SEJARAH TAHUN 1965 YANG TERSEMBUNYI

Oleh Prof. Dr. W.F. Wertheim

Para hadirin yang terhormat!

Saya minta ijin untuk, sebelum mencoba memberi analisa tentang peristiwa 1965, 
lebih dahulu menceritakan bagaimana terjadinya bahwa saya, walaupun mata 
pelajaran saya sosiologi, lama kelamaan mulai merasa diri sebagai pembaca suatu 
detective story yang cari pemecahan suatu teka-teki.

Dalam tahun 1957 saya bersama isteri saya mengajar sebagai guru besar tamu di 
Bogor. Saya pernah bertemu dengan ketua PKI Aidit dan beberapa tokoh lain dalam 
pimpinan partai. Aidit menceritakan tentang kunjungannya ke RRC, baru itu; dari 
orang lain saya dengar bahwa Mao Zedong bertanya pada Aidit: "Kapan kamu akan 
mundur ke daerah pedesaan?" Ucapan itu saya masih ingat waktu dalam tahun 1964 
saya terima kunjungan di Amsterdam dari tokoh terkemuka lain dari PKI, Nyoto, 
yang pada waktu itu ada di Eropa untuk menghadiri suatu konperensi di Helsinki. 
Saya  engingatkannya bahwa keadaan di Indonesia pada saat itu mirip sekadarnya 
kepada keadaan di Tiongkok dalam tahun 1927, sebelum kup Ciang Kaisyek. 
Pendapat saya ialah bahwa ada bahaya besar bahwa militer di Indonesia juga akan 
merebut kekuasaan. Saya anjurkan dengan kera s supaya golongan kiri di 
Indonesia mempersiapkan diri untuk perlawanan dibawah tanah, dan mundur ke 
udik. Jawaban Nyoto ialah bahwa saat
 bagi militer untuk dapat rebut kekuasaan sudah terlambat. PKI telah terlalu 
kuat baik dalam badan perwira maupun dalam badan bawahan tentara dan angkatan 
militer yang lain.

Saya tidak berhasil meyakinkan Njoto. Pagi 1 Oktober '65 kami dengar siaran 
melalui radio tentang formasi Dewan Revolusi di Jakarta. Sahabat saya, Prof. De 
Haas menelpon saya dan menyatakan: "Itu tentu revolusi kiri!" Saya menjawab: 
"Awas, menurut saya lebih masuk akal: provokasi!". Pada tanggal 12 Oktober kami 
dengar bahwa Jendral Soeharto, yang belum kenal kami namanya, telah berhasil 
tangkap kekuasaan. De Haas telepon saya lagi, dan mengatakan: "Saya takut 
mungkin kemarin Anda benar!"

Seminggu sesudahnya saya terima kunjungan dari kepala sementara kedutaan RRC di 
Den Haag. Ia rupanya memandang saya sebagai ahli politik tentang Indonesia, dan 
ia hendak mengetahui: "Apa yang sebenarnya situasi politik di Indonesia 
sekarang?" Jawaban saya ialah: "Tentu Anda sebagai orang Tionghoa dapat 
mengerti keadaan! Sangat mirip kepada yang terjadi di Tiongkok dalam tahun 1927 
waktu Ciang Kaisyek mulai kup kanan dengan tentaranya, dan komunis kalah, di 
Syanghai, dan lantar di Hankau (Wuhan) dan di Canton (Guangzhou)" . Ia tidak 
mau setuju. Di bulan Januari tahun 1966 saya terima dari beberapa rekan yang 
saya kenal, yang mengajar di Cornell Univesity di A.S., suatu 'Laporan 
Sementara' tentang peristiwa September-Oktober di Indonesia. Mereka sangat 
menyangsikan apakah peristiwa itu benar suatu kup komunis, seperti dikatakan 
oleh penguasa di Indonesia dan oleh dunia Barat.

Yang terima laporan itu, boleh memakai bahannya (begitu mereka tulis kepada 
saya), tetapi untuk sementara tanpa menyebut sumbernya, oleh karena mereka 
masih mencari bahan tambahan, dan meminta reaksi dan informasi lagi. Dengan 
mempergunakan bahan dari laporan Cornell itu, saya menulis suatu karangan yang 
dimuat dalam mingguan Belanda "De Groene Amsterdammer" pada tanggal
19 Februari 1966, dengan judul "Indonesia berhaluan kanan" Dalam karangan itu 
saya tanya: mengapa di dunia Barat sedikit saja perhatian terhadap pembunuhan 
massal di Indonesia, kalau dibanding dengan tragedi lain di dunia, yang kadang- 
kadang jauh lebih enteng daripada yang terjadi di Indonesia baru-baru ini? 
Barangkali alasannya bahwa pandangan umum seolah-olah golongan kiri sendirilah 
yang bersalah - apakah bukan mereka sendiri yang mengorganisir ku p 30 
September dan yang bersalah dalam pembunuhan 6 jendral itu?.

Maka dalam karangan itu saya mencoba memberi rekonstruksi peristiwa- peristiwa 
dan menarik kesimpulan bahwa sedikit sekali bukti tentang golongan PKI bersalah 
dalam peristiwa itu. Saya juga tambah bahwa cara perbuatan dengan menculik dan 
membunuhi jenderal tidak mungkin berguna untuk PKI - jadi salah mereka tidak
masuk akal. Lagi hampir tidak ada persiapan dari golongan kiri untuk menghadapi 
situasi yang akan muncul sesudah kup. Dalam karangan itu saya juga menyebut 
kemiripan kepada peristiwa di Shanghai dalam tahun 1927, yang juga sebenarnya 
ada kup dari golongan reaksioner. Kesimpulan saya dalam karangan di "Groene 
Amsterdammer" itu: "Terminologi resmi di Indonesia masih adalah kiri, akan 
tetapi jurusannya adalah kanan". Kemudian, dalam bulan Februari tahun '67, 
Mingguan Perancis "Le Monde" mengumumkan wawancara dengan saya.

Dalam wawancara saya bertanya: "Mengapa Pono dan Sjam, yang rupanya tokoh 
penting dalam peristiwa 65 itu, tidak diadili? Dikatakan dalam proses yang 
telah diadakan, misalnya proses terhadap Obrus Untung, bahwa mereka itu orang 
komunis yang terkemuka.

Apa yang terjadi dengan mereka itu, khususnya dengan Sjam, yang
agaknya seorang provokatir, yang pakai nama palsu?" Mencolok mata bahwa 
beberapa minggu sesudah wawancaranya itu ada berita dari Indonesia bahwa Sjam, 
yang namanya sebenarnya Kamaruzzaman, ditangkap. Saya dengar kabar itu di radio 
Belanda,
pagi jam 7. Dikatakan bahwa Sjam itu sebagai seorang Double agent! Saya ingin 
dengar lagi siaran jam 8 diulangi bahwa Sjam ditangkap, tetapi kali ini TIDAK 
ditambah bahwa ia double agent! Rupanya dari kedutaan Indonesia ada pesan 
supaya istilah itu jangan dipakai! Tetapi saya dapat Sinar Harapan dari 13 
Maret '67, dan di sana ada cerita tentang cara Sjam itu ditangkap. Dan judul 
berita itu: "Apakah Sjam double agent?"

Tetapi sesudahnya di pers Indonesia istilah double agent itu tidak pernah 
diulangi lagi. Dalam semua proses di mana Sjam muncul sebagai saksi atau 
terdakwa, Sjam selamanya dilukiskan sebagai seorang komunis yang sejati, yang 
dekat sekali dengan ketua Aidit. Ia selalu MENGAKU bahwa dia yang memberi semua 
perintah dalam peristiwa 1 Oktober, tetapi ia selalu tambah bahwa yang 
sebenanrya memberi perintah itu Aidit yang juga ada pada hari itu di Halim, dan 
yang sebenarnya menurut Sjam dalang dibelakang segala yang terjadi. Tentu Aidit 
tidak dapat membela diri dan  membantah segala bohong dari Sjam, oleh karena ia 
dibunuh dalam bulan November 1965 tanpa suatu proses, ditembak mati oleh 
Kolonel Jasir Hadibroto. Begitu juga pemimpin PKI lain, seperti Njoto dan 
Lukman, tidak dapat membela diri di pengadilan.

Tentulah segala eksekusi tanpa proses itu membantu Orde Baru dalam 
menyembunyikan kebenaran. Sudisman diadili, tetapi pembelaannya tidak mendapat 
kemungkinan untuk mengajukan hal-hal yang melepaskan PKI dari sejumlah tuduhan: 
ia dipaksa untuk mencoret bagian tentang hal itu dari pleidoinya! Waktu Sjam 
kedapatan sebagai double agent yang sebagai militer masuk kedalam
PKI untuk mengintai, saya mulai menduga pula bahwa Soeharto sendiri mungkin 
terlibat dalam permainan-munafik. Pada tanggal 8 April 1967 di mingguan "De 
Nieuwe Linie" dimuat lagi wawancara dengan saya. Dalam wawancara ini saya telah 
menyebut kemungkinan bahwa "kup" dari 1 Oktober 1965 adalah satu provokasi dari 
kalangan perwira; dan waktu itu saya telah TAMBAH bahwa Soehartolah yang paling 
memanfaatkan kejadian-kejadian. Saya mengatakan begitu: "Aneh sekali: kalau 
semua itu akan terjadi di suatu cerita detektif, segala tanda akan menuju 
kepada dia, Soeharto, paling sedikit sebagai orang yang sebelumnya
telah punya informasi. Misalnya setahun sebelum peristiwa 65, Soeharto turut 
menghadiri pernikahan Obrus Untung yang diadakan di Kebumen. Untung dahulu 
menjadi orang bawahan Soeharto di tentara. Lagi, dalam bulan Agustus tahun 65, 
Soeharto juga bertemu dengan Jenderal Supardjo, di Kalimantan. Dan mereka, 
Untung dan Supardjo, telah main peranan yang utama dalam komplotan.

Aneh lagi, bahwa Soeharto tidak ditangkap dalam kup, dan malahan
KOSTRAD tidak diduduki dan dijaga pasukan yang memberontak, walaupun letaknya 
di Medan Merdeka dimana banyak gedung diduduki atau dijaga. Semua militer 
mengetahui bahwa kalau Yani tidak di Jakarta atau sakit, Soehartolah sebagai 
jenderal senior yang menggantikannya. Aneh juga bahwa Soeharto bertindak secara 
sangat efisien untuk menginjak pemberontakan, sedangkan grup Untung dan 
kawannya semua bingung." Wawancara itu saya akhiri dengan mengatakan: "Tetapi 
sejarahpun lebih ruwet dan sukar daripada detective-story" .

Begitulah pendapat saya di tahun 1967. Tetapi dalam tahun 1970 terbit buku 
Arnold Brackman, jurnalis A.S. yang sangat reaksioner; judulnya "The Communist 
Collapse in Indonesia". Di halaman 100 Brackman menceritakan isi suatu 
wawancara dengan Soeharto, agaknya dalam tahun 1968 atau 1969, tentang suatu 
pertemuan Soeharto dengan Kolonel Latief, tokoh yang ketiga dari pimpinan kup 
tahun 65. Isinya: "Dua hari sebelum 30 September anak lelaki kami, yang umurnya 
3 tahun, dapat celaka di rumah. Ia ketumpahan sup panas, dan kami dengan 
buru-buru perlu mengantarkannya ke rumah sakit.

Banyak teman menjenguk anak saya di sana pada malam 30 September, dan saya juga 
berada di rumah sakit. Lucu juga kalau diingat kembali. Saya ingat Kolonel 
Latief datang ke rumah sakit malam itu untuk menanyakan kesehatan anak saya. 
Saya terharu at as keprihatinannya. Ternyata kemudian Latief adalah orang 
terkemuka dalam kejadian yang sesudahnya. Kini menjadi jelas

bagi saya malam itu Latief ke rumah sakit bukan untuk menjenguk anak saya, 
melainkan sebenar-nya UNTUK MENCEK SAYA. Ia hendak tahu betapa genting celaka 
anak saya dan ia dapat memastikan bahwa saya akan terlampau prihatin dengan 
keadaan anak saya. Saya tetap di rumah sakit sampai menjelang tengah malam dan 
kemudian pulang ke rumah". Begitulah kutipan dari buku Brackman tentang 
wawancaranya dengan Soeharto. Untuk saya pengakuan ini dari Soeharto, bahwa ia 
bertemu dengan Kolonel Latief kira-kira empat jam sebelum aksi terhadap 7 
jenderal mulai, sungguh merupakan 'rantai yang hilang' - the missing link dalam 
detective story. Hal ini dengan jelas membuktikan hubungan  Soeharto dengan 
tokoh utama dalam peristiwa tahun 1965.

Tentu Latief, yang pergi ke R.S. Gatot Subroto, yaitu Rumah Sakit Militer, 3 
atau 4 jam sebelum serangan terhadap rumah-rumah 7 jenderal mulai, maksudnya 
untuk menceritakan pada Soeharto tentang rencana mereka ¡V tetapi sukar 
membuktikan itu selama Soeharto berkuasa, dan Latief dalam situasi orang 
tahanan. Hanya satu hal yang kurang terang. Mengapa Soeharto mencerita-kan pada
Brackman tentang pertemuan ini? Agaknya ada orang yang memperhatikan kedatangan 
Latief ke rumah sakit. Oleh karena itu Soeharto merasa perlu memberi alasan 
kunjungan itu yang dalam dipahami: Latief mau periksa apakah Soeharto begitu 
susah oleh karena keadaan sehingga ia tak mungkin bertindak pada esok harinya! 
Pengakuan Soeharto itu menjadi untuk saya kesempatan untuk mengumumkan karangan 
di mingguan "Vrij Nederland" pada tanggal 29 Agustus 1970, dengan judul "De 
schakel die ontbrak: Wat deed Soeharto in de nacht van de staatsgreep? " (Rantai
yang hilang: apa yang diperbuat Soeharto pada malam kup?).

Dalam karangan itu saya menguraikan segala petunjuk bahwa Soeharto benar 
terlibat di dalam peristiwa tahun 65. Karangan ini dimuat satu hari sebelum 
Soeharto datang ke Belanda untuk kunjungan resmi - kunjungan yang gagal sama 
sekali. Karangan yang serupa itu juga saya umumkan dalam bahasa Inggris di 
dalam majalah ilmiah "Journal of Contemporary Asia" tahun 1979, dengan judul: 
"Soeharto and the Untung Coup: The Missing Link". Waktu saya mengumumkan dua 
karangan itu, saya belum mengetahui bahwa dalam wawancara lain, sebelum bulan 
Agustus 1970 itu, Soeharto sekali lagi menyebut pertemuannya dengan Kolonel 
Latief itu - tetapi kali ini dengan nada yang sangat berlainan. Wawancara itu 
dimuat dalam mingguan Jerman Barat, "Der Spiegel", tanggal 27 Juni, halaman 98. 
Wartawan Jerman itu bertanya: "Mengapa tuan Soeharto tidak termasuk daftar 
jenderal-jenderal yang harus dibunuh?" Jawaban Soeharto yaitu: "Pada jam 11 
malam Kolonel Latief, seorang dari komplotan kup
 itu, datang ke rumah sakit untuk membunuh saya, tetapi nampak akhirnya ia 
tidak  elaksanakan rencananya karena tidak berani melakukannya di tempat umum."

Masa, heran seolah-olah Kolonel Latief ada rencana untuk membunuh Soeharto, 4 
jam sebelum aksi terhadap 7 jenderal yang lain akan dimulai, yang 
tentu berakibat seluruh komplotan akan gagal! Kebohongan Soeharto itu suatu 
bukti lagi bahwa Soeharto mau menyembunyikan apa-apa, dan cari akal untuk luput 
dari persangkaan ia terlibat dalam kup! Sedangkan tokoh lain dari komplotan, 
sebagai Obrus Untung, Jenderal Supardjo dan Mayor Sudjono sudah lama terkena 
hukuman mati dan diekseskusi, Kolonel Latief selama lebih dari 10 tahun tidak 
diadili.

Alasan yang disebut oleh pemerintah, yaitu bahwa ia 'sakit-sakitan' an tidak 
dapat menghadiri sidang pengadilan. Benar bahwa ia kena luka berat di kaki 
waktu tertangkap; tetapi kawannya di penjara mengatakan bahwa ia sudah lama 
dapat menghadap di sidang sebagai saksi atau terdakwa. Akhirnya, dalam tahun 
1978 sidang dalam perkara Latief mulai. Dalam eksepsinya dari tanggal 5 Mei, 
Latief telah memberi keterangan, bahwa ia besama keluarganya berkunjung di 
rumah Soeharto dengan dihadiri Ibu Tien, dua hari sebelum tanggal 30 September; 
ia juga menceritakan bahwa ia mengunjungi Soeharto pada malam 30 September di 
Rumah Sakit Militer. Ia menerangkan bahwa ia, Obrus Untung dan Jenderal 
Supardjo, yang baru pulang dari Kalimantan, bertiga pimpinan militer
dari aksi keesokan harinya, berkumpul di rumahnya pada jam 8 untuk berunding.

Mereka memutuskan untuk malam itu juga menemui Soeharto, untuk
memperoleh dukungannya dalam rencana. Latief mengusulkan supaya mereka akan 
bertiga menghadap Soeharto, tetapi Untung tidak berani, dan mereka akhirnya 
mengutus Latief oleh karena ia yang paling dekat dengan Soeharto. Untung dan 
Supardjo masih punya urusan lain yang penting. Latief telah menjadi bawahan 
dari Soeharto waktu Jogya diduduki Belanda, tahun 1949. Malahan, menurut 
keterangan Latief dalam eksepsinya, waktu serangan ke Jogya pada tanggal 1 
Maret 1949, dengan Jogya diduduki pasukan Republik selama 6 jam, bukan Soeharto 
yang sebenarnya masuk Jogya melainkan Latief sendiri! Waktu Latief pulang ke 
komandonya di pegunungan bersama grupnya, Soeharto bersama ajudannya sedang 
makan soto! Pada waktu komando Mandala yang dibawah komando Soeharto, Latief 
menjadi kepala intellijen dari Komando di Makasar.

Dalam eksepsinya Latief dengan terang menjelaskan bahwa waktu ia
bertemu dengan Soeharto di rumah sakit, ia menceritakan padanya seluruh rencana 
untuk malam itu. Ia minta pengadilan supaya Soeharto dan istrinya akan 
dipanggil sebagai saksi. Putusan pengadilan: tidak, karena kesaksiannya tak 
akan 'relevan'. Dalam pledoinya yang tertulis Latief mengulangi lebih jelas 
lagi tentang pembicaraannya di rumah sakit. Dia menerangkan: "Setelah saya 
lapor kepada Jenderal Soeharto mengenai Dewan Jenderal dan lapor pula mengenai 
Gerakan, Jenderal Soeharto menyetujuinya dan tidak pernah mengeluarkan perintah 
melarang" (hal. 128). Pledoi dan Eksepsi Latief kami punya seluruhnya dalam 
bahasa Indonesia. Dalam pers Indonesia segala keterangannya tentang pertemuan 
dengan Soeharto itu sama sekali tidak diumumkan dan tidak diperhatikan.

Mengapa begitu? Untuk saya dari mulanya jelas bahwa keterangan yang lebih 
sempurna lagi disimpan di suatu tempat DILUAR Indonesia, dengan pesan supaya 
lantas diumumkan kalau Latief akan dibunuh! Soeharto agaknya takut kalau 
kebenaran tentang pertemuan dengan Latief akan diumumkan! Dalam otobiografinya 
ia bohong sekali lagi: ia menceritakan bahwa ia bukan BERTEMU dengan Latief di 
rumah sakit, melainkan hanya lihat dari ruangan di mana anaknya dirawat dan di 
mana ia berjaga bersama Ibu Tien, bahwa Latief jalan di koridor melalui kamar 
itu! Siapa sudi percaya? Juga aneh sekali bahwa Soeharto ,menurut keterangannya 
sendiri, jam 12 malam waktu keluar dari rumah sakit, bukan terus mencoba 
memberikan tanda berwaspada kepada jenderal-jenderal kawannya yang dalam tempo 
tiga atau empat jam kemudian akan ditimpa nasib malang, m elainkan terus pulang 
ke rumah untuk tidur! Hal yang menarik yaitu bahwa Kolonel Latief beberapa 
waktu silam telah meminta pada Soeharto
 supaya hukumannya dikurangi.

Dalam Far Eastern Economic Review dari 2 Agustus tahun ini (1990) diberitahukan 
bahwa memoirenya disimpan di satu bank - entah di mana. Jadi, telah agak tentu 
bahwa Soeharto terlibat dalam peristiwa 65 dengan berat. Menurut fasal 4 dari 
Keputusan Kepala Kopkamtib bertanggal 18 Oktober tahun 1968, dalam Golongan A 
yang paling berat termasuk semua orang yang terlibat dengan langsung, di 
antaranya dalam grup itu juga segala orang yang mempunyai pengetahuan lebih 
dahulu terhadap rencana kup dan yang lalui dalam melapor kepada yang berwajib. 
Jadi, Soeharto pada malam itu seharusnya mesti melapor paling sedikit kepada 
Jenderal Yani! Dan tentu juga kepada Jenderal Nasution. Artinya bahwa Soeharto 
jauh lebih jelas 'terlibat' dalam peristiwa 1 Oktober '65 daripada semua 
korbannya yang selama 10 tahun atau 14 tahun ditahan di penjara atau di kamp 
konsentrasi seperti di pulau Buru, dengan alasan bahwa mereka terlibat 'tidak 
langsung' dalam peristiwa G30S!

Jadi, sekarang telah jelas bahwa Soeharto terlibat oleh karena mempunyai 
pengetahuan lebih dahulu. 


      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com. 
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke