Dimana Watak Kolonial Indonesia? oleh : Abdul Muiz Syaerozie ketia seorang pemuda belajar ke Eropa, Amerika, maupun Arab, mereka ingin meng-eropa-kan, meng-Amerika-kan dan meng-Arab-kan Indonesia. biasanya ini terjadi setelah dia kembali menghirup udara ditanah kelahirannya. tak pernah sedikitpun berpikir untuk meng-Indonesia-kan Inggris misalnya, Amerika maupun Arab, saat sedang mengarungi pengetahuaannya ditanah bangsa lain.
Bangsa kita seolah-olah sangat rendah jika disandingkan dengan bangsa- bangsa lain. kita mudah dipengaruhi, tapi sulit mempengaruhi. gaya hidup dan cara berpikir ala Eropa, ala Amerika dan ala Arab seolah- olah mencerminkan suatu masyarakat yang berperadaban. Indonesia harus dibentuk sebagaiman yang ada disana. Dalam tampilan sejarah masa lalu, ketiga bangsa itu,memang pernah menoreh catatan atas kemampuannya merealisasikan misi kolonialnya di belahan dunia asing. di Indonesia, hedonisme sebagai produk budaya Inggris dan Amerika berhasil hidup dengan subur. melalui sistem kapitalistiknya, masyarakat Indonesia mampu di format menjadi masyarakat konsumeris dan hedonis. di Indonesia pula, jubah-jubah penutup panas terik matahari, jilbab-jilbab rapat menutup seluruh wajah, jenggot-jenggot panjang, kata-kata "ana" "wa antum" (padahal kadang salah dalam gramatika Arab)tumbuh dengan nikmat. padahal itu adalah produk budaya Arab. orang-orang Indonesia, selalu membanggakan bahwa kita punya kemampuan bersaing dengan bangsa lain dalam konteks mentransformasikan budaya kita ke bangsa lain. ini mereka tunjukkan dengan sejarah Gadjah Mada pada masa kejayaan Majapahit. tetapi, bukankah daerah-daearah yang telah di pengaruhi Gadjah Mada kini menjadi bagian dari Indonesia? kecuali satu atau dua negara tetangga. kemampuan untuk mengunci kebudayaan lain, dan kemudian mempengaruhunya dengan kebadayaan "kita" dalam rangka menguasai, sepertinya kita tidak punya mental itu. tidak seperti ketiga bangsa diatas (Arab-Eropa-Amerika). kedekatan kita dengan bangsa lain bukan dalam kerangka "mereka" harus di didik, melainkan dalam kerangka sebagai teman berbicara. inilah kesantunan budaya kita; Indonesia. Berbeda bagi mereka, bangsa lain perlu dididik, di arahkan dan di"betulkan".dan kini saatnya kita beritahu mereka agar menggunakan cara formasi yang lebih santun ketika berkomunikasi dengan bangsa lain. tentu dengan melalui keluhuran budaya kita. budaya kita lebih sabtun, sebab tidak menganggap bangsa lain seperti patung, atau benda yang dengan sesukanya kita bentuk. mereka harus banyak belajar dari kita. wallahu 'alam bissawab.

