Salam, Saya menganggap jilbab sebagai bagian dari fashion, yang mengusung ideologi tertentu. Saya "open mind", tidak anti juga tidak pro, tapi juga cemas karena ada pengusung jilbab yang cenderung menyeragamkan. Bahwa mereka tak sedang fashion, melainkan sedang mengusung ideolodi. Dan bersemangat untuk menyeragamkan.
Tahun 1990-an saat saya ke Malaysia dan Brunei saya melihat betapa "ndeso"nya perempuan-perempuan di sana, dan menganggap wanita Indonesia lebih "fashionable". Sekarang tak ada bedanya. Kita mengalami set back. Jilbab yang dipakai oleh perempuan Indonesia dan berkembang di Tanah Air sekarang lebih memperlihatkan "Malaysiaan Look" belum Idonesian Look. Jadi kita mengekor Malaysia, meski sudah mampu mendesain dan memproduksi sendiri. Saya sedih setiap kali melihat penampilan Ny. Mufidah Jusuf Kalla, yang tak ada bedanya dengan isteri Yang Dipertuan Agung (Malaysia) dan Permesyuri Sultan Bolkiah (Brunei Darussalam). Dalam hal berbusana, tidak punya identitas keIndonesiaan. Saya pernah membaca wacana cemerlang menjadikan (semangat) berjilbab ke dalam (bentuk) peraturan dan undang-undang. Maksudnya, semangat jilbab adalah melindungi kaum wanita/perempuan agar bebas dari gangguan, pelecehan lawan jenis. Karena itu, sebagai pengganti jilbab, buat peraturan yang melindungi perempuan. Semua perempuan, bukan hanya Islam, Kristen, Hindu, Budha, Kebathinan, dll. Misalnya, barang siapa melecehkan perempuan/wanita baik dengan kata- kata, isyarat, maupun tindakan, maka kepada pelakunya dihukum masuk sel sekurang-kurangnya seminggu. Jadi bukan "an sich" memakai kerudung kepala. Kalau jilbab diterjemahkan literal sebagai penutup kepala, untuk menyembunyikan rambut, sebagai kewajiban agama, maka sesungguhnya banyak kewajiban dalam agama (Islam) yang tidak dilaksanakan karena pertimbangan budaya/undang-undang suatu negara. Tokh kita tak melaksanakan hukum pancung mereka yang kafir, keluar dari agama Islam, pembunuh umat muslim, memotong tangan para pencuri, merajam para pezina, dll. Wassalam, Dimas. --- In [email protected], "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Iya saya setuju kalau jilbab itu ibarat topi baja yang dipakai pasukan militer saat berperang. Saya yakin seyakinnya, Allah senang kok melihat aneka warna rambut kaum perempuan di Bumi. Allah justru sedih kalau keindahan rambut perempuan itu malah ditutup brukut. > > Mengukur keimanan seseorang hendaknya diukur dari otaknya, bukan dari busana yang dikenakannya. Busana itu adalah bagian dari budaya, semakin tinggi daya seninya, gaya busana pun kian beragam model dan coraknya, tak sekadar krubyung-krubyung warna hitam pekat seperti di Arab sana. > Menurutku, apa yang mereka kenakan justru sebentuk penjara kekuasaan kaum lelaki, tapi mereka tak menyadarinya. Semakin otoriter sebuah kekuasaan, busana warganya harus seragam dengan dalih itu permintaan dari Allah, baik corak dan warnanya. > > Busana krubyung-krubyung juga akan membuat kaum perempuan malas untuk berolahraga, badan gendut dengan perut bergelambir tak masalah. Wajah penuh jerawat dan hidung penuh komedo tak masalah, toh yang terlihat dari pandangan orang lain cuma matanya saja. Busana krubyung- kryubung juga bikin kaum perempuan malas berdandan ria buat dirinya sendiri. Mereka kehilangan pesona buat memikat lawan jenis dan susah bikin decak kagum kaum sejenisnya. > > wass, > > rd > > > ----- Original Message ----- > From: sunny > To: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Tuesday, August 26, 2008 2:09 AM > Subject: Re: [mediacare] Re: Jilbab = kerudung? > > > Hemat saya jilbab tidak ada hubungan apa-apa dengan keimanan seseorang, karena keimanan adalah masalah otak bukan hanya dengan tutup kepala menunjukkan keimaman sesorang dan anti iblis bin seytan, tetapi kalau ada penjual kain yang pandai ngoceh agama dan meyakinkan bahwa ada hubungannya dengan dan keimanan bisa saja. Tetapi apakah itu logis bila dilihat pada keadaan lingkungan di mana agama itu didirikan. Dulunya jilbab itu dipakai oleh semua penganut agama Semit di gurun pasir. Jadi bukan spesial agama tertentu saja. > > Tutup kepala itu ada banyak macam corak, bisa dipakai sebagai dekorasi mempercantik wajah, melindungi kepala dari kedinginan atau matahri terik dan teristimewa bagi yang berdiam di gurun pasir di ialah mencegah debu yang dibawah oleh angin dan melekat di kepala. [Serdadu pakai tutup kepala atau topi waja untuk melindungi kepala dari peluru atau pecahan granat musush]. > > Hendaklah dipahami bahwa air di region gurun itu termasuk barang mewah yang terbatas, jadi harus berhemat bagi kaum nomadik. Bukan saja jiblab tetapi juga cador, nikap etc itu untuk mencegah debu masuk mulut, lubang hidung. Untuk membersihkan debu yang melekat di badan membutuhkan air,sedangkan persediaan air terbatas bagi mereka yang berdiam digurun dan semi-gurun (semi dessert). Solusinya penghematan air ialah kepala dan muka ditutup dan berbaju panjang yang disebut garabeya guna melindungi badan. > > > ----- Original Message ----- > From: Irma Dana > To: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Sunday, August 24, 2008 5:25 PM > Subject: [mediacare] Re: Jilbab = kerudung? > > > > Jilbab...... > apakah itu juga bagian dari peningkatan keimanan seseorang? > dimana setelah berjilbab pun masih banyak ujian yang harus mrk selesaikan > berjilbab upaya untuk menghargai dirinya sendiri...setuju! > tapi jadi hancur citra jilbabnya ketika seseorang mempertontonkan lekukan tubuhnya? gimana ya > bukan wanita berjilbab saja yang harus menutup lekukan tubuhnya... > jadi teringat seseorang yg berjilbab...dan mau kencan dgn laki2 yang masih berstatus suami orang...gimana tuh? > waduh....rumit juga ya...perempuan itu harus bisa membela dirinya sendiri, itu kata teman... > > > peace, > irma > > -- > Irma Dana > http://dawala.wordpress.com [lagi belajar nulis] > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >

