Bismillahirrahmanirrahim
Komunitas Seniman Santri (KSS) Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon
bekerjasama dengan Persatuan Seluruh Pengasuh Pesantren Babakan Ciwaringin
(PSPB) Insa Allah akan mengadakan Seminar pra-Bahtsul Masail Nasional:
"Tol Trans Jawa: Antara Kepentingan Kapital dan Kearifan Lokal"
I. Latar belakang
Seabad silam (1810-1825), pemerintah kolonial Hindia Belanda di bawah Gubernur
Jenderal Willem Herman Daendels mambuat Jalan Raya Pos atau De Groote Postweg
sepanjang 1.000 kilometer yang menghubungkan Anyer (Banten) dan Panarukan
(Situbondo). Ambisi ini diulang pemerintah dengan pencanangan Jalan Tol Trans
Jawa sepanjang 1.000 kilometer.
Projek Jalan Tol Trans Jawa senilai Rp 46,77 triliun menghubungkan Anyer
hingga Banyuwangi itu sebenarnya digagas sejak pertengahan 1990-an. Krisis
ekonomi memaksa projek tersebut kembali masuk laci pemerintah. Proposal muncul
kembali pada era Presiden Megawati Soekarnoputri, namun baru direalisasikan
pemerintah Presiden Bambang Yudhoyono (SBY).
Selain meningkatkan aspek pelayanan publik, fungsi utama Jalan Tol Trans Jawa
sebenarnya ditekankan pada upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi. Pemerintah
yakin, bila proyek ini selesai pada 2009, pertumbuhan ekonomi yang saat ini
berkisar 6 persen akan tumbuh fantastis hingga mendekati double digit.
Sayangnya, perjalanan projek tersebut tidak semulus jalan tol. Ada banyak
kendala dan rintangan yang harus segera diselesaikan, salah satunya adalah
datang dari Pondok Pesantren Babakan, Ciwaringin, Cirebon. Pasalnya, keberadaan
projek ini bakal mengancam keberadaan pondok pesantren yang didirikan pada 1715
M/1127 H itu.
Tentu saja rencana tersebut menuai gelombang protes dari kiai, santri, dan
masyarakat. Mereka melakukan aksi terbuka (demonstrasi) menuntut agar trase tol
dipindah menjauhi tanah pesantren. Para kiai keberatan karena tanah yang akan
dilalui tol adalah tanah ulayat (wasiat/wakaf), yang hanya diperuntukkan untuk
pengembangan pesantren ke depan.
Di sekelingnya terdapat puluhan lembaga pendidikan dan pondok pesantren yang
berbaur dan menyatu dengan pemukiman masyarakat. Keberadaan tol tidak hanya
mengganggu proses belajar mengajar, melainkan akan berdampak langsung terhadap
kehidupan sosial-budaya masyarakat pesantren, dan menghambat pengembangan
pesantren ke depan.
Perlawanan serupa pernah terjadi ketika Daendels membangun Jalan Raya Pos yang
menghubungkan kepulauan Jawa. Waktu itu, Kiai Hasanuddin atau lebih dikenal
dengan Kiai Jatira¾muassis Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin¾bersama
masyarakat dan santri-santrinya, melakukan perlawanan dengan memindah
patok-patok pengukur jalan agar tidak mengenai tanah masyarakat dan pesantren
yang dirintisnya.
Kiai, para santri, dan masyarakat Babakan Ciwaringin meyakini perjuangan mereka
saat ini pararel dengan apa yang dilakukan Kiai Jatira dulu ketika melawan
Daendels. Mereka memiliki ikatan sejarah dan ikatan emosional terhadap tanah
tersebut sehingga tidak mungkin digantikan dengan tanah yang lain. Tanah
tersebut merupakan amanat leluhur agar dijadikan sebagi pondok pesantren, kata
KH Makhtum Hannan, sesepuh sekaligus tokoh karismatik Pondok Pesantren Babakan,
suatu ketika.
Namun, sampai sekarang, pemerintah seolah-olah menutup mata terhadap gelombang
protes dari kiai, santri, dan masyarakat pondok pesantren. Bahkan, ada indikasi
kuat, pemerintah lebih memilih mengorbankan pesantren guna memuluskan keinginan
investor/pemodal dengan mengatasnamakan kepentingan umum, meningkatkan
pelayanan publik, atau meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Dari sini, ada benturan simbol antara modernisasi yang ditunjukkan projek jalan
tol dengan simbol tradisional berupa kearifan lokal yang ditunjukkan oleh
pesantren beserta seluruh akar tradisi dan kebudayaannya.
Lantas, apakah dengan adanya penolakan tersebut menandakan bahwa pesantren anti
pembangunan? Sebelum menjawab pertanyaan ini, alangkah baiknya kita menengok
kembali paradigma pembangunan menurut kaca mata pesantren. Bagi pesantren,
pembangunan haruslah berangkat dari kebutuhan, kemauan, dan keinginan
masyarakat dengan berlandaskan pada keadilan, kemaslahatan, dan kemanfaatan.
Hal ini sejalan dengan kaidah fiqh yang biasa dijadikan barometer oleh pihak
pesantren, yaitu: tasharruful imam ala al-raiyyah manutun bimaslahatil
mariyyah(kebijakan pemimpin atas rakyat haruslah didasarkan pada kemaslahatan
rakyat).
Karena itu, dalam memandang projek jalan tol, pihak pesantren lebih melihatnya
dari sejauh mana projek tersebut memberikan manfaat kepada masyarakat, terutama
masyarakat kecil dan terpinggirkan (oleh pembangunan). Apakah dalam
pelaksanaannya pemerintah/pengembang memperhatikan nasib mereka yang selama ini
selalu termarjinalkan oleh pembangunan.
Pada kenyataannya, justeru yang paling dirugikan/merasakan dampak negatif dari
projek ini adalah: pelaku usha kecil, petani, dan para buruh. Sebab, banyak
lahan pertanian, pabrik/industri, dan perumahan penduduk yang bakal tergusur.
Sehingga akan menambah pengangguran, kemiskinan, dan keterbelakangan.
Dan dalam praktiknya, pembangunan jalan tol juga lebih banyak menguntungkan
pihak pengembang/investor, terutama soal penetapan harga tanah dan bangunan.
Semisal, berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik
Indonesia No 3 Tahun 2007, harga tanah harus mengacu pada NJOP (Nilai Jual
Objek Pajak). Padahal, harga yang berlaku di masyarakat justeru lebih besar
bahkan sampai tiga kali lipat harga NJOP. Otomatis, banyak masyarakat yang
harus rela melepaskan tanahnya demi projek ini.
Di samping itu, dari sisi lingkungan, dengan bertambahnya jalan tol, maka
jumlah kendaraan yang berlalu lalang akan bertambah banyak. Jika demikian,
secara otomatis impor dan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) juga bertambah.
Hal ini tentunya akan lebih besar menyumbang pemanasan global (global warming).
Oleh karena itu, kami selaku Komunitas Seniman Santri (KSS) yang berdomisili di
Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, ingin mengadakan Seminar memotret
kebijakan pemerintah membangun Tol Trans Jawa dari pelbagai aspek. Tujuannya
agar masyarakat¾khusunya pihak pesantren¾mengetahui dengan baik keberadaan
projek ini, terutama soal manfaat dan kekurangannya. Hasil dari seminar ini
akan dijadikan rekomendasi untuk Bahstul Masail ulama/kiai se-wil III.
II. Waktu dan Tema kegiatan
Kegiatan ini diadakan pada:
Hari/tanggal : Kamis, 14 Agustus 2008
Waktu : 14.00 WIB
Tema : Tol Trans Jawa: Antara Kepentingan
Kapital dan Kearifan Lokal
Tempat : Madrasah Alhikamussalafiyah
Ponpes Babakan Ciwaringin Cirebon
Nara sumber:
1. Djoko Kirmanto (Menteri PU)
2. Sandiago S Uno (Dirut PT Lintas Marga Sedaya)
3. Adnan Anwar (Pengamat Kebijakan Publik LP3ES)
4. Berry Nahdian Furqon (WALHI)
5. Jhony N Simanjuntak/Ahmad Baso (Komnas HAM)
6. Imam Prasejo (Sosiolog)
7. Abdul Munim DZ (Pemerhati pesantren/NU_online)
8. Ali Mubarok (anggota DPR RI komisi V)
III. Peserta
1. Ulama/kiai se wil III Cirebon (Cirebon, Indramayu, Kuningan Majalengka)
2. Santri, alumni, Dosen, mahasiswa, wartawan, dan masyarakat umum
Contact Persons : Baequni: 081320216620
Jamaluddin Mohammad: 01382505811
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/