Menyedihkan diantara 10 orang yang saya tanya tentang "Kitab 
Centhini"
hanya satu orang yang pernah dengar (itupun belum baca) sisanya lebih 
tahu Kitab Kamasutra, ironis..............
 
 Serat Centhini, sebuah karya penting dalam sastra Jawa yang ditulis 
pada abad ke-19, saya kira, bisa memberikan sedikit gambaran, 
bagaimana agama Islam dipersepsi oleh orang-orang Jawa, terutama oleh 
lapisan elite Salah satu teori yang dikemukakan oleh sejumlah ahli 
adalah teori mengenai "sinkretisme", atau percampuran antara Islam 
dengan unsur-unsur lokal Jawa dalam cara yang tidak genuine dan 
sedikit agak dipaksakan. Sebutan "sinkretisme" sebetulnya mengandung 
semacam ejekan: bahwa Islam tidak lagi tampil sebagai dalam wujudnya 
yang asli, tetapi sudah tercampur dengan unsur-unsur yang eksternal 
sifatnya. Islam yang "sinkretis", sebagaimana kita lihat dalam 
masyarakat Jawa, dengan demikian menggambarkan suatu genre keagamaan 
yang sudah jauh dari sifatnya yang "murni" di tempat asalnya di Timur 
Tengah. dalam masyarakat ini. Serat Centhini, sebagaimana kita tahu, 
ditulis oleh sejumlah pujangga di lingkungan Keraton Surakarta yang 
diketuai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III, 
putra mahkota Sunan Pakubuwana IV. Karya yang terkenal dengan sebutan 
Serat Centhini atau Suluk Tambangraras-Amongraga ini ditulis pada 
tahun 1742 dalam penanggalan Jawa, atau 1814 dalam tahun Masehi. 
Karya ini boleh dikatakan sebagai semacam ensiklopedi mengenai dunia 
dalam masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, 
serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning 
pangawikan Jawi, atau katakanlah semacam database pengetahuan Jawa. 
Jumlah keseluruhan serat ini adalah 12 jilid. Aspek-aspek ngelmu yang 
dicakup dalam serat ini meliputi persoalan agama, kebatinan, 
kekebalan, dunia keris, kerawitan dan tari, tata cara membangun 
rumah, pertanian, primbon atau horoskop, soal makanan dan minuman, 
adat istiadat, cerita-cerita kuna mengenai tanah Jawa dan lain-
lainnya. 
Pandangan "pluralisme" sudah ada masa itu, keharmonisan antara 
beperapa agama, hindu, budha dan Islam terjalin begitu eratnya tanpa 
mempermasalahkan perbedaaan, Bandingkan dengan sekarang?
 Contoh konkrit, orang samin yang yang sudah ratusan tahun menganut 
agama Adam harus mengalami pemaksaan masalah legalisai kependudukan, 
di KTP agamamu harus islam, karna lima agama ini yang resmi diakui 
pemerintah, begitu kata pak camat terhadap orang Samin yang ngurus 
KTP di daerah Kudus.
 Agama sudah mengalami pemaksaan, padahal ibadah kan urusan manusia 
sama TUHAN kenapa kita harus urusin ibadah saudara-saudara kita yang 
menganut agama Samin. Contoh yang paling anyar adalah teman2 dari 
Ahmadiyah harus mengalami intimidasi. Apalagi harus mengekor kepada 
sebuah agama bernama Islam dalam doktrinya terhadap 
Ahmadiyah....Walah susahnya kalo tidak "Berfikir" dalam memahami 
sebuah firman Tuhan, terima mentah "Otak dicuci" dengan sebuah 
doktrin Agama tanpa memahaminya secara dalam, akhirnya lahirlah 
amrozi, ghufron, osama dan beperapa Pilar 'Radikalisme"  yang mungkin 
sudah melahirkan "Embrio" baru. Di indonesialah justru 
pemahaman "Garis keras" menjamur sepertinya "laris manis" karna 
secara ekonomi bangsa kita mengalami lompatan kebelakang alias mundur
"paham - paham " garis keras mudah sekali merasuk, secara materi di 
suport dan yang paling urgen adalah "iming  iming " SURGA.......
 he...he... sudah saatnya berbenah secara bathin, saling mengasihi 
sesamanya mari kita cuci otak kita, Dengan otak yang Kreatif,otak 
produktif dan otak yang Damai.
 Alangkah indahnya negeri ini.........salam damai dan selalu merdeka 
dengan cinta kasih.
Mau Download kitab centhini, empat puluh malam satunya hujan klik di

www.madruhi.multiply.com



Kirim email ke