Nota Bene:

hahaha...

ketawak ngakak awak!

awak katanya meributkan soal hadiah Lapindonya itu kerna faktor 
duitnya! gawat! sudah begitu dekadennya rupanya elite intelektual 
negeri ini sampai semua musti diukur pake Rupiah!!! mata uang yang 
paling tak berharga di dunia itu!!! gawat!

dari jawaban Tardji Bakrie, dari Kredo Lapindonya di bawah, (dan juga 
pendapat beberapa penyair muda pengagumnya di bawah juga, kecuali 
Afrizal yang kusayang itu) maka kesimpulan awak di esei awak "Politik 
Kanonisasi Sastra", bahwa Sastra Indonesia itu sampai sekarang masih 
sangat anti-politik, masih sangat anti-realis, masih sangat yakin 
bahwa "Estetika adalah Panglima", bahwa Sastra(wan) tak punya 
relevansi sosial-politik di luar teks sastranya yang keramat 
adiluhung itu, dan bahwa:

Sutardji Calzoum Bakrie adalah contoh terbaik, par excellence, 
skaligus bukti tak terbantahkan dari gagalnya Estetika Humanis 
Universal Manikebuis yang anti-politik itu! bukti sia-sianya Estetika 
Formalisme bagi sebuah negeri Dunia Ketiga!!!

hahaha...

=================



Khazanah, Pikiran Rakyat, Sabtu 16 Agustus 2008

Sutardji, Bakrie Award, dan Lapindo

SEBAGAI penyair, Sutardji Calzoem Bachri telah melakukan eksplorasi 
kata dalam puisi sehingga kata bergerak mencari kemungkinan arah dan 
tujuannya, saling membentur demi membentuk keseluruhan yang tak 
teramalkan. Sutardji menemukan kembali mantra, memulihkan kembali 
tenaga bahasa yang terlanjur dimelaratkan oleh komunikasi massa. 
Demikian salah satu alasan mengapa Freedom Institute memilih Sutardji 
sebagai penerima anugerah Bakrie Award 2008 Bidang Kesusastraan, 
seperti termaktub dalam website mereka www. freedom-instute.org.

Bakrie Award adalah sebuah anugerah tahunan yang dipilih oleh Freedom 
Institute, yang diberikan pada mereka yang dianggap telah menunjukkan 
dedikasinya dalam berbagai bidang, terutama kedokteran, sains, 
penelitian, sosial, dan kesusastraan. Bahkan, anugerah ini 
mengandaikan dirinya sebagai "Hadian Nobel" Indonesia. Tradisi 
pemberian anugerah ini telah dimulai sejak 2003. Dalam bidang 
kesusastraan, Sutardji Calzoem Bachri adalah sastrawan keenam yang 
menerima anugerah Bakrie Award, setelah sebelumnya Sapardi Djoko 
Damono (2003), Goenawan Mohamad (2004), Budi Darma (2005), W.S. 
Rendra (2006), dan Putu Wijaya (2007).

Pandangan kritis terhadap Bakrie Award mulai muncul sejak 2006. Meski 
menerima anugerah tersebut, W.S. Renda dalam pidato penerimaannya 
dengan keras mengkritik penanganan dan pertanggungjawaban atas nasib 
ribuan rakyat di Sidoarjo. Pada tahun 2007, ketika kasus Lapindo 
makin mencuat ke permukaan, Bakrie Award pun kian mendapat sorotan. 
Apalagi setelah Frans Magnis Suseno yang terpilih sebagai penerima 
anugerah di Bidang Sosial menolak menerima anugerah tersebut. Lain 
halnya dengan Putu Wijaya yang menerimanya di tengah berbagai kritik.

Meski kasus Lapindo tidak lagi mencuat tajam seperti sebelumnya, 
sangat sulit memisahkan Bakrie Award 2008 yang diterima Sutardji 
Calzoem Bachri dengan kasus Lapindo. Tak sedikit publik sastra 
berharap bahwa Sutardji akan mengikuti jejak Frans Magnis Suseno 
ketimbang meniru Putu Wijaya. Namun, ternyata sang "presiden" penyair 
Indonesia itu lebih memilih meniru Putu Wijaya, menerima anugerah itu 
dan uang Rp 150 juta!

**

TENTU saja ini menimbulkan berbagai tanggapan yang berbeda. Menurut 
kritikus Adi Wicaksono, berbicara kesusastraan Indonesia sangatlah 
tidak mungkin meniadakan atau melewatkan nama Sutardji.

Tentang sikap Sutardji yang menerima Bakrie Award 2008 yang 
dihubungkan dengan kasus Lapindo, Adi menilai bahwa anugerah tersebut 
haruslah dilihat sebagai penghargaan atas karya dan dedikasi, bukan 
penghargaan yang sifatnya politis. "Moralitas menerima atau menolak 
saya kira dalam konteks sekarang tidak lagi bisa dipakai seperti 
tahun lalu sebab sekarang kasus Lapindo bukan lagi jadi kasus utama, 
banyak kasus-kasus yang lain. Tidak seperti tahun yang lalu ketika 
kasus Lapindo benar-benar jadi pusat perhatian. Konteksnya berbeda 
kalau, misalnya, Tardji menerimanya tahun lalu ketika kasus Lapindo 
jadi sorotan khalayak dan media. Saya tidak kecewa bahwa Tardji 
menerima anugerah itu, sebagai penghargaan sastra dia memang layak 
menerimanya, " ujarnya.

Senada dengan Adi Wicaksono, Agus R. Sarjono juga menyebut bahwa 
Sutardji pantas mendapatkan penghargaan sastra. Hanya saja lembaga 
pemberinya belumlah pantas memberinya karena ada yang lebih pantas 
diberi dan diurus, yakni korban lumpur Lapindo. Ia bisa memahami 
ketika Sutardji menerima anugerah tersebut, baik dalam konteks 
realitas finansial maupun bersebab pada langkanya penghargaan bagi 
sastrawan di negeri ini. Publik sastra Indonesia mungkin ada yang 
berharap bahwa Sutardji akan menolak penghargaan tersebut.

"Namun, mereka juga tidak akan tega seandainya Tardji menolaknya. 
Saya tidak berharap Tardji menolak sebab secara finasial, orang-orang 
yang sebetulnya layak menolak pun ternyata tidak menolak," tutur Agus.

Dari Tasikmalaya, penyair Acep Zamzam Noor menyebut sangatlah wajar 
Sutardji merima anugerah itu, lepas dari soal lembaga yang 
memberinya. Pilihan Sutardji yang menerima anugerah tersebut tidaklah 
akan mengurangi sikap kritisnya terhadap kasus Lapindo. "Kasus lumpur 
Lapindo adalah persoalan, tetapi memberi penghargaan pada sastrawan 
adalah soal yang lain. Apalagi pemberian anugerah ini telah ada 
sebelum terjadinya kasus lumpur Lapindo. Persoalannya bukan berarti 
menerima penghargaan itu lantas sikap kita akan melemah. Rendra 
menerima, tetapi dengan sangat bagus dia melancarkan pidato yang 
penuh kritik terhadap kasus Lapindo. Namun, di luar itu semua, 
menerima atau menolak Bakrie Award, kepenyairan Sutardji tidak akan 
terganggu. Kepenyairannnya lebih besar ketimbang Bakrie Awad dan uang 
Rp 150 juta!" Katanya.

Pandangan berbeda muncul dari Afrizal Malna. Meski mengatakan, 
Sutadji layak menerima penghargaan itu, setelah sebelumnya Sutardji 
juga memperoleh penghargaan dari Pemerintah Provinsi Riau, Afrizal 
memandang menerima award berkali-kali semacam itu tak ubahnya seperti 
gajian. Bukan pantas atau tidak Sutardji menerimanya, tetapi juga 
soalnya bagaimana award itu lahir dari kurasi yang dilakukan. Inilah 
yang membuat award sastra seperti arisan. Oleh karena itulah, di mata 
Afrizal, dunia sastra sekarang seperti hidup dalam kandang. Karya 
sastra tidak dipandang dalam fenomena kebudayaan umumnya.

Berbeda dengan Acep Zamzam Noor yang melihat bahwa kasus lumpur 
Lapindo dan Bakrie Award adalah persoalan yang berbeda, Afrizal 
justru memandang keduanya tidaklah bisa dipisahkan. Dalam konteks ini 
pula, ia menganggap bahwa wibawa kepenyairan Sutardji akan lebih 
besar seandainya ia menolak anugerah tersebut. "Yah, terserah dia 
kalau mau menggadaikan wibawa kepenyairannya pada uang 150 juta. 
Sebagai penyair seharusnya dia menghitung itu," ujar Afrizal.

**

ketika dihubungi, Jumat (15/8), Sutardji Calzoem Bachri yang pada 14 
Agustus 2008 itu menerima dua penghargaan sekaligus, Penghargaan 
Budaya Bintang Parama dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan 
Bakrie Award 2008, justru mempertanyakan mengapa orang tidak 
mempermasalahkan penghargaan yang diterimanya dari negara tapi justru 
mempermasalahkan Bakrie Award 2008?

"Mengapa kalau ada duitnya baru ribut? Apa karena penghargaan dari 
negara itu tak ada duitnya! Mengapa orang-orang melihat dengan cara 
yang berat sebelah? Saya muak dengan hal itu! " ujarnya.

Seolah menjawab pernyataan Afrizal, Sutardji menambahkan, "Saya tidak 
dibentuk oleh orang-orang yang menyukai atau oleh orang-orang yang 
membenci saya. Saya dibentuk oleh diri saya sendiri!"

Terhadap sejumlah pandangan yang mengkritik sikapnya menerima Bakrie 
Award 2008, Sutardji mengatakan, dalam sebuah anugerah tentu ada 
kebaikan dan keburukannya.

Lalu, seolah hendak menjawab para pengkritiknya yang mengaitkan 
anugerah tersebut dengan isu lumpur Lapindo, Sutardji menegaskan 
bahwa sejak dulu ia memutuskan sebagai penyair, ia bukanlah petarung 
sosial. Baginya, puisi dan kepenyairan tidaklah dimestikan sebagai 
reaksi atas realitas sosial yang tengah terjadi seperti kasus lumpur 
Lapindo.

"Kalau mau semacam itu sejak zaman Soeharto saya sudah ditangkap. 
Saya bukan petarung sosial, tapi petarung kata-kata. Pertarungan saya 
adalah dengan kata-kata, dengan ide dan air mata. Puisi saya bukan 
puisi dekrit!" katanya. (Ahda Imran)***



Kirim email ke