Mahmoud Darwish: Seorang Rakyat dan Penyair
Ibtisam Barakat

Columbia, Missouri – Di suatu siang, 9 Agustus 2008, saya sedang 
bersiap-siap berbicara tentang pohon zaitun Palestina kepada sekelompok 
penulis dan pemikir di Keystone College in Pennsylvania. Untuk judul 
paparan tersebut, saya memecah kata olive (zaitun) menjadi dua, dan 
mengubahnya menjadi O’ Live! But death mocked me (O Kehidupan! Tetapi 
kematian mengejekku).

Sesaat sebelum saya meninggalkan ruangan untuk acara tersebut, telepon 
berbunyi. Telepon itu berasal dari kawan saya, pemusik Saed Muhssin, yang 
menelepon dari San Francisco. Suaranya dalam, sedalam lembah, jarang naik 
kalau bicara: "Sudahkah kamu mendengar?" tanyanya. "Ini berita duka", ia 
berancang-ancang. "Mahmoud Darwish wafat hari ini."

Pikiran saya menangis. Hati saya perih dengan segala kehilangan Palestina 
yang tak tersembuhkan, yang diingatkan kembali oleh setiap kehilangan baru 
– kehilangan Darwish membuat saya mengingat puisinya. "Aku tersimpul di 
sana. Beribu kenangan ku punya", tulis Darwish. Kenangan-kenangan yang ia 
catat dalam sekurang-kurangnya 30 buku puisi dan prosa, diterjemahkan ke 
dalam 20 bahasa, kurang lebih.

Ia dilahirkan pada tahun 1941, dan menerbitkan buku puisi pertamanya 
sebelum usia 20 tahun. Selama empat dekade, para penyair Palestina dan Arab 
diilhami olehnya, merujuk kepadanya, menirunya, memperdebatkan puisinya.

Saed dan saya termasuk Generasi M, sebuah identitas yang kami ciptakan 
beberapa tahun lalu. Saya tumbuh besar di Tepi Barat, di bawah pendudukan 
Israel, dan Saed adalah seorang warga negara Israel. Kami berdua adalah 
bangsa Palestina, kami memiliki kehidupan yang sama sekali berbeda. Tetapi 
di balik itu semua, kami berbagi kehampaan yang sama, kelaparan akan 
kebebasan, bagi sebuah dunia yang lebih indah. Kami mengisi rasa lapar kami 
dengan puisi-puisi Mahmoud Darwish, dan menyebut diri kami sebagai Generasi M.

Akibat ketiadaan rumah, Darwish mengubah bahasa menjadi sebuah tenda yang 
luas – bagi kami dan bagi semua yang membutuhkan sebuah rumah. Ia mengubah 
rasa rindu menjadi sebuah tempat pertemuan. Mereka yang berada dalam 
pengasingan dapat bertemu para ibu kami melalui ibunya – yang ia tak pernah 
lihat selama bertahun-tahun – ketika ia berseru:

Aku rindu roti bakar ibuku
Aku haus kopi ibuku.
Haus aku akan sentuh ibuku.

Ia menggunakan kata bahasa Arab ahennu untuk rindu, yang berarti sebuah 
kerinduan berselimut cinta. Itu adalah sebuah kata yang membangunkan ribuan 
perasaan sekaligus, dengan sejumput jejak gelora tak tertahankan.

Pada 1982, ia menulis "lasta wahdaka" (engkau tidak sendirian) untuk Yasser 
Arafat, ketika bangsa Palestina diusir dari Beirut. Darwish mengatakan itu 
kepada setiap orang di muka Bumi, kepada setiap orang yang diusir ke 
pengasingan untuk kesekian kalinya.

Dan pertanyaannya: "Kemana burung harus terbang setelah langit terakhir?" 
membuat saya menciptakan langit demi langit baru yang tak berkesudahan, 
menumpuk seperti kasur bagi para pengungsi Bumi.

Darwish, nama yang dalam bahasa Arab berarti seorang laki-laki suci 
pengelana spiritual, sesungguhnya sangat tepat baginya. Ia berpindah dari 
satu langit ke langit lain dan melintasi perbatasan demi perbatasan – 
antara Palestina, Israel, Rusia, Prancis, Yordania, Lebanon, Mesir, dan 
negara-negara lain. Di mana pun ia berada, kata-kata di tangannya merupakan 
sebuah lampu ajaib yang membebaskan jin dari bahasa Arab. Ia mengetahui 
hati bangsa Palestina. Ia mengetahui bahwa mereka hanya memiliki satu 
permintaan bagi sang jin, satu permintaan penuh kerinduan dari bahasa 
mereka – "rumah."

Seperti yang terlihat dalam bahasa dan puisinya, Darwish memiliki sebuah 
visi dan semangat untuk meraih keadilan. Ia membantu menuliskan sambutan 
terkenal Arafat kepada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 
1974, yang di dalamnya Arafat memohon kepada dunia dengan mengulang tiga 
kali, "La tusqeto al-ghusna al-akhdar min yadee" (jangan biarkan tunas 
hijau ini jatuh dari tangan saya).

Pada 1988, Darwish merancang proklamasi kemerdekaan Palestina. Di sana ia 
mengatakan bahwa perdamaian dapat dicapai dengan membentuk dua negara – 
satu Palestina, satu Yahudi. Ia menulis bahwa perdamaian dapat terwujud "di 
tanah cinta dan perdamaian" itu.

Diilhami oleh visi rekonsiliasi, ia menekankan bahwa bangsa Palestina akan 
menjadi sebuah masyarakat yang berhasil dalam hak-hak asasi manusia, 
kesetaraan, demokrasi, perwakilan, tanggung jawab sosial, dan rasa hormat 
penuh kepada semua orang, termasuk perempuan dan orang-orang dari keyakinan 
yang berbeda.

Pada salah satu penampilan terakhir Darwish, pada Juli 2008, para penonton 
di Ramallah menerimanya seolah-olah mereka menyadari bahwa itu merupakan 
kali terakhir mereka melihatnya. Mereka berdiri seperti pohon-pohon 
berjajar yang wangi dan sering ia tanam dalam puisinya. "Pikirkan antara 
(others)", ia berkata kepada mereka.

Ketika engkau menyiapkan sarapan pagimu – pikirkan antara. Jangan lupa 
memberi makan burung-burung merpati. Ketika engkau mengobarkan perangmu – 
pikirkan antara. Jangan lupakan mereka yang menginginkan perdamaian. Ketika 
engkau membayar tagihan airmu – pikirkan antara. Pikirkan mereka yang hanya 
memiliki awan untuk diminum. Ketika engkau pulang ke rumah, rumahmu sendiri 
– pikirkan antara – jangan lupakan mereka yang hidup di dalam tenda-tenda. 
Ketika engkau tidur dan menghitung planet-planet, pikirkan antara – ada 
orang yang tidak punya tempat untuk tidur. Ketika engkau membebaskan dirimu 
sendiri dengan metafor-metafor, pikirkan antara – mereka yang kehilangan 
hak mereka untuk bicara. Dan ketika engkau memikirkan antara yang jauh – 
pikirkan dirimu sendiri dan berkata, "Andai aku lilin dalam kegelapan."

Berbicara secara terbuka tentang kematian, ia mengaku kepada harian Arab 
Al-Hayat: "Saya tidak lagi takut dengan kematian. Dulu saya takut 
terhadapnya. Tetapi sekarang saya hanya takut akan matinya kemampuan saya 
menulis dan kemampuan saya menikmati hidup."

Sambil melanjutkan pergulatannya dengan seni, ia menulis, "Saya pikir puisi 
dapat mengubah segalanya, dapat mengubah sejarah dan dapat memanusiakan…. 
Sekarang saya pikir puisi hanya mengubah penyairnya."

Mahmoud Darwish yang terhormat, puisimu mengubahku.

###

* Ibtisam Barakat (www.ibtisambarakat.com) adalah penulis Tasting the Sky: 
A Palestinian Childhood (Farrar, Straus dan Girouks, 2007) dan pendiri 
seminar-seminar Write Your Life yang mendorong orang untuk menemukan suara 
mereka. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan 
dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 22 Agustus 2008, 
www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke