Kajian Islam :
Debat Mengagumkan
oleh : Dr. Muhammad bin Abdul Aziz al-Khudairi
Beliau adalah Abu Bakar Muhammad bin ath-Thib bin Muhammad yang lebih dikenal
dengan al-Baqillani atau Ibnu al-Baqillani.
Ibnu Khalqan ketika menyebut nasab beliau berkata, "Ini adalah nisbah kepada
al-Baqilla dan seputarnya. Al-Baqilla memiliki dua lughat (cara pengucapan);
dengan tasydid lam dan pendek alif (al-Baqilla) atau tanpa tasydid lam dan
memanjangkan alif (al-Baqilaa) . Nisbah ini adalah syadz (tidak relevan) karena
tambahan huruf nun di akhirnya. Hal itu sama dengan nisbah kepada Shan'a yaitu
Shan'ani, atau kepada Bahra' yaitu Bahrani.
Beliau dilahirkan di Bashrah, tepatnya di Irak dan mengambil ilmu dari para
ulama senior yang ada di sana. Dari sana beliau pergi ke Baghdad dan mengambil
ilmu yang banyak dari para ulama`nya. Beliau berhubungan dengan ‘Adhudud Daulah
al-Buwaihi dan mendapat posisi yang sangat agung di sisinya. Diangkat menjadi
al-qadhi (hakim) dan diutus ke raja Romawi sebagai diplomat sekaligus pendebat,
karena diketahui memiliki kecerdasan, kejeniusan, ketajaman analisis dan
keluasan ilmunya.
Ibnu Katsir berkata, "Dikatakan bahwa beliau pengikut madzhab Malik, dikatakan
juga pengikut madzhab Syafi'i. Beliau menulis berbagai fatwa dan ditulis ulang
oleh Muhammad Ibnu ath-Thib al-Hambali. Tetapi ini gharib (jauh) sekali.
Al-Khatib berkata, "Wirid beliau setiap malam adalah dua puluh rakaat; baik
dalam keadaan muqim atau musafir. Setelah selesai dari itu, beliau menulis tiga
puluh lima lembar dari hafalannya. Disebutkan bahwasanya beliau menulis dengan
madad dicelupkan pada tinta, lebih mudah daripada dengan pena. Apabila selesai
shalat Shubuh beliau menyerahkan kepada sebagian sahabatnya apa yang beliau
tulis semalamnya. Beliau menyuruhnya untuk membacanya kemudian menambahkan
kekurangannya. "
Ali bin Muhammad al-Harbi al-Maliki berkata, "Al-Qadhi (al-Baqillani) pernah
berangan-angan untuk meringkas apa yang beliau tulis, namun tidak mampu
melakukannya karena luasnya ilmu dan banyaknya hafalan beliau. Tidak pernah ada
seorang pun yang menulis khilaf (perbedaan), kecuali harus membaca kitab-kitab
lawannya, kecuali al-Qadhi (al-Baqillani) ".
Abu Bakar al-Khawarizmi berkata, "Setiap karangan di Baghdad hanya menukil dari
pendapat orang-orang, kecuali al-Qadhi Abu Bakar. Apa yang beliau tulis
semuanya telah mencakup ilmu beliau dan ilmu orang lain."
Ibnu Ahdal berkata, "Beliau seorang yang wara' (berusaha menjauhi diri dari
syubhat), tidak pernah diketahui dari beliau kesalahan dan kekurangan. Batin
beliau dihidupkan dengan ibadah, keberagamaan dan penjagaan diri (dari dosa)."
Mengenai beliau Syaikhul Islam pernah berkata, "Seorang ahli kalam paling utama
yang menisbatkan diri kepada al-Asy'ari. Tidak ada orang yang setara dengan
beliau, baik sebelumnya atau sesudahnya."
Syaikhul Islam dalam Fatwa al-Hamawiyah juga menukil dari al-Baqillani dalam
kitab beliau al-Ibanah, yang menunjukkan bahwasanya beliau mengikuti madzhab
Salaf dalam masalah nama dan sifat Allah Subhanahu wata’ala.
Beliau berkata, "Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin ath-Thib al-Baqillani dalam
kitabnya al-Ibanah berkata: "Apabila salah seorang berkata: "Apa dalil
bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala memiliki wajah dan tangan?
Dikatakan kepadanya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,
"Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan."
(Ar-Rahman: 27)
Juga firman Allah Subhanahu wata’ala,
"Allah berfirman:"Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang
telah Kuciptakan dengan kedua tanganKu." (Shad: 75)
Allah Subhanahu wata’ala menetapkan untuk diriNya wajah dan tangan.
Jika mereka bertanya, "Apakah kalian mengatakan bahwasanya Allah Subhanahu
wata’ala berada di setiap tempat? "
Dikatakan kepadanya, "Maha Suci Allah Subhanahu wata’ala, Dia bersemayam di
atas ArsyNya sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala beritakan dalam
kitabnya,
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
"(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arsy." (Thaha: 5)
Di dalam kitab ini (al-Ibanah) beliau juga berkata, "Sifat dzat Allah Subhanahu
wata’ala yang senantiasa bersifat dengan-Nya adalah; al-hayat (hidup), al-ilmu
(mengetahui) , al-qudrah (kuasa), as-sam'u (mendengar), al-bashir (melihat),
al-kalam (berbicara), al-iradah (berkehendak) , al-baqa' (kekal), al-wajah
(memiliki wajah), al-'ainan (memiliki dua mata), al-yadani (memiliki dua
tangan), al-ghadhab (marah) dan ar-ridha (ridha).
Selesai dengan saduran.
Setelah itu Syaikhul Islam berkata, "Hendaklah si penanya ketahui bahwasanya
maksud dari jawaban ini adalah menyebutkan lafadz-lafadz sebagian ulama yang
menukil madzhab Salaf dalam masalah ini. Bukanlah apa yang saya sebutkan dari
perkataan mereka (ahli kalam dan lainnya) menunjukkan mereka menerima semua
yang kami sebutkan dalam masalah ini atau yang lainnya. Namun kebenaran harus
diterima dari siapapun orang yang mengatakan kebenaran tersebut."
Al-Qadhi (al-Baqillani) telah menulis berbagai kitab di antaranya:
1. I'jazul Qur'an, kitab pertama beliau yang diterbitkan dan paling tinggi
nilainya. (sudah dicetak).
2. At-Tamhid fi al-Raddi alal Mulhidah wal Mu'aththilah wal Khawarij wal
Mu'tazilah. (sudah dicetak).
3. Al-Ibanah fi Ibthal Madzhab Ahlil Kufri wa adh-Dhalal.
4. Risalah al-Hurrah (sudah dicetak).
5. Al-Bayan Bainal Mu'jizat wal Karamat wal Hiyal wal Kahanah was Sihri wa
Nairinjat (sudah dicetak).
6. Al-Inshaf, dan masih banyak yang lainnya.
Muhammad Kurdi Ali berkata, "Saya pernah menghitung karangan dan bacaan
al-Qadhi dan membaginya dengan hari-hari umurnya sejak lahir hingga meninggal,
maka didapatkan bahwa setiap hari sama dengan sepuluh lembar lebih."
Beliau memiliki cerita dan hal-hal aneh yang banyak, sikap yang menakjubkan dan
perdebatan yang panjang. Telah dibukukan sebagiannya oleh al-Qadhi Iyadh di
dalam Tartibul Madarik.
Beliau meninggal di penghujung tahun 403 H.
Adz-Dzahabi berkata, "(Pemakaman) jenazahnya banyak dihadiri orang. Beliau yang
menunjukkan kejelekan Mu'tazilah, Rafidhah dan Musyabbihah. Mayoritas kaidah
beliau sesuai dengan Sunnah. Abul Fadhl at-Tamimi tokoh utama madzhab Hambali
sangat menghormati beliau. Disebutkan beliau telah menulis 70.000 lembar."
Beliau dipuji oleh sebagian orang dengan berkata,
Lihatlah kepada sebuah gunung yang orang-orang berjalan menujunya.
Pandanglah kepada sebuah kuburan yang ada di atas tanah yang gersang.
Lihatlah kepada pedang Islam yang bersarung.
Pandanglah kepada mutiara Islam yang berada di rumah kerangnya.
[Sumber: Tabyin Kizbil Muftari. hal. 217-218, terbitan Darul Kutub al-Arabi;
al-Muntazim, 7/256; Wafayatul A’yan, 4/270; al-Kamil, Ibnul Atsir, 10/242;
Tartibul Madarik, 7/44-68; ad-Dibajul Madzhab, 2/228; Fatawa Syaikhul Islam,
5/98-101; Syadzarat adz-Dzahab, 3/169; al-Bidayah wan Nihayah, 11/350;
al-I’lam, 6/167; Siyar A’lam an-Nubala`, 17/190 dan Kunuzul Ajdad, karya
Muhammad Kurdi Ali, hal.196.]
b3r5aMbUn6..
Win a MacBook Air or iPod touch with Yahoo!7.
http://au.docs.yahoo.com/homepageset
[Non-text portions of this message have been removed]