Sayangi Syaithan ?
http://akmal.multiply.com/journal/item/690


assalaamu¢alaikum wr. wb.
 
Sangat menarik melihat banyak orang mencoba memahami agama Islam melalui jalur 
yang berkelok-kelok dan penuh intrik.  Semakin rumit jalannya, semakin cerdas 
kelihatannya.  Padahal
Allah dan Rasul-Nya justru menganalogikan agama yang benar sebagai
¡jalan yang lurus¢ ; sederhana, mudah dipahami, tidak ambigu, tidak
membingungkan, memberikan solusi dan bukannya malah menambah keraguan.
 
Saya
pribadi berpendapat Islam tak akan pernah ditemukan dalam filsafat,
selama filsafat itu masih berputar-putar dan tidak mengambil ¡jalan
yang lurus¢.  Justru Islam akan lebih mudah dipahami dengan logika engineering, 
di mana metode yang paling sederhana adalah solusi terbaik dalam segala 
permasalahan.
 
Zainun Kamal, salah seorang dosen liberalis, pernah ¡tertangkap basah¢ ketika 
tengah mencela para ulama di dalam kuliahnya.  Imam
al-Ghazali, contohnya, disebut-sebut sebagai orang putus asa karena tak
mampu melawan filsafat dengan kecerdasan akalnya, kemudian ia
menyendiri mencari ilham.  Saking frustasinya, al-Ghazali mengalami berbagai 
halusinasi, kemudian barulah ia menulis masterpiece-nya (yaitu Ihya¢ 
¡Ulumuddin) berdasarkan pengalaman-pengalaman halusinasinya tersebut.  Zainun 
Kamal pun tidak lupa mendoktrin para mahasiswanya bahwa di dunia ini yang 
pintar adalah para filsuf, dan bukan ulama.
 
Ucapan Zainun Kamal ini bisa diuji secara empiris.  Sejak dahulu sampai 
sekarang, kaum filsuf tak pernah memberikan solusi apa pun bagi kemanusiaan.  
Ibnu Sina adalah filsuf sekaligus ilmuwan, namun bukan statusnya sebagai filsuf 
yang menjadikan namanya besar.  Sebaliknya, justru nama Ibnu Sina tercemar 
dalam sejarah Islam karena filsafat.  Pada jamannya, hidup pula seorang ilmuwan 
lain yang justru jauh lebih dominan dan banyak karyanya, yaitu al-Biruni.  
Al-Biruni bukanlah seorang filsuf, dan korespondensinya dengan Ibnu Sina sangat 
terkenal.  Dalam perdebatan tersebut, Ibnu Sina selalu menemui jalan buntu 
ketika harus menghadapi lontaran-lontaran logika al-Biruni.  Memang, kini nama 
Ibnu Sina jauh lebih terkenal daripada al-Biruni, namun hal itu dicurigai hanya 
bagian dari konspirasi media massa Barat saja.  Namun
George Sarton, seorang ahli sejarah sains internasional, tidak ragu
mengatakan bahwa al-Biruni adalah ilmuwan terbesar yang pernah ada
dalam sejarah peradaban manusia.  Fakta
membuktikan bahwa filsafat nyaris tak ada andilnya sama sekali dalam
kemajuan peradaban, bahkan lebih sering melahirkan
kebingungan-kebingungan yang hanya menghabiskan waktu semata.
 
Salah satu contoh kebingungan yang dihasilkan oleh filsafat adalah mengenai 
cara menyikapi Iblis.  Iblis adalah satu oknum dari bangsa Jin yang mempelopori 
pembangkangan kepada Allah SWT.  Mereka yang mengikuti Iblis adalah syaithan, 
baik itu dari golongan jin ataupun manusia.  Dalam Islam, menentukan sikap 
terhadap Iblis mudah saja.  Iblis adalah musuh manusia (lihat Q.S. 18:50 dan 
Q.S. 20:117) yang tidak diragukan lagi kekafirannya (Q.S. 2:34 dan Q.S. 38:74). 
 Bagi
orang yang menekuni filsafat, ayat-ayat Al-Qur¢an bisa dikesampingkan
begitu saja dengan beberapa asumsi mentah, misalnya dengan mengatakan
bahwa Iblis itu sangat murni tauhid-nya karena tak mau bersujud pada Nabi Adam 
as..  Padahal, tauhid dan kekafiran adalah dua hal yang sangat bertolak 
belakang dan tak mungkin didamaikan.
 
Malahan
ada pula yang memberi kesan bahwa manusia dan Allah telah bertindak
tidak adil (Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan kepada-Nya)
karena telah mendiskreditkan Iblis.  Pendapat ini
sangat memalukan secara akademis, karena hanya menunjukkan bahwa si
pengucapnya sangat jarang membuka lembaran-lembaran Al-Qur¢an.  Pasalnya,
Allah SWT memiliki sifat Maha Pengampun, dan hal itu telah dibuktikan
sejak Nabi Adam as. dan istrinya melakukan kesalahan dan kemudian
bertaubat.  Dengan ringannya Allah menerima taubat keduanya.  Sebaliknya, Iblis 
sama sekali tak berusaha meminta ampun kepada Allah atas pembangkangannya itu.
 
Baik malaikat maupun Iblis sama-sama ¡protes¢ ketika Allah SWT menciptakan 
manusia.  Malaikat mempertanyakan kehendak Allah tersebut dengan nada heran, 
namun tanpa tendensi untuk menggugat (lihat Q.S. 2:30-33).  Bagaimana dengan 
Iblis?  Tanpa
banyak tanya dan argumen, Iblis langsung menolak mentah-mentah perintah
Allah untuk bersujud pada Nabi Adam as., bahkan ia menghina ciptaan
Allah.  Atas kekurangajarannya ini, Iblis dari surga dan dikutuk hingga hari 
kiamat.  Pada
titik ini, semestinya Iblis memohon ampun, namun ternyata ia justru
meminta diberikan kesempatan agar bisa menyesatkan manusia
sebanyak-banyaknya.  Saya anjurkan semua orang untuk menikmati sendiri kisah 
pembangkangan Iblis ini di surah Al-Hijr.
 
Dengan segala sikapnya yang sangat kelewat batas itu, Iblis tak pantas lagi 
dikasihani.  Memusuhi Iblis bukanlah sikap tidak adil atau diskriminatif, 
karena hal itu justru diperintahkan secara gamblang oleh Allah SWT.  Kepada
orang-orang yang masih juga ¡simpati¢ kepada Iblis, saya sarankan untuk
bertanya kepada diri sendiri : jika di hadapan Allah Yang Maha Gagah
Perkasa pun Iblis tidak ingat pada taubat, apakah ia akan bertaubat
karena ¡rasa kasihan¢ kita?  Akankah Iblis tersadar dari kekurangajarannya jika 
kita ¡bersikap adil¢ dan ¡tidak diskriminatif¢ kepadanya?  Dan tentu saja, 
pertanyaan yang paling penting adalah : apakah ada yang lebih adil daripada 
Yang Maha Adil?  Jika memusuhi Iblis adalah perintah dari Yang Maha Adil, 
apakah ada sikap lain yang lebih adil daripada itu?
 
Membaca jurnal yang ini, hati saya merasa tergelitik.  Terlalu banyak 
nilai-nilai filsafat yang ¡berkelok-kelok¢ yang digunakan untuk memahami ¡jalan 
yang lurus¢.  Akibatnya, yang mudah menjadi kelihatan susah, sedangkan yang 
susah dianggap cerdas.  Dalam dunia engineering,
mengakui kelemahan diri karena tak mampu menemukan sebuah solusi jauh
lebih terhormat daripada memilih solusi yang susah (atau bahkan masih
diperdebatkan statusnya sebagai solusi) dan mengesampingkan solusi yang
sederhana.
 
Kesalahan pertama bersumber langsung dari narasumbernya.  Sungguh tidak wajar 
mencari fatwa tentang suatu hal yang berkaitan dengan agama Islam dari seorang 
paranormal.  Jangankan soal menyikapi syaithan, dalam urusan buang hajat pun 
kita dilarang untuk mencari nasihat dari seorang dukun.  Ini
sama saja dengan mencari nasihat finansial dari seorang pencuri, atau
meminta tips memelihara kesehatan paru-paru dari orang yang
menghabiskan dua bungkus rokok dalam sehari.  Seorang pelaku kemusyrikan hendak 
dimintakan fatwa dalam hal agama adalah sebuah kekonyolan yang sulit dicari 
bandingannya.
 
Hal lain yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa syaithan dibenci karena 
perbuatannya, bukan karena hal yang lain.  Selain Iblis, semua makhluk yang 
diberi predikat sebagai syaithan tidak tertutup kemungkinan untuk taubat.  Jika 
sudah taubat, maka tanggallah predikat syaithan dari dirinya.  Kalau tidak lagi 
menjadi syaithan, tentu tak ada lagi yang benci padanya.  Sirah
Nabawiyah penuh dengan kisah tentang orang-orang yang dulunya menjadi
musuh nomor wahid Islam namun kemudian menyambut panggilan dakwah dan
menjadi salah satu sahabat Rasulullah saw.
 
Seringkali terjadi kerancuan dalam pandangan para filsuf ketika mereka melihat 
bagaimana orang-orang Islam begitu membenci syaithan.  Pada dasarnya yang 
dibenci bukan manusianya, melainkan perbuatannya.  Bahkan
FPI yang disebut-sebut sebagai ¡aliran keras¢ pun nyatanya bersikap
sangat lembut kepada seorang artis yang memutuskan masuk Islam, seorang
demonstran bayaran AKKBB yang ingin bertaubat, dan bahkan konon Ryan
sang jagal Jombang pun tengah dibina oleh orang-orang FPI.  Banyak yang lupa 
bahwa permusuhan seorang Muslim kepada syaithan adalah perintah dari Allah, 
demikian pula pemberian maaf kepada mereka yang bertaubat juga berasal dari 
perintah Allah SWT.  Kalau sikap kerasnya saja yang disorot, maka bisa jadi 
muncul kesan bahwa umat Islam bersikap keras pada mereka yang sesat.  Padahal, 
ada juga sisi lembut yang justru lebih dominan.
 
Istilah ¡menyayangi syaithan¢ juga sangat problematis, karena sikap seorang 
Muslim bisa terlihat sangat berlainan, tergantung situasi dan kondisi.  Sebagai 
contoh, dalam situasi perang, tidak dimungkinkan adanya hubungan saling 
menyayangi dengan musuh.  Dalam segala situasi di mana Islam hendak dipojokkan 
oleh kebathilan, maka setiap Muslim harus mampu memberikan perlawanan.  
Lihatlah bagaimana Natsir begitu keras menangkis argumen-argumen dari pihak 
komunis dalam rapat sidang.  Meski
demikian, di luar arena debat, beliau tetap bersikap ramah pada mereka,
antara lain karena beliau sadar bahwa mereka masih diberi kesempatan
untuk taubat selama nyawanya masih ada.
 
Akan
sangat berbahaya jika aliran filsafat ¡memaksa¢ umat Muslim untuk
senantiasa bersikap ramah dan penuh kasih sayang terhadap syaithan.  Padahal, 
Rasulullah saw. dan para sahabatnya pun bersikap sangat keras dan tanpa ampun 
melawan musuh-musuh Allah di medan jihad.  Semestinya sikap keras dalam 
memberikan perlawanan tidak dipertentangkan dengan sifat pemaaf pada orang yang 
hendak bertaubat.  Umat Islam sejak dahulu kala sudah paham betul bagaimana 
harus menyikapi musuh-musuhnya.
 wassalaamu¢alaikum wr. wb.


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke