dari Blog tetangga: http://jojor.blogspot.com

MUSIM PANEN BAGI KONSULTAN POLITIK DAN MEDIA

Oleh: Jojo Rahardjo

Majalah Fortune memperkirakan total dana kampanye di Amerika tahun 
ini akan mencapai USD 3 miliar. Itu sebabnya seorang konsultan 
politik Indonesia, Rizal Malarangeng di Jawa Pos, 25 Mei 2008 
menegaskan: "Demokrasi memang mahal, bung!"

Lalu, berapa besar biaya kampanye di Indonesia?

Jika rata-rata biaya beriklan secara excessive di sebuah stasiun TV 
per harinya adalah 500 Juta Rupiah, maka per bulan adalah 15 Milyar 
Rupiah. Sutrisno Bachir dan Rizal Malarangeng adalah contoh 2 calon 
yang beriklan di TV secara excessive. Itu hanya untuk satu stasiun 
TV saja. Silahkan kalikan dengan 10 stasiun TV, misalnya. Angka ini 
hanya untuk di media TV, belum termasuk media lain seperti, radio, 
Internet, bioskop, baliho, spanduk, bendera, kalender, brosur, kaos, 
dan material kampanye lainnya. Kampanye tahap awal ini hanya sekedar 
untuk menciptakan awareness. Tahap berikutnya adalah adalah tahap 
komunikasi nilai-nilai dan platform. Biaya ratusan milyar rupiah ini 
hanya habis dalam beberapa bulan saja, bukan 1 tahun. Jadi bayangkan 
dalam 1 tahun berapa biaya yang dikeluarkan oleh seorang calon 
pemimpin di negeri ini, dan berapa biaya yang dikeluarkan oleh 
beberapa orang calon, misalnya 5 orang calon. Lebih dari 1 trilyun 
rupiah!

Soal seperti ini, memang soal yang baru dan telah menjadi wacana 
beberapa tahun terakhir ini. Sudah banyak tulisan dan diskusi dibuat 
mengenai ini. Kebanyakan sudut pandangnya adalah ilmu, misalnya ilmu 
komunikasi, marketing, manajemen, politik, psikologi atau gabungan 
dari semua ilmu itu. Tulisan di bawah ini juga dari sebuah sudut 
pandang, yaitu `sudut pandang hati' yang mencoba mewakili hati 
kebanyakan masyarakat dari golongan bawah.

Besarnya biaya kampanye calon presiden yang dipertontonkan 
belakangan ini, mungkin tidak mengganggu orang-orang yang terlibat 
dalam dunia politik. Tapi di tengah morat-maritnya negeri ini, 
pertunjukan itu sungguh tidak elegan. Apalagi seperti terjadi di 
negara mana pun, sumber dana kampanye seringkali dari korporasi atau 
dari kelompok-kelompok yang ingin memiliki pengaruh di pemerintahan 
yang akan terpilih nanti. Di Indonesia, Kampanye tahap awal sudah 
dimulai, meski tidak resmi. Pada tahap inilah sering sumber dana 
kampanye yang berjumlah sangat besar justru tidak memiliki asal-asul 
yang jelas. Padahal kita harus prihatin karena beberapa soal di 
bawah ini.

1. Penyumbang siluman itu (sebenarnya tidak cukup siluman, karena 
biasanya mereka adalah korporasi atau kelompok) akan meminta balas 
jasa jika si calon terpilih. Ini tentu bisa menjadi praktek 
pemerintahan atau legislasi yang korup.
2. Calon adalah seorang yang tidak cukup dikenal di masyarakat 
tetapi memaksakan diri.
3. Uang ratusan milyar rupiah tidak dimanfaatkan untuk menjadi 
solusi bagi persoalan mendasar negeri ini, yakni membuka lapangan 
kerja atau membantu membiayai pendidikan.
4. Calon adalah seorang yang sejak awal tidak peka dengan persoalan-
persoalan besar masyarakat.
5. Calon adalah seorang kerbau yang mau dicocok-hidungnya oleh para 
konsultan politik.
6. Calon tidak memilih cara yang meski lebih panjang, tetapi lebih 
murah, elegan, natural dan bermanfaat agar dikenal oleh masyarakat, 
misalnya dengan menulis selama bertahun-tahun sebelumnya dan 
melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Tahun 2008 ini adalah tahap awal bagi para calon pemimpin, tahap 
menanamkan awareness, sehingga kita belum bisa melihat kampanye 
platform atau program para calon pemimpin itu. Tapi justru itu 
lah "pameran" kelemahan para calon pemimpin itu sudah dilangsungkan. 
Hampir semua calon yang menghambur-hamburkan uangnya di TV itu 
adalah orang yang sebelumnya sudah cukup dikenal melalui media TV, 
namun bukan sebagai pahlawan atau memiliki prestasi menonjol sebagai 
pemimpin di negeri ini. 

Wiranto, Bachir, Prabowo, Rizal, Sutiyoso dan lain-lain yang sibuk 
memoles citranya adalah orang-orang yang sebelumnya atau sepanjang 
hidup mereka tidak diberitakan sebagai orang yang concern dengan 
persoalan sehari-hari masyarakat di bawah, misalnya penciptaan 
lapangan kerja. Padahal di mana-mana, di seluruh dunia, di negeri 
mana pun, sering ukuran keberhasilan seorang pemimpin negeri diukur 
dari keberhasilannya dalam menciptakan lapangan kerja. GeorgeW. Bush 
di negeri yang dikenal makmur, ternyata dianggap gagal sebagai 
pemimpin bahkan memalukan rakyatnya karena menyuburkan pengangguran 
berkat politik luar negerinya yang haus perang.

Mengapa lapangan kerja? Karena rakyat butuh kesejahteraan, apalagi 
di Indonesia. Jika rakyat sejahtera, pemimpin mungkin 
boleh "melenggang" sebagai penguasa. Kalau tidak memiliki catatan 
yang baik sebagai insan yang menyejahterakan rakyat, apakah bisa 
dipercaya menjadi pemimpin yang akan memberikan kesejahteraan? Meski 
demikian, konstituen biasanya terlalu bodoh dan ilmu politik serta 
ilmu komunikasi sudah sedemikian maju hingga seorang calon tanpa 
rapor bagus pun bisa terus maju hingga menjadi pemimpin.

Jika praktek demokrasi di Amerika sering menjadi acuan para 
konsultan politik Indonesia, maka saya pun ingin mengajukan Obama 
sebagai acuan saya. Tetapi itu jika Obama bisa terlepas dari 
keraguan banyak pihak di dunia ketiga mengenai tekanan military 
industrial complex, karena salah satu sumber dana Obama berasal dari 
perusahaan-perusahaan minyak seperti Exxonmobile (Amien Rais, 
DetikNews.com). Obama, dalam masa kampanye pendahuluan atau primary 
sudah menyampaikan program-programnya. Salah satu programnya yang 
menunjukkan "kejeliannya" pada soal-soal yang aktual, adalah 
mengenai krisis energi karena kaitannya dengan beberapa soal dunia 
lainnya, seperti global warming, climate change, investasi usaha dan 
lapangan kerja baru dan di sektor baru pula. Di dalam satu 
programnya, Obama menegaskan akan menanamkan investasi lebih besar 
dari pemerintah sebelumnya di sektor energi yang berasal dari sumber 
alternatif yang bukan berasal dari fosil, seperti minyak bumi, 
batubara, gas alam dan uranium. Energi dari sumber alternatif yang 
juga disebut renewal energy atau tidak bisa habis ini bisa berasal 
dari berbagai sumber, seperti angin, gelombang laut, panas bumi, 
hingga sinar matahari. Penanaman modal di sektor ini selain untuk 
mengatasi persoalan mahalnya minyak dunia, sekaligus juga akan 
membantu mencegah global warming dan membuka lapangan kerja baru dan 
di sektor yang baru pula.

Karena saya seorang blogger, maka melalui riset kecil yang tentu 
dengan Google (ha…ha…ha…), saya menemukan informasi tentang 
perusahaan-perusahaan di berbagai belahan dunia yang mengembangkan 
pemanfaatan energi dari sumber alternatif. Salah satunya dan yang 
paling menonjol adalah pemanfaatan sinar matahari untuk menjadi 
energi listrik dengan menggunakan Solar Panel atau Solar Cell. Salah 
satu perusahaan yang mengembangkan itu adalah Ameco, perusahaan 
solar energy di Selatan California sejak tahun 1974. Ameco, menjadi 
salah satu perusahaan energi swasta komersial yang menjual peralatan 
solar panel dan juga menjual jasa penyediaan listrik yang berasal 
dari sinar matahari (www.solarexpert.com/pvbasics2.html). 

Sekarang, beberapa perusahaan listrik matahari di Amerika itu 
menawarkan sekitar 5 Juta Rupiah untuk sebuah solar panel yang bisa 
menghasilkan listrik 500 watt di rumah-rumah. Peralatan ini mampu 
bertahan paling tidak selama 10 tahun biaya dengan perawatan yang 
minimal. PhotoVoltaic (solar panel) systems have no moving parts, 
require virtually no maintenance, and have cells that last for 
decades (www.solarexpert.com/pvbasics2.html). Jika rata-rata rumah 
dengan 1300 watt di Indonesia menghabiskan 300 ribu rupiah perbulan 
untuk tagihan listrik, setidaknya bisa dihemat 150 Ribu Rupiah 
perbulan dan 15 Juta Rupiah selama 100 bulan (8 tahun lebih). 
Kemudian kalikan lagi dengan jutaan rumah di seluruh Indonesia. 
Perusahaan Amerika ini juga menyediakan solar panel untuk kawasan 
pemukiman (residential), apartemen, gedung perkantoran dan niaga 
atau kawasan industri.

Teknologi ini sebenarnya bukan teknologi tinggi lagi di masa ini. 
Teknologi ini ditemukan puluhan tahun yang lalu. Solar panel yang 
paling kecil dan dimanfaatkan secara komersial sebenarnya sudah kita 
kenal sejak tahun 70-an, yaitu pada peralatan calculator. Bahkan 
Indonesia pun sudah akrab dengan teknologi Solar Panel dan 
pemanfaatannya pada skala yang tidak main-main. PLN sudah pernah dan 
berhasil menyediakan listrik matahari ini di daerah-daerah 
terpencil. Sejumlah instansi dan lembaga pemerintah, seperti BPPT 
pun sudah akrab dengan pemanfaatan teknologi ini. Tetapi mengapa 
pemerintah tidak memaksimalkan pemanfaatan teknologi ini? Jawabannya 
tentu berputar-putar di sekitar lingkaran setan dunia usaha dan 
praktek korup para pemimpin negeri ini.

Krisis energi adalah persoalan dunia. Artinya persoalan ini terjadi 
di mana-mana. Bukan hanya karena persediaan energi fosil menipis dan 
menjadi mahal, atau karena praktek setan industri minyak dunia, 
tetapi juga karena eksplorasi dan penggunaannya mengakibatkan global 
warming. Di Indonesia, masyarakat kelas bawah sudah lama merasakan 
mahalnya tagihan listrik dan mahalnya transportasi dan tentu juga 
mahalnya barang-barang karena bergantung pada minyak sebagai sumber 
energi dalam melakukan kegiatan usaha dan kegiatan sehari-hari. 

Apa yang dinyatakan Ameco dalam situsnya 
www.solarexpert.com/pvbasics2.html seharusnya bisa membuat hidung 
investor di sektor energi kembang kempis: Siemens Solar alone has 
shipped over 130 megawatts of modules since its inception, and the 
use of solar power is projected to grow at 10-15% per year from now 
until the year 2010. This is over three to five times the rate of 
growth of the Gross National Product of the United States!

Sayangnya hingga hari ini belum ada calon pemimpin atau politikus 
yang dengan cepat atau lebih dini menyebut energy crisis sebagai 
salah satu program mereka. Bahkan harapan saya, untuk mewakili 
kalangan bawah, adalah munculnya calon yang sudah memiliki solusi 
saat ini juga pada persoalan ini. Salah satu solusi seperti ini bisa 
dijadikan model berkampanye yang tidak menghambur-hamburkan uang di 
tengah kemelaratan rakyat saat ini. Sayangnya juga adalah para 
konsultan politik Indonesia tidak atau belum menawarkan model 
kampanye seperti ini yang sesungguhnya lebih cocok di Indonesia.

Penerapan solar panel di Indonesia bahkan bisa memberi citra bagi 
calon pemimpin sebagai pemberi solusi pada beberapa persoalan 
seperti di bawah ini:

1. keluar dari jerat monopoli PLN sebagai satu-satunya penyedia 
listrik
2. menghemat uang masyarakat yang dikeluarkan dalam membeli listrik
3. menggiatkan penggunaan kendaraan (alat transportasi) listrik
4. ikut mencegah kerusakan lingkungan
5. menciptakan lapangan kerja baru di sektor penyediaan energi 
matahari.

Ini hanya salah satu contoh tentang pilihan dari bentuk atau cara-
cara berkampanye bagi para calon legislatif atau pemimpin di 
Indonesia. Berinvestasi di sektor energi matahari ini tentu akan 
diliput oleh media, sehingga calon itu bisa menghemat biaya dalam 
melakukan kampanye untuk membangun awareness. Tentu masih ada 
pilihan-pilihan lain, jika memang para colon legislatif dan pemimpin 
itu mau dipandang sebagai pemberi solusi, bukan bagian dari masalah 
yang berkepanjangan di Indonesia.

Saya tentu percaya, bahwa konsultan politik memang sudah saatnya 
diperlukan di negeri ini. Paling tidak untuk membentuk politikus 
atau pemimpin yang lebih elegan. Terutama kita memerlukan pemimpin 
yang dibentuk oleh konsultan politik untuk memiliki kepekaan 
terhadap situasi atau persoalan yang berkembang dan yang akan 
datang. Pemimpin yang dibentuk untuk tidak menggunakan kekerasan 
tetapi menggunakan komunikasi, bukan seperti para gubernur yang giat 
menghalau kaum urban dan kaum miskin kota. Pemimpin yang 
mengandalkan pada hasil riset ilmiah dalam mengelola wilayahnya, 
bukan seperti membangun Banjir Kanal Timur di Jakarta. Pemimpin yang 
memiliki satu tim ahli besar yang terdiri dari para profesional di 
bidangnya. Pemimpin yang mampu mengembangkan sistem untuk menyerap 
berbagai aspirasi dari masyarakat. Semua ini memang bisa dibentuk 
oleh konsultan politik. 

Tetapi jika konsultan politik bekerja dengan orientasi uang, maka 
konsultan politik akan mengusung seorang calon durjana untuk menjadi 
pemimpin. Konsultan politik akan tidak peduli sebesar apa pun biaya 
yang dikeluarkan calon durjana untuk membeli semua slot di berbagai 
jenis media untuk memoles citra seorang calon incompeten, busuk, 
bahkan jahat untuk maju ke pemilihan. Bahkan konsultan politik akan 
mampu memanipulasi citra korup pemimpin yang menjadi kliennya agar 
terus bertahan berkuasa.

Sebuah contoh dari perusahaan konsultan politik adalah perusahaan 
Lingkaran Survey Indonesia yang dipimpin oleh teman saya semasa 
kuliah dulu, Denny JA. LSI sebagai perusahaan konsultan politik 
meski baru beberapa tahun didirikan telah menjadi `king maker' 
(mengutip majalah Men's Obsession). Ada 12 gubernur serta 23 bupati 
dan walikota yang berhasil lolos Pilkada dengan bantuan Denny. 
Apakah Denny JA sebagai salah satu king maker bisa menjadi sebuah 
langkah awal nan besar menuju Indonesia yang lebih baik? Itu 
pertanyaan gatal yang bisa terjawab di tahun-tahun mendatang.

Sekarang memang musim durian. Sayang duriannya terlalu mahal buat 
masyarakat kecil. Indonesia memiliki 33 provinsi ditambah 440 
kabupaten dan kota. Maka ada sekitar 473 musim durian di berbagai 
lokasi di seluruh Indonesia. Belum lagi pemilihan anggota legislatif 
pusat dan daerah.  Demokrasi ternyata bukan hanya mahal, tetapi 
hanya sebuah permainan berebut pengaruh di antara yang punya duit…. 
Rakyat kecil memangnya tahu apa?

Dirgahayu Republik Indonesia!

Penulis pernah bekerja sebagai Marketing Research Executive di 
sebuah stasiun TV








Kirim email ke