barangkali bermanfaat bagi pengembangan bacaan di masyarakat kit. Salam BS www.mediabersama.com
================================ Strategi Mengelola Koran Desa Ditulis oleh Rujiat Pujo Kusumo Rabu, 27 Agustus 2008 16:33 Di tingkat wacana, gerakan lokal barangkali cukup mendapat apresiasi yang cukup. Tapi lain halnya saat kita ingin mendapatkan wacana gerakan lokal yang berbasis pada praktik. Sebagian gerakan kalaupun berbasis lokalitas masih terasa kurang sistematis dan kurang bergairah. Tapi ketika saya mencoba menjelajah situs (dengan kata kunci "gerakan lokal") untuk mendapatkan pengalaman praksis, tiba-tiba saya tertambat pada sebuah komunitas gerakan lokal melalui google dengan sebuah sebuah situs gerakan lokal berbadan hukum perkumpulan bernama Perkumpulan Independen Komunitas Temanggungan (PIKATAN). Situs ini nampak aktif setelah dua tahun terakhir berjalan. Nampak di dalamnya memilki sebuah media dengan konten yang berkarakter lokal, yaitu tabloid Stanplat Temanggung, http://stanplat.blogspot.com Tertarik oleh kedua situ tersebut saya mencoba menyimak perbincangan dengan menyusup masuk ke dalam jaringan diskusi di millist [EMAIL PROTECTED] e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it . Lebih 7 bulan saya mengikuti millist tersebut nampak jelas ada semacam arus kecil tapi kuat sedang menggurita di salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Memang basis gerakan lokal itu bukan berada di Temanggung, tapi di Jakarta. Mereka para perantau asal Temanggung yang kebanyakan berada di kota-kota besar, berkumpul dalam jaringan internet memperbincangkan kampung halamannya. Pertengahan Agustus lalu saya menyempatkan jalan-jalan menemui seorang kenalan baru, pengelola media komunitas lokal di Temanggung, Faiz Manshur. Dari Demak saya meluncur naik sepeda motor menuju Temanggung, melewati Semarang, lalu Sumowono dan sampaikan di desa Kaloran Temanggung. Tujuan saya bertemu untuk berdiskusi tentang pengelolaan media cetak desa. Karena saya menemukan media komunitas Stanplat di internet, maka saya berusaha sharing dengan pendirinya. Setelah beberapa bulan menunggu, niat tersebut baru kesampaian Agustus ini setelah saya bertemu Mas Faiz yang kebetulan sedang pulang ke rumahnya di Temanggung. * **Mbangun Deso dari Millist* "Stanplat adalah tonggak gerakan komunitas. Melalui media komunitas ini para perantau yang setiap hari mampu mengakses internet memiliki kegiatan positif memajukan Temanggung dengan berbagai kegiatan serta memberikan kontribusi pemikiran kepada pemerintah daerah," Kata Faiz Manshur, pemimpin Redaksi Stanplat yang sekaligus salah satu pendiri gerakan lokal berbasis kaum perantau Temanggung ini. Edisi pertama Stanplat terbit Juni 2006. Mulanya 8 halaman. Karena 8 halaman dianggap tipis, edisi keduanya terbit 12 halaman. Memasuki edisi ke tujuh pengelola mulai kurang puas dan akhirnya menerbitkan 16 halaman sampai sekarang. Saat pemimpin redaksi Stanplat memberikan beberapa edisi kepada saya, mendadak saya heran karena penampilan Stanplat terkesan mewah dan mahal. Sampul depan dan bagian belakang cetak berwarna. Setting dan tata letak serta fotonya sudah cukup lumayan. Semua naskah di dalamnya hasil produksi sendiri (bukan mengambil dari media lain). Menurut Faiz, Stanplat ini dicetak 3.000 eksemplar. Harga percetaknya bisa murah karena memanfaatkan relasi dengan pemilik percetakan asal Temanggung. Bagaimana dengan biaya produksi lain? seperti penulisan, setting, lay out, foto dan penggalian data? "Nah, itu dia yang sulit, tapi kita bisa mensiasati dengan pola kerja-bakti," katanya. Ia menceritakan, orang-orang Temanggung banyak yang jadi jurnalis atau penulis. Sebut saja, Agung DH (wartawan Persma di Universitas Negeri Yogyakarta),Tri Agus Siswowihardjo, mantan aktivis Pijar yang gemar menulis esai dan buku. Anif Punto Utomo dan Mohamad Asadi (wartawan Senior Republika). AE priyono, mantan redaktur Jurnal Prisma, peneliti dan penulis, Putut Tri Husodo (wakil pemimpin majalah Gatra), Lisdaniati (wartawan harian Kompas Jawa Barat). Lalu ada juga mereka yang tidak suka menulis di media massa tapi cukup produktif terlibat menulis di Stanplat seperti Joko Suseno, Muniroh, keduanya pekerja swasta di Jakarta. "*Setting *dan *layout-*nya bagaimana Mas,"tanyaku. "Kebetulan Andi Yus, adalah tukang lay out sejumlah media cetak di Jakarta. Karena itu Stanplat di tangan dia menjadi gratis. Setelah tahu ini gratis Anda pasti pingin tanya dari mana duitnya bukan?" tanyanya memancing. Saya jawab dengan tersenyum," iya, bagaimana itu dananya? berapa tiap bulan?" "Kebutuhan dasar cetak kira-kira Rp 4,5 juta. Lalu ditambah biaya transportasi sekitar Rp 500-700 ribu. Ya, kira-kira kita tiap bulan menghabiskan dana sekitar Rp.5,5 juta lah. Biaya lain seperti komunikasi ditanggung masing-masing pengurus. Mereka semua bekerja dalam konteks gotong-royong kerja bakti. Tak ada upah. Dana tersebut di dapat dari para perantau asal Temanggung dan sedikit iklan. Para pelanggan tidak kita kenai tarif resmi. Kita sukarela mengirimkan kepada para perantau. Lalu mereka punya kesadaran menyumbang rutin setiap bulan atau beberapa bulan sekali. Dari putaran pelanggan sejumlah 500 orang itulah pundi dana mengalir. Sesekali seret dan sulit, tapi toh kita bisa menerbitkan sampai melewati 24 edisi," ujar dia. Lain dari itu Faiz menjelaskan, penggalangan dana ini bukan semata tergantung jumlah orang, melainkan kemahiran mereka yang berada di bagian perusahaan Stanplat. Peranan humas (hubungan masyarakat) mampu menggali dana melalui jaringan di luar temanggung. Sedangkan pemimpin perusahaan Stanplat sering kreatif membuat kaos dan stiker. Akhir tahun ini sedang merencanakan penerbitan buku lokal Temanggung. "Kreatif dan aneh,"guman saya dalam batin. Aneh karena selama ini saya di kampung halaman di Demak juga mencoba membuat buletin mini dengan biaya Rp.200 ribu tiap bulan saja hanya berhasil mencetak 2 kali terbit. Selanjutnya kami kesulitan dana. Barangkali pelajaran jejaring perantau inilah yang bisa dimanfaatkan? Faiz menilai, bisa iya, bisa tidak. Tergantung bagaimana komitmen para pendiri dan pengelola itu. Elemen perantau memiliki daya pikat untuk dijadikan basis kegiatan, selama memang mereka memiliki rasa peduli terhadap kampung halaman dan benar-benar menyukai bacaan. Jika tidak, bisa jadi kepedulian mereka terhadap kampung halaman tidak pada media, melainkan pada kegiatan lain. Nah, di situ para pengelola harus cerdas mengusung isu dan memberikan kesenangan dengan cara menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para perantau. Menurut alumni pesantren Al Munawir Krapyak Yogyakarta dan mantan Pengurus Partai Rakyat Demokratik Yogyakarta itu, sebenarnya belum terlalu yakin benar materi-materi yang disajikan itu benar-benar menarik bagi pelanggan dan warga di Temanggung atau tidak. "Saya hanya memakai prakiraan dan asumsi-asumsi. Mau riset terganjal kesibukan, jadinya tertunda terus," keluhnya. Stanplat beredar 2500 eksemplar di Temanggung dan 500 eksemplar di perantauan. Saat saya membaca arus edar Stanplat, nampak di situ daftar list edaraannya sangat bagus. Sebagai media kewargaan, Stanplat beredar luas di Temanggung. Setiap kantor kecamatan 20 kecamatan mendapat jatah 5-10 eksemplar. Dinas-dinas pemerintah daerah, organisasi sosial, pondok pesantren, organisasi petani, anggota DPRD mendapat jatah gratis. Faiz beralasan kalau dijual tidak akan laku. "Masyarakat kita ini memang tidak buta huruf, tapi buta bacaan. Di Temanggung sendiri semua media cetak di Indoensia hanya sekitar 800 eksemplar dari 800 ribu penduduk. Kalau kita asumsikan pembaca produktif kira-kira 80 ribu orang, maka jelas di situ memprihatinkan sekali. Anda bisa bayangkan dengan negara-negara maju seperti Jepang, Jerman, Inggris yang masyarakatnya memang gemar membaca. Indonesia sangat tertinggal dalam hal ini. Karena itu saya sangat serius untuk mengambil sektor bacaan ini sebagai bagian dari transformasi penguatan gerakan lokal. Dengan media kita bisa melebarkan kegiatan yang lain. Yang jelas kehadiran Stanplat ini tidak hanya memberikan manfaat dari sisi informasi ke masyarakat, tapi dinamika politik juga," kata dia. "Kalau selama ini DPRD dan pemerintah tidak ada yang mengkritik, Stanplat berani melakukan secara terbuka. Dan dengan begitulah kami bisa menjadikan pers sebagai pilar keempat dari demokrasi. Pemerintah dan DPRD itu kalau tidak dikontrol berbahaya, mereka bisa seenaknya bekerja dan memperkaya diri sementara tetangganya semakin bodoh dan miskin. Karena itulah Stanplat selalu bersikap kritis terhadap kekuasaan," tuturnya semangat. *Tiga Sumber Daya Manusia * Satu hal yang menarik bagi saya dari perbincangan di tengah-tengah maraknya persiapan agustusan di Temanggung ini adalah pendapat Faiz soal pentingnya kesadaran kebersamaan antara setiap pengelola. Menurutnya, tiga komponen sumber daya manusia, yaitu aktivis, wartawan dan pekerja swasta dari Stanplat itulah yang membuat konsistensi kerjanya terjaga. Aktivis memiliki sisi keunggulan dengan kebiasaan bekerja sosial dan punya keberanian berpolitik. Kelemahannya seringkali dalam hal mencari dana. Para karyawan Swasta punya keunggulan menjalin relasi, kelemahannya kadang karena bekerja dalam domain sosial sangat berbeda dengan kerja rutin harian di perusahaan. Sedangkan para jurnalis punya keunggulan bisa memproduksi tulisan, dengan begitu stok naskah selalu ada. Kelemahan-kelemahan masing-masing orang kemudian bisa diminimalisir dengan pola saling mengisi. Nah, di Stanplat dikotomi antara karyawan swasta dengan jurnalis maupun aktivis nyaris tidak ada lagi. Masing-masing sudah menjalankan fungsi dan tanggungjawabnya sendiri. Jangan sampai hanya karena berbeda latar belakang usia, keluarga atau bidang pekerjaan timbul elitisme dan saling menjauhi. Kalau ini terjadi berbahaya. Pokoknya organisasi itu harus kompak. Mengutip Tan Malaka, "Sekalipun strategi organisasi salah tapi kalau dijalankan secara kompak, maka organisasi akan jalan, tapi kalaupun strateginya benar tapi para anggotanya tidak menjalankannya secara kompak, organisasi akan mudah hancur". Setelah pulang ke Demak, ide-ide membuat media lokal memang harus diwujudkan. Akan sangat bagus kalau bisa menerapkan strategi gerakan model Stanplat. tapi bagaimana memulainya ya? Mengumpulkan sekian ratus orang untuk iuran? Apalagi di desa-desa? Kalau memanfaatkan jaringan perantau bagaimana memulainya juga? Ini yang lupa saya tanyakan. Tapi akan saya lanjutkan pertanyaan itu melalui email dan terus komunikasi dengan para aktivis gerakan lokal. Saya sendiri meyakini bahwa sudah saatnya sekarang ini orang-orang di kota besar memikirkan desanya. Dimajukan melalui kebersamaan. Mereka yang sudah memiliki basis ekonomi bisa menyisihkan uangnya untuk membantu kegiatan-kegiatan media cetak desa, majalah dinding, perpustakaan, usaha kecil menengah dan lain lain. * Rujiat Pujo Kusumo, aktivis Mahasiswa Keluarga Demak Yogyakarta (Makedjogja), kontributor Mediabersama.com* [Non-text portions of this message have been removed]

