haha bacaan berbobot nih, lumayan buat ngabuburit :)
Tanggapan atas tulisan Ulil A Abdala - "Menjadi Muslim dengan perspektif
liberal"
Oleh : Wildan Hasan *)
Tanggapan atas tulisan Ulil A Abdala - "Menjadi Muslim dengan perspektif
liberal"
Namanya juga refleksi, tidak usah terlalu dianggap serius apalagi diklaim
sebagai kebenaran absolut. Karena dalam kamus Mas Ulil dan kawan2 tidak dikenal
istilah kebenaran absolut. Semua kebenaran adalah relatif, termasuk kebenaran
versi mereka...harusnya.
Bagaimana ini ko terbolak-balik?
menjadi muslim dengan persfektif liberal, menjadi liberal dengan persfektif
muslim, menjadi muslim sekaligus liberal atau menjadi liberal sekaligus muslim?
mana nu pokok mana nu cabang, mana nu dasar mana nu tambahan, mana yang ushul
mana yang furu'? atau mana yang asli mana yang palsu?
penting mana jadi muslim atau jadi liberal? jadi muslim yang liberal atau jadi
liberal yang muslim? apa itu muslim, apa itu liberal?
kita seharusnya sebelum berdiskusi harus terlebih dahulu menetapkan
batasa-batasan, kriteria, distingsi dan kategorisasi2 dari kata2 kunci yang
kita diskusikan. Agar diskusi tidak jadi liar dan membabi-buta.
Muslim adalah hamba Allah yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad
utusan Allah, menegakkan sholat, membayar zakat, melaksanakan shaum Ramadhan,
dan menunaikan haji jika mampu (HR. Bukhari Muslim dari Abdullah bin Umar Ra).
apakah mas Ulil masih minat terhadap hadits ini atau tidak. Atau harus
didekonstruksi dulu
Terus apa arti liberal? Coba tanya apa arti liberal sama mereka. Maka mereka
akan sama bingungnya dengan kita. Kenapa? Karena makna liberal itu sendiri
tidak jelas. Batasan makna liberal tidak dieksplorasi secara mendalam, padahal
konsep batas dapat merumuskan kriteria, distingsi dan kategorisasi liberal.
Akibat kaburnya batasan itu adalah timbulnya ide tak terbatas. Hasilnya,
paham liberal cenderung dibangun di atas paham relativisme, skeptisisme, dan
agnotisisme. Gagasan liberalisme Islam tanpa konsep yang jelas dapat berujung
pada gagasan Islam liar yang bersembunyi dibalik jargon kebebasan.
Oleh karena tidak adanya konsep batasan tersebut, maka konsep Islam liberal
tersebut menjadi kriteria yang longgar dan kabur. Ketidakjelasan definisi atau
deskripsi makna liberal terungkap secara implisit dalam pemikiran Charles
Kruzman. Kruzman menggambarkan konsep Islam liberal dengan sesuka hatinya.
Karena tidak adanya batasan yang jelas, Kruzman memasukkan nama Yusuf
al-Qaradhawi dan M. Natsir sebagai pemikir Islam Liberal. Padahal jelas bahwa
karya-karya mereka tidak sesuai untuk disandingkan dengan gagasan Islam liberal
yang sumber pemikirannya adalah akal yang skeptis.
Strategi Kruzman dalam memaknai Islam liberal dapat disejajarkan dengan
strategi Michel Foucaulst (salah satu tokoh rujukan Islam liberal) ketika
memahami makna hewan. Foucaulst, yang meninggal karena penyakit AIDS, mengutip
sebuah ensiklopedia Cina tertentu yang mengklasifikasikan binatang sebagai
berikut; yang dimiliki kaisar, yang dimumikan, yang jinak, babi-babi yang
menyusui, yang merayu betina, yang menakjubkan, anjing-anjing yang sesat, yang
termasuk dalam klasifikasi sekarang, yang gila, yang tidak dapat dihitung, yang
dilukiskan dengan sikat rambut unta yang cantik, yang telah mematahkan teko air
dan yang kelihatan seperti lalat dari kejauhan.
Jadi deskripsi Foucault mengenai makna hewan mencerminkan relativitas. Sama
halnya dengan definisi Kruzman mengenai liberal dalam menggambarkan makna
Islam liberal. Implikasi dari ini semua adalah adanya kekaburan makna.
Kebenaran akan menjadi kesesatan dan sebaliknya. Keyakinan akan menjadi
keraguan dan sebaliknya. Yang haq akan jadi batil, yang batil jadi haq. Yang
yakin dijadikan keraguan dan yang ragu dijadikan keyakinan. Inilah hakikat dari
strategi postmodernism.
Mas Ulil di tahun 2001 pernah menegaskan bahwa masa depan hanya pada Islam
liberal. Membicarakan masa depan berarti mengukur manfaat wacana bagi
peningkatan taraf hidup semua unsur masyarakat. Misalnya, manfaat apa yang
dirasakan wong cilik dari perkembangan pemikiran Islam liberal? Dengan
demikian, kegiatan pemikiran tidak hanya menjadi kegenitan intelektual belaka
yang kegunaannya sebatas untuk kesenangan para aktifis dan pemikirnya. Adakah
korelasi Islam liberal dengan pengentasan kemiskinan misalnya? Bukankah mas
Ulil dan kawan-kawan (termasuk Rizal Malarangeng) langsung atau tidak termasuk
pendukung kebijakan kenaikan harga BBM? Atau mau dibantah, silahkan
Intinya point paling penting dalam ke-Islaman seseorang adalah meyakini
kebenaran yang disampaikan Allah dan Rasulnya tanpa reserve. Harus
dipertanyakan ke-Islaman seseorang yang mengaku rajin solat dan puasa tapi
tidak meyakini syariat Islam sebagai kebenaran absolute.
Contoh....
Seorang anak berkata kepada ibu kandungnya; Ibu saya melakukan perintah ibu,
tapi maaf saya tidak meyakini ibu sebagai ibu kandung saya.
Sebab menurut mas Ulil Tuhan itu bukan hanya Allah-nya umat Islam. Padahal di
Quran dan hadits bertebaran keterangan qoti yang menegaskan Allah itu ahad
tidak boleh didua dan ancaman-ancaman Allah terhadap orang yang
mensyarikatkan-Nya.
Bagaimana bisa rela seorang ibu kalau anak kandungnya mau melaksanakan
perintahnya, tapi tidak yakin bahwa ibunya itu sebagai ibu kandung satu-satunya
bagi dia?..
Dekontruksi makna Islam yang dilakukan oleh mas Ulil dan kawan2 sebenarnya
merupakan dekontruksi Islam secara keseluruhan. Jika makna Islam
didekonstruksi, maka akan terdekonstruksi juga makna; Kafir, murtad, munafik,
al-haq, dakwah, jihad, amar makruf nahi munkar, dan sebagainya. Jika dicermati,
dalam berbagai penerbitan di Indonesia , upaya-upaya dekonstruksi
istilah-istilah itu bisa dilihat dengan jelas. Bahkan, berlanjut ke
konsep-konsep dasar Islam, seperti; wahyu, Al-Quran, sunnah, mukjizat dan
sebagainya.
Dekonstruksi makna Islam, dan mereduksinya hanya dengan makna submissiom,
berdampak pada tidak boleh adanya klaim kebenaran (truth claim) pada Islam.
Kata mereka, Islam bukan satu-satunya agama yang benar. Ada banyak agama yang
benar. Atau semua agama yang benar bisa disebut Islam. Kebenaran tidak
satu, tetapi banyak. Sehingga, orang Islam tidak boleh mengklaim sebagai
pemilik agama satu-satunya yang benar.
Tidaklah mengherankan, jika ide dekonstruksi dan reduksi makna Islam, biasanya
berjalan beriringan dengan propaganda agar masing-masing pemeluk agama
menghilangkan pikiran dan sikap merasa benar sendiri.
Jika orang muslim tidak boleh meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama
yang benar, dan agama lain salah, lalu untuk apa ada konsep dan lembaga dakwah?
Jika seseorang tidak yakin dengan kebenaran agamanya-karena semua kebenaran
dianggapnya relatif-maka untuk apa ia berdakwah dan berada dalam organisasi
dakwah? Atau makna dakhwah pun harus didekonstruksi agar tidak bertentangan
dengan konsep liberal? Kenapa liberal harus mengangkangi dakwah? Dan makna amar
makruf nahi munkar didekonstruksi juga?
Pada akhirnya, golongan ragu-ragu akan berdakwah mengajak orang untuk
bersikap ragu juga. Mereka sejatinya telah memilih satu jenis keyakinan baru,
bahwa tidak ada agama yang benar atau semuanya benar. Artinya, hakekatnya, ia
memilih sikap untuk tidak beragama, atau telah memeluk agama baru, dengan
teologi baru, yang disebut sebagai teoligi semua agama atau agama
plularisme.
Cak Nur sendiri menyatakan bahwa sekularisme itu ialah paham yang tidak
bertuhan dan sekularisasi merupakan salah satu gagasan penting-kalau tidak
disebut sebagai gagasan utama-kelompok Islam liberal. Maka seorang sekuler yang
konsekuen dan sempurna adalah seorang ateis.. Jika tidak, akan mengalami
kepribadian yang pecah.
Sekedar contoh, jika kita dibolehkan memaknai Islam dan syariatnya semau kita
yang mungkin saja berdampak pelecehan terhadap agama
misalnya, salah satu kitab aliran kebatinan di Indonesia , yang bernama
Darmogandul, dalam salah satu bait Pangkur-nya menyatakan, Akan tetapi
bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah
sesuai dengan dzikir mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat)
hati orang Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, pada hakekatnya mereka itu
terasa pahit dan masin.
Ada lagi ungkapan dalam kitab itu, Adapun orang yang menyebut nama Muhammad,
Rasulullah, nabi terakhir. Ia sesungguhnya melakukan dzikir salah. Muhammad
artinya makam atau kubur. Ra-su-lu-lah, artinya rasa yang salah. Oleh karena
itu ia itu orang gila, pagi sore berteriak-teriak, dadanya ditekan dengan
tangannya, berbisik-bisik, kepala ditaruh di tanah berkali-kali. (menghina
praktek sholat)
Dibagian lain disebutkan, Saya mengira, hal yang menyebabkan santri sangat
benci kepada anjing, tidak sudi memegang badannya atau memakan dagingnya,
adalah karena ia suka bersetubuh dengan anjing di waktu malam. Baginya ini
adalah halal walaupun tidak pakai nikah. Inilah sebabnya mereka tidak mau makan
dagingnya.
Inti ajaran Darmogandul :
Yang penting dalam Islam bukan sembahyang, tetapi syahadat sarengat. Dan
sarengat artinya: hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan. Hubungan
seksual itu penting sekali, sehingga empat kiblat juga berarti hubungan seksual.
Darmogandul menafsirkan kata-kata pada ayat kedua dalam surat al-Baqarah
sebagai berikut; zalikal artinya jika tidur, kemaluan bangkit, kitabu la
artinya kemaluan laki-laki masuk secara tergesa-gesa ke dalam kemaluan
perempuan, raiba fihi hudan artinya perempuan telanjang, lil muttaqin
artinya kemaluan laki-laki berasa dalam kemaluan perempuan. (Perkembangan
kebatinan di Indonesia. Hamka, Bulan Bintang, 1971, hlm 22-23)
Katakan kakalu saja kawan-kawan FPI menuntut pemerintah untuk membubarkan
aliran kebatinan seperti ini, maka kalangan Islam liberal dengan jargon
kebebasannya akan paling depan membela penistaan agama seperti ini. Sama
seperti kasus Ahmadiyah.
Soal buka puasa sebagai tindakan kolektif mah terserah.. Itu soal perasaan
tidak perlu jadi dalil wajib atau haramnya buka puasa sendirian atau
berjamaah. Kita juga sering ifthor jama'i, malah duluan kita daripada dia...
Pengalaman sosial yang dialami mas Ulil saat buka puasa dan solat tarawih
berjamaah sebagai pengalaman yang paling membekas katanya. lagi-lagi
pengalaman pribadi yang masing-masing orang akan merasakannya berbede-beda.
Tidak perlu dibuat dramatis lah..
Apa mas Ulil baru tahu bahwa buka puasa bersama dan solat tarawih berjamaah
itu lebih syahdu dan lebih nikmat? Apa baru sekarang bisa merasakan buka puasa
dan solat tarawih bersama? Duh
kemarin-kemarin kemana saja bang....
Hehe
lagi-lagi pengalaman sosial, lagi2 pengalaman sosial. Apakah mas Ulil baru
mengalami hidup bersosial? Jadi selama ini mas Ulil duduk ekslusif di menara
gading merasa paling benar sendiri dengan teologi inklusifnya. Eh
pas turun
gunung berbaur dan mau sedikit bertoleransi, hati baru terbuka betapa nikmatnya
hidup bermasyarakat.
Padahal kita sudah biasa merasakan nikmatnya hidup bersosial. kaburo maqtan
(Ash-Shaf: 3)
Bahasan lain
Jelas pasti ada di belakang mas Ulil yang berkata, kenapa solat dan puasa,
bukannya liberal?
Ini adalah bukti kebingungan dan pecah kepribadian (split personality) kawan2
liberal. Sebab mereka menganggap berbeda dan tidak ada kaitan antara keimanan
dengan praktek amaliyah ibadah. Tidak ada kaitan antara aspek esoteris dan
eksoteris agama. Bagi mereka solat, puasa, zakat dan haji hanya kulit atau
bagian luar dari praktek keberagamaan seseorang dan tidak menentukan posisi
keimanan dirinya.
Tapi anehnya mereka suka berdalil atas kasusnya itu: nih..lihat liberal juga
saya masih solat dan puasa, atau tuh lihat liberal juga ternyata santun.
Sengaja kata santun' diberi tanda petik. Sebab santun menurut siapa, apa
batasannya, standar kesantunan itu apa, kriterianya mana, santun yang ini masuk
kategori siapa dan yang mana? atau akan direlatifkeun juga.....
Ana Istighfar dan taubat jika pernyataan ana ini salah. Ana menyangsikan jika
kawan2 liberal taat solat dan puasa. Dimana taat sekalipun, nudah-mudahan
bukan taat seperti Abdullah bin Ubay bin Salul
maaf kalau pernyataan ini tidak
'santun.'
Ana yakin kita harus dalam posisi mengasihani mereka dalam pencarian kebenaran
tanpa ujung, penuh fatamorgana dan kamuflase.
Ada sebuah dialog menarik;
Muslim : Apakah anda sudah menemukan kebenaran hakiki?
Liberal : Belum, karena saya dalam posisi pencari kebenaran
Muslim : Lalu kalau diri anda saja belum mendapatkan kebenaran, kenapa anda
menyalah-nyalahkan orang lain yang sudah mendapatkan kebenaran dan meyakininya?
Liberal : justru ini salah satu cara saya menemukan kebenaran.
Muslim : Kalau begitu cara anda salah. Yang namanya mencari kebenaran itu
dengan jalan bertanya. Anda belum juga bertanya sudah menggugat kebenaran yang
diyakini orang lain. Berarti anda tidak siap untuk belajar. Pantas saja anda
tidak pernah menemukan kebenaran. Sebaiknya anda temukan dulu kebenaran yang
akan anda yakini kebenarannya. Baru nanti kita ketemu lagi.
Pada akhirnya liberal tidak pernah datang-datang lagi karena kebenaran hakiki
tidak pernah ia dapatkan. Karena bagi dia semua kebenaran adalah relatif, tanpa
ujung, tanpa pegangan, dan nyangkut di tempat mana yang paling menguntungkan
ke-tuhan-an akal dan hawa nafsunya. Himmatuhum Butunuhum
.
Tujuan utama dari JIL penuh tuduhan tak berdasar. Ironisnya sebagai yang
meng-klaim berideologi liberal yang mengedepankan toleransi dan kebebasan
ternyata tidak toleran dan berstandar ganda. Harusnya mas Ulil juga toleran
kepada paham fundamentalis, radikal dan pro kekerasan seperti yang
dituduhkannya. Sekalipun cap itu belum tentu benar karena hanya sepihak,
tuduhan liar seperti ini akan mengenai siapapun dan apapun. Bahwa tuduhan
seperti inipun termasuk kekerasan verbal yang sangat ditentang oleh mas Ulil.
Soal bajak membajak Islam.. Menurut ana jangan sampai tamiang meulit ka bitis,
bumerang buat si penuduh. Bicara membela Islam tapi
.
Begitulah mereka yang anti truth claim. Namun karena merasa paling benar
(padahal mereka anti terhadap klaim merasa paling benar) dengan pemahamannya
itu, akhirnya membabi buta aktif menyalahkan-nyalahkan yang lain. Benar-benar
sudah jauh menyimpang dari filosofi liberalisme yang diagung-agungkannya.
Bukankah mereka sendiri yang menyatakan bahwa keyakinan dan pemahaman seseorang
tidak bisa dihakimi? Lalu kenapa mereka dengan mudahnya menghakimi pemahaman
dan keyakinan orang lain? Yang fair dong
tidak akan cukup singkat saja membahas tujuan kedua JIL yang disebat rasional,
kontekstual, humanis dan pluralis. Kembali ke soal konsep batas, kalau konsep
batas tetap tidak dipakai maka tetap akan jadi debat kusir. Tapi itulah liberal.
Saat mas Ulil mengatakan di mata saya dan kawan-kawan Jelas pandangannya
sangat subyektif. Artinya harus dianggap biasa pernyataannya tidak ada
implikasi dan konsekeunsi apapun. Karena sepihak. Mengatakan di mata saya
menurut saya sebenarnya hal yang ketat dihindari oleh mas Ulil dan
kawan-kawan. Tapi kenapa begitu, ya itulah liberal.
Mereka anti disesatkan dan dikafirkan. Maka agar fair sebagaimana yang selalu
mereka dengung-dengungkan, jangan pula menyebut yang lain konservatif, Arabis,
kolot, kuno, fundamentalis, radikal dan pro kekerasan. Sekalipun makna
masing-masingnya belum tentu berkonotasi negatif.
Lagi-lagi tuduhan ieu teh, soal teks dan konteks. Persoalan pengelolaan Negara
yang harus dicontoh mentah-mentah atau mateng-mateng dari Rasulullah perlu
pembahasan yang panjang dan mendalam
.
Insya Allah mudah-mudahan terbahas di diskusi Posisi Syariat Islam dalam
Sistem Konstitusi Indonesia / Posisi konstitusi Indonesia dalam pandangan
Syariat Islam Bada lebaran tgl 04 Oktober di Pasantren PERSIS Majalengka
biidznillah.
Persoalan yang digugat oleh mas Ulil bukan persoalan ibadah mahdoh dan goer
mahdoh. Tapi persoalan bagaimana cara pandang seseorang memakai cara pandang
Islam itu sendiri atau tidak. Islam menurut siapa? Ini biasanya pertanyaan yang
akan dilontarkan oleh mereka. Mendingan mana penilaian terhadap seorang anak,
obyektif menurut ibunya atau tetangganya? Memahami Islam tentu harus dari orang
yang pakar tentang Islam dan hidup dalam kehidupan Islam. Bukan dari non muslim
yang hidup tidak mengenal Islam. Sekalipun ada beberapa kebaikan yang juga
harus diambil dari mereka seperti sains dan teknologi dsb.
Khilafiyah antara khutbah jumat berbahasa Arab dan berbahasa lokal tidak bisa
disebutkan sebagai pertentangan antara yang konsevatif dengan yang liberal. Ini
dinamakan pengaburan untuk pengelabuan makna. Harusnya gentle saja tidak perlu
ditutup-tutupi, kan katanya yakin benar dengan aqidah liberal. Ko yakin
ditutup-tutupi, apa ada yang salah? Kayaknya tidak begitu deh penerapan makna
liberal yang selama ini mas Ulil lakukan? Kenapa agar istilah liberal diterima
oleh kaum Muslimin kemudian persoalan khilafiyah umat diseret-seret? Apa tidak
ada cara lain
.
Dalam kasus khutbah jumat dan sholat memakai bahasa apa. Mas Ulil justru
mencoba mengomentari apa yang bukan wilayahnya. Hingga liar main comot untuk
menjustifikasi pemahaman liberalnya. Dalam sejarah Islam para ulama Islam
sepakat bahwa bahasa sholat adalah bahasa Arab. Tidak pernah dikenal di bagian
manapun dalam sejarah Islam ada Ulama-bukan ulama-ulamaan-yang sholat
menggunakan bahasa selain Arab. Kecuali sekarang intelektual-intelektual
genit korban perasaan inferior terhadap peradaban lain. Kalau anda berpendapat
seperti itu berdasar ijtihad Abu Hanifah. Ketahuilah bahwa Abu Hanifah tidak
pernah berpendapat demikian. Anda suka sekali mengambil pandangan-pandangan
yang tidak sharih dan mutawatir.
Kalau mas Ulil menyatakan bahwa sholat menempati kedudukan yang penting dalam
pemahaman Islam liberalnya, itu hak beliau beranggapan seperti itu. Namun
kemudian kalau sholatnya tanpa disertai dengan keyakinan akan kebenaran seluruh
syariat Allah bahwa hanya ada satu tuhan Allah swt dan hanya Islam agama yang
benar dan memilah-milah mana syariat yang cocok dan tidak, mana yang disuka dan
tidak buat dirinya, jelas sama saja dengan tidak sholat. Percuma saja sholat
jungkel jumpalik ari teu percaya ka Dzat anu marentahkeunana sebagai Kholik
satu-satunya, sebagai Syari dengan syariat yang tidak ada bandingnya.
Pembicaraan mas Ulil kemudian mengarah untuk mengajak pembaca berpandangan
bahwa orang yang berseberangan dengan beliau tidak rasional dan konsevatif.
Cukup jelas mas Ulil yang senantiasa mendorong untuk membudayakan dialog tidak
cukup mampu berdialog dengan paham yang berseberangan dengannya. Karena tuduhan
seperti budak yang taat tanpa berpikir pada sebuah perintah adalah absurd.
Bukankah dengan adanya tafsir Quran dan syarah hadits yang disusun oleh para
ulama yang tidak diragukan kompetensinya adalah bukti dari buah proses berpikir
manusia untuk memahami perintah Tuhannya? Yang membedakan adalah motif dari
cara berpikir untuk memahami perintah Tuhan. Yang satu untuk ketaatan yang satu
untuk pengingkaran.
Yang aneh kenapa mas Ulil bisa tidak tahu bahwa dalam sejarah Islam pemahaman
seperti yang dipermasalahkan mas Ulil adalah hal yang biasa didiskusikan dan
dibicarakan oleh kalangan konsevatif. Bukan seperti persangkaannya bahwa umat
Islam buta terhadap syariat mana yang taabbudi mana yang taaqquli.
Ujungnya arah tulisan mas Ulil semakin jelas dalam rangka menegaskan posisi
akal dalam Islam versi liberal. Soal mengikuti dan merawat tradisi, tradisi
yang mana dan seperti apa yang dimaksud? Lalu QS 26:74 itu anda arahkan kepada
siapa? Kepada yang pemahamannya konservatif atau justru kepada yang
pemahamannya progresif? Bukankah anda berdalil dan berdalih seperti ini atas
tradisi yang diwariskan guru-guru anda seperti Harvey Cox, Robert N. Bellah,
Michel Foucaulst dll?
Anda menjaga tradisi pemahaman seperti itu apakah juga bisa dipastikan tidak
membabi buta? Apakah anda juga berpikir kritis terhadap pemikiran guru-guru
anda? Toh ujung-ujungnya anda meng-klaim ada akar historis antara anda dan
kawan-kawan dengan pemikiran kaum muktazilah. Bukankah itu juga berarti anda
merawat tradisi? Tradisi muktazilah. Sekalipun sebenarnya Muktazilah tidak
se-liar anda dan kawan-kawan.
Ana sepakat kita harus berpikir kritis dalam memahami perintah Tuhan. Namun
dalam makna seperti apa? Apakah mengkritisi perintah Tuhan atau mengkritisi
akal kita dalam memahami perintah Tuhan? Jangan sampai ketika akal kita belum
mampu memahami perintah Tuhan lalu dipaksa agar seolah-olah nampak paham atau
memaksakan menyeret perintah Tuhan ke arah standar pemahamannya sendiri. Jadi
Tuhan yang maha kuasa dipaksa mengikuti kehendak hambanya.
Salah satu dalil JIL memang memahami syariat dengan persfektif tekstual dan
kontekstual (metode ini juga sebenarnya dipakai oleh golongan yang dituduh
konsevatif oleh mas Ulil namun dengan metode berbeda). Kasus pengharaman
perempuan duduk di parlemen memang harus diperdalam status hukumnya. Tapi
apakah benar persis seperti itu kenyataannya di sana ? Apakah juga hanya atas
dasar hadits tersebut saja para ulama di sana memfatwakan demikian?
Soal hukum potong tangan. Jika mas Ulil mengajukan banyak pertanyaan, maka Ana
oge ingin mengajukan beberapa pertanyaan:
1.Kenapa anda tidak toleran terhadap orang yang berpandangan bahwa hukum potong
tangan adalah bentuk hukuman yang relevan untuk saat ini? Toh jika itu kemudian
disepakati umum dan diatur oleh Negara itu adalah konstitusional. Kenapa anda
tidak biarkan alamiah saja sebagaimana hukum penjara yang warisan kolonial
tidak anda ganggu gugat.
2.Apakah jika teknik hukum pidana pencurian bersifat dinamis lalu ada
kolerasinya dengan manusia yang makin beradab dan makin matang mentalnya saat
ini? Tidakkah anda melihat betapa jauh lebih biadabnya perilaku manusia saat
ini? Itukah bentuk manusia yang mentalnya matang? Coba anda bandingkan dengan
jujur efektifitas hukum potong tangan dengan hukum penjara katakan (yang
mungkin anda anggap dinamis dan kontekstual) di negara-negara yang
menerapkannya.
3.Entah anda tahu atau tidak bahwa hukum potong tangan dalam Islam tidak
dilakukan begitu saja. Diatur sedemikian rupa sesuai dengan asas-asas keadilan
dan hak-hak kemanusiaan. Apakah yang tergambar dalam benak anda orang mencuri
lalu langsung dipotong pakai golok si Pitung begitu? Prosesnya tetap melalui
pengadilan akhi, harus ada saksi, bukti, laporan dsb. Kadar pencurian juga
menjadi pertimbangan, apakah dia miskin atau tidak, terpaksa atau tidak, dalam
keadaan sadar atau tidak dsb jadi sangat adil dan manusiawi.
4.Coba anda bandingkan kembali dari sisi efesiensi dan efektifitas lebih
dinamis mana lebih berefek mana antara hukum potong tangan dengan hukum penjara
(sekalipun di negara-negara yang memberlakukan hukum potong tangan terdapat
pula hukum penjara). Coba anda teliti ulang dalam sejarah Islam dan sejarah
Yahudi-Kristen Barat atau sejarah manusia modern saat ini, pencurian lebih
banyak terjadi dalam sejarah yang mana? Mudah-mudahan anda jujur. Kejahatan,
pembunuhan, pemusnahan sumber daya alam, perusakan dan pemerkosaan yang sangat
dahsyat terjadi di peradaban yang mana? Sebaiknya anda membaca tulisan Syafii
Maarif (sesepuh anda dan kawan-kawan) di kolom Resonansi Republika (26/08).
5.Justru anda tidak paham esensi penghukuman. Cara menghukum jelas sangat
berkaitan dengan esensi penghukuman. Tolong anda jelaskan apa esensi
penghukuman dengan jalan pemenjaraan? Berapa banyak cost sosial, materi dan
waktu yang harus dikeluarkan dengan hukum penjara dibandingkan dengan potong
tangan? Saya pikir anda hanya sibuk menambah PR umat ketimbang membantu
menjawab PR-PR yang sudah ada. Atau bahkan anda sendiri adalah PR besar umat
saat ini.
Tradisi mas Ulil dan kawan-kawan adalah suka bermain-main di wilayah esoterik.
Memutar-mutar logika agar kelihatan ilmiah sudah menjadi ritual yang niscaya.
Termasuk soal ibadah murni-memangnya ada ibadah yang tidak murni? Murni dalam
makna apa? PR lagi
Cara ibadah buat mereka bukan hal penting karena hanya bersifat eksoterik
(kulit/cangkang) saja. Tidak substansial cenah. Mereka cenderung tidak menyukai
hal-hal yang bersifat formalistik. Dalam Islam tidak ada pemisahan esoterik dan
eksoterik. Keduanya seperti dua sisi dari satu mata uang yang sama, berjalin
berkelindan tidak dapat dipisahkan. Dua-duanya adalah bagian penting dalam
Islam, tidak ada esoterik tanpa eksoterik begitu pula sebaliknya.
Bukankah dalam Islam ada dua syarat diterimanya ibadah oleh Allah swt; pertama
harus ikhlas lillahi taala.. Entah apakah yang dimaksud dengan penghayatan
spiritual menurut mas Ulil teh ikhlas tea kitu? Dan harus showab tata caranya
harus sesuai dengan contoh Rasulullah saw. Mas Ulil juga sepakat bahwa hal ini
tidak dapat diganggu gugat. Tapi kenapa mas Ulil menyebut tata cara ibadah
tidak penting?
Hehe
mas Ulil teks Arab definisi agama masih hafal ya. Husnudzan ah, pasti mas
Ulil tidak menghafal lagi.
Pengembangan spiritualitas seperti apa yang dimaksud mas Ulil untuk kebahagiaan
ukhrawi teh? Standarnya apa? Ups lupa, bukannya buat mas Ulil tidak ada
standar. Metodenya seperti apa, spiritualitas yang mana dan seperti apa? Terus
fungsi agama untuk mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan sepertia apa, yang mana,
kata siapa, buat siapa saja, tujuannya apa, standarnya apa? eh
Inilah wujud kerancuan sekaligus kebingungan bangunan pola pikir mas Ulil.
Bicara konsep kebahagiaan tentu harus merujuk pada apa yang dimaksud oleh Dzat
pembuat kebahagiaan itu sendiri. Dalam al-Quran dan hadits banyak bertebaran
keterangan bahwa orang yang beriman dan beramal sholih (tentu iman dan amal
sholih cara Islam) akan mendapatkan kebahagiaan. Mas Ulil pasti setuju dengan
konsep ini, sekalipun harus terlebih dulu didekonstruksi maknanya.
Soal depresi sekarang. Menurut Aa justru yang akan depresi adalah individu atau
kelompok yang mengumbar dan membebaskan akalnya tanpa bimbingan wahyu. Liar,
beringas, nabrak sana nabrak sini, mencari-cari pembenaran, yang ini bias yang
itu absurd, masuk ke gang-gang yang buntu.
Menuhankan akal sementara tidak paham bahwa kemampuan akal terbatas. Jadi ingat
ke istilah humanisme. Humanisme Barat didefinisikan sebagai bahwa manusia
dengan akalnya tanpa campur tangan Tuhan akan mampu menyelesaikan setiap
persoalan. Apakah humanisme dalam makna ini yang dimaksud mas Ulil? Kalau
betul, pantesan
Akhirnya membabi buta, kalap, arogan, fundamentalis dalam keliberalannya,
teroris dalam cara dakwahnya, konservatif dalam cara pandangnya, dan radikal
(kemaruk) dalam pengamalannya.
Mas Ulil, sebelum bicara soal baik dan benar, harus disepakati konsep standar
tentang itu. Jangan mengambang, membuat bingung yang akhirnya malah tidak
rasional.
Mas Ulil, saya juga merasa tentram dan bahagia dengan pemahaman saya
sebagaimana mas Ulil juga mengatakan merasakan hal yang sama dengan pemahaman
mas Ulil. Maka dengan demikian mas Ulil sebagai yang meng-klaim paling toleran
sudah sepatutnya menjadi terdepan sebagai uswatun hasanah yang santun, sopan,
lembut, toleran dan memberikan kebebasan terhadap pemahaman dan kelompok yang
berbeda dengan mas Ulil. Jadi tidak bijak rasanya mas Ulil sebagai orang yang
paling toleran, di akhir tulisannya harus dicederai dengan teror dan provokasi..
Al-Faqir ila Afwi Robbih
Wildan Hasan
Kordinator Forum Kajian Muhammad Natsir
for World Civilization
(021-9273 9740)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/