MAKIN meningkatnya kecenderungan masyarakat untuk merokok tidak
terlepas dari pengaruh tayangan iklan di media massa. Yang lebih
memprihatinkan, iklan-iklan rokok semakin lihai menjerat konsumen.
Tidak jarang, hal-hal positif diselipkan dan disalahgunakan untuk
menanamkan persepsi tentang merokok yang sebenarnya menjerumuskan.

"Dalam peraturan memang tak boleh ada iklan yang menunjukkan display
atau batang rokok. Tetapi perusahaan rokok ini pinter dan pembuat
iklan yang dibayar mahal itu juga pinter. Mereka berupaya bagaimana
caranya agar masuk dalam persepsi masyarakat bahwa it's oke untuk
merokok. Jadi, kemudian digunakanlah hal-hal positif dan saya kira
ini sangat berpengaruh besar," ungkap psikolog Liza Marielly Djaprie
M,Si (CH) dalam diskusi bertajuk 'Iklan Rokok : Menjual Gaya Hidup
yang membahayakan Hidup' di Jakarta, Rabu (27/8).

Liza menyatakan iklan-iklan yang menyalahgunakan hal positif itu
misalnya yang memakai ilustrasi solidaritas dan keakraban teman. 
"Dalam suatu iklan rokok misalnya digambarkan bagaimana seseorang yang
rame-rame dengan temannya. Lalu ada pula yang kesusahan dibantu oleh
teman-teman lain. Kesannya, merokok seakan-akan dapat mengakrabkan,
dengan merokok seakan-akan ada norma-norma positif yang terbentuk,"
tambahnya.

Tayangan iklan seperti itu, kata Liza, jelas akan memberikan pengaruh
besar dan menjerumuskan mereka yang menontonnya apalagi kalangan
anak-anak dan remaja. Yang kemudian muncul adalah persepsi yang makin
kuat bahwa merokok dapat memberikan hal yang positif.

Lebih jauh Liza menambahkan, iklan-iklan rokok di dunia termasuk di
Indonesia pada umumnya masih menerapkan metode yang disebut subliminal
adveritising. Metode ini dilakukan dengan cara mengenalkan individu
pada suatu merek rokok sedangkan individunya sendiri tak sadar kalau
ia sedang dikenalkan pada rokok tersebut.

"Ketika seseorang telah melihat iklan, maka ia diyakini telah
memasukkan iklan itu sebagai informasi tambahan dalam ingatannya. Di
masa mendatang, ia berpotensi besar untuk bertindak dan mengambil
keputusan atas dasar informasi tersebut," terang psikolog dari
Universitas Indonesia tersebut.

Menurutnya, iklan model ini memang sangat efektif dalam mempengaruhi
persepsi konsumen terutama kalangan anak-anak, remaja dan dewasa muda.

"Yang menjadi targetnya adalah kebanyakan anak--anak, remaja dan
dewasa muda. Kenapa? Karena pola pikir mereka belum terlalu matang,
cenderung labil sehingga masih mudah sekali untu dipengaruhi," ujarnya

Ditawari sample rokok

Fenomena kuatnya pengaruh iklan terhadap perilaku merokok khususnya
kalangan remaja juga telah diperlihatkan hasil survey yang dilakukan
Koalisi Untuk Indonesia Sehat (KuIS) pada akhir 2007 lalu. 

Dalam survey terhadap 3040 wanita dengan kelompok usia 13-25, 16-19,
dan 20-25 tahun di Jakarta dan Sumatera Barat tampak bahwa hampir 50
persen partisipan mengaku melihat hal-hal yang mempengaruhi keputusan
merokok dalam satu bulan terakhir. 

Tercatat 92 persen remaja putri melihat iklan rokok melalui tayangan 
televisi, sedangkan 70,63 persen melalui poster. Sebanyak 70 persen
wanita muda kerap melihat promosi rokok pada pentas acara musik,
olahraga dan kegiatan sosial lainnya. 

Dari survei juga ditemukan adanya partisipan yang menjadi sasaran
promosi yang paling vulgar yakni menawarkan sample rokok. Ada sekitar
10,22 persen perempuan kelompok usia 13-15 tahun mengaku pernah
ditawari rokok gratis. Pada kelompok usia 16-19 tahun, yang ditawari
rokok gratis mencapai 14,53 persen.

AC 

http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/27/1512013/iklan.rokok.kian.menjerumuskan



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke