“Irshad Manji: Idola Kaum Liberal!”
Oleh : Redaksi 21 Aug 2008 - 7:00 am
Oleh Adian Husaini
Irsad Manji aktifis lesbian yg diidolakan kaum Liberal
Sejumlah orang yang akan berdialog dengan kaum liberal saya beri saran agar
jangan pakai dalil ayat-ayat Al-Quran. Sebab, banyak kaum liberal yang sudah
tidak percaya lagi pada keotentikan Al-Quran, sehingga tidak ada gunanya dalil
Al-Quran untuk mereka. Memang ada diantara mereka yang masih percaya Al-Quran
sebagai wahyu Allah, tetapi banyak pula diantara mereka yang memiliki pandangan
dan penafsiran yang berbeda.
Jika tafsirnya kita kritik, mereka pun tak segan-segan menyatakan, ”Itu kan
penafsiran anda! Penafsiran saya tidak begitu!” Mereka banyak yang sudah
berpandangan bahwa hanya Tuhan saja yang tahu penafsiran yang sebenarnya.
Manusia boleh menafsirkan Al-Quran semaunya, dan semuanya tidak dapat
disalahkan. Karena itu, ada yang menyatakan, bahwa perbedaan antara Islam dan
Ahmadiyah, hanyalah soal perbedaan tafsir saja, karena itu jangan saling
menyalahkan, karena semua penafsiran adalah relatif. Yang tahu kebenaran yang
mutlak, hanya Allah saja.
Memang, soal utama antara Islam dan Ahmadiyah, adalah masalah tafsir. Tapi, ada
tafsir yang salah dan ada tafsir yang benar. Semua manusia yang masih berakal
(tidak gila), bisa saja menafsiran Al-Quran. Tapi, tidak semua tafsir itu
benar, sebagaimana klaim kaum liberal. Ada tafsir yang salah. Misalnya, kalau
ada yang menafsirkan ayat ”Wa-aqimish shalaata lidzikri”, bahwa tujuan salat
adalah mengingat Allah. Maka, jika sudah ingat Allah, berarti tujuan sudah
tercapai, dan tidak perlu salat lagi. Tafsir semacam ini tentu saja tafsir yang
salah.
Contoh lain, dalam buku Eik Ghalthi ka Izalah (Memperbaiki Suatu Kesalahan)
karya Mirza Ghulam Ahmad (terbitan Ahmadiyah Cabang Bandung tahun 1993), hal.
5, tertulis pengakuan Ghulam Ahmad yang mendapat wahyu berbunyi: ”Muhammadur
Rasulullah wal-ladziina ma’ahu asyiddaa’u ’alal kuffaari ruhamaa’u baynahum.”
Lalu, dia komentari ayat tersebut: ”Dalam wahyu ini Allah swt menyebutkan
namaku ”Muhammad” dan ”Rasul”..”
Ayat tersebut jelas terdapat dalam Al-Quran (QS 48:29). Kaum Miuslim yakin
seyakin-yakinnya, bahwa ”Muhammadur Rasulullah” di situ menunjuk kepada Nabi
Muhammad saw yang lahir di Mekah; bukan merujuk kepada Mirza Ghulam Ahmad yang
lahir di India. Jika Ghulam Ahmad membuat tafsir bahwa dia adalah juga Muhammad
sebagaimana ditunjuk dalam ayat tersebut, maka tafsir Ghulam Ahmad semacam itu
jelas tafsir yang salah.
Akan tetapi, kaum liberal akan menyatakan, bahwa Ghulam Ahmad juga berhak
membuat tafsir sendiri, dan tidak boleh disalahkan atau disesatkan. Anehnya,
kalau umat Islam punya pandangan dan sikap yang berbeda dengan kaum liberal,
maka akan disalah-salahkan, dicap fundamentalis, radikal, tidak toleran, dan
sebagainya. Jadi, kita dilarang menyalahkan yang salah, tetapi kaum liberal
boleh menyalahkan pendapat yang tidak sesuai dengan mereka.
Sebagaimana pernah kita bahas dalam beberapa CAP, aksi kaum liberal dalam
menyerang Al-Quran dari waktu ke waktu semakin brutal. Berlindung di balik
wacana kebebasan, mereka tidak segan-segan lagi menyerang dan menistakan
Al-Quran secara terbuka. Apa yang pernah terjadi di IAIN Surabaya tahun 2006,
ketika seorang dosen menginjak-injak lazadz Allah yang ditulisnya sendiri,
tampaknya hanyalah fenomena gunung es belaka. Sejumlah buku, jurnal, dan
artikel terbitan kaum liberal di Indonesia sudah secara terbuka menyerang
Al-Quran. Kita masih ingat, bagaimana jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN
Semarang secara semena-mena menyerang Al-Quran, dengan menyatakan:
”Karenanya, wajar jika muncul asumsi bahwa pembukuan Qur’an hanya siasat bangsa
Quraisy, melalui Usman, untuk mempertahankan hegemoninya atas masyarakat Arab
[dan Islam]. Hegemoni itu tampak jelas terpusat pada ranah kekuasaan, agama dan
budaya. Dan hanya orang yang mensakralkan Qur’anlah yang berhasil terperangkap
siasat bangsa Quraisy tersebut.”
Yang kita heran, orang-orang ini adalah bagian dari kalangan akademisi yang
seharusnya menjunjung tinggi tradisi intelektual yang sehat. Tapi, faktanya,
mereka sering mengungkapkan pendapat tanpa didukung oleh data-data yang
memadai. Belakangan ini, kaum liberal di Indonesia sedang gandrung-gandrungnya
pada seorang wanita lesbian bernama Irshad Manji. Kedatangannya di Indonesia
pada bulan April 2008 disambut meriah.
Dia dipuji-puji sebagai wanita Miuslimah yang hebat. Seorang wanita alumnus UIN
Jakarta bernama Nong Darol Mahmada menulis sebuah artikel di Jurnal Perempuan
(edisi khusus Lesbian, 2008) berjudul:
Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad "link.
Kata si Nong :
”Manji sangat layak menjadi inspirasi kalangan Islam khususnya perempuan di
Indonesia.”
Irsad Manji bersama Pahlawan versi Amerika "Musdah Mulia"
bahkan Irsad Manji dibawa berkeliling ke Islamic Boarding School
Hari Kamis (14/8/2008), saya diundang untuk menghadiri satu acara bedah buku
tentang FPI di kantor Majalah Gatra. Tanpa saya tahu, penerbit buku tentang FPI
tersebut (Nun Publisher ) adalah juga penerbit buku Irshad Manji yang edisi
Indonesianya diberi judul Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat
Ini . Di sampul depan buku ini, Manji ditulis sebagai ”Satu dari Tiga Miuslimah
Dunia yang Menciptakan Perubahan Positif dalam Islam.” Disebutlah buku ini
sebagai sebagai ”International Best Seller, New York Times Bestseller, dan
telah diterbitkan di 30 negara.” Pokoknya, membaca promosi di sampulnya,
sepertinya, buku ini sangat hebat.
Tapi, sebenarnya, isinya kurang memenuhi standar ilmiah. Banyak celotehan
Irshad Manji, ke sana kemari, hantam sana, hantam sini, tanpa ada rujukan yang
bisa dilacak kebenarannya. Maka, saya heran, bagaimana kaum liberal sampai
membangga-banggakan buku karya Irshad Manji ini? Seperti inikah sosok idola
kaum liberal, sampai dijuluki ”lesbian mujathidah”? Apa karena Manji sangat
liberal dan secara terbuka menyatakan diri sebagai lesbi, maka sosok ini
dijadikan idola?
Buku Manji ini menggugat sejumlah ajaran pokok dalam Islam, termasuk keimanan
kepada keotentikan Al-Quran dan kema’shuman Nabi Muhammad saw. Manji secara
terbuka menggugat ini. Ia katakan:
”Sebagai seorang pedagang buta huruf, Muhammad bergantung pada para pencatat
untuk mencatat kata-kata yang didengarnya dari Allah. Kadang-kadang Nabi
sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa untuk menguraikan apa yang ia
dengar. Itulah bagaimana ”ayat-ayat setan” – ayat-ayat yang memuja berhala –
dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat otentik untuk
Al-Quran. Nabi kemudian mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu daya
setan sebagai penyebab kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para
filosof Miuslim selama berabad-abad telah mengisahkan cerita ini sungguh telah
memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap kesempurnaan Al-Quran.”
(hal. 96-97).
Cerita yang diungkap oleh Manji itu memang favorit kaum orientalis untuk
menyerang Al-Quran dan Nabi Muhammad saw. Cerita itu populer dikenal sebagai
kisah gharanik. Riwayat cerita ini sangat lemah dan palsu. Haekal, dalam buku
biografi Nabi Muhammad saw, menyebut cerita tersebut tidak punya dasar, dan
merupakan bukinan satu kelompok yang melakukan tipu muslihat terhadap Islam.
Karen Armstrong, dalam bukunya, Muhammad: A Biography of the Prophet juga
membahas masalah ini dalam satu bab khusus.
Kisah ”ayat-ayat setan” itu kemudian diangkat juga oleh Salma Rushdie menjadi
judul novelnya: The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Novel yang terbit pertama
tahun 1988 ini memang sangat biadab dalam menghina Nabi Muhammad saw, para
sahabat, dan istri-istri beliau. Menurut Armstrong, cerita dalam novel Salman
Rushdi ini mengulang semua mitos Barat tentang Nabi Muhammad saw sebagai sosok
penipu, ambisius, yang menggunakan wahyu-wahyunya untuk mendapatkan
sebanyak-banyak perempuan yang dia inginkan. Para sahabat nabi juga digambarkan
dalam novel ini sebagai manusia-manusia tidak berguna dan tidak manusiawi.
Tentu saja, judul Novel itu sendiri sudah bertendensi melecehkan Al-Quran.
Karen Armstrong mencatat:
‘’It repeats all the old Western myths about the Prophet and makes him out to
be an impostor, with purely political ambitions, a lecher who used his
revelations as a lisence to take as many women as he wanted, and indicates that
his first companions were worthless, inhuman people.”
Armstrong tidaklah keliru! Dan Umat Islam yang sangat menghormati Nabi Muhammad
saw, tentu saja sangat tersinggung dengan penerbitan Novel Salman Rushdie yang
sangat tidak beradab ini. Novel ini pun – dalam edisi bahasa Inggrisnya --
sudah dijual di Jakarta. Rushdie diantaranya menggambarkan istri-istri Nabi
Muhammad saw sebagai penghuni rumah pelacuran bernama ”Hijab”. Rushdie juga
menyebut Nabi Muhammad – yang dinamainya ”Mahound” -- sebagai “the most
pragmatic of prophets.”
Penulis novel yang menghina Nabi Muhammad saw seperti Salman Rushdie inilah
yang dijadikan rujukan oleh Irshad Manji dalam memunculkan isu tentang
“ayat-ayat setan”. Memang, dalam bukunya ini pun Manji mengungkapkan , bahwa
Salman Rushdie-lah yang mendorongnya untuk menulis buku ini. Manji menceritakan
hal ini:
“Apa yang dikatakan Salman Rushdie padaku ketika aku mulai menulis buku ini
teringat lagi saat aku berefleksi terhadap hidupku sejak penerbitan buku ini.
Aku ingat ketika bertanya kepadanya kenapa dia memberikan semangat kepada
seorang Miuslim muda sepertiku, untuk menulis sesuatu yang bisa mengundang
malapetaka ke dalam kehidupannya, seperti yang telah menimpa dirinya. Tanpa
ragu sedikit pun, dia menjawab, “Karena sebuah buku lebih penting ketimbang
hidup.” (hal. 322)..
Dalam bukunya ini pun Irshad Manji menjadikan pendapat Christoph Luxenberg
sebagai rujukan untuk menyatakan bahwa selama ini umat Islam salah memahami
Al-Quran, yang seharusnya dipahami dalam bahasa Syriac. Tentang surga, dengan
nada sinis ia menyatakan, bahwa ada human error yang masuk ke dalam Al-Quran.
Menurut riset yang baru, tulis Manji, yang diperoleh para martir atas
pengorbanan mereka adalah kismis, dan bukan perawan. “Nah, bagaimana bisa
Al-Quran begitu tidak akurat?” tulisnya.
Pendapat Luxenberg bahwa bahasa Al-Quran harus dipahami dalam bahasa Aramaik
ditulisnya dalam buku “Die syro-aramaeische Lesart des Koran: Ein Beitrag zur
Entschluesselung der Koransprache”. Pendapat ini pun sangat lemah dan sudah
banyak artikel ilmiah yang menanggapinya. Dr. Syamsuddin Arif telah mengupas
masalah ini secara tajam dalam bukunya, Orientalis dan Diabolisme Intelektual.
Menurut Syamsuddin, Professor Hans Daiber, misalnya, memberikan seminar terbuka
tentang karya polemis itu selama satu semester penuh di departemen
Orientalistik Universitas Frankfurt, dimana ia ungkapkan sejumlah
kelemahan-kelemahan buku itu secara metodologi dan filologi. Salah satu
kelemahan Luxenberg, misalnya, untuk mendukung analisis dan argumen-argumennya,
mestinya Luxenberg merujuk pada kamus bahasa Syriac atau Aramaic yang ditulis
pada abad ke-7 atau 8 Masehi (zaman Islam), dan bukan menggunakan kamus bahasa
Chaldean abad ke-20 karangan Jacques E. Manna terbitan tahun 1.900!
Namun, meskipun sudah dijelaskan secara ilmiah, orang-orang yang memang berniat
jahat terhadap Islam, tetap tidak mau tahu dan mendengar semua argumentasi
ilmiah tersebut. Irshad Manji, dalam bukunya ini, malah menyandarkan
keraguannya terhadap Al-Quran pada pendapat Luxenberg (seorang pendeta Kristen
asal Lebanon yang menyembunyikan nama aslinya). Kata Manji:
”Jika Al-Quran dipengaruhi budaya Yahudi-Kristen – yang sejalan dengan klaim
bahwa Al-Quran meneruskan wahyu-wahyu sebelumnya – maka bahasa Aramaik mungkin
telah diterjemahkan oleh manusia ke dalam bahasa Arab. Atau, salah
diterjemahkan dalam kasus hur, dan tak ada yang tahu berapa banyak lagi kata
yang diterjemahkan secara kurang tepat. Bagaimana jika semua ayat salah
dipahami?” (hal. 96).
Tampaknya, penerbit buku Irshad Manji dan kaum liberal di Indonesia pun sudah
tidak peduli dengan perasaan umat Islam dan kehormatan Nabi Muhammad saw.
Mereka begitu mudahnya menokohkan wanita lesbian seperti Irshad Manji, yang
dengan entengnya melecehkan Nabi Muhammad saw dan Al-Quran. Mereka mungkin
sudah tahu bahwa umat Islam akan marah jika Nabi Muhammad saw dihina. Mereka
akan senang melihat umat Islam bangkit rasa marahnya. Jika umat Islam marah,
mereka akan tertawa sambil menuding, bahwa umat Islam belum dewasa; umat Islam
emosional, dan sebagainya!
Kasus Irshad Manji ini semakin memahamkan kita siapa sebenarnya kaum liberal
dan apa maunya mereka. Kita kasihan sekali pada manusia-manusia seperti ini.
Apa mereka tidak khawatir, jika anak-anak mereka nanti ditanya oleh gurunya,
siapa wanita idola mereka? Maka anak-anak mereka tidak menjawab lagi, ”Idola
kami adalah Khadijah, Aisyah, Kartini, Cut Nya Dien, dan sebagainya” tetapi
akan menjawab: ”Idola kami Irsyad Manji, sang Miuslimah Lesbian teman baik
Salman Rushdie sang penghujat Nabi.” Na’udzubillahi min dzalika. (Depok, 13
Sya’ban 1429 H/15 Agustus 2008/hidayatullah.com).
[Non-text portions of this message have been removed]