"Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." QS 36:10 Mereka itu sama sekali tidak mempercayai kebenaran Islam. Mereka itu dibayar kaum Yahudi dan Nasrani untuk menghancurkan dari dalam.
Oleh karena itu percuma berdebat dengan mereka. Lebih baik kita menyiarkan apa itu Islam yang sebenarnya. --- si pitung <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > emang susah debat ma orang liberal & simpatisannye, > bukan krn mereka pinter2 atawa cerdas2 hihi bukan > lho..GR ajeee > > > > Susahnya Debat -1 > http://akmal.multiply.com/journal/item/691 > > > assalaamu�alaikum wr. wb. > > Konon, Rasulullah saw. mengajarkan kita agar tidak > suka berdebat. Tentu ini bukan berarti kita tidak > boleh berdiskusi atau bertukar argumen, karena > Rasulullah saw. justru sering melakukannya. Beliau > selalu melayani pertanyaan-pertanyaan dengan sabar, > jika memang pendapat-pendapat tersebut diajukan > untuk kebaikan. > > Bagaimana pun, agaknya perlu ditarik sebuah garis > batas yang jelas antara �diskusi� dan �debat� yang > dilarang dalam agama. Ketika > Rasulullah saw. masih hidup, menanyakan alasan atas > suatu keputusan > diperbolehkan, namun memprotes � apalagi menolak � > keputusan beliau > adalah suatu pelanggaran yang sangat serius. > Rasulullah saw.. beberapa kali menunjukkan perasaan > tidak sukanya pada orang yang mencoba mendebatnya > dalam hal agama. > > Dengan > logika yang sama, para ulama masa kini � yang tak > pernah berjumpa > dengan Rasulullah saw. � juga menganggap sikap terus > mendebat sebuah > argumen yang diambil dari Al-Qur�an dan As-Sunnah > sebagai sikap arogan > yang kelewat batas. Tentu diantara para ulama > pun ada perbedaan pendapat, namun hal ini masih > dapat diterima, karena > setiap ulama pasti menyandarkan pendapatnya pada > Al-Qur�an dan > As-Sunnah. Yang tidak dapat diterima adalah > menolak tuntunan Al-Qur�an dan As-Sunnah dengan > argumen-argumen lain, > misalnya tradisi, kebiasaan nenek moyang, apalagi > hawa nafsu. Sebagai > contoh, menolak keharaman perilaku homoseksual > dengan alasan �ada kaum > homoseks yang baik�, atau bersikeras dengan > aturan-aturan HAM, tentu > tak dapat diterima. > > Ada beberapa sikap yang membuat diskusi menjadi > begitu susah dan pada > akhirnya kualitasnya pun turun menjadi �debat� yang > tidak kita inginkan. Pada poin itu, niat mencari > kebenaran telah luntur dan yang tersisa hanyalah > sikap ngotot mempertahankan ego pribadi dan > menghindar dari rasa malu. Di > bawah ini akan saya jelaskan beberapa masalah yang > sering terjadi, > terutama jika kita berdebat dengan kaum > sekularis-liberalis yang sudah > pasti lolos kualifikasi sebagia ahlul hawa� (pemuja > hawa nafsu). > > Memancing Amarah, Kemudian Berlepas Tangan > Sudah > banyak yang mengkritisi kaum liberalis sebagai pihak > yang hanya mampu > melakukan dekonstruksi tanpa pernah melakukan > konstruksi. Mereka mencela Imam Syafi�i sebagai > �diktator fiqih�, namun mereka sendiri tak mampu > memberikan sumbangan pemikiran dalam hal fiqih, > apalagi selevel Imam Syafi�i. Memang ada yang > coba-coba menulis buku Fiqih Lintas Agama, tapi > jangan dibandingkan dengan buku kumpulan fatwa para > ulama (misalnya buku kumpulan fatwa Syaikh > al-Qaradhawi). Buku tersebut masih sangat kecil > andilnya dalam hal pemikiran, belum lagi kontroversi > logika yang menyertainya. > > Tidak terlalu salah kalau dikatakan bahwa kaum > liberalis memang hanya pintar protes tanpa > memberikan solusi. Situs JIL pun secara > terang-terangan mengatakan bahwa salah satu misinya > adalah membela minoritas, bukan membela yang benar. > Oleh karena Syi�ah, Lia Eden, Ahmadiyah dan > semacamnya adalah minoritas, maka mereka harus > dibela. Ironisnya, di negara-negara Barat, dimana > Islam ahlus-sunnah wal jama�ah adalah minoritas, > mereka tak pernah dibela. > > Oleh > karena prinsipnya yang �asal beda� dan �hobi > menentang arus�, maka yang > mereka perbincangkan pun nyaris selalu membuat orang > Islam marah. Jurnal > Justisia, misalnya, yang merupakan produk asli dari > para mahasiswa > salah satu UIN, paling rajin mengangkat tema-tema > yang provokatif. Penggunaan istilah-istilah yang > membuat umat Muslim marah adalah biasa, misalnya � > katakanlah � Menggugat Dominasi Wahyu, Indahnya > Kawin Sesama Jenis, dan semacamnya. Sebenarnya > mereka bisa menggunakan istilah-istilah lain yang > lebih santun, namun hal itu tidak dilakukannya. > Jika hal ini diprotes, maka mereka akan bersembunyi > di belakang �kebebasan ekspresi�. > > Pada > poin ini, memang sulit untuk menyadarkan mereka, > karena mereka umumnya > tidak lagi memiliki perasaan tersinggung ketika > agamanya dihina. Sebagai > contoh, para petinggi JIL pernah mengatakan bahwa > orang-orang yang > tersinggung dengan kartun Nabi Muhammad saw. adalah > mereka yang > keberagamaannya tidak dewasa. Seorang pembela > Ahmadiyah juga pernah mengatakan dalam acara > Debat-Debat di TVOne bahwa Rasulullah saw. akan > tetap mulia meskipun dihina oleh banyak orang. Rasa > cinta pada Allah dan Rasul-Nya memang tak bisa > dipaksakan. Jika > mereka tetap tak cinta pada agamanya sendiri, maka > hal yang bisa kita > lakukan adalah mengajak orang lain untuk ikut > menyaksikan kerusakan > logika mereka dan mengambil ibrah (pelajaran) dari > peristiwa tersebut. > > Ketika Klaim Ditebar > Memberi cap pada orang lain tanpa bukti yang > mencukupi adalah sebuah tindakan arogan. Ustadz > Adian Husaini menolak wawancara oleh seorang > peneliti Jepang karena ia dikelompokkan dalam > barisan �Islam fundamentalis�. Peneliti tersebut > sebenarnya cukup fair dan jujur, namun ia terjebak > dalam dikotomi yang diberikan oleh Barat kepada > Islam.. Istilah �fundamentalis� sendiri telah > seringkali dikacaukan dengan �radikalis� dan > �teroris�. Padahal, > Ust. Adian Husaini selalu berjuang lewat jalur > akademis, dan sama > sekali tak pernah menganjurkan kekerasan pada siapa > pun. > > Kaum liberalis sering mengaku dirinya terbuka untuk > setiap diskusi, perdebatan dan dialektika. Pada > kenyataannya, merekalah yang paling sering menebar > klaim terhadap orang lain. Jika > ada yang tidak setuju, tiba-tiba dengan �bijak� > mereka berkata : > �Sebaiknya masalah ini didalami, tak perlu > ditanggapi dengan emosi�. Padahal yang mendebatnya > sama sekali tidak emosional. Ucapan ini hanyalah > propaganda terselubung agar orang-orang menganggap > dirinya sebagai pihak yang tenang, tawadhu�, > akademis, sedangkan lawan debatnya emosional, > gampang naik darah, dan sebagainya. > > Kita dapat melihat buktinya dimana-mana. Dalam > kasus aliran sesat, kalangan liberalis selalu > mengatakan bahwa MUI terlalu gampang mengkafirkan > orang lain. Seolah-olah para ulama di MUI memberi > fatwa sesat dalam satu-dua hari saja. Padahal, > untuk kasus Ahmadiyah misalnya, para ulama sedunia > telah mengkajinya sejak masa hidupnya Ghulam Ahmad > al-kadzdzab hingga sekarang ini, dan tetap konsisten > menyebutnya sebaai aliran sesat.. Justru > kaum liberalislah � yang telah terbukti dalam salah > satu episode > Debat-Debat di TVOne � yang sangat kekurangan > informasi dalam urusan > yang dibelanya habis-habisan. > > Dalam > kesempatan lain, tidak jarang pula mereka mengatakan > �itulah akibatnya > kalau jarang membaca�, atau �memang orang akan > bersikap demikian jika > hanya tahu dari membaca, dan tidak pernah > berinteraksi langsung dengan > persoalan ini�. Nurcholis Madjid pun pernah > mengatakan bahwa orang-orang akan membenarkan Ibnu > �Arabi yang konon mengatakan bahwa Iblis itu > tauhid-nya sempurna asalkan mereka banyak membaca. > Ungkapan ini mencerminkan arogansi yang sangat > tinggi, seolah-olah orang yang wawasannya luas pasti > akan setuju dengannya. Bahkan para Nabi dan Rasul > pun tak pernah menggunakan klaim seperti ini. > > Para pemikir �top� dari JIL pun tak lepas dari cacat > semacam ini. Ulil Abshar Abdalla, misalnya, pernah > mengatakan bahwa Imam al-Ghazali memiliki pendapat > yang pluralis tentang keimanan. Padahal, buku-buku > al-Ghazali � apalagi Ihya� �Ulumuddin � telah > dibaca, bahkan ditelaah kata per kata oleh jutaan > orang. Lebih > memalukan lagi setelah kemudian ketahuan bahwa > pendapat yang > disebut-sebut Ulil sebagai pendapat al-Ghazali > tersebut sebenarnya > adalah pendapat para filsuf yang memang ditulis > dalam buku al-Ghazali, > namun pendapat tersebut ditulis untuk kemudian > dibantahnya satu-persatu. Tapi ini sudah masuk > dalam bab penipuan, bukan lagi perdebatan. > > wassalaamu�alaikum wr. wb. > > > > > [Non-text portions of this message have been > removed] > > > ------------------------------------ > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat > Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in > Commonality & Shared Destiny. > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA > (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg > akan dikomentari. > 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com > 4. Satu email perhari: > [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: > [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: > [EMAIL PROTECTED] > Yahoo! Groups Links > > > > > === Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta Informasi selengkapnya ada di: http://www.media-islam.or.id Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252 Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com ___________________________________________________________________________ Dapatkan nama yang Anda sukai! Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com. http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

