Kampanye, dari Panggung ke Televisi 

Oleh Jeffrie Geovanie * 

''Iklan politik dapat menyusup ke dalam suasana keakraban di rumah, dengan 
bersembunyi secara diam-diam di tengah acara yang digemari penonton trelevisi." 

Arnold Steinberg (1981:4) 

Kita sulit membantah pendapat Steinberg dan karena itu pula, munculnya banyak 
calon anggota legislatif (caleg) dari kalangan artis meresahkan kader-kader 
partai tempat sang artis mendaftarkan diri sebagai caleg. Mengapa demikian? 
Salah satu jawabannya, sang artis kerap muncul di televisi, baik sebagai 
bintang iklan, pemain sinetron, maupun presenter. Sering muncul di layar kaca 
identik dengan menjulangnya popularitas.

Seseorang dengan popularitas yang tinggi memang belum tentu menunjukkan 
kualitas yang tinggi pula karena popularitas tidak ekuivalen dengan kualitas. 
Namun, bagi seorang caleg, popularitas merupakan modal awal untuk menarik 
dukungan, terutama dari kalangan pemilih yang kurang kritis.

Karena itu, sangat wajar banyak kalangan -terutama yang punya kemauan keras 
untuk menjadi presiden misalnya- beriklan secara intensif di televisi. 
Tujuannya, mendongkrak popularitas. Menurut sejumlah survei, televisi merupakan 
media yang paling efektif dan efisien untuk mendongkrak popularitas.

Alami Peralihan 

Melihat kenyataan itu, saya yakin, pola kampanye politisi akan mengalami 
peralihan yang signifikan, dari kampanye model lama (dengan mengadakan panggung 
hiburan di lapangan, reli di jalan-jalan, dan rapat akbar) ke kampanye model 
baru (beriklan di televisi).

Ada sejumlah kemudahan ketika seseorang beriklan melalui televisi. Pertama, 
bisa dibuat secara tepat sesuai kemauan. Karena tidak ditayangkan langsung 
(live), iklan bisa dirancang dan dilakukan proses perekaman yang berulang-ulang 
hingga menemukan cara dan gaya yang paling bagus.

 

Dalam iklan di televisi, para politisi bisa terhindar dari kesalahan-kesalahan 
yang mungkin mudah terjadi saat kampanye di panggung seperti keseleo lidah, 
tampilan yang kurang fit, dan gesture tubuh yang terkesan norak. Selain itu, 
dengan beriklan di televisi, wajah yang kurang menarik bisa dipoles dengan 
make-up memadai.

Kedua, lebih efisien. Meski pengambilan gambarnya (shooting) cuma sekali, iklan 
bisa ditayangkan berkali-kali dengan beragam variasi. Televisi terus-menerus 
mengiklankan sang politisi -sesuai kontrak tentunya-, meski sang politisi entah 
berada di mana. Bahkan pada saat sang politisi tidur nyenyak pun, iklan tetap 
jalan.

Murah 

Ketiga, lebih murah. Banyak kalangan berpendapat, iklan di televisi bisa 
menghabiskan dana yang sangat besar. Pendapat itu benar tapi kurang tepat. 
Benar bahwa tarif iklan di televisi relatif mahal. Namun, jika dibandingkan 
dengan kegiatan kampanye di tengah lapangan dengan menghadirkan ratusan atau 
bahkan ribuan orang, iklan di televisi jauh lebih murah. Mau bukti? Mari kita 
hitung.

Tarif iklan di televisi dengan durasi 60 detik, misalnya, dibanderol Rp 40 
juta. Jika menurut survei setiap tayangan televisi akan ditonton minimal 40 
juta orang, harga per penonton sama dengan satu rupiah. Dengan beriklan di 
televisi, sang politisi (kandidat) bisa memasuki semua ruang (baik publik 
maupun privat) yang di situ terdapat televisi. Jika ditambah dengan ongkos 
produksi iklan Rp 25 juta, biaya keseluruhan ''hanya" Rp 65 juta.

Coba bandingkan, misalnya, dengan mengadakan kampanye di lapangan. Untuk 
menyelenggarakannya, dibutuhkan panitia yang siap bekerja keras. Untuk 
kesempurnaan acara, dibutuhkan waktu cukup untuk merancangnya. Jika yang akan 
hadir ditargetkan empat ribu orang, berapa ongkos yang dikeluarkan untuk 
transportasi dan konsumsi. 

Jika untuk setiap orang dianggarkan Rp 25 ribu, akan ketemu biaya Rp 
100.000.000 (Rp 25.000 x Rp 4.000). Itu baru biaya untuk menghadirkan peserta 
kampanye. Jika ditambah biaya

 sound system, atribut-atribut kampanye, dan honorarium panatia, bagian 
keamanan, tukang parkir, dan lain-lain, keseluruhan biaya bisa membengkak 
hingga Rp 150 juta. 

Jika harus dihadirkan pula para artis untuk memeriahkan suasana, betapa besar 
biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali kampanye yang ''hanya" dihadiri empat 
ribu orang!

Jika setiap kandidat menyadari sepenuhnya dengan kelebihan iklan di televisi, 
saya yakin, medan kampanye yang selama ini banyak terkonsentrasi di panggung 
hiburan, podium-podium, dan arak-arakan di jalan-jalan akan beralih ke ruang 
kantor, ruang tamu, mobil-mobil yang tengah berjalan, kamar-kamar hotel, kamar 
tidur, bahkan di setiap genggam para pemilih handphone televisi.

Melihat kenyataan demikian, wajar pada hari-hari ini banyak politisi yang 
beriklan di televisi seperti Soetrisno Bachir, Rizal Mallarangeng, dan Prabowo 
Subijanto. Calon kepala daerah (calon bupati, wali kota, gubernur) pun mulai 
intensif beriklan di layar kaca. Kesannya memang wah dan mahal. Padahal, jika 
dibandingkan dengan kampanye ''live" di panggung hiburan dan di jalan-jalan, 
ongkosnya jauh lebih murah, lebih efektif.

* Jeffrie Geovanie , wakil direktur eksekutif Lembaga Pemenangan Pemilu DPP 
Partai Golkar 
 
http://jawapos.com/


[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/santrikiri
 


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke