http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Opini&rbrk=&id=61635&detail=Opini
Opini Jakarta | Sabtu, 16 Agt 2008 Reinventing Indonesia: Menemukan Kembali Masa Depan Bangsa Kita mesti akhiri keluh kesah lalu bangkit menemukan kembali mimpi besar bangsa yang hilang. Komaruddin Hidayat Melihat Indonesia dari segi geografis, demografis, dan ekonomi, kita akan menemukan Indonesia tampak seperti sebuah perahu besar yang "penumpangnya"-nya begitu padat dan beragam. Terdiri dari sekitar 13 ribu gugusan pulau besar dan kecil yang didiami penduduk lebih dari 220 juta jiwa dengan sekitar 200 etnis yang berbeda, membuat Indonesia menjadi negara keempat terbanyak penduduknya di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Sayangnya, Indonesia yang tampak seperti perahu besar ini kini seperti limbung yang bocor di sana-sini. Era Reformasi, yang telah melepaskan bangsa ini dari kekuasaan sentralistik-otoritarian yang semula dipercaya sebagai "jembatan emas" menuju kepada kehidupan yang lebih baik, yang tersisa kini hanya seperti lamunan yang jauh. Inilah yang kita kenal dengan psikologi pesimisme, yang tersebar melalui media massa, yang gencar menyuguhkan berita-berita buruk yang mencemaskan, mulai dari pejabat korup, konflik internal partai, konflik ekses pemilu, konflik antar etnik dan agama, konflik internal agama, gerakan pemisahan diri dari Indonesia, hingga penguasaan bangsa asing terhadap sumber-sumber Migas dab non-Migas negeri ini. Begitu menguatnya psikologi pesimisme menjangkiti penduduk negeri ini, seolah-olah bangsa Indonesia merasakan bahwa negara ini ada namun terasa seperti tidak ada. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, masyarakat seakan tidak peduli adakah yang namanya pemerintah itu ada ataukah tidak. Bangsa Indonesia hampir-hampir tidak mampu mengapresiasi secara cerdas begitu melimpahnya potensi alam, potensi fauna, potensi flora, potensi laut, yang sangat melimpah, jika dibandingkan dengan sebagian besar negara. Bangsa ini mesti dibebaskan dari sindroma pasca-kolonialisme yang mewariskan mental rendah diri dan senang memberontak atau mengamuk yang mengalahkan pemikiran visioner. Sebagai pemilik sumberdaya alam, hayati, hewani, mineral, laut, dan sumberdaya lain yang melimpah, bangsa Indonesia belum memiliki daya tawar yang kokoh dan kuat dihadapan pembeli dan pedagang internasional. Kita mesti akhiri keluih bkesah ini lalu bangkit menemukan kembali mimpi besar bangsa yang hilang. Psikologi Optimistik Sebagai insan akademik dan beriman, kita mesti rubah dan psikologi pesimistik bangsa ini dengan pesikologi optimistik. Yaitu sikap hidup yang penuh harapan akan kehidupan di masa depan yang cemerlang. Kita bangun tekad untuk memelihara apa-apa yang baik dari masa lalu Indonesia, dan mengambil serta menemukan yang baru yang lebih baik di masa kini dan akan datang. Inilah yang saya mkakisudkan dengan Reinventing Indonesia: Menemukan Kembali Masa Depan Indonesia. Ada dua hal yang sangat fundamental, yaitu grand solidarity, rasa kebersamaan untuk membangun bangsa, dan grand reality, sebuah realitas agung sebagai sebuah bangsa yanhg demikian besar dan kaya. Grand solidarity merupakan kesadaran dan ingatan jauh ke belakang bahwa para founding fathers kita telah banyak berkorban dalam memerdekakan negeri ini dari penjajahan. Jauh ke belakang sebelum Indonesia merdeka, banyak pejuang nusantara ini yang telah memberi contoh sangat baik bagaimana membebaskan umat dari kebodohan dan kemiskinan. Begitu Indonesia merdeka, para tokoh agama dan bangsa bahu membahu berusaha mengentaskan bangsa Indonesia dari kebodohan, kemiskinan, dan ketertindasan. Belajar dari contoh baik dari para pendahulu, kita sebagai generasi penerus sudah seharusnya memiliki tekad dan komitmen untuk ikut memberikan pengorbanan yang sama, dalam konteks kekinian dan kedisinian, demi cita-cita yang sangat mulia tersebut yang sekarang mulai dilupakan. Pengalaman dan cita-cita mulia yang sudah tertanam di masa lalu sangat penting dipelihara dan dikembangkan, namun harus segera disadari bahwa rumah yang akan kita bangun berada di masa depan. Bangsa besar hanya akan terwujud jika para pemimpin dan politisinya berjiwa dan berpikiran besar. Namun disayangkan, banyak politisi yang agendanya kecil-kecil, lebih sibuk dan berkelahi untuk kepentingan diri dan kelompoknya, bukannya bangsa. Agenda dan kebanggaan lokal yang dikejar dengan melupakan kebanggaan sebagai sebuah bangsa. Kita, akhirnya, tidak punya gairah menjadi kekuatan dominan di kancah negara-negara anggota ASEAN. Kita tidak punya visi yang jelas mau ke mana bangsa besar yang bernama Indonesia ini diarahkan. Sebagai bangsa yang diliputi psikologi pesimis, bangsa Indonesia cenderung menarik diri dari mainstream pergaulan dunia. Melihat Amerika Serikat sukses menjadi negara demokrasi dan super power, maka bangsa-bangsa di dunia bermimpi menjadi seperti Amerika. Kagum berdecak campur minder melihat kemajuan Cina, India dan Korea. Indonesia mesti tampil dan maju tanpa harus kehilangan identitas keindonesiannya. Ada kesan sekarang ini kita lagi puber demokrasi dan HAM, namun melupakan agenda besar membangun pendidikan dan ekonomi rakyat. Pilar ekonomi, masyarakat, pemerintah dan lembaga pendidikan mestinya bersinergi, bukannya saling menindas. Saat ini pilar kehidupan berbangsa rapuh sekali. Karena itu kita tumbukan grand solidarity. Yakni, memperkuat menjalin "keakuan", menjadi "kekamian" menuju "keikitaan". Spirit, tekad dan visi Sumpah Pemuda untuk memiliki satu nusa, satu bahasa, satu bangsa; INDONESIA mesti dihidupkan kembali. Grand Reality Untuk itu, tugas kedua kita setelah dengan baik mengarifi pengalaman masa lalu kita yang ditopang oleh grand solidarity adalah mengaplikasikan kesadaran masa lalu ke dalam konteks masa kini. Makna grand reality dalam konteks masa kini berarti usaha menyejahterakan rakyat, mempertinggi tingkat kecerdasan anak bangsa, menjaga martabat bangsa, menciptakan rasa aman, dan memberikan hak-hak rakyat berdasarkan rasa keadilan. Upaya-upaya di atas harus diupayakan secara terus-menerus sepanjang sejarah dengan menyadari bahwa bidang spiritual, sosial, ekonomi, politik, dan budaya merupakan saling bergantung (interdependency) satu sama lain. Ada tiga hal yang perlu kita perhatikan dalam membangun grand reality. Pertama, kita harus bersedia mengidentifikasi dan menyeleksi nilai-nilai unggul apa saja yang bisa kita kembangkan. Kedua, kita harus menciptakan interaksi yang sehat dalam masyarakat yang kita diami sehingga nilai-nilai unggul itu terwujud. Ketiga, kita harus menanggapi segala persoalan yang muncul secara proaktif, bukan reaktif atau represif, sehingga kita bisa menepis berbagai potensi kekerasan dimulai dari diri kita sendiri demi mewujudkan kedamaian antar sesama manusia. Kerja gagasan ini nantinya akan membentuk etos: tradisi kekerasan dan kemalasan akan kita ganti dengan kedamaian dan kerja keras sebagai proses prestasi kita. Kita wujudkan the imagined Indonesia sebagai sebuah civic nation di mana nilai Pancasila bukan sekedar sebagai kontrak politik yang diposisikan sebagai ideologi negara, tetapi lebih merupakan living values dalam kehidupan birokrasi, sosial maupun politik. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta

