.....''Di sinilah kami dimanusiakan, diuwongke. Kami belajar mengaji
bersama, berbuka puasa bersama, tarawih, zikir, tahajud, sahur. Semua
aktivitas kami lakukan bersama-sama,'' ungkap Arief......

bagaimana pendapat antum?

salam,
ananto
=====


Di Jogja Ada Pesantren Khusus Waria



Yogyakarta, CyberNews. Arief, melantunkan lirik lagu grup musik Serious
dengan mengganti awalan rocker menjadi, 'Kami juga manusia, punya mata punya
hati, jangan samakan dengan...,'' Sampai di situ dia berhenti, matanya
menerawang seakan mengenang atau malah memikirkan masa depannya.



Kenapa dia harus begitu? Maklum, Arief adalah waria alias wanita pria yang
merasa cocok menjadi perempuan. Sejak kecil dia sudah merasakan adanya
kelainan dalam dirinya. Mau menjadi laki-laki jantan, macho, tak mampu. Dia
cenderung menyukai kelembutan ala wanita. Puluhan tahun kemudian laki-laki
asal Jawa Timur itu baru berani menunjukkan eksistensinya sebagai ''wanita''
dengan bersolek seperti perempuan.



Menjadi minoritas di negeri ini memang membuat dia kerepotan. Tak jarang
sorot mata aneh bahkan cibiran menerpanya. Namun dia tak begitu menggubris,
dia menyadari karena sebagian besar masyarakat belum bisa menerima kehadiran
waria. Bahkan tak hanya dalam kehidupan sosial, dalam beragamapun dia
merasakan pandangan ganjil dari umat ketika memasuki masjid.



''Saya dan teman-teman sering langsung mengenakan rukuh, menyusup masuk ke
jamaah putri ketika sholat di masjid. Tapi kalau situasi tidak memungkinkan
ada yang mau masuk ke jamaah laki-laki, mengenakan peci dan sarung,'' tutur
dia yang sudah lama berada di Yogyakarta.



Berkali-kali dia mengalami situasi tidak mengenakkan ketika mau sholat di
masjid. Banyak orang menyingkirinya bahkan ada yang memintanya tidak ikut
jamaah putri. Dia dan teman-temannya kadang-kadang terpaksa balik kanan,
pulang dan bersembahyang bersama di rumah.



Pondok Pesantren



Ketika tiba Ramadan, kaum waria sebenarnya juga ingin bersama umat lain
menjalani ibadah di masjid. Tapi apa daya, pandangan negatif masih
menyertainya. Beruntung ada salah seorang ustadz yang melihat kondisi
tersebut dan kemudian mendirikan Pondok Pesantren Khusus Waria di kampung
Notoyudan, Yogyakarta.



''Di sinilah kami dimanusiakan, diuwongke. Kami belajar mengaji bersama,
berbuka puasa bersama, tarawih, zikir, tahajud, sahur. Semua aktivitas kami
lakukan bersama-sama,'' ungkap Arief.



Pondok pesantren di tengah kampung tersebut berada di rumah Maryani, yang
juga salah seorang tokoh waria. Berdirinya pondok belum lama, baru bulan
Juli 2008 lalu dengan dukungan Ustdaz KH Hamroeli Harun. Setiap sore Ustadz
datang memberikan pelajaran membaca Alquran, mengaji dan aktivitas lain.
Peserta tampak selalu serius mengikuti setiap kegiatan.



''Waria juga seperti umat yang lain, menjalankan rukun Islam agar dekat
dengan Yang Kuasa. Namun pada kenyataannya masih banyak yang belum dapat
menerimanya, karena itu kami menggagas agar ada tempat buat mereka
mendekatkan diri dengan Allah SWT, di sinilah kemudian kami berkumpul,''
papar Maryani.



Kendati berada di ruangan sempit, hanya sekitar 3x4 meter persegi tapi itu
lebih dari cukup buat mereka beribadah. Tempat tak jadi masalah bagi
Maryani, Arief dan santri waria namun hati yang lebih penting. Setiap hari
ada puluhan waria dari berbagai daerah datang untuk belajar mengaji. Pakaian
saat mengaji juga sederhana saja, yang mengenakan sarung di barisan depan
dan pemakai mukena, rukuh, di belakangnya. Lirih terdengar mereka
mengumandangkan kebesaraan nama Allah.



(Agung Priyo Wicaksono /CN08)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke