emang susah debat ma orang liberal & simpatisannye, bukan krn mereka pinter2 
atawa cerdas2 hihi bukan lho..GR ajeee



Susahnya Debat -1
http://akmal.multiply.com/journal/item/691


assalaamu’alaikum wr. wb.
 
Konon, Rasulullah saw. mengajarkan kita agar tidak suka berdebat.  Tentu ini 
bukan berarti kita tidak boleh berdiskusi atau bertukar argumen, karena 
Rasulullah saw. justru sering melakukannya.  Beliau selalu melayani 
pertanyaan-pertanyaan dengan sabar, jika memang pendapat-pendapat tersebut 
diajukan untuk kebaikan.
 
Bagaimana pun, agaknya perlu ditarik sebuah garis batas yang jelas antara 
‘diskusi’ dan ‘debat’ yang dilarang dalam agama.  Ketika
Rasulullah saw. masih hidup, menanyakan alasan atas suatu keputusan
diperbolehkan, namun memprotes – apalagi menolak – keputusan beliau
adalah suatu pelanggaran yang sangat serius.  Rasulullah saw.. beberapa kali 
menunjukkan perasaan tidak sukanya pada orang yang mencoba mendebatnya dalam 
hal agama.
 
Dengan
logika yang sama, para ulama masa kini – yang tak pernah berjumpa
dengan Rasulullah saw. – juga menganggap sikap terus mendebat sebuah
argumen yang diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sikap arogan
yang kelewat batas.  Tentu diantara para ulama
pun ada perbedaan pendapat, namun hal ini masih dapat diterima, karena
setiap ulama pasti menyandarkan pendapatnya pada Al-Qur’an dan
As-Sunnah.  Yang tidak dapat diterima adalah
menolak tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan argumen-argumen lain,
misalnya tradisi, kebiasaan nenek moyang, apalagi hawa nafsu.  Sebagai
contoh, menolak keharaman perilaku homoseksual dengan alasan “ada kaum
homoseks yang baik”, atau bersikeras dengan aturan-aturan HAM, tentu
tak dapat diterima.
 
Ada beberapa sikap yang membuat diskusi menjadi begitu susah dan pada
akhirnya kualitasnya pun turun menjadi ‘debat’ yang tidak kita inginkan.  Pada 
poin itu, niat mencari kebenaran telah luntur dan yang tersisa hanyalah sikap 
ngotot mempertahankan ego pribadi dan menghindar dari rasa malu.  Di
bawah ini akan saya jelaskan beberapa masalah yang sering terjadi,
terutama jika kita berdebat dengan kaum sekularis-liberalis yang sudah
pasti lolos kualifikasi sebagia ahlul hawa’ (pemuja hawa nafsu).
 
Memancing Amarah, Kemudian Berlepas Tangan
Sudah
banyak yang mengkritisi kaum liberalis sebagai pihak yang hanya mampu
melakukan dekonstruksi tanpa pernah melakukan konstruksi.  Mereka mencela Imam 
Syafi’i sebagai ‘diktator fiqih’, namun mereka sendiri tak mampu memberikan 
sumbangan pemikiran dalam hal fiqih, apalagi selevel Imam Syafi’i.  Memang ada 
yang coba-coba menulis buku Fiqih Lintas Agama, tapi jangan dibandingkan dengan 
buku kumpulan fatwa para ulama (misalnya buku kumpulan fatwa Syaikh 
al-Qaradhawi).  Buku tersebut masih sangat kecil andilnya dalam hal pemikiran, 
belum lagi kontroversi logika yang menyertainya.
 
Tidak terlalu salah kalau dikatakan bahwa kaum liberalis memang hanya pintar 
protes tanpa memberikan solusi.  Situs JIL pun secara terang-terangan 
mengatakan bahwa salah satu misinya adalah membela minoritas, bukan membela 
yang benar.  Oleh karena Syi’ah, Lia Eden, Ahmadiyah dan semacamnya adalah 
minoritas, maka mereka harus dibela.  Ironisnya, di negara-negara Barat, dimana 
Islam ahlus-sunnah wal jama’ah adalah minoritas, mereka tak pernah dibela.
 
Oleh
karena prinsipnya yang ‘asal beda’ dan ‘hobi menentang arus’, maka yang
mereka perbincangkan pun nyaris selalu membuat orang Islam marah.  Jurnal
Justisia, misalnya, yang merupakan produk asli dari para mahasiswa
salah satu UIN, paling rajin mengangkat tema-tema yang provokatif.  Penggunaan 
istilah-istilah yang membuat umat Muslim marah adalah biasa, misalnya – 
katakanlah – Menggugat Dominasi Wahyu, Indahnya Kawin Sesama Jenis, dan 
semacamnya.  Sebenarnya mereka bisa menggunakan istilah-istilah lain yang lebih 
santun, namun hal itu tidak dilakukannya.  Jika hal ini diprotes, maka mereka 
akan bersembunyi di belakang ‘kebebasan ekspresi’.
 
Pada
poin ini, memang sulit untuk menyadarkan mereka, karena mereka umumnya
tidak lagi memiliki perasaan tersinggung ketika agamanya dihina.  Sebagai
contoh, para petinggi JIL pernah mengatakan bahwa orang-orang yang
tersinggung dengan kartun Nabi Muhammad saw. adalah mereka yang
keberagamaannya tidak dewasa.  Seorang pembela Ahmadiyah juga pernah mengatakan 
dalam acara Debat-Debat di TVOne bahwa Rasulullah saw. akan tetap mulia 
meskipun dihina oleh banyak orang.  Rasa cinta pada Allah dan Rasul-Nya memang 
tak bisa dipaksakan.  Jika
mereka tetap tak cinta pada agamanya sendiri, maka hal yang bisa kita
lakukan adalah mengajak orang lain untuk ikut menyaksikan kerusakan
logika mereka dan mengambil ibrah (pelajaran) dari peristiwa tersebut.
 
Ketika Klaim Ditebar
Memberi cap pada orang lain tanpa bukti yang mencukupi adalah sebuah tindakan 
arogan.  Ustadz Adian Husaini menolak wawancara oleh seorang peneliti Jepang 
karena ia dikelompokkan dalam barisan ‘Islam fundamentalis’.  Peneliti tersebut 
sebenarnya cukup fair dan jujur, namun ia terjebak dalam dikotomi yang 
diberikan oleh Barat kepada Islam..  Istilah “fundamentalis” sendiri telah 
seringkali dikacaukan dengan ‘radikalis’ dan ‘teroris’.  Padahal,
Ust. Adian Husaini selalu berjuang lewat jalur akademis, dan sama
sekali tak pernah menganjurkan kekerasan pada siapa pun.
 
Kaum liberalis sering mengaku dirinya terbuka untuk setiap diskusi, perdebatan 
dan dialektika.  Pada kenyataannya, merekalah yang paling sering menebar klaim 
terhadap orang lain.  Jika
ada yang tidak setuju, tiba-tiba dengan ‘bijak’ mereka berkata :
“Sebaiknya masalah ini didalami, tak perlu ditanggapi dengan emosi”.  Padahal 
yang mendebatnya sama sekali tidak emosional.  Ucapan ini hanyalah propaganda 
terselubung agar orang-orang menganggap dirinya sebagai pihak yang tenang, 
tawadhu’, akademis, sedangkan lawan debatnya emosional, gampang naik darah, dan 
sebagainya.
 
Kita dapat melihat buktinya dimana-mana.  Dalam kasus aliran sesat, kalangan 
liberalis selalu mengatakan bahwa MUI terlalu gampang mengkafirkan orang lain.  
Seolah-olah para ulama di MUI memberi fatwa sesat dalam satu-dua hari saja.  
Padahal, untuk kasus Ahmadiyah misalnya, para ulama sedunia telah mengkajinya 
sejak masa hidupnya Ghulam Ahmad al-kadzdzab hingga sekarang ini, dan tetap 
konsisten menyebutnya sebaai aliran sesat..  Justru
kaum liberalislah – yang telah terbukti dalam salah satu episode
Debat-Debat di TVOne – yang sangat kekurangan informasi dalam urusan
yang dibelanya habis-habisan.
 
Dalam
kesempatan lain, tidak jarang pula mereka mengatakan “itulah akibatnya
kalau jarang membaca”, atau “memang orang akan bersikap demikian jika
hanya tahu dari membaca, dan tidak pernah berinteraksi langsung dengan
persoalan ini”.  Nurcholis Madjid pun pernah mengatakan bahwa orang-orang akan 
membenarkan Ibnu ‘Arabi yang konon mengatakan bahwa Iblis itu tauhid-nya 
sempurna asalkan mereka banyak membaca.  Ungkapan ini mencerminkan arogansi 
yang sangat tinggi, seolah-olah orang yang wawasannya luas pasti akan setuju 
dengannya.  Bahkan para Nabi dan Rasul pun tak pernah menggunakan klaim seperti 
ini.  
 
Para pemikir ‘top’ dari JIL pun tak lepas dari cacat semacam ini.  Ulil Abshar 
Abdalla, misalnya, pernah mengatakan bahwa Imam al-Ghazali memiliki pendapat 
yang pluralis tentang keimanan.  Padahal, buku-buku al-Ghazali – apalagi Ihya’ 
‘Ulumuddin – telah dibaca, bahkan ditelaah kata per kata oleh jutaan orang.  
Lebih
memalukan lagi setelah kemudian ketahuan bahwa pendapat yang
disebut-sebut Ulil sebagai pendapat al-Ghazali tersebut sebenarnya
adalah pendapat para filsuf yang memang ditulis dalam buku al-Ghazali,
namun pendapat tersebut ditulis untuk kemudian dibantahnya satu-persatu.  Tapi 
ini sudah masuk dalam bab penipuan, bukan lagi perdebatan.
 
wassalaamu’alaikum wr. wb.


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke