drpd ngurusin urusan jambak menjambak yg kaga ada gunanye, mending baca artikel 
aje deh, biar nambah luas wawasan kite


“Mencermati Pesan Ganda Iran Menjelang Ramadhan”


Di saat bangsa Indonesia sibuk lomba balap karung, Iran justru meluncurkan 
satelit. Fase baru perkembangan sebuah perang dingin

Oleh Musthafa Luthfi *

Tradisi
menyambut bulan puasa khususnya di dunia Arab telah berubah terutama
sejak maraknya stasion-stasion TV satelit dalam rentang waktu dua
dekade belakangan ini yang lebih menonjolkan hiburan-hiburan di layar
kaca untuk menunggu waktu sahur.
Tradisi
lainnya yang hampir menyeluruh di seluruh dunia Islam adalah
meningkatnya kebiasaan komsumtifisme yang terkesan berlebihan.
Stasion-stasion TV satelit menjadi sarana iklan besar-besaran bagi
produk makanan menjelang bulan Ramadhan tiba.
Karena
itu, biasanya sebelum sebelum Ramdhan tiba, bau puasa demikian terasa
di negara-negara Arab dengan maraknya iklan-iklan sinetron terbaru
menarik yang siap ditayangkan terutama di malam Ramadhan hingga
menjelang sahur agar mata siap melek sepanjang malam.
Demikianlah, tradisi yang makin sulit untuk dihilangkan bahkan cenderung makin 
“meriah” yang menyebabkan tujuan puasa La’allakum Tattaquun (menjadi 
hamba-hamba yang bertakwa) makin sulit tercapai. Puasa akhirnya tak lebih 
sebatas menahan lapar dan dahaga.
Menjelang
puasa kali ini, ada kejadian penting yang patut dicermati kaum Muslimin
terlepas dari mazhab dan aliran yang dianutnya. Sekitar dua pekan
menjelang bulan suci tiba, Irantelah menyebarkan dua pesan ganda, pertama 
ditujukan kepada dunia Barat dan kedua sebagai risalah (pesan) buat kaum 
Muslimin terutama kalangan pakar dan cendekiawan.
Sekitar pertengahan bulan Sya`ban yang lalu bertepatan dengan bulan Agustus, 
Iranberhasil menguasai teknologi luar angkasa dengan meluncurkan satelit
buatan sendiri. Teknologi ini tidak kalah pentingnya dengan penguasaan
teknologi nuklir untuk tujuan damai yang telah dicapai sebelumnya.
Secara
kebetulan peluncuran satelit pertama negeri Mullah itu bertepatan
dengan hari Minggu, 17 Agustus 2008 yang bertepatan dengan peringatan
63 tahun kemerdekaan RI yang hampir setiap tahun dimeriahkan dengan
berbagai acara yang terkesan “hura-hura” yang sudah banyak ditinggalkan
negara lain seperti negeri jiran kita, Malaysia.
Pada
saat bangsa Indonesia sedang asyik dengan aneka hiburan pesta rakyat
seperti upaya pemecahan rekor panjat pinang, lari karung dan
“dangdutan”, Iran secara mengejutkan mengumumkan peluncuran satelit
pertama sehingga memasukkannya dalam daftar 10 negara produsen satelit
di dunia disamping AS, Rusia, sejumlah negara Eropa, China, Jepang dan
India .
Meskipun
teknologi luar angkasa negeri Persia itu masih tahap pemula
dibandingkan negara-negara maju lainnya, namun yang perlu dicatat
adalah, keberhasilan tersebut berlangsung pada saat Iran diembargo
secara ketat oleh Barat sejak sekitar 30 tahun yang lalu.
Iransaat ini mampu menempatkan satelit di orbit seputar bumi dengan
ketinggian sekitar 600 km. Teknologi balastik yang digunakan untuk
membawa satelit ke angkasa juga bisa digunakan untuk meluncurkan
senjata, namun Teheran menyatakan tidak berencana melakukan hal
tersebut.
Meskipun demikian, Irantidak akan ragu-ragu menggunakan kemampuan balastiknya 
guna mempertahankan diri atau untuk membalas serangan luar baik dari 
Israelmaupun AS. Komandan Garda Revolusi Iran, Jenderal Ali Ja`fari Rabu (27/8) 
menegaskan tentang hal tersebut.
“Evaluasi strategi yang kita lakukan mengisyaratkan kemungkinan pemerintah 
Zionis (Israel) melakukan serangan sendiri atau dengan bantuan AS. Bila terjadi 
maka seluruh kawasan terancam sebab Israeltidak memiliki kedalam startegis 
karena berada dalam jangkauan rudal-rudal Iran,” paparnya.

Pesan kepada Barat

Pesan pertama kepada Barat bahwa Iransecara jelas telah berhasil melepaskan 
diridari
berbagai upaya dan belenggu Barat untuk tetap menjadikan negeri Mullah
itu sebagai salah satu negara terbelakang di dunia ketiga.
Embargo
teknologi secara ketat yang dilakukan Barat akhirnya terbukti tidak
mampu menghentikan usaha keras negeri kaya minyak Teluk itu untuk
menguasai teknologi super canggih seperti teknologi luar angkasa yang
selama ini hanya monopoli negara-negara besar.
Masih
teringat pada tahun 80-an dan 90-an abad 20 lalu, ketika Indonesia
akhirnya urung menjual sejumlah helikopter produk IPTN saat itu ke Iran
atas desakan AS karena dikhawatirkan dimanfaatkan untuk tujuan militer.
Negara-negara di dunia yang berada dibawah ketiak Washingtonpun melakukan 
embargo serupa.
Segala
kesulitan yang dihadapi oleh negeri itu tidak membuatnya putus asa
bahkan saat ini berhasil memproduksi pesawat-pesawat tempur dengan
jarak jelajah 3 ribu kilo meter non stop tanpa memerlukan pengisian
bahan bakar di udara.
Ketika
TV Iran menayangkan peluncur roket mutakhir yang dapat membawa satelit
ke orbit, nampak para pemimpin Barat dalam keadaan penuh kekhawatiran
dan sikap kecewa yang berlebihan. Tidak ada yang tersisa dari Barat
untuk mencoba kembali menggoyang negeri Persiaitu kecuali dengan memutar 
kembali kampanye sebelumnya tentang keanggotaan Iransebagai poros jahat yang 
mendukung terorisme.
Di lain pihak sebagian kekuatan Eropa terutama Rusia ditambah Cina, Jepang dan 
Indiamulai bersikap menerima anggota baru dalam klub nuklir dan teknologi 
angkasa luar. Karena dengan kemampuan Iran``berswasembada`` teknologi mutakhir, 
sudah tidak ada lagi manfaatnya
untuk mengganjal negeri itu menguasai teknologi nuklir dan luar angkasa.
Sedangkan pesan kedua adalah ditujukan kepada negara-negara terkemuka di dunia 
Islam seperti Indonesia, Turki, Mesir, Pakistandan Saudi Arabia. Pesan ini juga 
ditujukan kepada dunia ketiga di negara-negara Amerika Latin, Afrika dan Asia.
Negara-negara tersebut sebenarnya dapat bangkit dengan kemampuan kolektif yang 
mereka miliki selama memiliki political will (kehendak
politik) untuk menentukan nasib sendiri. Dunia Islam harus segera
melepaskan kendala pisikis dan semangat juang yang lembek selama ini
akibat belenggu Barat.
Dunia
Islam terutama negara-negara Arab sebenarnya memilki sumber daya
manusia (SDM) yang handal di bidang penguasaan teknologi mutakhir.
Namun karena situasi politik dalam negeri masing-masing yang tidak
kondusif, menyebabkan mereka lebih memilih dunia Barat sebagai tempat
mengamalkan kemampuannya sehingga hanya dimanfaatkan untuk kepentingan
Barat.
Sudah
menjadi rahasia umum sejak lama bahwa lebih dari separo pakar-pakar
terkemuka di berbagai bidang sains di dunia Barat berasal dari
keturunan negara-negara dunia ketiga. Dalam konteks ini Iransering menegaskan 
tekadnya untuk menjadikan kemampuan teknologi yang
dimilikinya untuk kepentingan dunia ketiga terutama negara-negara Islam.

Persekutuan baru

Prestasi Irantersebut yang dibarengi dengan perkembangan penting di kawasan 
Laut Hitam terutama “unjuk otot” Rusia di Georgiamenghadapi AS dan Barat 
memunculkan wacana persekutuan baru. Bahkan
sebagian analis menyebutnya sebagai kembalinya perang dingin dalam
bentuk lain.
Seperti dimaklumi rezim Georgiapimpinan Presiden Mikhail Saakashvili adalah 
antek AS yang berusaha
untuk menggabungkan negaranya dengan Organisasi Pertahanan Atlantik
Utara (NATO) dan Uni Eropa (EU). Dengan demikian konflik di Georgiasoal Ossetia 
Selatan seperti perang antara Rusia dan AS.
Selama
dekade terakhir ini pandangan dunia hampir sama bahwa Rusia dibawah
Mikhail Gorbachev dan Borris Yeltsin telah berubah menjadi sebuah
negara dibawah pengaruh Barat terutama ditinjau secara ekonomis. Namun
Presiden Vladimir Putin dan dengan dukungan kuat militer mengembalikan
wibawa Rusia sebagai salah satu negara besar yang disegani.
Putin
mulai mengembalikan wibawa Rusia dan menjadi salah satu unsur penentu
dalam percaturan dunia menghadapi hegemoni AS. Perang Georgia terakhir
dan pengakuan Moskow atas kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia
makin menunjukkan bahwa Rusia merupakan kekuatan yang dapat
mengembalikan wibawa bekas Uni Soviet pada masa perang dingin dulu.
Perkembangan
diatas menunjukkan fase baru sebuah perang dingin antara dua kekuatan.
Tidak sulit untuk memprediksikan bahwa perang dingin tersebut akan
meluas sehingga meliputi kawasan Timur Tengah yang membersitkan isyarat
akan kesediaan Moskow untuk membangun persekutuan strategis termasuk
dengan bergabungnya Iran dan sebagian negara Arab menghadapi dua
sekawan AS-Israel.
Yang masih menjadi pertanyaan apakah ada negara Arab yang menyusul Suriah yang 
berani mengatakan ``tidak`` kepada Washingtondalam kondisi negeri adidaya itu 
yang sedang lemah. Dan bagi negara Islam lainnya seperti Indonesiaapakah harus 
menunggu dimusuhi AS ``lahir-batin`` (sebab secara batin
AS memusuhi dunia Islam) baru bangkit melepaskan diri dari pengaruh AS
seperti Iran??? [www.hidayatullah.com]


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke