ada sambungannye nih, lumayan skali2 nih milist dksh bacaan yg bermutu :)
Susahnya Debat-2
assalaamualaikum wr. wb.
Segalanya Didekonstruksi
Beberapa
cendekiawan mengkritik kalangan sekularis-liberalis sebagai pihak yang
hanya mampu mendekonstruksi, bukan mengkonstruksi. Maka hasilnya adalah
pemikiran-pemikiran yang asal destruktif, dan jauh dari konstruktif. Segala
yang kelihatan mapan hendak ditidakmapankan. Namun
sikap ini pun jauh dari konsisten, karena beberapa hal yang sudah mapan
justru mereka dukung hanya karena ia bertentangan dengan jumhur ulama. JIL
sendiri, dalam situs resminya, mendeklarasikan pembelaannya terhadap pihak yang
minoritas (bukan yang benar).
Apa yang belum didekonstruksi oleh JIL? Berhaji tak perlu di Mekkah, dan
waktunya tak perlu bulan Dzulhijjah. Shalat tak perlu lima kali sehari, cukup
tiga kali sehari asal khusyuk (dengan definisinya sendiri), bahkan tak ada
aturan gerakan maupun bacaan. Mau
jadi orang saleh boleh, jadi orang awam dan abangan boleh, tidak
menganut agama secara formil boleh, bahkan jadi homoseksual pun OK
saja. Minum miras kalau kedinginan boleh, aurat
perempuan bisa distandarisasi ulang kalau mayoritas setuju
(minoritasnya dikemanakan?). Imam Syafii adalah
oknum paling keji yang mempertahankan hegemoni Quraisy, Utsman bin
Affan ra. adalah diktator sadis yang melarang perbedaan qiraat Al-Quran,
Umar bin Khattab ra. adalah khalifah liberalis pertama,
bahkan Rasulullah saw. pun hanya seorang manusia biasa yang bisa salah
dan keliru dalam memberi fatwa. Islam adalah agama yang turun sesuai konteks
kehidupan masyarakat Arab jaman jahiliyah dulu, sehingga semua sistem di
dalamnya perlu didekonstruksi habis. Bahkan
nama Allah pun dihubung-hubungkan dengan dewi bulan dari negeri
antah-berantah, dan dipaksakanlah teori bahwa semua agama menyembah
Allah, meski dengan caranya masing-masing. Tidak
perlu khawatir dengan cara yang seenak perutnya sendiri dalam beragama,
karena surga Allah demikian luas, sehingga semua bisa memasukinya dari
pintu yang berbeda-beda. Sayangnya, tidak pernah
ada penjelasan apakah kaum liberalis akan membela kaum minoritas di
neraka (karena menurut teori mereka, nampaknya mayoritas manusia akan
hidup bahagia di surga). Barangkali di akhirat
kelak pun mereka akan beradvokasi melawan keputusan Allah yang
berkehendak menyiksa kaum minoritas di neraka.
Tidak ada yang bisa diperdebatkan dengan seseorang yang punya hobi
mendekonstruksi. Sikap
seperti ini adalah sikap negatif yang sangat berlawanan dengan ajaran
Islam yang justru mengajari kita untuk melihat sisi-sisi kebaikan dalam
segala hal. Ketika ada masalah kita bersabar dan menerimanya sebagai ujian,
dan ketika mendapat kemudahan kita pun bersyukur. Bedakan dengan sikap mereka
yang serba tidak menerima segala hal yang ada di hadapannya. Konsep
khilafah ditolak karena ada khalifah yang gila harta (namun demokrasi
tak pernah ditolak meskipun Bill Clinton main gila dengan asistennya). Klaim
bahwa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar ditolak karena
ada juga yang shalat tapi memutilasi orang lain (tanpa menghitung
banyaknya pelaku mutilasi yang tidak shalat), dan seterusnya. Sikap tidak suka
pada kemapanan adalah sikap yang jauh dari objektif, apalagi akademis.
Dalam ilmu pengetahuan, tak mungkin membicarakan suatu hal tanpa kesepakatan
dalam banyak hal. Sebagai
contoh, kalau merancang pesawat ulang-alik, harus sepakat dulu untuk
menggunakan nilai percepatan gravitasi tertentu, bahkan rumus-rumus
yang sangat banyak itu pun harus disepakati dulu. Tidak mungkin bicara soal
gaya mekanik dengan menolak seratus persen hukum Newton dengan alasan Newton
telah membuat para ilmuwan sesudahnya menjadi sangat tidak kreatif karena
selalu menggunakan rumus-rumus bikinannya. Bahkan
Einstein yang merumuskan teori relatifitas (yang bertentangan dengan
beberapa hukum fisika pada masa lalu) tidak pernah bersikap asal
destruktif seperti itu. Boleh berbeda pendapat, asal jangan asal beda. Asal
beda bukanlah sikap seorang ilmuwan, melainkan anak kecil yang ingin mendapat
perhatian dari kedua orang tuanya.
Tidak Ada Benar dan Salah
Kalau
belum apa-apa sudah mengklaim bahwa tidak ada benar mutlak dan salah
mutlak, maka debat pun sudah kehilangan signifikansinya. Herannya, inilah yang
seringkali terjadi ketika berhadapan dengan orang-orang liberalis. Dalam kasus
Ahmadiyah, misalnya, mereka selalu bicara soal pentingnya dialog, dialog dan
dialog. Yang penting semua perbedaan itu didialogkan agar muncul pemahaman
bersama. Pada kenyataannya, perdebatan selalu dipotong dengan ucapan, Ah, itu
hanya beda penafsiran! Bahkan
Abdul Moqsith yang sudah bergelar doktor bidang tafsir Quran pun tidak
mau bicara panjang lebar tentang tafsir Al-Quran ketika membahas
Ahmadiyah, atau setidaknya menjelaskan kerangka penafsiran yang benar
dan yang salah.
Pada prinsipnya, benar dan salah itu pasti ada, dan pasti bisa dipahami oleh
manusia. Benar,
kadangkala suatu kebenaran hanya bisa dipahami setelah penelitian
bertahun-tahun, misalnya fatwa ulama terhadap rokok yang berubah dari
makruh ke haram. Namun sangatlah tidak masuk
akal jika segala hal tak bisa dinilai kebenarannya, sementara akal
diberikan untuk berpikir, dan Al-Quran diturunkan sebagai Al-Furqan
(pembeda). Jika ada yang mengatakan bahwa
Rasulullah saw. menyatakan bahwa daging babi itu haram karena rasanya
yang terlalu enak, maka penafsiran semacam ini pun terlalu mudah untuk
ditolak. Demikian pula jika ada yang bilang
bahwa Allah mengutuk Iblis karena ada dendam pribadi dengannya, ini pun
bisa diklasifikasikan sebagai tafsir sesat dengan mudahnya. Kalau mau
bermain tanpa aturan, segala penafsiran memang bisa saja dilahirkan dengan
paksa.
Buku Jakarta Undercover,
konon dibuat dengan niat baik ; sekedar jurnalisme berimbang yang
menyorot perilaku seksual sekelompok masyarakat Jakarta yang selama ini
jauh dari sorotan. Soal benar dan salah, itu terserah pembaca. Fakta
menunjukkan bahwa sejauh ini buku tersebut tak pernah dibedah dalam rangka
membersihkan penyakit masyarakat. Buku
ini juga tak terdengar dijadikan bahan untuk investigasi polisi
menggulung bisnis haram seputar kegiatan seksual yang serba menyimpang
di ibukota. Penulisnya pun tak pernah terlihat berkeliling Nusantara untuk
hadir di seminar-seminar anti free-sex dan perilaku bejat lainnya. Sebaliknya,
ia justru jadi bahan sorotan karena konon berasal dari latar belakang
pesantren namun begitu lincah bergaul dengan kehidupan malam nan mesum
di Jakarta. Inikah jurnalisme berimbang yang dibangga-banggakan itu?
Ust.
Didin Hafidhuddin berpendapat bahwa semua manusia terutama ulama
mesti memiliki pendapat yang tegas untuk dirinya sendiri. Meralat pendapat
jauh lebih terhormat daripada tidak berpendapat. Dalam Islam, kita wajib
membela yang benar dan mencegah keburukan. Tidak cukup hanya berpihak,
melainkan juga mencegah penyimpangan itu. Hadits yang shahih dan termasyhur
mengatakan bahwa ketika ada kezaliman terjadi di hadapan
kita, maka kewajiban paling utama adalah mencegahnya dengan perbuatan. Jika
tak mampu, maka wajib mencegahnya dengan lisan. Jika tak mampu pula, barulah
dengan hati. Inilah dimensi amar maruf nahi munkar yang bukan hanya berpihak
pada kebenaran, namun juga harus aktif memperjuangkan kebenaran itu. Mengatakan
bahwa benar atau salah terserah pada masyarakat adalah tindakan yang
bukan hanya tidak bertanggung jawab, tapi juga jauh dari tuntunan
Islami.
wassalaamualaikum wr. wb..
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/