[ Minggu, 07 September 2008 ] Topeng Kekuasaan dalam Puasa
Oleh Abdul Munir Mulkhan * Apakah kita berpuasa dengan ihtisaaban hati dan otak di tengah gencar kampanye untuk Pemilu 2009 dan pemilihan gubernur Jawa Timur? Jawabannya akan menentukan kualitas puasa tahun ini sekaligus penanda kualitas puasa tahun-tahun sebelumnya. Ramadan sebagai bulan rahmat, berkah, dan maghfirah mestinya membuat masyarakat yang menjalaninya bisa memberikan rahmat, menebar berkah, dan membuka pintu maaf bagi sesama. Keistimewaan puasa tahun ini karena berlangsung saat kampanye pemilu lebih dari 40 partai (6 partai lokal di Aceh). Lebih istimewa lagi di Jawa Timur karena puasa tahun ini berlangsung pada saat kampanye pemilihan gubernur putaran kedua. Di satu sisi, kampanye pilkada atau pemilu acap menerabas nilai-nilai etika berpolitik dalam slogan tiada kawan abadi dalam politik kecuali kepentingan. Di sisi lain, nafsu dan syahwat kekuasaan menjadi energi utama komunikasi dan kegiatan politik dalam doktrin mulia sebagai realisasi nilai-nilai moral dan tujuan ideal menyejahterakan kehidupan rakyat. Pada galibnya, kekuasaan mempunyai rohnya sendiri dengan sejumlah dalil dan legitimasi menomorduakan atau melupakan nilai moral dan idealitas kesejahteraan yang saat kampanye dengan mulut berbusa diteriakkan para calon anggota legislatif. Di saat yang sama, Ramadan mewanti-wanti tentang risiko ingkar janji dan selingkuh politik yang terus dikumandangkan para mubalig dan ustad di semua kesempatan ceramah hampir di seluruh waktu, belum lagi hampir 24 jam tayangan stasiun TV. Masihkah tersisa di dada politisi itu nilai-nilai Ramadan? Seberapa fasih para politisi itu berpuasa dengan mengumbar janji palsu sekadar menarik rakyat konstituen agar memilih dirinya, sesudah itu lebih banyak dilupakan? Tradisi silaturahmi, bagian dari puasa sebagai bulan rahmat, berkah, dan maghfirah itu penting saat kampanye pilgub putaran kedua berlangsung ditimpahi oleh kampanye pemilu. Di saat demikian, black campaign (caci-maki lawan), puja-puji diri tiap caleg (calon legislatif DPR/DPRD/DPD), cagub (calon gubernur) dengan cawagub (calon wakil gubernur), dan partai menjadi lazim. Berbagai cara untuk menang pun dihalalkan. Saat nilai moral berpolitik dan praktik kekuasaan melemah seiring dengan praktik demokrasi prosedural, asal didukung banyak suara, saat pengingkaran amanat rakyat menguat, dialog taushiyah budaya sebagai bentuk silaturahmi menjadi pilihan menarik. Silaturahmi bukan hanya jabat tangan atau sungkem cium tangan pinisepuh, tapi pertautan hati melalui dialog dan taushiyah (nasihat) budaya secara personal (orang per orang) dan secara sosial (antarkelompok masyarakat). Berkualitas Puasa semestinya membuat mutu hidup bangsa semakin baik dan berkualitas, konflik dengan berbagai pemicu semakin berkurang, serta silaturahmi dan taushiyah dialogis semakin meningkat. Makna sunah yang menyatakan barang siapa menegakkan dan mengerjakan puasa dengan ihtisaaban, maka dosa-dosa kesalahan yang dilakukan sebelumnya akan diampuni Allah terletak pada realisasi silaturahmi dalam berbagai bentuknya yang fungsional tersebut. Soalnya ialah, apakah kita semua bersedia melakukan open heart (buka hati) menerima kritik dan saran pedas, bukan sekadar open house (menyediakan setumpuk makanan untuk disantap banyak orang). Puasa selalu datang dengan seribu harapan dan janji surgawi. Sayang, perangai manusia belum benar-benar berubah setelah berkali-kali menjalani terapi rohaniah itu. Secara doktrinal, tradisi kenabian hampir seluruh nabi dan rasul serta penemu agama-agama besar sepanjang sejarah peradaban dunia itu benar-benar radikal mengubah pola dan sikap hidup. Namun selalu muncul pertanyaan, ''mengapa maksiat, kemungkaran, dan selingkuh kekuasaan terus tumbuh dan berkembang dalam kebangsaan yang semakin modern?" Di antara sekian jawaban atas pertanyaan di atas ialah karena manusia salah memakai otak dan hatinya. Saat melihat penderitaan orang-orang miskin, memakai otak sehingga tidak tergerak bertindak. Peluang selingkuh dan korupsi dilihat dengan hati sehingga menimbulkan rasa haru lalu ikut main demi solider kepada teman. Otaknya bekerja untuk ngakali hukum dan dalil-dalil dalam kitab suci. Perkenan Tuhan bahkan dimanipulasi. Begitulah, kita sambut bulan suci Ramadan dengan segala niat yang gegap dinyanyikan syair ''Marhaban Yaa Ramadan" dengan penuh gairah. Dengan penuh harap manusia menapaki hari-hari Ramadan yang penuh rahmat, berkah, dan maghfirah tersebut. Disadari bahwa manusia mustahil masuk surga tanpa perkenan Tuhan karena makhluk ini adalah nggone lali lan luput (tempat lupa dan salah). Hebatnya manusia, cacat bawaan dirinya itu justru sering disulap menjadi argumen berbuat selingkuh jabatan, pelampiasan haus kekuasaan, dan korupsi. Muncul seloroh, ''aktivis politik itu juga manusia, bukan malaikat!" Ironinya, seloroh itu acapkali berubah menjadi model sikap permisif yang meluas seolah menjadi virus yang mewabah dengan berbagai alasan seperti: butuh makan, bantu konstituen, bahkan alasan bagi pemajuan moral keagamaan. Makna doktrin silaturahmi ndawakke umur, ngokehke rejeki (memanjangkan usia dan memperbanyak rezeki) perlu dipahami secara lebih fungsional memecahkan problem moral kekuasaan dan keagamaan. Silaturahmi bukan hanya jabat tangan, tapi bertukar dialog dan perhatian, bertukar taushiyah. Inilah kaitan makna puasa sebagai bulan rahmat dan silaturahmi yang nanti selesai puasa menjadi tradisi kolosal negeri ini yang sulit dicari duanya di dunia. Sayang, di saat itu, yang tersisa dari tradisi puasa hanya haus dan dahaga, silaturahmi tinggal jabat tangan, kadang disertai sungkem pinisepuh tanpa makna, substansinya lenyap tanpa bekas. Doktrin etika, moral, dan keagamaan lebih sering menjadi topeng kekuasaan korup yang lebih berbusa saat berbicara tentang harapan surgawi, tapi lupa berbuat baik ketika kekuasaan sudah di tangan. Sementara mereka yang tulus malu tampil ke publik, bahil berjanji menebar harapan kepada rakyat yang telah menahun menderita tanpa sentuhan tangan-tangan malaikat. Bagi mereka, teriakan harapan merupakan hiburan saat menatap hidup tanpa masa depan. *. Abdul Munir Mulkhan , guru besar UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta

