--- In [email protected], "yustamb" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bang Pitung, saya sangat tertarik membaca bacaan bermutu dari bang > pitung, saya sebenarnya anggota lama di milist ini. > > yang saya tidak mengerti bahwa bang pitung mengkritik tentang liberal, > tetapi abang tidak mengerti apa itu liberal. Sepenegetahuan saya > adalah orang liberal itu selalu menghargai pendapat orang lain, > seperti pendapat bang pitung pada bacaan di bawah ini. Pendapat bang > pitung menggambarkan pengetahuan bang pitung tentang orang-orang > liberal dan sekuler. Nah sekuler juga bang pitung tidak bisa > mendefinisikan apa itu sekuler. > > Seharusnya kan kalo berdiskusi harus bertumpu pada dasar yang sama, > agar tidak timbul prasangka. Pemahaman yang sama, tetapi karena yang > ingin di dengar hanya pendapat bang pitung sendiri, maka jadinya debat > hanya debat kusir, tidak ada ujung dan pangkalnya, dan akibatnya adu > otot, siapa yang kuat, artine otaknya dibuat kuda-kuda di dengkul. > > Bagi saya bang Ulil dan Nurcholish Majid adalah cendekiawan islam > atau ulama yang harus di hormati, karena mereka belajar di bagian > dunia di mana nilai akademis sangat di hormati, mereka bukan orang > yang sembarangan mengeluarkan pendapat. Kritik-kritik mereka terhadap > ummat islam sangat mengena sekali, mereka ingin melihat islam dengan > pandangan yang baru. Mereka berangkat dari tradisi islam yang > puritan, tetapi berkembang dengan pandangan yang baru tentang islam, > mereka menghargai ulama dan memberi pandangan terhadap pendapat ulama > itu. Mengkritik, artinya bukan menghina, tetapi membuat sesuatu yang > baru dalam pandangan sekarang. > > saya pikir mereka bukan antek-antek yahudi dan kristian, mereka juga > mengkritik christianity dan yudaism dengan apa yang ada dalam kritikan > alqur'an terhadap christianity dan yudaism, tetapi dengan cara yang > santun, artine tidak melukai perasaan. > > mengkritik dan berdebat bukan berarti menyalahkan, karena orang yang > selalu menyalahkan umumnya karena takut pendapatnya tidak benar dan > mempunyai keragu-raguan dalam keimanan, padahal keimanan akan lebih > tebal kalo kita mengetahui tentang kebenaran terutama dalam islam. > Banyak sudah orang-orang yang convert ke islam karena dialok yang > menyenangkan bertukar pendapat dengan tidak membawa emosi, karena > emosi hanya menunjukkan kedangkalan ilmu, karena tidak bisa berdebat > dan hanya ingin menang sendiri. Yang di pake bahasa tubuh seperti > zaman kuda gigit besi, kalo melihat sejarahnya sih si Pitung melawan > belande juga pake ilmu, tidak dengan emosi. > > akhirnya, terima kasih atas bacaan yang sangat bermutu, karena kita > dapat melihat sampe di mane sih kritik terhadap kaum liberal dan > sekuler yang pengertiannya nggak jelas bagi bang Pitung. > > Salam > >
++++ Banyak sekali pendapat anda yang dapat disetujui oleh semua umat beragama. Si Pitung yang bodoh itu, repot sekali mencaci maki Kristen, padahal umat Kristen sendiri jauh lebih kritis mengenai umat mereka. Kalau Ysus diejek, mereka santay, dan katakan Emang Guie Pikirin? Masyarakat Non Muslim sedunia, lihat macan macan Asia, kalau melihat benturan antara nalar dan peraturan agama, mereka pilih NALAR. Contoh: Paus melarang umat Katholik menggunakan alat alat birth control. Ini peraturan agama, seret seret nama Allah. Tetapi umat katholik di barat katakan: yang mau pelihara anak banyak siapa? kamu Paus atau saya? bayangkan, kalau Eropa padat penduduk, pasti kumuh seperti tanah Abang, Priok dsb ha ha. Contoh lain, dalam bidang olhraga, renang, senam, atletik, mereka gunakan busana yang berNALAR, akibatnya jago jago olahraga adalah bangsa bangsa NON Muslim! Juga, dalam bidang ekonomi, pekerja pekerja dituntut sangat produktif selama masa kerja yang dibayar, tidak minum minum kopi, ngobrol, sholat, kerja! Kalau umat Muslim ingin mengejar ketertinggalan mereka dari bangsa NON Muslim, bangunlah dan bertindaklah yang sesuai dengan tuntutan. Pakistan dan bangla Desh masih belum mampu memproduksi apa apa untuk pasar dunia, dimana saudara mereka bangsa India sudah melompat jauh.

