http://www.tni-au.mil.id/content.asp?ContentId=4648
Komando dan Pengendalian Dengan Fasilitas C4ISR Berbasis Network Centric
Dispenau, 8/26/2008
(Asrena Kasau, Marsekal Muda TNI Erry Biatmoko dari Marsekal Pertama TNI
Nasional Suprodjo, menerima cenderamata usai membuka seminar litbang tentang
"Penguasaan Iptek menuju Kemandirian sistem C4ISR" d Lanud Husein Sastranegara,
Bandung, Selasa (26/8).)
Pelaksanaan tugas TNI yang meliputi Operasi Militer Untuk Perang (OMP) maupun
Operasi Militer Selain Perang (OMSP) saat ini memerlukan pemikiran yang
mendalam dengan menggunakan strategi yang tepat dan benar,agar aliran informasi
dari bawah ke atas maupun perintah dari pimpinan ke satuan bawah dapat sampai
dengan baik dan benar, sehingga tindakan atau keputusan yang diambil juga
cepat, tepat, dan efisien.
"Untuk itu sarana komando dan pengendalian, fasilitas K3I (Komando, Kendali,
Komunikasi dan Inteligen) yang sudah ada, secara bertahap harus ditingkatkan
menjadi C4ISR (Command, Control, Communication, Computer, Intelligence,
Surveillance dan Reconnaissance) atau Dephan mengartikan K4IPP (Komando,
Kendali, Komunikasi, Komputer, Intelijen, Pengintaian dan Pengamatan) dengan
berbasis jaringan terpusat (network centric) dan selanjutnya bisa ditingkatkan
lagi menjadi architecture framework system yang lengkap dan berdaya guna",
tegas Asrena Kasau Marsekal Muda TNI Erry Biatmoko.
Penegasan tersebut disampaikan Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) Kasau
Marsekal Muda TNI Erry Biatmoko, yang hadir sebagai keynote speech sekaligus
membuka Seminar Litbang (Penelitian dan Pengembangan) tentang Penguasan Iptek
Menuju Kemandirian Sistem C4ISR, yang diadakan oleh Dinas Penelitian dan
Pengembangan Angkatan Udara (Dislitbangau) di Lanud Husein Sastranegara,
Bandung, Selasa (26/8).
Lebih lanjut dikatakan, dengan adanya seminar ini diharapkan dapat menghasilkan
kerjasama yang sinergis semua potensi yang ada di dalam negeri, dalam pembuatan
C4ISR sesuai yang diinginkan, untuk kepentingan militer. Dengan adanya
kerjasama ini diharapkan Indonesia mampu memproduksi C4ISR/K41IPP dan menguasai
teknologinya secara mandiri, tanpa harus bergantung pada negara lain.
Menurutnya, pengembangan dan penambahan fasilitas TNI, khususnya TNI AU harus
bisa diintegrasikan dengan sistem yang sudah ada, memiliki kemampuan mengolah
data dengan cepat, efisien dan benar serta memiliki tingkat pengamanan yang
tinggi. Teknologi ini bisa dilaksanakan dengan memanfaatkan teknologi
komputerisasi yang bertenaga besar, termasuk fasilitas penyimpanan datanya.
Teknologi komputerisasi semacam ini hanya bisa dilakukan dengan memiliki super
computer atau near super computer, yang masih didominasi oleh Negara raksasa
seperti Amerika Serikat, Inggris, dan lainnya.
Sementara Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara, Marsekal
Pertama TNI Nasional Suprodjo mengatakan, meskipun cikal bakal pelaksanaan
pembuatan program ke arah C4ISR di TNI AU sudah ada, antara lain berupa Wargame
system, Sishanud Sistem dan lainnya tetapi masih merupakan perangkat keras dan
perangkat lunak yang belum terintegrasi atau masih parsial. Dengan adanya
perkembangan teknologi komputer dan informasi yang telah mentransformasikan
operasi militer dari konvensional menjadi berbasis teknologi, sistem C4ISR yang
memiliki kemampuan untuk memberikan kewaspadaan situasional mengolah data
dengan cepat, efisien dan akurat serta memiliki tingkat pengamanan yang tinggi.
Dalam seminar ini paparan disampaikan oleh Dr. Yono Reksoprodjo, ST.DIC
(Penasehat Panglima TNI bidang C4ISR) tentang "Penguasaan IPTEK Menuju
Kemandirian Sistem C4ISR", Ir Imam Santoso, MSc (PT. TELKOM) tentang "Dukungan
Layanan PT. TELKOM di Lingkungan TNI AU" , Drs. Toto Marnanto Kadri (LAPAN)
tentang "Pemanfaatan Satelit pada perkembangan Teknologi Informasi dan
Komunikasi dalam mendukung C4ISR" dan Ir. Syamsul Aliah, MSEE (PT. LEN
Industry) tentang "Membangun Kemampuan Pengembangan C4ISR di LEN"
Hadir pada acara seminar, Komandan Seskoau Marsekal Muda TNI Yunianto, Dansat
Inteltek Marsma TNI Madar Sahib, dan Pati Sahli bidang Iptek Marsma Rudy M Noor.
[Non-text portions of this message have been removed]