksi pasca-tsunami dan
memenuhi harapan dunia internasional.

Otto Syamsuddin Ishak: Jadi itu sudah meletakkan fondasi demokrasi.
Sudah meletakan konstelasi kehidupan yang sehat bagi pembangunan. Jadi
harapan dunia pun sudah tercapai. Ketika rekonstruksi dijalankan mereka
kan beranjak dari satu tesis rekonstruksi tidak bisa berjalan dalam
situasi konflik. Sekarang rekonstruksi sudah berjalan dengan tingkat
kesuksesan yang diakui dunia, tapi masyarakat masih belum puas. Jadi
sekarang hal-hal yang harus diselesaikan itu memang pada level
masyarakat gitu lho.

Dinamika
Dengan kata lain, dinamika Aceh kini beralih dari perubahan di tingkat
negara ke dalam masyarakat. Tapi justru di situlah hal itu menimbulkan
isu isu yang lahir dari ilusi ketakutan dan paranoid penguasa negara
soal separatisme yang dapat mengganggu keamanan dan perdamaian.

Laporan LSM Imparsial menyebutkan misalnya partai lokal, atau parlok,
dipertentangkan dengan partai nasional, muncul isu-isu senjata gelap,
meningkatnya kriminal dan pungli yang di masa konflik disebut pajak
Nanggroe. Padahal semua itu merupakan bagian normal saja dari proses
demokrasi baru. Dan, dalam hal senjata dan pajak Nanggroe, itu merupakan
tindak kriminal, bukan isu politik yang terkait separatisme. Menurut
Imparsial, Aceh dapat menjadi isu untuk mendiskreditkan SBY-Kalla dalam
pemilu mendatang.

Otto Syamsuddin Ishak: Karena dari bawah hanya soal ketidakpuasan.
Kerentanan itu justru keretanan politik pada level nasional. Karena
pihak oposisi politik terhadap SBY maupun kaum militer, serdadu yang
tidak suka pada SBY, ,elihat Aceh ini memberikan kredit point yang
sangat tinggi terhadap SBY-Kalla. Oleh karena itu mereka menggunakan
Aceh sebagai media untuk menjatuhkan SBY, paling tidak diharapkan pada
pemilu mendatang dia akan kalah. Oleh karena itu mereka mulai
mengungkapkan soal senjata ilegal, soal penembakan, soal pajak Naggroe,
soal rivalitas politik antara partai nasional dan lokal dilihat sebagai
konflik.

Karena itu, tampilnya bekas pemberontak GAM dalam Partai Aceh di seluruh
pelosok negeri ini, dikhawatirkan dapat dipolitisir untuk mengeruhkan
suasana damai untuk kemudian dihadap.

Paranoid
Belum lama lalu, misalnya, ditemukan bendera GAM dan senapan baru dalam
penembakan kelompok bekas GAM di Aceh Barat. Padahal, mereka ini
kabarnya hanya kelompok kecil bekas GAM yang menentang MoU Helsinki dan
disokong dari luar. Dan para tokoh GAM di KPS dan Partai Aceh, malah
mengecam kelompok tsb sebagai "separatis".

Penguasa militer setempat yang terkesan paranoid melancarkan "Operasi
Waspada" seolah masih berada di masa konflik. Pertama kali, memang,
dalam jajaran kepemimpinan militer di Aceh, sebanyak lima perwira, dari
dinas intel sampai Danrem dan Pangdam, berasal dari korps elit Kopassus.

Soal lain yang dapat mengganggu perdamaian adalah isu ALA-ABBAS, yaitu
pemekaran Aceh Tengah, Barat dan Selatan menjadi propinsi tersendiri.
Menurut penelitian LSM DEMOS di Aceh, warga daerah tsb justru
menunjukkan jati-diri keacehan, dan tidaklah semiskin Pidie dan Aceh
Utara. Walhasil, ALA-ABBAS lebih merupakan isu pergulatan elit lokal
yang mencari dukungan dari oposisi PDIP di Jakarta dan kalangan Golkar
di Aceh.

Imbas ilusi ketakutan dan isu ALA ABBAS inilah yang dapat mengeruhkan
suasana di saat meningkatnya intensitas politik lokal menuju pemilu
2009.



Kata Kunci: Aceh <http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=Aceh> ,
demokrasi <http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=demokrasi> , GAM
<http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=GAM> , Helsinki
<http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=Helsinki> , pilkada
<http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=pilkada> , transformasi
<http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=transformasi>



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke